<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989</id><updated>2010-02-06T01:09:53.575-08:00</updated><title type='text'>Individu-individu dalam Dunia Sosial</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default?orderby=updated'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-3654492242527431965</id><published>2009-12-16T09:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T06:31:17.276-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='preferensi sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='institusi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sonny'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-ekologi'/><title type='text'>Nobel Ibu Lin dan Sesat Pikir Kebijakan Publik</title><content type='html'>Oleh Sonny&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;PENGANTAR: Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 2009 dianugerahkan antara lain kepada Elinor Ostrom. Secara perspektif dan metodologi, Ostrom berangkat dari anggapan bahwa preferensi manusia adalah beragam dan tergantung konteks interaksi sosial. Hal-hal mana berbeda dengan anggapan teori ilmu ekonomi tradisional (neoklasik) yang, andaikata diterjemahkan sebagai kebijakan publik, dapat menyesatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik mana, nasionalisasi atau privatisasi? Nobel Ekonomi 2009 diberikan pada ilmuwan sosial yang menunjukkan bahwa pertanyaan semacam ini dapat menyesatkan. Atas sumbangsihnya dalam memahami seluk-beluk kelembagaan ekonomi, Elinor Ostrom - bersama Oliver Williamson - mendapat penghargaan tertinggi dalam ilmu ekonomi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian lama mahasiswa fakultas ekonomi diajarkan dua anggapan yang lumayan keliru Pertama, manusia selalu merujuk dirinya sendiri ketika mengambil keputusan, dan oleh karena itu dorongan perilaku manusia adalah tunggal: hanya self-interest. Bertindak di luar itu, manusia dianggap tak rasional. Perilaku tersebut juga dianggap stabil alias tidak berubah-ubah. Entah di lantai Bursa Efek Jakarta atau di hamparan kota Padang yang luluh lantak dihajar gempa, orang senantiasa hanya berpikir, apa untung bagi dirinya sendiri tatkala memilih dan mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan kedua adalah mekanisme pasar selalu efisien. Dan kalaupun ia tak efisien, upaya apapun yang diambil mestilah mengarah pada pencapaian efisiensi pasar. Pencabutan subsidi BBM beberapa waktu berselang atau pemberian BLT secara terbatas – tapi tidak untuk subsidi bagi penyebab lumpur Lapindo atau subsidi bagi pemilik Bank Century – berangkat dari anggapan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ostrom, perempuan pertama dalam sejarah penerima Nobel Ekonomi itu, menengarai bahwa anggapan serupa itu tidak mewakili gambaran manusia dan tidak mencerminkan perekonomian dengan akurat. Sebagian besar kajiannya menyorot persoalan lingkungan – di mana kegagalan pasar tampak lebih nyata. Argumentasi Lin, begitu perempuan ramah ini akrab dipanggil kolega dan mahasiswa, bersandar pada riset dan eksperimen lapangan. Analisa kelembagaan yang ia bangun lekat dengan pendekatan behavioral economics dan experimental economics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ia amati petani di Nepal dan Swiss, atau nelayan di Turki dan Filipina, kemudian ribuan kasus di seluruh dunia. Tak seperti taksiran ekonom neoklasik, nelayan dan petani rupanya tidak senantiasa berhitung untung-rugi yang lazim dilakukan manusia “rasional”. Di sana, mereka juga bertukarpendapat dan bekerjasama demi kemaslahatan bersama. Mereka saling menjunjung norma yang disepakati bersama. Orang tidak selamanya bersaing, lalu mengeruk sumberdaya air, tanah, hutan atau laut sampai ludes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Temuan-temuan menarik ini membawa kita pada hal provokatif yang lain. Pada sebuah mekanisme yang kerapkali disebut penadbiran mandiri atau self-governing. Dengan caranya sendiri, interaksi sosial memungkinkan warga mengatasi problematika masyarakat dalam pembagian sumberdaya. Komunitas menyeruak menjadi aktor lain yang cukup penting. Selama ini, kebijakan-kebijakan publik dibangun di atas poros dua aktor: negara dan pasar. Padahal tidak jarang kedua aktor ini adalah bagian dari persoalan, bukan jalan keluar. Pertanyaan privatisasi atau nasionalisasi di atas adalah ikutan tak terhindar dari bangun-pikir demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan dua skenario berikut. Komunitas nelayan Lamalera di pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, telah berburu ikan paus berabad lamanya. Tradisi ini dibangun di atas mekanisme kerjasama dan kelola mandiri. Untuk kebutuhan sehari-hari (subsisten) dan bukan mengeruk untung, tingkat tangkapan nelayan secara umum tidak melampaui kapasitas berkelanjutan dari pasokan ikan paus. Negara, yang disokong LSM lingkungan, kemudian campur tangan dengan misalnya mengenakan kuota tangkapan. Dinamika baru yang muncul di komunitas tersebut mungkin malah memicu setiap nelayan menangkap melebihi pasokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skenario lain barangkali komunitas suku anak dalam di relung hutan Borneo. Kendatipun mereka miskin, hutan adalah hidup sekaligus kehidupan bagi mereka. Secara sukarela komunitas ini melakukan konservasi hutan. Lantas datang ekonom kacamata kuda, memberi petunjuk betapa pentingnya privatisasi konservasi hutan demi paru-paru dunia dan perubahan iklim global. Supaya tidak menebang pohon atau merusak hutan, komunitas tetangga dikasih uang. Tanah mereka disertifikasi, agar serapan CO2 mudah ditakar untuk kompensasi uang. Melihat tetangganya itu, komunitas suku anak dalam yang sejauh ini bekerjasama dengan sukarela menjaga hutan, pelan-pelan mulai berpikir “rasional”, laiknya seorang saudagar. Konservasi sukarela mereka tinggalkan. Kerjasama sosial runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lebih nyata mungkin adalah pengelolaan PDAM. Wacana yang berkembang luas, privatisasi perusahaan daerah oleh swasta mutlak gara-gara ketidakbecusan negara mengurus penyediaan air minum dan air bersih. Di antara jepitan privatisasi versus nasionalisasi ini, jarang kita dengar gagasan sosial baru yang inovatif, bahwa komunitas konsumen, komunitas penyelia air, atau serikat pekerja PDAM, punya potensi sebagai alternatif. Potensi sebagai aktor ketiga yang mampu mengelola pengadaan air secara demokratis, partisipatoris, dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila benar, Hadiah Nobel kali ini telah dianugerahkan pada sosok yang berusaha menjawab satu dari sekian soal paling penting tentang kebijakan publik. Soal yang tanpa disadari selama ini kadung didekati secara ideologis. Bukan dengan kebijaksanaan ilmu pengetahuan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini dapat juga dibaca di&lt;/span&gt; &lt;a href="http://jakartabeat.net/politika/283-hadiah-nobel-ibu-lin-dan-sesat-pikir-kebijakan-publik.html"&gt;Jakartabeat.net&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-3654492242527431965?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/3654492242527431965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=3654492242527431965' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/3654492242527431965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/3654492242527431965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/12/nobel-ibu-lin-dan-sesat-pikir-kebijakan_16.html' title='Nobel Ibu Lin dan Sesat Pikir Kebijakan Publik'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-4669751843339156733</id><published>2009-10-16T09:04:00.000-07:00</published><updated>2009-10-18T07:36:56.335-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teori'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Teori Individu Sosial (1): Pengantar &amp; Mekanisme Sebagai Penjelasan</title><content type='html'>Oleh Roby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog bersama ini bernama Individu Sosial yang berarti bahwa blog ini adalah usaha untuk menelusuri dan menguak hubungan antar individu yang membentuk dunia sosial yang kita semua hidup di dalamnya. Dalam serangkaian artikel yang akan saya tulis, saya mencoba membuat paparan sistematis dan menunjukkan bahwa terdapat sebuah doktrin metodologi yang memperlakukan individu dan struktur sosial dengan serius dan secara bersamaan. Doktrin ini BUKAN merupakan doktrin politik seperti individualisme atau sosialisme, tapi berupa doktrin metodologi yang merupakan pisau analitik atau strategi untuk mengerti dunia sosial. Meskipun menarik untuk berspekulasi mengenai doktrin politik yang berhubungan dengan metodologi yang akan saya jelaskan, fokus tulisan-tulisan ini ada pada sisi metodologinya. Untuk itu, kita sebut saja doktrin ini sebagaimana ia sering disebut yaitu ilmu sosial analitik, atau singkatnya strategi analitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak akan ada jika demokrasi tidak ada di Indonesia. Ini karena saya menulis terpicu oleh debat publik yang marak di Indonesia (terutama di Internet). Debat-debat ini banyaknya terjadi di tataran politik dan ideologi, tapi tidak jarang bersentuhan dengan epistemi pengetahuan yang menjadi dasar politik/ideologi yang diperdebatkan. Ini adalah usaha saya untuk berkontribusi dalam debat publik tersebut khususnya yang menyangkut landasan keilmuan untuk berbagai isu ekonomi, politik, dan sosial yang sedang hangat dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mekanisme sebagai penjelasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerti atau menjelaskan fakta sosial (misalnya kemiskinan, konflik, trend, norma yang berlaku, selera budaya) adalah tujuan umum ilmu sosial. Strategi analitik memiliki keunikan yaitu sebagai strategi yang befokus pada mekanisme yang menghasilkan fakta sosial yang ingin dijelaskan, dan mekanisme ini selalu merujuk pada aksi individual dan relasi yang menghubungkan satu individu dengan individu yang lain. Hal pertama yang harus kita pikirkan adalah apa yang dimaksud dengan mekanisme, dan bagaimana mekanisme sosial bekerja dan dapat menjelaskan fakta sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa cara untuk menjelaskan sebuah fakta sosial. Cara pertama yaitu cara yang dulu dianggap sebagai satu-satunya cara ilmiah yaitu dengan menujukkan bahwa sesuatu terjadi karena sesuatu tersebut memang diharapkan terjadi menurut sebuah hukum kausal yang universal, baik secara deterministik ataupun probabilistik. Penjelasan menurut hukum universal ini lahir dari fisika klasik (hukum Newton yang berlaku universal), dan tidak pernah mendapat tempat yang serius di ilmu sosial kecuali ilmu ekonomi. Tetapi cara pandang ini sudah ditinggalkan baik di ilmu fisika sendiri dan ilmu alam lain seperti biologi; juga ilmu ekonomi sudah mulai meninggalkan doktrin hukum universal ini. Ilmu sosial dan ekonomi sudah mulai beralih pada penjelasan yang berlandaskan pada mekanisme dan asosiasi statistik dengan metode eksperimen maupun non-eksperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua adalah menjelaskan fakta sosial dengan fakta sosial lain atau dengan sebuah abstraksi sosial. Contohnya, kita ingin menjelaskan sebuah fakta sosial yaitu konflik; lalu kita katakan bahwa konflik disebabkan kesenjangan sosial. Ini adalah contoh menjelaskan satu fakta dengan fakta lain yang menurut saya tidak memberikan penjelasan yang memuaskan. Tidak memuaskan bukan karena perlu ada penjelasan kenapa kesenjangan sosial terjadi sehingga memperpanjang rantai hubungan sebab-akibat; tetapi perlu ada penjelasan secara detail tentang runtutan proses yang membuat kesenjangan sosial di satu ujung menghasilkan konflik di ujung lain. Singkatnya, tidak cukup kita mengatakan A menyebabkan B, tapi kita juga perlu menemukan mekanisme yang membuat A menyebabkan B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ketiga yang umum dipakai ilmuwan sosial adalah menjelaskan fakta sosial dengan sebuah konsep abstrak. Misalnya adalah konsep habitus yang sering saya jumpai dipakai oleh para intelektual di media massa. Mari kita lihat definisi habitus ini menurut pencetusnya; habitus adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;...systems of durable, transposable dispositions, structured structures predisposed to function as structuring structures, that is, as principles which generate and organize practices and reprensetations that can objectively adapted to their outcomes without presupposing a conscious aiming at ends or an express mastery of the oprerations necessary in order to attain them. Objectively ‘regulated’ and ‘regular’ without being in any way the product of obedience to rules, they can be collectively orchestrated without being the product of the organizing action of a conductor.&lt;/blockquote&gt; (Bourdie, The Logic of Practice, p53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahu dengan anda, tapi bagi saya jangankan menggunakan habitus untuk menjelaskan sesuatu, apa arti sebenarnya habitus saja saya sulit mengerti. Konsep yang terlalu abstrak sulit dipakai untuk membantu mengerti sebuah fenomena sosial, malah mungkin membuat fenomena yang ingin dijelaskan menjadi lebih misterius. Paling sedikit ada dua kebingungan yang dapat muncul dari sebuah konsep yang terlalu abstrak: (1) sulit memastikan arti pasti konsep tersebut, dan (2) sulit melihat bagaimana konsep tersebut bekerja sesuai dengan yang disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita konstraskan penjelasan mekanisme pada cara penjelasan lain yang disebutkan di atas, maka penjelasan mekanisme bersandar pada dua pilar utama. Pertama, kita harus membuat pola keteraturan yang teramati menjadi dapat dimengerti (tidak terlalu bergantung pada konsep abstrak), dan kedua adalah menunjukkan secara detail proses terbentuknya keteraturan tersebut. Artinya, setiap penjelasan akan sebuah fakta sosial harus selalu mengacu pada hal yang kita percaya menghasilkan fakta sosial tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasinya, jika kita percaya bahwa perubahan sosial terjadi akibat sifat dan tindakan individu beserta relasi antar individu, maka setiap penjelasan akan suatu fakta sosial harus selalu merujuk pada individu dan relasinya; bukan merujuk pada fakta sosial lain atau abstraksi sosial dan hubungannya satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat bahwa penjelasan mekanisme ini tidak perlu dipertentangkan dengan pendekatan statistik atau eksperimen. Karena asosiasi statistik dan eksperimen dapat dipakai untuk memilah-milah mekanisme mana yang relevan, dan memutuskan mekanisme yang terjadi dari berbagai kandidat mekanisme. Perbedaannya adalah kita tidak berhenti pada hasil yang diperoleh dari analisis statistik, tetapi berusaha menjelaskan mekanisme yang menimbulkan hasil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penjelasan berdasar mekanisme ini dapat dilihat berada di tengah-tengah antara penjelasan dengan menggunakan hukum universal di satu ekstrim, dan penjelasan lokal -- baik kuantitatif dengan asosiasi statistik atau atau kualitatif dengan studi lapangan bertahun-tahun untuk mencapai thick description -- di ekstrim lain. Singkatnya, penjelasan mekanisme memiliki tingkat spektisisme yang tinggi terhadap setiap klaim teori universal (misalnya teori kesetimbangan umum dalam ekonomi neo-klasik atau teori Marx soal konflik kelas), tetapi juga tidak menerima begitu saja asosiasi statistik yang belaku lokal sebagai penjelasan. Penjelasan mekanisme mengacu pada apa yang disebut oleh sosiolog Robert K. Merton (ayahnya pemenang nobel ekonomi Robert C. Merton) sebagai middle-range theory.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memberikan deskripsi mengenai mekanisme sebagai penjelasan, selanjutnya kita akan membahas beberapa contoh mekanisme sosial. (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan lanjut mengenai mekanisme sosial:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://books.google.com/books?id=-iUmQRcYSIEC&amp;amp;client=firefox-a&amp;amp;source=gbs_navlinks_s"&gt;Social Mechanisms: an analytical approach to social theory&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisan mengenai penjelasan mekanisme ditinjau dari berbagai disiplin ilmu sosial termasuk ekonomi (termasuk tulisan ekonom Thomas Schelling dan Tyler Cowen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://books.google.com/books?id=79IV00LovCYC&amp;amp;client=firefox-a&amp;amp;source=gbs_navlinks_s"&gt;Dissecting the social: On the Principles of Anaytical Sociology&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memberikan argumen untuk strategi analitik dan bagaimana menggunakannya dalam teori sosiologi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-4669751843339156733?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/4669751843339156733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=4669751843339156733' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/4669751843339156733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/4669751843339156733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/10/teori-individu-sosial-1-pengantar_16.html' title='Teori Individu Sosial (1): Pengantar &amp; Mekanisme Sebagai Penjelasan'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-8888097595819215314</id><published>2009-03-24T13:45:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T09:02:05.788-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tirta'/><title type='text'>Resiko, Keputusan, dan Perbedaan Individu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Oleh Tirta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ADA sebuah kasus artifisial klasik yang sering digunakan psikolog untuk memetakan bagaimana individu mengambil keputusan beresiko, yang biasa dipresentasikan dalam dua varian. Contoh varian pertama seperti ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jika ada sebuah penyakit berbahaya yang datang ke Indonesia, dan 600 orang diprediksi akan meninggal, mana yang harus dipilih presiden dari solusi-solusi berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Solusi A: 200 orang akan selamat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Solusi B: ada 1/3 kemungkinan bahwa 600 orang akan selamat, dan 2/3 kemungkinan mereka tidak akan selamat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sedangkan varian kedua:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jika ada sebuah penyakit berbahaya yang datang ke Indonesia, dan 600 orang diprediksi akan meninggal, mana yang harus dipilih presiden dari solusi-solusi berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Solusi C: 400 orang akan meninggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Solusi D: ada 1/3 kemungkinan bahwa semua tidak akan meninggal, dan 2/3 kemungkinan 600 orang akan meninggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kedua varian tersebut identik, hanya berbeda dalam konteks penyampaian. Varian pertama selalu menggunakan kata "selamat", varian kedua "meninggal"; solusi A dan C sifatnya sama-sama pasti, B dan D bersifat kemungkinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Puluhan studi selama beberapa dekade terakhir konsisten menemukan bahwa dalam varian pertama, mayoritas individu memilih solusi A, sedangkan dalam varian kedua, yang dipilih adalah solusi D. Apa yang terjadi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ketika penyampaian berkonteks positif (selamat), individu menghindari resiko. Namun ketika penyampaian berkonteks negatif (meninggal), individu mengambil resiko. Fenomena ini -  yang dikenal dengan sebutan "framing effect", yaitu bagaimana konteks penyampaian ternyata mempengaruhi keputusan individu - pertama ditemukan oleh dua psikolog peraih nobel ekonomi Daniel Kahneman dan (almarhum) Amos Tversky.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Yang menarik, framing effect ini ternyata berinteraksi secara sistemik dengan emosi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam sebuah studi, psikolog Jennifer Lerner and Dacher Keltner memberi kedua varian kasus ini ke sejumlah mahasiswa, yang sebelumnya diminta mengisi tes kepribadian yang memetakan individu dalam dua dimensi emosi: marah dan takut. Dalam eksperimen lainnya, mereka mengkondisikan indivdu-individu secara acak sehingga beremosi marah atau takut, lalu memberi mereka kasus penyakit tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ketika penyampaian kasus berkonteks positif, individu secara umum - terlepas dari emosi marah maupun takut - cenderung menghindari resiko. Namun individu-individu yang bertendensi marah ternyata lebih berani mengambil resiko, terlepas dari konteks penyampaian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam studi lain lagi, psikolog Daniel Fessler, Elizabeth Pillwsorth, dan Thomas Flamson memberi sejumlah partisipan masing-masing $15, lalu bertanya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Taruhan berikut mana yang Anda pilih untuk menukarkan $15 Anda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;- 80% kemungkinan menang $18.75&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;- 40% kemungkinan menang $37.50&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;- 20% kemungkinan menang $75&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;- 5% kemungkinan menang $300&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;- Tidak mau menukar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Partisipan dibagi secara acak menjadi 3 kelompok, lalu dikondisikan agara beremosi berbeda. Kelompok pertama diminta menulis pengalaman mereka ketika marah, kelompok kedua ketika jijik, dan kelompok ketiga menulis tentang menonton televisi (tanpa emosi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hasil eksperimen lagi-lagi menunjukkan interaksi antara emosi, jenis kelamin, dan pengambilan keputusan: Dibanding tingkat resiko yang diambil kelompok ketiga (kelompok netral), pria ternyata lebih berani mengambil resiko ketika marah, sedangkan wanita cenderung menghindari resiko ketika jijik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;INTERPRETASI studi-studi di atas tentu harus dilakukan secara berhati-hati. Mengapa emosi marah, misalnya, menyebabkan individu berani lebih mengambil resiko, masih perlu diteliti lebih lanjut. Juga dengan interaksi jenis kelamin: mengapa emosi marah berefek pada pria, dan jijik pada wanita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun yang jelas, data empiris menunjukkan bahwa framing effect ternyata merupakan fungsi dari faktor-faktor seperti emosi dan jenis kelamin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Temuan ini merupakan amandemen terhadap teori pilihan rasional menurut ilmu ekonomi klasik, yang mendeskripsikan pengambilan keputusan individu sebagai steril dari pengaruh-pengaruh psikologis semacam ini. Individu ternyata merespon cara presentasi dan penyampaian masalah, serta bertindak sesuai konteks, emosi, dan menurut disposisi jenis kelamin secara sistematis.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-8888097595819215314?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/8888097595819215314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=8888097595819215314' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/8888097595819215314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/8888097595819215314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/03/resiko-keputusan-dan-perbedaan-individu.html' title='Resiko, Keputusan, dan Perbedaan Individu'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-6722344099348917605</id><published>2009-09-28T03:58:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T04:53:57.818-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keadilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sonny'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='preferensi'/><title type='text'>Keadilan dalam sebuah suling</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh Sonny&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga anak ini ingin sekali memiliki suling. Sebut saja  nama mereka masing-masing sebagai Yanti, Anto, dan Sinta. Yang jadi masalah, suling itu cuma satu buah. Lagipula hanya satu orang anak dari mereka bertiga yang berhak atas suling tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yanti merasa dialah yang paling berhak atas alat tiup ini. Pasalnya, di antara mereka dialah satu-satunya yang mampu dan pintar memainkan suling. Anto dan Sinta tak bisa meniup suling.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anto, yang paling miskin di antara ketiga anak itu, merasa dirinyalah yang paling pantas mendapatkan suling tersebut. Berbeda dengan dua anak yang lain, Anto sama sekali tak punya mainan lain miliknya sendiri. Dengan memiliki suling tersebut, ia jadi punya sesuatu yang bisa ia pakai bermain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sinta sendiri merasa ialah orang yang paling patut memiliki suling itu. Sinta sudah bekerja keras berbulan-bulan membuat suling itu. Baik Yanti dan Anto menyaksikan usaha dan kerja Sinta tersebut. Setelah suling itu selesai ia kerjakan, “mereka datang, mencoba merampas suling ini dariku,” ujar Sinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Contoh ini saya ambil dari buku &lt;i style=""&gt;The Idea of Justice&lt;/i&gt;, karya terbaru Amartya Sen. Tahun 1998, ia memperoleh Hadiah Nobel untuk Ekonomi. Amartya Sen adalah ekonom yang lumayan populer di Indonesia. Pemikiran dia kerap pula dikutip. Sayang, menurut hemat saya, keseluruhan pemikiran Sen seringkali disalahtafsir oleh sejumlah ekonom di tanah air.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kembali ke tiga anak di atas. Apabila mendengar penuturan mereka secara terpisah, kita mungkin bakal lebih  mudah  memutuskan. Sekarang, setelah mendengar cerita mereka secara bersamaan, menurut Anda kepada siapa suling itu sebaiknya diberikan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-6722344099348917605?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/6722344099348917605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=6722344099348917605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/6722344099348917605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/6722344099348917605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/09/keadilan-dalam-sebuah-suling.html' title='Keadilan dalam sebuah suling'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-7507779630156184130</id><published>2009-03-31T10:57:00.001-07:00</published><updated>2009-09-28T04:15:34.816-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resiprositas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sonny'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='preferensi'/><title type='text'>Mahasiswa UGM rasional?</title><content type='html'>Oleh Sonny&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;dan kolega saya di Universitas Gajah Mada (UGM) pasti mengernyitkan dahi dengan judul terkesan provokatif di atas. (Dan saya beresiko kehilangan undangan mereka untuk makan gudeg, sambil lesehan di tepi jalan Malioboro, Yogyakarta, gara-gara memilih judul macam ini.) Seperti Anda, mereka pasti bertanya, apa yang tidak rasional dalam diri mahasiswa di kampus dengan program ilmu sosial terbaik di Indonesia itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya terjadi di tahun 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, satu bungkus mie instan Indomie masih seharga 250 sampai 300 perak. Saat itu, satu dollar AS masih setara dengan sekitar dua ribu rupiah. Saat itu pula, andai seorang mahasiwa memegang uang 200 ribu Rupiah, rasanya seperti sama dengan mendapat tiga bulan gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa seperti itu, seorang ekonom berkunjung ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM. Di sana ia mengajak mahasiswa FISIPOL UGM bermain. Lisa Ann Cameron nama ekonom itu. Dan ada sekitar 80 mahasiswa yang ikut bermain bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam permainan itu, Cameron memasang-masangkan setiap mahasiswa. Dua orang dalam satu pasang. Cameron memberi setiap pasang mahasiswa sejumlah uang. Jumlah yang relatif besar kala itu – 200 ribu Rupiah. Seperti disebut di atas, saat itu jumlah ini setara 3 bulan rata-rata gaji. Meskipun dipasangkan, sesama kedua mahasiswa itu tidak saling kenal – yang satu tidak tahu dengan siapa ia bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang mahasiswa itu masing-masing lalu diberi peran. Mahasiswa yang satu, yang memegang uang 200 ribu Rupiah, mengajukan kepada pasangannya, sejumlah uang. Jumlah yang ia sodorkan terserah dirinya: antara 0,- Rupiah sampai 200.000,- Rupiah. Seturut dengan perannya, kita namai saja mahasiswa ini sebagai Penyodor (Proposer).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang lain, perannya lain lagi. Ia diminta menanggapi tawaran yang diajukan si Penyodor. Agar gampang, kita namakan saja mahasiswa ini sebagai Penanggap (Responder). Kepadanya disodorkan sejumlah uang (yakni, antara Rp 0,- sampai Rp 200.000,-) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari permainan ini adalah dua syarat berikut. Manakala si Penanggap setuju dengan jumlah yang ditawarkan si Penyodor, tiap-tiap mahasiswa ini memperoleh sejumlah uang seperti yang ditawarkan si Penyodor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, andaikata si Penanggap menolak usulan jumlah uang yang ditawarkan si Penyodor, maka kedua mahasiswa ini, baik Penanggap maupun Penyodor, tak beroleh apa-apa alias mendapat 0,- Rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan ini lazim dikenal dengan nama Ultimatum Game. Ditemukan ekonom Jerman, Werner Gueth, permainan ini telah diujicoba banyak kali di antero dunia, dengan beragam variasi permainan dan rupa-rupa karakter pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur sederhana yang dimiliki permainan ini membuka jalan untuk menguji asumsi “self-interested” jadi lebih mudah. Dan, dengan dibantu teori permainan (Game Theory), ilmu ekonomi standar bisa memprediksi apa yang akan hendak dilakukan kedua mahasiswa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bakal mereka lakukan? Seorang yang disebut “rasional” akan melakukan dua hal berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sebagai Penyodor yang rasional ia akan menyodorkan uang sekecil mungkin (tetapi masih positif) kepada si Penanggap. Pikirnya, sebagai sosok yang rasional toh si Penanggap akan menerima berapapun uang yang ia tawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, di sisi lain, si Penanggap, yang juga rasional, pasti akan menerima berapapun uang yang ditawarkan Penyodor. Bukankah mendapat uang – sekecil apapun itu – tetaplah lebih baik ketimbang tidak menerima uang apa-apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In adalah prediksi teoretis. Lantas, apa yang dilakukan para mahasiswa UGM dalam eksperimen tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku mahasiswa UGM rupanya berlawanan dengan prediksi teori. Jumlah rata-rata dari uang yang ditawarkan Penyodor adalah sekitar 40 persen (dengan standar deviasi sekitar 12 persen). Para penyodor memilih tidak menawarkan jumlah uang yang sangat kecil pada penanggap. Sementara itu, hampir 90 persen tawaran sebesar itu diterima Penanggap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Statistik ini menegaskan kembali hasil dari begitu banyak ujicoba yang telah dilakukan dengan permainan ini. 50 persen adalah prosentase yang biasa ditawarkan Penyodor. Dan, apabila prosentase itu kurang dari 30 persen, lazimnya ditolak oleh Penanggap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kita mungkin sulit memahami tindakan mahasiswa UGM. Bukankah 200 ribu, pada tahun 1994 pula, adalah jumlah yang tak sedikit, apalagi hanya diperoleh dari kerja (bermain pula!) yang tak lebih dari dua jam lamanya itu? Mengapa memilih merugi dengan membagikan uang sekitar 100 ribu kepada Penanggap, mengapa tidak, misalnya, cukup dengan 5 ribu atau 10 ribu Rupiah saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan irasional, kata mereka yang terlatih dengan teori ekonomi standar. Adakah mahasiswa UGM tidak rasional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cristina Bicchieri, penulis &lt;i&gt;The Grammar of Society&lt;/i&gt; (2006), pantas kita kutip untuk mencari jawab pertanyaan ini. Tulis filsuf itu, “andai rasionalitas adalah apa yang kita maksudkan sebagai orang yang memaksimalkan expected utility dan bahwa mereka hanya merujuk pada hasil moneter [yang mereka peroleh], maka kita harus menyimpulkan bahwa seorang yang menolak tawaran sejumlah positif [seperti sebagian mahasiswa UGM dalam permainan di atas] adalah berlaku irasional.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut Bicchieri, “Tetapi, uang bukan pertimbangan tunggal, dan di luar itu terdapat pertimbangan atas keadilan (fairness), sampai-sampai terdapat orang yang siap untuk menghukum mereka yang berlaku tak adil, [bahkan] kalaupun ia harus membayar biaya atas hukuman itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para &lt;i&gt;behavioral economists&lt;/i&gt; menyebut tindakan mahasiswa UGM itu sebagai &lt;i&gt;negative reciprocity&lt;/i&gt;. Di mana orang membalas perilaku yang dianggap tak adil dengan cara yang merugikan pelaku ketidakadilan, meskipun ia harus menanggung biaya mahal atas tindakan balasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacar yang dibohongi membalas mantannya dengan biaya yang sangat mahal (termasuk menyebarkan informasi atau foto mereka berdua yang sangat intim). Seorang kakak bisa begitu tega dan tak sudi lagi meminjamkan uang atau mengulurkan bantuan pada adik atau saudaranya yang pernah ingkar janji, walaupun ia tahu hubungan keluarga mereka pasti meregang. Ini adalah beberapa keping contoh &lt;i&gt;negative reciprocity&lt;/i&gt; yang acap kita jumpai sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya tak ada yang keliru dengan perilaku mahasiswa UGM di atas. Apa yang keliru &lt;i&gt;dong&lt;/i&gt; kalau begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali cara kita memaknai rasionalitas itu yang perlu diperiksa kembali. Seperti kita perlu memeriksa kembali kurikulum dan pengajaran fondasi mikro keputusan manusia di banyak Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial kita di tanah air. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;CATATAN PINGGIR&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menulis artikel ini, saya tergoda untuk bertanya, seperti apa hasil eksperimen apabila respondennya bukan mahasiswa FISIPOL UGM, melainkan, misalnya, mahasiswa FE UGM. Atau, seperti apa kira-kira hasilnya, apabila yang memainkan eksperimen adalah mahasiswa FE UGM dan mahasiswa FE UI, untuk menguji "hipotesis" M.C. Ricklefs, penulis &lt;i&gt;A History of Modern Indonesia&lt;/i&gt;, bahwa UGM lebih “merakyat” dibanding UI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kepustakaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicchieri, Cristina. 2006. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The grammar of society - The nature and dynamics of social norms&lt;/span&gt;. New York: Cambridge University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camerer, Colin F. 2003. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Behavioral game theory - Experiments in strategic interaction&lt;/span&gt;. New York dan New Jersey: Princeton University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cameron, Lisa A. 1999. Raising the stakes in the ultimatum game: Experimental evidence from Indonesia. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Economic Inquiry&lt;/span&gt; 37(1), hal. 47-59.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heinrich, Joseph; Robert Boyd, Samuel Bowles, Colin Camerer, Ernst Fehr dan Herbert Gintis (Editor). 2004. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foundations of human sociality - Economic experiments and ethnographic evidence from fifteen small-scale societies&lt;/span&gt;. Oxford dan New York: Oxford University Press.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-7507779630156184130?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/7507779630156184130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=7507779630156184130' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/7507779630156184130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/7507779630156184130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/03/mahasiwa-ugm-rasional_31.html' title='Mahasiswa UGM rasional?'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-4425464616472273587</id><published>2009-09-02T09:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T03:57:59.386-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengaruh sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Tren sosial bukan seperti virus, tapi seperti kebakaran hutan</title><content type='html'>Oleh Roby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang ingin merubah dunia biasanya memulai dengan menciptakan trend sosial; misalnya, pedagang menggunakan viral marketing, politikus dengan kampanye politik, atau intelektual dengan propaganda ideologi. Ide dasarnya adalah memberikan suatu informasi ke sebanyak mungkin orang. Dalam membicarakan trend sosial ini, kita sering mendengar orang yang menganalogikan trend sosial dengan penyebaran virus penyakit. Tetapi, ini analogi yang salah. Trend sosial lebih mirip kebakaran hutan dibanding penyebaran penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak seperti penyakit dimana kita butuh sekali saja terinfeksi virus untuk sakit, “infeksi sosial” bergantung pada relasi sosial dan frekuensi infeksinya. &lt;/b&gt;Ketika kita mendengar sebuah informasi baru atau gosip, biasanya kita tidak langsung mempercayainya, apalagi jika sumber informasi tersebut bukan orang dekat yang kita percayai. Selain itu, kemungkinan kita mempercayai sebuah gossip akan semakin tinggi jika kita mendengarnya berulang-ulang dan berasal dari orang yang berbeda-beda. Jadi kita tak akan pernah bisa menciptakan “virus sosial” yang selalu ampuh dimana saja kapan saja; keampuhan sebuah informasi untuk mempengaruhi kita tergantung konteks dan relasi sosial yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seperti tren sosial, kebakaran hutan sering terjadi tapi hanya sedikit yang menjadi sangat besar&lt;/b&gt;. Penyebab kebakaran selalu sama: sebuah percikan api yang bisa timbul secara acak (misal dari puntung rokok atau gesekan ranting dan daun). Kebakaran hutan menjadi besar atau tidak ditentukan oleh berbagai macam faktor cuaca seperti apakah saat itu musim hujan atau kemarau, kelembapan, besar dan arah angin dan faktor lingkungan lainnya. Mungkin saja setelah sebuah kebakaran besar kita dapat telusuri asal usul percikan api. Tapi percikan api itu tidak spesial, tidak ada bedanya dengan percikan api lain yang menyebabkan kebakaran lebih kecil. Karena kondisi cuaca saat itu maka percikan api itu menimbulkan kebakaran yang lebih besar dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan tren sosial. &lt;b&gt;Tren sosial bisa dimulai oleh siapa saja. Tetapi apakah lalu tren itu menjadi besar atau tidak tergantung pada situasi sosial saat itu.&lt;/b&gt; Jika situasi sosialnya sudah pas, maka tren dapat menjadi besar terlepas siapa yang memulainya (ketika musim kering, api kecil pun bisa membuat kebakaran besar). Jika situasi sosialnya belum pas, maka tidak ada yang bisa membuat tren tersebut menjadi besar (ketika musim hujan, percikan api bisa cepat mati karena hujan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karena itu pula usaha menemukan influencers dalam viral marketing akan sia-sia. Ini bukan berarti tidak ada orang yang berpengaruh, tentu pengaruh orang berbeda-beda. Tetapi masalahnya, sejauh mana sebuah tren menyebar luas tidak tergantung pada individu yang memulai (early adopters) tren tersebut. Tetapi tergantung pada interaksi sosial yang terjadi ketika tren itu sedang menyebar (apakah ada hujan besar setelah api menyebar atau tidak).&lt;/b&gt; Interaksi antar individu ini sangat rumit sehingga secara praktis menjadi acak dan sulit untuk diprediksi (lihat tulisan tentang &lt;a href="http://individusosial.com/2009/02/mungkinkah-memprediksi-lagu-populer.html" target="_blank" title="http://www.facebook.com/note.php?note_id=49419679474"&gt;memprediksi lagu populer&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya tren sosial besar tidak bisa dimulai hanya dengan "menginfeksi" segelintir orang saja, meskipun mereka adalah orang elit yang berpengaruh besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: perdebatan mana yang lebih penting dalam kebakaran hutan, percikan api di awal atau cuaca ini adalah perdebatan antara Malcolm Gladwell dengan Duncan Watts yang bisa dibaca disini: &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=119435054474&amp;amp;h=4691e0aa1adedc92f27fa92caccdddb9&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.fastcompany.com%2Fmagazine%2F122%2Fis-the-tipping-point-toast.html" target="_blank" title="http://www.fastcompany.com/magazine/122/is-the-tipping-point-toast.html"&gt;Is The Tipping Point Toast?&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-4425464616472273587?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/4425464616472273587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=4425464616472273587' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/4425464616472273587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/4425464616472273587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/09/tren-sosial-bukan-seperti-virus-tapi.html' title='Tren sosial bukan seperti virus, tapi seperti kebakaran hutan'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-5098440706304545915</id><published>2009-03-17T04:48:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T01:16:34.979-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kredit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krismon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Krismon (5): Sumber ketidakstabilan ekonomi dan Penutup</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oleh Roby&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya ingin sedikit bercerita mengenai sejarah asal-usul uang untuk menggambarkan landasan fundamental sistem ekonomi yang mana hidup kita sekarang bergantung. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tentunya saya melakukan banyak penyederhanaan, tetapi saya berharap ide dasarnya tetap bisa dibaca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mari kita mulai dari sistem barter. Disini kita menukarkan barang yang kita miliki dengan barang yang dimiliki orang lain. Dari sini sudah terlihat potensi masalah: bagaimana jika saya memiliki ayam dan ingin jagung, tapi satu-satunya pemilik jagung tidak menginginkan ayam? Maka trasaksi tidak terjadi; secara pribadi saya kesal karena tidak bisa mendapatkan barang yang saya perlukan, dan secara umum kegiatan ekonomi sering terhambat yang akhirnya merugikan semua orang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lalu manusia menciptakan uang. Uang ini bentuknya bisa bermacam-macam, bisa jerami, emas atau perak. Yang penting disini adalah adanya standar untuk melakukan transaksi ekonomi. Salah satu uang yang menjadi populer adalah koin emas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lama kelamaan, sistem koin emas pun terasa tidak efisien. Seiring dengan tumbuhnya ekonomi dimana barang yang dijual belikan semakin bervariasi dengan volume yang besar, para pedagang merasa tidak aman dan efisien jika harus membawa koin-koin emas kemana-mana dalam jumlah besar. Juga ada masalah penyimpanan: emas yang bertumpuk di rumah-rumah pedagang sangat rentan terhadap pencurian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhirnya ada yang mengambil inisiatif untuk membuat “rumah emas”. Pemilik rumah emas ini membangun sebuah tempat yang aman dimana para pedagang merasa aman untuk menitipkan emasnya di rumah emas tersebut. Maka orang berbondong-bondong menitipkan emasnya ke rumah emas. Selain itu, rumah emas ini mengeluarkan sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa  pemegang sertifikat ini memiliki emas sesuai dengan jumlah emas yang di depositkan di rumah emas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sertifikat tersebut tidak menyebutkan nama pemilik deposit, melainkan hanya menyatakan bahwa siapapun yang memegang sertifikat ini berhak atas sejumlah emas yang telah ditentukan. Sehingga para pedagang tinggal saling menukar sertifikat deposit emas ini dalam bertransaksi. Tidak perlu lagi membawa-bawa koin emas dalam jumlah besar. Sertifikat deposit emas ini beredar di masyarakat dan praktis memainkan peran “uang” seperti yang kita kenal sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Si pemilik rumah emas ini mengamati bahwa kebanyakan emas diam tertimbun di gudang. Hanya sedikit emas yang masuk dan keluar setiap harinya. Si pemilik rumah emas mulai mencari cara agar emas yang menumpuk di gudang tersebut tidak menganggur atau bahkan bisa memberikan keuntungan baginya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Maka lahirlah dua hal yang menjadi landasan ekonomi modern: &lt;i&gt;fractional reserve banking (FRB)&lt;/i&gt; dan kredit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Prinsip FRB adalah rumah emas (bank) tidak perlu menyimpan seluruh deposit emas (uang) di dalam bank. Yang perlu disimpan hanyalah sebagian kecil; asal cukup untuk kebutuhan transaksi sehari-hari. Sisanya dipinjamkan dalam bentuk kredit. Maka si pemilik rumah emas ini mulai membuat sertifikat deposit emas yang dapat di beli oleh non-depositor.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Disini mulai tampak sumber ketidakstabilan. Memang betul dalam keadaan normal, transaksi di rumah emas hanya mencakup sebagian kecil total jumlah deposit yang ada. Karena itu rumah emas meminjamkan sebagian besar deposit dalam bentuk kredit. Tetapi, jika karena sesuatu dan lain hal, seluruh depositor meminta seluruh emasnya kembali pada hari yang sama, maka rumah emas kesulitan memenuhi permintaan ini karena emas deposit telah dipinjamkan ke orang lain. Akhirnya rumah emas harus menyatakan bankrut. Jika ada beberapa rumah emas lain di kota tersebut, melihat satu rumah emas bangkrut, depositor juga akan berbondong-bondong menarik emas di rumah emas yang lain. Akhinrya seluruh rumah emas dinyatakan bangkrut dan ekonomi kampung itu runtuh. Inilah yang dinamakan &lt;i&gt;bank run&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Disini kita lihat bahwa sumber ketidakstabilan ini adalah kredit itu sendiri. Saya tidak membahas instrumen finansial canggih, uang kertas, bunga, atau nilai intrinsik. Ketidakstabilan yang dapat meruntuhkan ekonomi melalui bank run ini muncul akibat kredit &lt;b&gt;dan&lt;/b&gt; ketika asumsi independensi dalam perilaku manusia dilanggar(*).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lalu, jika kredit demikan berbahaya kenapa orang melakukannya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Karena ternyata kredit ini adalah mekanisme untuk membuat uang. Misal saya adalah pemerintah dan mencetak uang senilai 100 lalu saya berikan ke bank sentral. Dengan menggunakan prinsip FRB, bank sentral hanya menyimpan, misal, 10% dan meminjamkan sisanya. Jadi 10 tetap di bank sentral dan 90 dipinjamkan ke bank A. Selanjutnya bank A juga hanya simpan 10% dari 90 yaitu 9 dan meminjamkan 81 ke bank B.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dari sini terlihat bahwa negara saya yang mencetak uang 100 menjadi mempunyai kekayaan di atas kertas senilai (100+90+81)=271. Ini dicapai hanya melalui kredit! Tanpa produksi barang apapun. Saya bisa klaim bahwa ekonomi negara saya telah tumbuh (dari 100 ke 270) hanya melalui sistem kredit tanpa menghasilkan barang apapun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekali lagi, tentunya banyak yang terlewat dalam penjelasan sederhana ini. Tetapi justru hal yang ingin saya sampaikan  adalah bahwa dua karakteristik penting dalam ekonomi modern (krisis ekonomi dan pertumbuhan ekonomi) dapat muncul hanya dari satu konsep: kredit (dan saudara kembarnya &lt;i&gt;fractional reserve banking&lt;/i&gt;).  Kredit adalah pisau bermata dua: dapat merusak melalui krisis ekonomi tapi juga berguna untuk “pertumbuhan ekonomi”.  Selama sistem ekonomi berlandaskan kredit maka selama itu pula krisis selalu mengintai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagi saya, masalah ini bukan hanya masalah sistem ekonomi saja, tetapi masalah moralitas dan nilai kepercayaan. Ada moralitas atau nilai/norma kepercayaan yang mendasari perilaku kita dalam menyimpan, meminjam, dan membelanjakan uang; misalnya, mengapa orang harus membayar hutang? jika kita anggap membayar hutang ini bagian dari suatu mekanisme sosial dan lalu pertanyaannya mekanismenya apa dan untuk apa? Singkatnya, bagaimana sistem ekonomi kredit ini muncul?(**)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(*) biasanya perilaku banyak manusia dapat dianggap independen, alias berbeda-beda. Dalam konteks ini, misalnya, ada yang menyimpan emas ke rumah emas dan ada yang menarik emas; atau ada yang menjual dan ada yang membeli. Kadang, akibat panik, gosip atau yang lainnya, perilaku menjadi seragam: semua menarik emas, atau semua menjual. Perubahan dari perilaku yang beragam menjadi perilaku yang sama lah yang berusaha ditangkap dengan istilah perubahan dari independen ke non-independen; atau tidak berkorelasi menjadi berkorelasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(**) teori ekonomi memiliki penjelasan standar yang dikenal sebagai teori ekspektasi rasional. Menurut teori ini, perilaku kita soal uang ini didasari perhitungan rasional untuk mengantisipasi masa depan. Misalnya, menabung dilihat sebagai pinjaman ke diri sendiri di masa depan (&lt;i&gt;loan to future self&lt;/i&gt;). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tulisan ini adalah hasil membaca 2 buku berikut:&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;1. The ascent of money, Nial Fergusson&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;2. The origin of financial crisis, George Cooper&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;     &lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;: Ini adalah seri krismon terakhir.  Terima kasih kepada pembaca sekalian. Sedikit refleksi pribadi mungkin pantas saya tulis disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memulai seri ini karena dipicu keingintahuan mengenai krisis global yang sekarang melanda kita semua.  Ternyata untuk mengetahui apa yang terjadi saja sudah sulit, apalagi mengerti bagaimana dan kenapa krisis terjadi jauh lebih sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya fokus pencarian saya adalah ingin mengerti bagaimana model-model keuangan yang sudah mapan di disiplin ilmu ekonomi keuangan dan sebagian dibaptis oleh nobel ekonomi ternyata tidak jalan. Ditengah pencarian ini, saya berpikir bahwa ada hal yang lebih penting: bahwa sistem ekonomi kapitalisme secara umum membutuhkan pandangan moral tertentu. Seperti yang saya bahas seri krismon terakhir ini, sistem ekonomi yang berlandaskan kredit hanya bisa jalan di masyarakat yang memiliki nilai moral bahwa hutang harus dibayar, dan kontrak adalah segalanya (&lt;i&gt;sanctity of contract&lt;/i&gt;). Misalnya, jika ada konsumen yang bangkrut akibat kredit yang tak terbayar maka secara moral yang disalahkan adalah konsumen, bukan pemberi kredit yang secara agresif dan kadang manipulatif menawarkan kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini bukan hal baru, ilmu ekonomi sendiri muncul dalam bentuk filosofi moral yang ditulis oleh Adam Smith. Jadi landasan moral/kepercayaan kapitalisme ini perlu dimengerti jika kita ingin mengerti bagaimana kapitalisme bekerja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-5098440706304545915?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/5098440706304545915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=5098440706304545915' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/5098440706304545915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/5098440706304545915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/03/krismon-5-sumber-ketidakstabilan.html' title='Krismon (5): Sumber ketidakstabilan ekonomi dan Penutup'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-5711234097215243038</id><published>2009-03-07T12:50:00.000-08:00</published><updated>2009-03-09T00:14:38.078-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sonny'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='preferensi'/><title type='text'>Preferensi Sosial</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Oleh Sonny&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;PILIHAN manusia berbeda-beda. &lt;span lang="id-ID"&gt;Untuk sebuah dunia kecil saja, macam dunia para penulis di Individu Sosial, terlihat betul &lt;/span&gt;perbedaan pilihan itu&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sebut saja p&lt;/span&gt;ilihan makanan&lt;span lang="id-ID"&gt; mereka.&lt;/span&gt; Roby&lt;span lang="id-ID"&gt;, misalnya,&lt;/span&gt; bakal menampik, tatkala disodorkan makanan &lt;span lang="id-ID"&gt;yang bercampur&lt;/span&gt; kari&lt;span lang="id-ID"&gt; atau pasta&lt;/span&gt;. &lt;span lang="id-ID"&gt;Manakala&lt;/span&gt; tawaran itu adalah makanan Sunda &lt;span lang="id-ID"&gt;atau makanan&lt;/span&gt; Jepang&lt;span lang="id-ID"&gt;, pasti c&lt;/span&gt;eritanya &lt;span lang="id-ID"&gt;beda&lt;/span&gt;. &lt;span lang="id-ID"&gt;Lain Roby, lain pula Tirta.&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Ia&lt;/span&gt; gemar makanan Padang dan kuliner Itali&lt;span lang="id-ID"&gt;a, tapi ia tak&lt;/span&gt; berminat dengan &lt;span lang="id-ID"&gt;makanan seperti &lt;/span&gt;“jeroan“&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;  Saya sendiri tak bisa &lt;span lang="id-ID"&gt;menikmati &lt;/span&gt;daging kambing &lt;span lang="id-ID"&gt;senikmat saya melahap&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;tinutuan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, bubur Manado itu, atau Doener ayam dari Turki&lt;/span&gt;.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ekonom menggunakan kata &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;p&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;referensi“&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; untuk &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;me&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;namai&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; pilihan-pilihan itu&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Sebuah penamaan yang terpaut dengan bagaimana pilihan yang satu ditimbang-timbang, kemudian diambil dari sekian pilihan tersedia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;Dua &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;macam &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;preferensi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;PREFERENSI &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;atas sekumpulan benda atau jasa apa saja&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; itu terang saja &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;bisa berbeda-beda&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Persis &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;seperti contoh makanan di awal tulisan ini. Walaupun &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;i&gt;berbeda-beda&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;, di mata para ekonom (utamanya ekonom neoklasik) dasar keputusan manusia atas pilihan&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;-pilihan yang berbeda itu,&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; adalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;i&gt;sama&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Begini&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; maksudnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Saat harus bikin atau ambil keputusan, m&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;anusia - entah tua&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;muda, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;entah le&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;laki&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;perempuan, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;entah mukim &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;di kota atau di desa, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;entah &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;sekarang atau besok, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;pun entah penggemar&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; makanan Sunda atau Itali&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; - &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;hanya mengacu pada&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; dirinya sendiri&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Pada kepentingan dirinya sendiri belaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="it-IT"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;ang Aku atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;i Saya &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;jadi&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; rujukan utama&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; di situ. P&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;erilaku yang mendasari keputusan itu adalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;self-regarding&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. A&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;tau &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;self-interested&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Di sini, hasil dari tindakan kita terhadap orang lain tidaklah relevan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;Sudah &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;barang &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;tentu &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;tak &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;ada yang keliru dengan anggapan ini. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari kita jumpai bertumpuk-tumpuk contoh&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;yang akur dengan &lt;/span&gt;perilaku &lt;span lang="id-ID"&gt;seperti itu&lt;/span&gt;. Dari &lt;span lang="id-ID"&gt;contoh &lt;/span&gt;yang ekstrem, seperti &lt;span lang="id-ID"&gt;tindakan &lt;/span&gt;pialang saham &lt;span lang="id-ID"&gt;di lantai bursa &lt;/span&gt;dan &lt;span lang="id-ID"&gt;laku lajak &lt;/span&gt;politikus&lt;span lang="id-ID"&gt; di pasar Caleg&lt;/span&gt;, atau &lt;span lang="id-ID"&gt;contoh sepele, macam &lt;/span&gt;kemenakan Anda &lt;span lang="id-ID"&gt;yang mengambil&lt;/span&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;porsi&lt;/span&gt; kue lebih besar &lt;span lang="id-ID"&gt;dari yang&lt;/span&gt; Anda tawarkan.&lt;span lang="id-ID"&gt; Lagi pula, memperoleh u&lt;/span&gt;ntung 2 juta lebih baik dibanding 1 juta, bukan?&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Apa yang keliru&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, adalah anggapan, dasar keputusan itu merupakan satu-satunya rujukan keputusan dan perilaku manusia. Kapan saja, di mana saja. Di muka bumi, tak kurang banyak contoh dalam kehidupan kita hari lepas hari yang menggambarkan keragaman perilaku. Contoh-contoh di mana dasar tindakan manusia tidak tunggal. Tidak melulu &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;self-regarding &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;self-interested&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;REINHARD Selten berpendapat, g&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ambaran pengambilan keputusan yang melandasi teori ekonomi kontemporer berbeda jauh dengan perilaku manusia sesunguhnya yang teramati dalam kenyataan. Begitu catatan matematikawan-cum-ekonom itu atas keterbatasan asumsi &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;self-interested&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Selten, bersama John Nash dan John Harsanyi, memperoleh Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1993 atas sumbangsih mereka dalam mengembangkan Teori Permainan, Game Theory.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Jangan-jangan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;pendapat Selten hanya spekulasi belaka? &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Guna menelisik keragaman preferensi, e&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;konom Urs Fischbacher, Simon Gaechter dan Ernst Fehr melancarkan serangkaian eksperimen. Uji coba mereka itu memanfaatkan apa yang lazim dinamakan sebagai permainan barang publik atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;public goods game&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Maksud &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;permainan ini sejatinya sangat lugas. Umpamakan saja Anda hendak membangun sebuah jembatan bersama warga masyarakat di sekitar tempat Anda bermukim. Lantaran pembangunan jembatan tersebut butuh biaya, setiap anggota warga – termasuk Anda – perlu menyumbang. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Rupanya, jumlah &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;anggota warga yang banyak dalam komunitas itu, memungkinkan Anda untuk tidak menyumbang tapi tetap berkesempatan menikmati kegunaan jembatan, saat jembatan tuntas dibangun dan digunakan nanti. (Rasanya juga sulit sekali membatasi boleh-tidaknya orang melintasi jembatan hanya gara-gara tak turut menyumbang.) &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Singkat &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;cerita, Anda dapat “makan untung” atau menumpang gelap alias &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;free riding&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;emampuan prediksi yang akurat adalah keunggulan teori ekonomi standar. Apa prediksinya? Jembatan pasti tidak akan ada. Jembatan bakal tak kunjung terbangun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mengapa demikian? &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Alasannya selugas prediksinya. Sebagaimana disinggung sebelumnya, teori ekonomi standar menganggap setiap insan di kolong langit hanya memikirkan diri sendiri. Dan anggapan ini berlaku dalam situasi apapun. Berkenaan dengan pembangunan jembatan itu, tindakan paling rasional – menurut ilmu ekonomi neoklasik – adalah tidak menyumbang. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tanpa menyumbang, Anda &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;memetik keuntungan ganda secara serentak. Pertama, Anda tidak mengeluarkan uang (atau sumberdaya apapun), sebab kemungkinan menumpang gelap tersedia. Kedua, Anda tetap bisa menikmati keberadaan jembatan (atau barang publik) dari hasil upaya dan sumbangan orang lain (di luar diri Anda).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Apabila &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;setiap warga masyarakat menumpang gelap, atau andaikata seluruh anggota masyarakat secara “rasional” memilih untuk tidak menyumbang, dapat dipastikan jembatan itu tak bakal berdiri. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Seperti Anda lihat, di sini &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;rasionalitas individu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; sontak berubah menjadi &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;i-rasionalitas kolektif&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tetapi, p&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;rediksi teoretis yang akurat adalah satu hal. Sementara, apa yang terjadi dalam kenyataan, adalah urusan empiris. Kita tetap menyaksikan, sumbangan dan kerja bersama tetap terwujud dalam banyak pembangunan fasilitas yang punya karakter barang publik, seperti jembatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Penelitian Fischbacher&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, Gaechter dan Fehr tersebut memang bukan khusus soal jembatan. Eksperimen ekonomi mereka dirancang untuk secara langsung mencaritahu perilaku individu saat diminta menyediakan barang publik. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Uji coba&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; itu melibatkan mahasiswa sebagai pengambil keputusan. Sejumlah uang diberikan pada para mahasiswa itu. Uang tersebut bakal digunakan (atau tidak, tergantung pilihan mahasiswa bersangkutan) untuk tersedianya barang publik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Berdasar hasil &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;eksperimen, sekitar 30 persen peserta menumpang gelap. Berkali-kali kelompok ini tak kunjung menyumbang apa-apa; mereka tidak bekerja sama demi tersedianya barang publik. Hasil ini sekaligus memberi penegasan, perilaku yang hanya memikirkan diri sendiri, ada dan nyata dalam “masyarakat” seperti kita temukan setiap hari dalam kehidupan. Angka 30 persen adalah prosentase yang tidak bisa diabaikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Perilaku apa &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;dong &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;yang dominan? Teramati selama eksperimen adalah apa yang dapat disebut sebagai “kerjasama bersyarat” atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;conditional cooperation&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Perilaku dari 50 persen peserta eksperimen dapat dijelaskan dalam kategori ini. Kerjasama bersyarat, maksudnya? Mereka rela menyumbang lebih bagi barang publik apabila peserta lain semakin banyak menyumbang. Perilaku macam ini tidak selaras dengan prediksi standar ilmu ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Preferensi sosial&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;KERJASAMA bersyarat itu &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;patut digolongkan sebagai preferensi sosial. Pokok yang disebut belakangan ini terkait dengan bagaimana orang menyusun urutan atau ranking untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain, saat berhadapan dengan urusan pembagian materi yang berbeda-beda. Dalam bahasa sehari-hari, ini soal bagi-membagi sesuatu untuk diri seseorang dan untuk orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Saat menyusun urutan dan membagi-bagi bagian itu, seperti ditunjukkan banyak hasil eksperimen ekonomi sejak tahun 1980-an, orang rela menaikan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;atau&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; menurunkan bagian atau jatah (atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;payoff&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;) orang lain. Bahkan sekalipun tak tersedia keuntungan material baginya saat ini atau di waktu nanti dari berkurang atau bertambahnya &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;payoff&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; tersebut. Bukankah orang tega menghukum mantan kekasihnya yang dulu begitu dicintai?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dus, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ibarat sebuah keluarga yang punya anak banyak, perilaku &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;self-interested&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; hanya satu dari sekian anggota keluarga. Bukan satu-satunya. Dalam keluarga itu, tidak semua orang egois. Ada orang yang altruistik, yang membantu orang tanpa syarat, tak peduli apapun tindakan atau tanggapan orang lain itu atas bantuannya. Ada pula sosok yang resiprokal, yang bekerjasama saat orang lain bekerjasama, dan menghukum mereka yang tidak bekerjasama walaupun ia mesti merugi gara-gara ongkos hukumannya itu. Preferensi sosial, karena itu, pantas pula kita tambahkan sebagai anggota keluarga besar perilaku manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam tulisan sebelumnya, r&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ekan saya Tirta telah mengupas peliknya ihwal insentif. (Di sana, Tirta mengutip contoh soal membantu orang menyeberang jalan. Orang itu tak kita kenal, baru sekali bersua dengan kita, dan barangkali tak bakal berjumpa lagi. Singkat cerita, tak ada &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;future benefit&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; apapun dari bantuan kita baginya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; tetap kita saksikan banyak orang memberi bantuan.) Meminjam penjelasan preferensi sosial, saya ingin kemukakan contoh satu berikut ini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Bayangkan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;seorang ditabrak mobil persis di depan Anda saat ia hendak menyeberang jalan. Besar kemungkinan Anda akan menolongnya. Anda, misalnya, membopong tubuhnya ke pinggir jalan atau bergegas memanggilkan mobil ambulans. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sekarang, m&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ari konteks cerita tabrakan itu kita ubah sedikit. Bayangkan kembali, persis di depan Anda yang sedang menunggu lampu hijau, ia menyeberang jalan. Ia memaksa menerobos saat lampu merah, lantas dihajar mobil yang melaju.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Orang malang itu b&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;arangkali akan tetap Anda tolong. Tetapi, mungkin dengan tingkat kesediaan menolong berbeda ketimbang dalam cerita pertama kita. Boleh jadi Anda tetap mengulurkan pertolongan, tetapi sambil bersungut dalam hati. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;“&lt;span lang="id-ID"&gt;Sompret. Sudah tahu merah, masih nerobos juga.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-5711234097215243038?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/5711234097215243038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=5711234097215243038' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/5711234097215243038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/5711234097215243038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/03/preferensi-sosial.html' title='Preferensi Sosial'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-3654801728953720781</id><published>2009-02-27T04:20:00.000-08:00</published><updated>2009-02-27T04:26:04.204-08:00</updated><title type='text'>Soal Makan, dan Kebebasan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Oleh Tirta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;DALAM sorotannya terhadap fenomena obesitas di Amerika, buku The Fattening of America menggarisbawahi dua faktor penyebab. Pertama, begitu banyaknya makanan murah nan menggemukkan. Kedua, ragam teknologi baru yang memungkinkan individu bekerja produktif tanpa harus membakar banyak kalori.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Menurut penulis buku tersebut, ekonom Eric Finkelstein dan Laurie Zuckerman, obesitas adalah produk keberhasilan -- bukan kegagalan -- pasar bebas. Pasar bebas sukses memberi individu akses untuk membeli makanan murah dan teknologi inovatif yang sebelumnya tidak tersedia, walau akhirnya berdampak pada kenaikan berat badan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terlepas dari peliknya masalah obesitas itu sendiri (dari soal siapa yang harus menanggung 'biaya publik' jika sebagian besar masyarakat kelebihan berat badan, masalah asuransi kesehatan, hingga peran pemerintah dalam menanggulangi problem ini), buku ini bersandar pada paradigma pilihan rasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Menurut paradigma ini, obesitas merupakan dampak dari sejumlah pilihan rasional. Dengan kata lain, individu secara sadar memilih untuk makan lebih banyak dan menggunakan teknologi-teknologi yang membuat hidup mereka lebih nyaman, sehingga akhirnya membakar lebih sedikit kalori dan menambah berat badan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan karena rasional, maka pilihan individu ini harus dihormati. Makan, menurut The Fattening of America, merupakan ekspresi kebebasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;LAIN The Fattening of America, lain pula Mindless Eating. Dalam buku ini, psikolog Brian Wansink bercerita tentang sejumlah eksperimen makan yang menarik.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di sebuah bioskop di Chicago, Wansink dan para mahasiswanya memberi pengunjung popcorn melempem secara gratis. Sebagian pengunjung diberi popcorn melempem banyak, dalam kotak besar, sedangkan lainnya sedikit, dalam kotak kecil. Setelah film selesai, jumlah konsumsi popcorn diukur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hasilnya sulit masuk akal. Pengunjung dengan kotak besar didapati memakan 53% lebih banyak popcorn dibanding pengunjung kotak kecil. Popcorn yang, walaupun gratis, melempem.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam eksperimen-eksperimen sejenis lainnya, Wansink menemukan bahwa secara rata-rata seseorang akan makan 25% lebih banyak ketika menggunakan piring besar, dibanding piring sedang atau kecil. Lauk yang dibiarkan di meja akan menyebabkan konsumsi makanan 30% lebih banyak. Gelas besar-pendek menyebabkan konsumsi bir 30% lebih banyak dibanding gelas kurus-tinggi, walau keduanya berkapasitas sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Menariknya, seluruh peserta eksperimen diatas tidak percaya ketika diberi tahu bahwa mereka makan lebih banyak karena faktor-faktor seperti ukuran piring, besar kotak popcorn, letak piring lauk, dan bentuk gelas bir. Sebagian besar malahan menyangkal dan merasa hal tersebut tidak mungkin terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Yang dilakukan Wansink adalah demonstrasi proses bawah-sadar di balik tindakan makan seorang individu. Mindless Eating, dengan kata lain, menunjukkan bahwa makan tidak selamanya rasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;THE Fattening of America dan Mindless Eating berbicara tentang fenomena yang sama. The Fattening of America melihat secara makro apa yang terjadi di masyarakat ketika sebagian anggotanya kelebihan berat badan. Mindless Eating mempelajari apa yang terjadi di level individu ketika mereka memutuskan untuk makan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di tataran praktis, kedua buku bersifat melengkapi. Makan adalah fenomena publik sekaligus individu, sehingga tinjauan makro dan analisis individu mesti jalan beriringan ketika masyarakat menghadapi dan ingin memahami masalah seperti obesitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun keduanya berkonflik di tataran paradigma. Mindless Eating menunjukkan bahwa makan melibatkan proses-proses otak yang terjadi bawah-sadar; bahwa makan bukan merupakan proses yang sepenuhnya berada di dalam kontrol individu. Sedangkan menurut The Fattening of America, makan merupakan sebuah ekspresi kebebasan individu yang harus dihargai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Konflik paradigma ini dapat diletakkan dalam konteks lebih luas mengenai paternalisme. Perlukah pihak publik (negara) maupun privat (perusahaan, organisasi) mengarahkan individu agar dapat mengambil keputusan dengan lebih baik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pendukung paternalisme mendasarkan argumen mereka pada temuan-temuan empiris sejenis Mindless Eating, yang menunjukkan bahwa individu adalah entitas yang seringkali bertindak di luar kesadarannya sendiri. Mereka yang anti-paternalisme melihat individu terutama sebagai entitas rasional, seperti digarisbawahi oleh The Fattening of America.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Perdebatan soal paternalisme ini jauh dari sederhana, dan tampaknya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Yang jelas, perbandingan antara kedua buku di atas mengangkat kembali sebuah pertanyaan empiris, teoritis, sekaligus filosofis yang sangat fundamental: Sebebas apakah individu dalam mengambil sebuah keputusan, dan bagaimana kebebasan ini harus dikonsepkan dan dihargai?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-3654801728953720781?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/3654801728953720781/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=3654801728953720781' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/3654801728953720781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/3654801728953720781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/02/soal-makan-dan-kebebasan.html' title='Soal Makan, dan Kebebasan'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-5937801875886170793</id><published>2009-02-21T04:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T05:11:11.084-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='insentif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jejaring sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='facebook'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Situs jejaring sosial atau situs nongkrong?</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oleh Roby&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda tanyakan bagaimana menyelesaikan sebuah masalah sosial ke ekonom, maka kemungkinan besar dia akan menganjurkan mekanisme pasar: sebarkan informasi secara merata, biarkan setiap orang bertindak bebas dan lalu tonton bagaimana kompetisi bebas akan menghasilkan solusi yang optimal dan efisien.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk banyak hal, solusi dengan mekanisme pasar ini berjalan baik. Contohnya adalah internet. Internet memungkinkan pemerataan informasi sehingga memudahkan orang untuk menimbang untung rugi sebelum mengambil keputusan. Misalnya adalah situs pelelangan eBay yang bisa dijadikan contoh klasik dimana pembebasan informasi melalui internet bisa membuat transaksi ekonomi menjadi lebih efisien. Seseorang yang sudah bosan dengan jemuran handuknya, misalnya, tidak perlu membuangnya tapi bisa dijual ke orang lain yang menawarkan harga tertinggi melalui situs eBay. Solusi yang dicapai membuat kedua pihak senang: jemuran handuk berpindah tangan dari orang yang tidak menginginkannya ke orang yang menginginkannya dengan harga sesuai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Disini, ide dasarnya adalah Internet membuka kesempatan untuk menemukan barang yang kita inginkan dengan harga yang disepakati kedua pihak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selanjutnya, ide ini dicoba diterapkan ke jejaring pertemanan (social network); sehingga menjamurlah situs-situs seperti facebook, myspace dsb.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kita hidup di dunia yang sangat rumit sehingga wajar jika menghadapi masalah kita berpaling ke teman-teman, keluarga dan orang lain disekitar kita. Ketika akan membeli handphone, misalnya, kita meminta pendapat teman; atau bisa juga secara sembunyi-sembunyi memperhatikan handphone apa yang banyak dipakai teman sekitar. Pacar, istri, atau suami sering kita peroleh karena dikenalkan oleh teman. Ketika mencari pekerjaan atau pegawai, kita sering memanfaatkan teman, sanak-saudara, atau kenalan lain. Artinya, banyak masalah yang solusinya ditemukan setelah kita menemukan orang yang tepat di jejaring sosial kita.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meskipun kita sadar jejaring sosial yang kita miliki penting, sulit bagi kita untuk mengetahui dengan pasti siapa-siapa saja yang ada di jejaring kita ini. Malah kenyataannya, sering kita tidak tahu secara komplit siapa saja teman kita, apalagi temannya teman, atau bahkan temannya temannya teman kita. Karena itu keberadaan situs social networking memberikan kita cara untuk memetakan jejaring sosial kita ini. Perkiraannya, situs social networking ini menjadi jembatan dimana anggotanya dapat melihat orang-orang dua langkah dari dirinya (temannya teman) dan meminta temannya untuk memperkenalkan ke orang yang dituju. Tentunya kita bisa saja minta kenalan secara langsung tanpa perantara, tapi justru kelebihan social networking adalah adanya perantara yang dapat memperlicin proses perkenalan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi situs social nerworking ini diharapkan berfungsi mirip eBay dimana tirai penghalang informasi diangkat sehingga kita bisa memilih perantara yang dapat menghubungkan kita dengan seseorang yang kita perlukan secara efisien.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sayangnya kenyataannya tidak berjalan mulus. Seorang teman saya, seorang laki-laki, kaget bahwa perempuan idamannya ternyata teman dari seorang temannya; teman saya mengetahui hal ini dari sebuah situs social networking. Lalu teman saya ini meminta temannya untuk menjadi perantara dan mengenalkan ke perempuan pujaannya tersebut. Diluar dugaan teman saya, ternyata si perantara secara halus menolak memperkenalkannya. Tidak jelas alasannya apa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contoh kedua dialami saya sendiri. Saya menemukan presenter TV favorit saya di facebook lalu saya kirimkan permintaan untuk menjadi teman tetapi ditolak. Setelah itu saya lihat ternyata presenter ini temannya teman baik saya. Lalu saya minta ke teman saya tersebut untuk dikenalkan. Lagi-lagi, teman saya menolak permintaan saya ini. Dia bilang dia sendiri tidak terlalu dekat dengan si presenter tersebut dan dia merasa canggung untuk mengenalkan saya karena menurut dia "kegenitan" (presenternya memang perempuan). Saya protes dibilang genit dan jelaskan bahwa salah satu risiko menjadi tokoh publik - termasuk presenter TV - adalah memiliki penggemar; meskipun batas penggemar dan kegenitan kadang tipis, tetapi - paling tidak menurut saya- mengkespresikan diri sebagai penggemar adalah hal wajar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari dua contoh diatas tampak bahwa jejaring pertemanan tidak berjalan seperti pasar biasa karena ongkos transaksi tidak hanya ditanggung oleh pembeli atau penjual, tapi juga oleh perantara. Sehingga situs social networking tidak sesukses eBay dalam arti mempertemukan dua orang yang saling memerlukan (dalam arti seluas-luasnya) karena adanya teman sebagai perantara yang tidak bisa dilewati begitu saja. Membayar teman untuk membujuk dia menjadi perantara malah dapat membuat dia tersinggung. Banyak alasan seseorang menolak menjadi perantara. Dalam contoh pertama, mungkin saja si perantara itu justru naksir sang perempuan, atau si perantara tahu bahwa temannya itu seorang "player" sehingga menolak mengenalkan teman perempuannya karena takut dipermainkan. Atau contoh lain, seseorang menolak merekomendasikan temannya menjadi pegawai karena dia tahu temannya itu pemalas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Singkatnya, dalam jejaring pertemanan, kegunaan suatu ikatan pertemanan sangat bergantung dan sensitif terhadap konteks. &lt;u&gt;Ongkos transaksi tidak hanya harus dibayar oleh pembeli dan penjual tapi juga oleh perantara.&lt;/u&gt; Keterlibatan perantara inilah yang membuat dinamika jejaring sosial menjadi rumit.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika situs jejaring sosial tidak bekerja sebagaimana social networking diharapkan memberikan manfaat dimana orang bisa menggunakan temannya sebagai perantara, maka apa artinya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sepertinya, situs social networking ini lebih mirip seperti nongkrong-nongkrong di mall atau tempat publik lainnya. Orang ingin melihat dan dilihat orang lain. Jadi situs social networking lebih cocok dikategorikan sebagai hiburan; belum memiliki utilitas yang berarti secara ekonomis bagi penggunanya. Mungkin karenanya model bisnis situs jejaring sosial ini masih mengandalkan pendapatan dari iklan; karena manfaatnya belum cukup besar sehingga orang mau bayar untuk menjadi anggota.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Karena itu belum ada model bisnis yang cocok untuk situs jejaring sosial. LinkedIn mungkin cukup berhasil membuat situsnya bermanfaat untuk penggunanay. facebook masih kelimpungan mencari model bisnis; sepertinya facebook kesulitan mengurusi masalah privasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, inovasi yang ditunggu-tunggu adalah bagaimana menyusun struktur insentif yang dapat menjalar di jejaring sosial. Sehingga orang dapat memberikan insentif yang tepat yang menyebabkan informasi dan sumber daya (resources) dapat mengalir lebih efisien di jejaring sosial. Jika ini ditemukan maka situs-situs seperti facebook berubah atau digantikan dari situs nongkrong ke situs jejaring sosial sejati dimana orang - dibantu teknologi - dapat membuat modal sosial bekerja sesuai yang diinginkannya. Usaha ke arah ini sudah dimulai, tapi masih berkutat di lingkungan akademis dan belum ditemukan cara implementasi praktis yang efektif dan efisien. Jika berhasil, mungkin saja kisah sukses Google terulang: dimana sains, teknologi, dan eksekusi lapangan bersinergi menghasilkan inovasi yang meningkatkan kualitas hidup banyak orang dan bisnis yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-5937801875886170793?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/5937801875886170793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=5937801875886170793' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/5937801875886170793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/5937801875886170793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/02/situs-jejaring-sosial-atau-situs.html' title='Situs jejaring sosial atau situs nongkrong?'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-8181844412280068513</id><published>2009-02-13T10:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T10:12:59.516-08:00</updated><title type='text'>Apa itu IQ?* (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Oleh Tirta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;DALAM bagian pertama tulisan ini dibahas tentang skor IQ. Namun apa itu sebenarnya IQ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; IQ adalah metrik kecerdasan, yang dihasilkan oleh alat ukur yang disebut tes IQ. Untuk memahami IQ, kita harus memahami hakikat tes IQ sebagai sebuah alat ukur psikologis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Ada dua syarat yang mendasari alat ukur yang baik. Pertama, alat ukur yang digunakan harus relevan dengan hal yang ingin diukur. Kedua, alat ukur tersebut harus menghasilkan pengukuran yang konsisten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Contohnya mengukur panjang. Untuk mengukur panjang, kita menggunakan penggaris, bukan termometer. Tidak relevan jika kita mengukur panjang dengan termometer, yang fungsinya mengukur temperatur. Penggaris yang digunakan juga harus baik kualitasnya, sehingga hari ini dan besok memberikan hasil ukur yang sama, tidak berubah-ubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Sama halnya dengan mengukur kecerdasan. Tes IQ yang baik harus relevan mengukur kecerdasan, dan konsisten menghasilkan skor IQ yang sama. Namun mengukur kecerdasan tidak sesederhana mengukur panjang atau temperatur. Semua orang sepakat tentang apa itu panjang dan apa itu temperatur. Namun apa itu kecerdasan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Seorang anak Jakarta yang mampu mengerjakan soal-soal matematika dan bahasa seringkali dikatakan cerdas. Namun bagi seorang anak Dayak, matematika dan bahasa tersebut tidak relevan. Sebaliknya, kemampuan berburu yang tinggi bagi seorang anak Dayak adalah sebentuk kecerdasan, namun tidak demikian bagi anak Jakarta. Dengan kata lain, kecerdasan itu relatif, dan merupakan fungsi dari budaya dan lingkungan sekitar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Karena mayoritas masyarakat dunia dewasa ini hidup dalam budaya yang berbasiskan matematika dan bahasa, maka kemampuan mengerjakan soal-soal matematika dan bahasa dianggap sebagai ukuran umum kecerdasan. Inilah alasan mengapa tes IQ modern biasanya berisi soal-soal matematika dan bahasa. Bukan karena matematika dan bahasa adalah elemen-elemen kecerdasan yang absolut, namun karena matematika dan bahasa merupakan komponen-komponen kecerdasan yang diterima oleh masyarakat umum pada saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Selain itu, tes IQ yang baik juga mampu memprediksi metrik-metrik lain yang umum disangkutpautkan dengan kecerdasan, seperti misalnya nilai di sekolah, gaji, dan kesehatan. Jika masyarakat menerima bahwa nilai di sekolah, gaji yang tinggi, dan kesehatan yang baik merupakan refleksi dari tingkat kecerdasan manusia modern, maka tes IQ yang baik harus menghasilkan skor yang memiliki korelasi dengan metrik-metrik tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Terakhir, tes IQ yang baik harus menghasilkan skor yang konsisten. Jika skor tes saya hari ini 115, maka minggu depan skor saya tidak boleh beranjak jauh dari 115. Jika skor saya minggu depan 90, maka tes IQ tersebut perlu diragukan kesahihannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Dalam cabang ilmu psikologi yang khusus mempelajari IQ (disebut psikometri), kesesuaian antara alat ukur dengan hal yang ingin diukur disebut validitas. Konsistensi hasil pengukuran disebut reliabilitas. Jadi tes IQ yang baik harus valid sekaligus reliabel. Artinya, tes tersebut harus mengukur hal-hal yang memang merupakan elemen-elemen kecerdasan, memilki korelasi dengan metrik-metrik kecerdasan lainnya, serta menghasilkan skor yang konsisten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Hingga kini, persyaratan validitas dan reliabilitas ini hanya dipenuhi oleh sejumlah tes IQ yang tidak tersedia bebas. Tes-tes ini hanya dapat diberikan oleh psikolog-psikolog yang berlisensi, yang kompeten memberi informasi tentang skor IQ dan interpretasinya (lihat tulisan bagian 1&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;). Tes-tes IQ yang merebak bebas di internet biasanya tidak memenuhi kriteria tadi, sehingga tidak dapat digunakan dengan serius sebagai sebuah metrik kecerdasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; KONSEP dan tes IQ sering disebut sebagai pencapaian terbesar ilmu psikologi modern. Sebutan ini tentu dapat diperdebatkan. Yang jelas, IQ sebagai metrik kecerdasan memiliki sejarah ilmiah yang panjang**. IQ merupakan hasil aspirasi banyak ilmuwan, yang selama lebih dari satu abad berusaha untuk mengkuantifikasi kecerdasan manusia dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Proses satu abad inilah yang melahirkan tes-tes IQ modern yang valid dan reliabel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; ---&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; *Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang tentang hal-hal yang kritis, rasional, dan faddish dengan ekonom sekaligus teman debat Arya Gaduh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; **Sejarah panjang IQ ini dapat dikontraskan dengan sejarah konsep-konsep sejenis IQ yang relatif baru, seperti EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient). Walau menjanjikan, EQ dan SQ belum memiliki validitas, reliabilitas, dan proses standarisasi yang sebanding dengan IQ, sehingga belum layak menyandang status sebagai metrik kecerdasan emosional dan spiritual.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-8181844412280068513?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/8181844412280068513/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=8181844412280068513' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/8181844412280068513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/8181844412280068513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/02/apa-itu-iq-bagian-2.html' title='Apa itu IQ?* (Bagian 2)'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-4139352396440161410</id><published>2009-02-13T10:03:00.001-08:00</published><updated>2009-02-13T10:08:18.366-08:00</updated><title type='text'>Apa itu IQ?* (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="19168a2bb27b9f12020b28b5e9b0bfff" type="hidden"&gt;&lt;div class="note_header"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div class="note_title_share clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh Tirta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAH satu konsep psikologi ilmiah yang paling populer adalah IQ (Intelligence Quotient). Kita semua pernah mendengar tentang IQ. Kita juga tahu bahwa IQ berhubungan dengan kecerdasan. Namun apa itu sebenarnya IQ? Apa-apa saja yang terkandung di dalam sebuah tes IQ? Bagaimana mengartikan sebuah skor IQ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan singkat ini bertujuan untuk menjelaskan secara umum hakikat ilmiah di balik konsep IQ. Bagian pertama membahas tentang skor IQ. Bagian kedua mengurai soal peliknya mengukur kecerdasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATAKANLAH skor total IQ saya 115. Cerdaskah saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini tidak dapat dijawab tanpa rujukan ke sebuah acuan. Acuan yang relevan adalah skor IQ sejumlah orang lain (biasanya ribuan) yang sebelumnya telah mengambil tes IQ yang sama. Proses yang menghasilkan skor acuan ini disebut standarisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam standarisasi tes IQ, skor ribuan orang tadi ‘dipaksa’ untuk menyebar sesuai pola statistika tertentu yang disebut distribusi normal, dengan skor rata-rata 100. Secara sederhana, distribusi normal adalah sebaran data dimana mayoritas skor berada di sekitar rata-rata. Distribusi ini begitu spesifik sehingga memungkinkan kita untuk mengestimasi jumlah orang yang memiliki skor tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti kaidah-kaidah distribusi normal, kita dapat memperoleh estimasi akan jumlah orang yang memiliki skor 115, seperti saya. Dalam hal ini, distribusi normal mendikte bahwa 84% orang memiliki skor lebih rendah dari 115, dan 16% sisanya lebih tinggi**.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah arti fundamental sebuah skor IQ. Misalkan tes IQ tertentu yang saya ambil memiliki acuan skor 5000 orang, dengan skor rata-rata 100, maka skor 115 saya lebih tinggi dari skor 4200 orang, dan lebih rendah dari 800 lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika skor saya yang 115 ini lalu diberi label 'cerdas', atau 'agak cerdas', hal ini tidak penting. Label atau kategori skor seringkali hanya didasarkan pada kenyamanan, dan tidak memiliki arti apapun selain posisi skor relatif terhadap standar seperti diuraikan di atas. Ada dua hal yang lebih penting untuk dipahami: (1) demografi ke-5000 orang tadi, dan (2) elemen-elemen yang membentuk skor total 115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa ke-5000 orang tadi? Jika ke-5000 orang tadi adalah para profesor dari seluruh dunia, maka mungkin saya boleh berbangga. Namun jika ke-5000 orang tadi adalah anak kelas 1 SD dari sekolah yang terbelakang, tentu lain cerita. Ilustrasi ekstrim ini menggarisbawahi pentingnya informasi akan demografi orang-orang yang terlibat dalam proses standarisasi. Tidak bisa tidak, skor IQ hanya bermakna jika dibandingkan dengan skor acuan yang berasal dari kelompok yang relevan, baik dari segi usia, pendidikan, maupun status sosial-ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dan yang paling informatif, sub-skor apa saja yang akhirnya menghasilkan skor total 115 tadi? Ambil contoh sederhana sebuah tes IQ yang 50% komponennya adalah matematika dan 50% lagi bahasa. Skor matematika saya 90, bahasa 140. Skor matematika teman saya 120, bahasa 110. Walaupun skor total kami sama, yaitu 115, namun informasi yang terkandung di dalam kedua sub-skor matematika dan bahasa tersebut jelas berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sub-skor IQ merefleksikan kemampuan seseorang relatif terhadap dirinya sendiri, di domain-domain yang bervariasi. Saya mungkin lemah di matematika dan sangat kuat di bahasa, sedangkan teman saya mungkin relatif kuat di keduanya. Dari sini kita bisa mengidentifikasi bakat, dan melakukan intervensi spesifik pada domain-domain yang dirasa kurang namun penting. Inilah mengapa sub-skor jauh lebih substansial dibanding skor akhir IQ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMBALI ke pertanyan di awal tadi. Skor total IQ saya 115. Cerdaskah saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian di atas menunjukkan kelirunya pertanyaan tersebut. Cerdas atau tidak hanyalah sebuah label. Yang penting dari sebuah skor IQ adalah informasi demografi tentang kelompok yang dijadikan acuan, dan informasi tentang sub-skor. Kedua informasi ini vital sifatnya untuk mengartikan skor IQ manapun dengan sungguh-sungguh. Tes IQ yang tidak memiliki informasi lengkap akan proses standarisasi, demografi, dan sub-skor tidak dapat dianggap serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang tentang hal-hal yang kritis, rasional, dan faddish dengan ekonom sekaligus teman debat Arya Gaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Distribusi normal bekerja berdasarkan rata-rata dan standar deviasi. Misalkan tes IQ yang saya ambil memiliki skor rata-rata 100 dengan standar deviasi 15. Distribusi ini mendikte bahwa presentase populasi yang memiliki skor di atas 55, 70, 85, 100, 115, 130, dan 145, secara berurutan, adalah kurang-lebih 99,9%, 97%, 84%, 50%, 16%, 3%, dan 0,1%. &lt;/span&gt;               &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: trebuchet ms;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-4139352396440161410?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/4139352396440161410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=4139352396440161410' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/4139352396440161410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/4139352396440161410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/02/apa-itu-iq-bagian-1_13.html' title='Apa itu IQ?* (Bagian 1)'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-6139340531494298427</id><published>2009-02-08T06:48:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T07:26:19.053-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengaruh sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Mungkinkah memprediksi lagu populer?</title><content type='html'>oleh Roby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang ingin menjadi musisi terkenal, berhati-hatilah jika ada orang yang menjanjikan mampu membuat lagu anda menjadi lagu hit nomor satu. Karena lagu mana yang akan menduduki puncak popularitas sangat sulit untuk diprediksi. Itulah hasil sebuah studi ilmiah tentang bagaimana lagu menjadi populer, yang dilakukan oleh para sosiolog di Universitas Columbia New York. Hasil penelitian ini telah diterbitkan di jurnal imiah terkemuka Science.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti ini, sosiolog Matt Salganik, Peter Dodds dan Duncan Watts, termotivasi melakukan penelitian oleh sebuah paradoks yang umum diamati dalam produk budaya seperti musik atau buku. Paradoksnya adalah sebagai berikut: kita lihat sebuah produk budaya yang sukses menjadi sangat terkenal, misalnya buku Harry Potter. Buku ini menjadi buku yang paling laris kedua sepanjang sejarah setelah Kitab Injil dan telah diterjemahkan ke lebih 60 bahasa. Karena suksesnya yang luar biasa ini kita cenderung menganggap buku Harry Potter memiliki kualitas unik. Padahal pada mulanya penulis Harry Potter hampir dibuat frustrasi  karena bukunya ditolak berkali-kali oleh penerbit. Ini aneh, jika memang Harry Potter memiliki kualitas unik yang sangat berbeda dibanding buku-buku anak lain, seharusnya para penerbit profesional mampu mendeteksi keunikan ini. Lagipula memang sudah menjadi pekerjaan penerbit profesional yang dibantu pengalaman bertahun-tahun untuk menemukan buku laris. Jadi paradoksnya adalah jika memang produk yang sukses sangat berbeda dibanding produk yang biasa-biasa saja, mengapa kita tetap kesulitan untuk memprediksi produk mana yang akan sukses? Bagaimana kesenjangan lebar sangat sulit diprediksi? Bukankah seharusnya lebih mudah bagi kita untuk mendeteksi sesuatu yang sangat berbeda dari rata-rata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci misteri ini, menurut Salganik dkk, adalah fakta bahwa orang terpengaruh teman atau orang lain dalam menentukan buku atau lagu mana yang dibeli. Untuk mengukur sampai sejauh mana pengaruh sosial dari orang lain ini mempengaruhi sukses tidaknya sebuah produk, mereka melakukan serangkaian eksperimen sosial dengan menggunakan Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eksperimen Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 14.000 peserta eksperimen dan 48 lagu dari grup musik yang tidak dikenal sebelumnya di sebuah website. Para peserta eksperimen diminta untuk mendengarkan lagu yang tersedia sesuai dengan pilihan masing-maing. Selain itu, mereka diminta memberi nilai (skala 1-5) terhadap lagu yang di dengar. Jika mereka ingin, mereka diperbolehkan untuk mengunduh lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta eksperimen dipisahkan menjadi dua kelompok secara acak. Satu kelompok disebut kelompok “independen” dimana peserta dalam kelompok ini tidak mengetahui apa pendapat orang lain tentang lagu-lagu yang tersedia.  Kelompok lainnya adalah kelompok “pengaruh sosial” dimana peserta bisa melihat sudah berapa kali sebuah lagu sudah diunduh. Selain itu, peserta dalam kelompok pengaruh sosial dibagi-bagi lagi secara acak ke dalam delapan buah “dunia paralel”; dimana, dunia paralel ini bisa berevolusi secara independen satu sama lain. Jadi lagu yang paling populer di satu dunia bisa berbeda dengan lagu populer di dunia lain, dan peserta di masing-masing dunia tidak mengetahui pilihan peserta di dunia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualitas Tidak Menentukan Sukses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti menemukan bahwa, ketika ada pengaruh sosial, kesuksesan sebuah lagu tidak ditentukan seluruhnya oleh kualitas. Disini kualitas lagu ditentukan oleh pangsa pasar (market share) dan ranking oleh peserta dalam kelompok independen (tidak ada pengaruh sosial). Bukan berarti kualitas tidak penting sama sekali, penyanyi dengan suara sumbang tak akan menempati posisi nomor satu. “Lagu paling bagus tidak pernah berada di papan bawah, dan lagu terjelek tidak pernah ada di puncak tangga” ujar Salganik, “tetapi diluar itu, semua kemungkinan bisa terjadi” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, sebuah lagu berjudul “Lockdown” oleh grup musik 52metro berada percis ditengah-tengah dalam hal kualitas. Ia berada di peringkat 26 dari 48 lagu di kelompok independen.  Tetapi dalam kelompok pengaruh sosial, peringkatnya bisa jauh berbeda. Dalam satu kelompok lagu itu menjadi nomor satu, dan di kelompok lain ada di rangking 40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Salganik, studi ini memiliki beberapa implikasi. Pertama, sukses bukan merupakan indikator kualitas yang bagus. Kedua,  ketidak mampuan untuk prediksi adalah sifat mendasar dalam pasar budaya (misal untuk lagu dan buku). Dengan kata lain, meskipun kita mengetahui informasi lengkap tentang sebuah lagu dan selera pendengar,  jika ada pengaruh sosial maka kita tetap tidak akan dapat memprediksi lagu mana yang akan sukses.  Di akhir papernya, mereka menulis “para pakar gagal memprediksi sukses bukan karena pakar tersebut tidak kompeten atau tidak mampu mengetahui preferensi individu, tetapi karena, ketika keputusan individu terpengaruh efek sosial, pasar tidak merefleksikan preferensi individu yang sudah ada”. Sukses dalam pasar budaya tidak bisa diprediksi, tidak peduli seberapa banyak seseorang memiliki keahlian dan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan, hasil ini juga menyanggah ide akan adanya orang-orang spesial yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain sehingga membuat suatu produk menjadi sukses. Meskipun ide ini banyak dikemukakan oleh agen marketing dan penulis seperti Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point. Hasil eksperimen ilmiah justru menunjukkan sebaliknya, semakin banyak orang mendengar pendapat orang lain maka semakin sulit memprediksi popularitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Efek “yang kaya tambah kaya”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hasil studi ini, dimana lagu populer menjadi semakin populer dan lagu tak populer semakin tak dikenal, menjadi verifikasi empiris untuk teori keuntungan akumulatif (cumulative advantage) atau yang juga dikenal sebagai proses “yang kaya tambah kaya” (rich-gets-richer).  Di sosiologi, teori keuntungan akumulatif ini pertama kali dikemukan oleh sosiolog Robert Merton pada tahun 60an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merton memakai konsep “yang kaya tambah kaya” ini untuk menjelaskan proses karir ilmuwan. Sebelum Merton, bidang akademis dan sains dimana ilmuwan berkecimpung dianggap sebagai bidang obyektif dimana kesuksesan ditentukan oleh hasil kerja keras dan kreatifitas para ilmuwan itu sendiri. Tapi Merton memperlihatkan bahwa ilmuwan yang berhasil biasanya mendapat pekerjaan di universitas besar dengan dana riset besar dan dikelilingi mahasiswa pintar, sehingga mereka lebih mampu untuk membuat sukses lainnya. Singkatnya, sukses menghasilkan sukses atau popularitas menghasilkan lebih banyak popularitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang nobel ekonomi Herbert Simon dan professor ekonomi di Santa Fe Institut Brian Arthur, diantaranya, telah membuat model teoritis untuk ini. Model mereka mampu memperlihatkan bagaimana efek bola-salju membuat kesenjangan lebar dan sulit diprediksi.  Tapi model mereka sulit untuk di tes, karena kita hanya melihat apa yang terjadi sehingga sangat sulit untuk menunjukkan bahwa kesuksesan sulit diprediksi. Misalnya, lukisan Mona Lisa adalah lukisan yang sangat terkenal. Maka menurut model keuntungan akumulatif ini, bisa saja Mona Lisa tidak terkenal  di dunia paralel lain. Tentu kita tidak bisa yakin, karena kita hanya mengamati satu dunia kita sekarang ini. Melalui eksperimen ini, Salganik dkk dengan bantuan internet mampu membuat “dunia pararel” dan memperlihatkan bagaimana pengaruh sosial membuat sebuah lagu menjadi sukses di satu dunia tapi gagal di dunia lain. Semuanya hanya karena efek pengaruh sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu eksperimen ini tidak sama dengan dunia nyata dimana, misalnya, marketing, media massa, kritik pakar berpengaruh. Tapi ini semua hanya akan memperkuat sinyal pengaruh sosial. Eksperimen ini menunjukkan bahwa meskipun pengaruh sosial lemah (hanya berupa jumlah berapa kali sebuah lagu telah diunduh), efeknya tetap mampu membuat proses bola-salju yang menghasilkan kesenjangan lebar yang sulit diprediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil eksperimen ini juga bisa menjadi pembenaran sinisme dimana yang populer biasanya berkualitas buruk. Karena itulah muncul berbagai gerakan “underground” seperti musik, buku atau film indie.  Meskipun popularitas tidak menjamin kualitas, “sesuatu yang populer paling sedikit berkualitas lumayan, karena dari eksperimen tidak pernah teramati lagu terburuk menjadi populer atau sebaliknya” ujar Salganik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa artinya bagi mereka yang ingin terkenal melalui musik atau buku? Menurut Salganik, “Ini menjadi berita bagus dan buruk sekaligus bagi mereka yang baru memulai karirnya”.  “Jika sebuah band belum sukses itu bukan berarti musiknya jelek, tapi sebaliknya, meskipun musik mereka bagus, belum tentu mereka akan sukses” imbuhnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-6139340531494298427?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/6139340531494298427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=6139340531494298427' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/6139340531494298427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/6139340531494298427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/02/mungkinkah-memprediksi-lagu-populer.html' title='Mungkinkah memprediksi lagu populer?'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-5782257593124059183</id><published>2009-02-01T23:58:00.001-08:00</published><updated>2009-02-02T00:22:13.167-08:00</updated><title type='text'>Masalah Korupsi (Tambahan)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Oleh Tirta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Karena beberapa komentar yang masuk menunjukkan kegamangan pesan tulisan terdahulu tentang korupsi, terutama dalam kaitannya dengan analisa biaya-manfaat, maka dalam catatan singkat ini dua tesis pokok tulisan tersebut akan diangkat sekali lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tesis pertama, korupsi harus dilihat sebagai sebuah proses yang memiliki elemen multidimensional: psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Interaksi antara elemen-elemen inilah yang melahirkan tindak korupsi, yang agen pelakunya disebut koruptor. Jadi koruptor adalah bagian dari proses korupsi, bukan penyebab korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tesis kedua, individu pelaku korupsi tidak hidup dalam vakum, dan selalu berinteraksi dengan sesama (termasuk kita) di dunia sosial. Inilah mengapa analisa korupsi sebagai tindakan murni individual keliru, karena korupsi sejatinya bersifat sosial. Lalu bagaimana dengan perspektif biaya-manfaat, bahwa koruptor bertindak berdasarkan 'hitungan' untung-rugi melakukan korupsi? Ada dua hal yang penting dibedakan dan dipahami disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, interaksi sosial tidak menafikan kalkulasi biaya-manfaat. Di level tertentu, koruptor memang 'menghitung' biaya sosial korupsi: semakin banyak orang yang korupsi, semakin kecil biaya ditanggung sendiri. Tapi keliru jika cerita berhenti disini, karena poin kedua dibawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, seperti ditunjukkan oleh eksperimen Asch, interaksi sosial berdampak langsung terhadap persepsi individual akan korupsi itu sendiri. Dengan kata lain, pengertian seseorang akan korupsi berubah tergantung interaksi sosial yang ada. Jadi pandangan koruptor akan korupsi itu sendiri berubah, terlepas dari kalkulasi biaya-manfaat yang kemudian dilakukan. Ini yang agaknya masih luput dari perhatian, bahwa persepsi internal akan korupsi -- bukan hanya hitung-hitungan untung-rugi melakukan korupsi -- merupakan fungsi dari interaksi sosial.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-5782257593124059183?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/5782257593124059183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=5782257593124059183' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/5782257593124059183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/5782257593124059183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/02/masalah-korupsi-tambahan.html' title='Masalah Korupsi (Tambahan)'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-183681924360582817</id><published>2009-02-01T15:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T15:29:29.989-08:00</updated><title type='text'>Masalah Korupsi</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Oleh Tirta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA dua kekeliruan fundamental dalam pemahaman publik – dan juga sebagian pengamat – akan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, korupsi dimengerti sebagai tindakan yang disebabkan oleh para koruptor, yaitu sejumlah individu dengan 'mental' atau 'karakter' korup: tidak bermoral, tidak berakal sehat, dan berperilaku seperti binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman ini keliru karena nihil, alias tidak menjelaskan apa-apa. Ambil analogi renang, yang pelakunya disebut perenang. Mengatakan bahwa korupsi disebabkan oleh koruptor sama halnya dengan mengatakan bahwa renang disebabkan oleh perenang. Ini salah kaprah. Pelaku renang adalah perenang, dan pelaku korupsi adalah koruptor, keduanya dengan 'mental' dan 'karakter' masing-masing. Tidak ada yang dijelaskan disini, yang ada hanya label karakteristik untuk pelaku kegiatan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dilakukan untuk memahami renang adalah menjabarkan proses-proses fisika, anatomi, dan fisiologi yang menjelaskan bagaimana seorang individu bergerak dalam air. Demikian pula seharusnya dengan korupsi, yang mesti dijelaskan melalui uraian proses-proses psikologi, sosiologi, dan ekonomi yang berada dibalik sebuah tindakan korupsi. Dengan kata lain, memahami korupsi berarti mengerti mekanisme sosial dibalik terjadinya korupsi, bagaimana seseorang akhirnya melakukan korupsi, dan dengan demikian menjadi seorang koruptor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan kedua adalah melihat korupsi sebagai sebuah keputusan individual yang diambil ketika 'manfaat' yang diperoleh lebih besar daripada 'biaya' yang dikeluarkan. Menurut pandangan ini, korupsi akan hilang ketika 'biaya' korupsi dibuat sangat besar, misalnya dengan kerja sosial, seragam khusus serta borgol, jenazah yang tidak disalatkan, atau hukuman mati. Asumsi yang dipakai disini adalah bahwa para koruptor melakukan kalkulasi mereka dalam sebuah ruang vakum, terisolasi dari dunia sosial sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lebih dari setengah abad lalu, psikolog Solomon Asch menunjukkan kekeliruan asumsi tersebut dengan sebuah eksperimen sederhana. Peserta eksperimen diminta menjawab serangkaian pertanyaan tentang tiga garis lurus dengan panjang berbeda, seperti misalnya menunjuk garis terpanjang, atau membandingkan satu garis dengan lainnya. Tidak ada yang sulit dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan seperti diduga, hanya satu dari 32 peserta eskperimen melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah ketika Asch memodifikasi eksperimen tersebut dengan menciptakan kondisi 'tekanan sosial'. Ia menyuruh beberapa peserta gadungan untuk dengan sengaja dan lantang memberi jawaban yang sebenarnya salah di depan peserta sebenarnya yang pada giliran berikutnya mendapat pertanyaan yang sama. Kali ini, peserta rata-rata memberi jawaban salah untuk 40% dari seluruh pertanyaan, dan 75% peserta memberi jawaban salah untuk paling sedikit satu pertanyaan. Sebuah keputusan sederhana dan obyektif yang jelas-jelas hitam putih – sekedar memutuskan garis mana yang terpanjang – pun ternyata tidak lepas dari pengaruh tekanan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksperimen ini mengangkat sebuah proses psikologi fundamental, bahwa manusia adalah mahluk sosial yang terpengaruh oleh persetujuan manusia lain disekitarnya. Tidak terkecuali para koruptor dan keputusan mereka untuk melakukan korupsi, yang terjadi sehari-hari di sekeliling kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kekeliruan tadi nyata terlihat dalam mayoritas wacana publik dan sebagian pengamat tentang korupsi, yang hampir setiap kali mengerucut pada masalah 'mental' atau 'karakter' koruptor, atau proposal 'biaya' korupsi yang maksimal. Ini sangat disayangkan, karena pemahaman yang keliru hanya akan menghambat laju eradikasi korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita korupsi yang masih marak hingga kini adalah cermin dua fakta: (1) bahwa kita belum mengerti betul proses-proses sosial dibalik tindakan korupsi, dan (2) bahwa tekanan sosial yang ada – terutama di institusi-institusi sarat korupsi – masih sangat minim. Korupsi dilakukan, bukan disebabkan, oleh para koruptor. Dan para koruptor ini bertindak dalam sebuah dunia sosial, di sekitar kita semua. Dari sini segala upaya membasmi korupsi harus berangkat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-183681924360582817?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/183681924360582817/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=183681924360582817' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/183681924360582817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/183681924360582817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/02/masalah-korupsi.html' title='Masalah Korupsi'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-2570660816949051123</id><published>2009-01-27T09:06:00.000-08:00</published><updated>2009-01-27T09:08:03.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jejaring sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='facebook'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Informasi sosial: dari facebook hingga Wall Street</title><content type='html'>oleh Roby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, seorang teman yang memilih untuk menyembunyikan hari ulang tahunnya di facebook menemukan bahwa teman-temannya di facebook tetap dapat mengetahui bahwa dia sedang berulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ini dimulai dengan kerabat dekat teman tersebut yang memang ingat hari ulang tahunnya menuliskan ucapan selamat di &lt;i&gt;wall&lt;/i&gt; teman saya itu. Selanjutnya ucapan selamat ini terpublikasikan melalui &lt;i&gt;news feed &lt;/i&gt; sehingga akhirnya semua yang ada di senarai temannya dapat mengetahui bahwa dia berulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas ini terlihat sepele, tetapi sebenarnya memberikan ilustrasi bagaimana interaksi sosial terkadang dapat memberikan solusi dari suatu masalah rumit. Dalam hal ini, interaksi sosial dapat mengorek informasi pribadi (&lt;i&gt;private information&lt;/i&gt;). Informasi pribadi seperti hari ulang tahun mungkin tidak terlalu penting, tapi ada juga informasi pribadi yang luar biasa penting sehingga banyak orang beragantung padanya. Seperti cerita saat kejadian serangan teroris 9/11 di kota New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat serangan 9/11 terjadi saya sudah berada di New York, tepatnya sedang bersekolah di Columbia University. Kebetulan, ada kenalan saya yang merupakan bagian dari sebuah grup riset yang sedang meneliti perusahaaan-perusahaan keuangan di Wall Street yang sebagian berkantor di gedung WTC. Setelah terjadi serangan yang meruntuhkan gedung kembar WTC, peneliti Columbia ini tetap mendapat akses ke perusahaan-perusahaan tersebut sehingga mereka dapat mengikuti proses pemulihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah menarik dan mencengangkan dari sebuah perusahaan keuangan yang setengah pekerjanya turut tewas akibat runtuhnya WTC. Kantor pusat mereka hancur lebur. Tetapi mereka tetap memiliki data komputer cadangan yang terletak di kota lain. Mereka bersiteguh untuk kembali secepatnya beroperasi karena selain transaksi keuangan dunia tidak pernah berhenti, juga karena ingin menujukkan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan semangat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya para pekerja yang selamat berkumpul hanya beberapa hari kemudian untuk kembali memulai operasi bisnis mereka. Tapi mereka menemukan satu masalah besar: seluruh pekerja yang memiliki akses password ke sistem komputer mereka termasuk korban tewas. Jadi meskipun mereka memiliki data cadangan, tapi data tersebut tidak dapat diakses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelesaikan masalah ini, mereka memakai cara inovatif. Seluruh orang yang kenal dengan para pemegang password yang sudah meninggal tersebut dikumpulkan di sebuah ruangan. Lalu setiap orang mengulang apa-apa saja yang mereka pernah kerjakan atau obrolkan dengan rekan-rekannya yang tewas tersebut. Obrolannya mencakup masalah pekerjaan sampai kehidupan pribadi; tidak ada yang luput dari pembicaraan. Sampai akhirnya mereka bisa menebak password sistem komputer tersebut, hanya dari membicarakan kehidupan dan perilaku orang yang tahu passwordnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua mengilustrasikan bagaimana solusi sosial dapat dipakai untuk untuk menyelesaikan masalah organisasi rumit hingga masalah teknis seperti password yang hilang. Ini juga mengingatkan bahwa hal penting dalam sebuah organisasi bukan hanya masalah teknis pekerjaan atau hubungan formal. Percakapan santai di ruang makan, obrolan singkat di lift, hingga gosip adalah bagian dari informasi yang merupakan aset organisasi. Teknologi – seperti &lt;i&gt;news feed&lt;/i&gt; di facebook atau sebuah struktur/insentif organisasi yang tepat – dapat menjadi alat untuk menguak informasi yang terpendam di jejaring sosial kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-2570660816949051123?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/2570660816949051123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=2570660816949051123' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/2570660816949051123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/2570660816949051123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/01/informasi-sosial-dari-facebook-hingga.html' title='Informasi sosial: dari facebook hingga Wall Street'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-2254912874629632366</id><published>2009-01-23T00:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T00:36:49.413-08:00</updated><title type='text'>Broken Windows: Ketika Interaksi Melahirkan Kriminalitas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  Oleh Tirta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;span style="font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PADA tahun 1982, menulis di majalah Atlantic Monthly, George Kerling and James Wilson mengusulkan sebuah teori baru untuk memahami kriminalitas yang ketika itu marak di kota New York. Teori ini, yang kemudian populer dengan nama Broken Windows, melihat tindak kriminal bukan sebagai produk keputusan individu semata, melainkan sebagai produk interaksi dinamis antara individu, lingkungan, dan norma sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Broken Windows dipinjam dari satu contoh kasus yang diajukan Kerling and Wilson, tentang bagaimana kaca gedung yang pecah dapat membuahkan tindak kriminal. Sebuah gedung dengan beberapa kaca yang pecah akan mengundang orang untuk memecahkan lebih banyak kaca lagi, lalu merusak pintu, dan akhirnya memaksa masuk ke dalam gedung tersebut. Contoh lain misalnya jalanan dengan sejumlah sampah dan grafiti, yang akan memancing lebih banyak sampah dan grafiti baru, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriminalitas, menurut teori Broken Windows, berasal dari hal-hal kecil yang sekilas tampak remeh, namun berpotensi besar untuk memutar roda interaksi antara individu dan lingkungan yang akhirnya menghasilkan perbuatan-perbuatan buruk. Roda interaksi ini diminyaki dengan pergeseran norma sosial setempat: Jalanan bersampah, misalnya, mengindikasikan norma lokal yang berbeda dengan jalanan yang bersih. Yang pertama seakan 'mengijinkan' pejalan kaki untuk membuang lebih banyak sampah, sedangkan yang kedua 'melarang'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, di tahun 1990-an, pejabat publik kota New York melakukan intervensi ala Broken Windows. Mereka memperbaiki gedung-gedung dengan kaca yang pecah, menghapus grafiti-grafiti di terminal subway, dan membersihkan gang-gang jalan yang bersampah. Hasilnya ternyata positif, tingkat kriminalitas didapati menurun drastis. Kebijakan ini lalu diadopsi di banyak kota lainnya, dengan mayoritas hasil yang kurang lebih serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, banyak kalangan bersikap skeptis. Satu alasan utama adalah sifat observasi yang selama ini korelasional. Tidak ada data yang menunjukkan tingkat kriminalitas kota New York, maupun kota-kota lainnya, seandainya intervensi tidak dilakukan, sehingga sulit untuk mengisolasi dan memastikan apakah penyebab kriminalitas setempat adalah faktor Broken Windows.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH dua dekade, akhirnya data yang dinanti tiba. Akhir tahun lalu, psikolog Kess Keizer untuk pertama kalinya menguji teori Broken Windows dengan serangkaian eksperimen terkontrol di kota Groningen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu eksperimennya, ia mengamati perilaku para pemarkir sepeda di sebuah gang yang di dindingnya ada tanda larangan grafiti, dengan menempatkan flyer-flyer fiktif pada gagang sepeda-sepeda tersebut. Ketika dinding gang tersebut bersih, hanya 33% dari para pemarkir membuang flyer tersebut secara sembarangan; namun ketika dinding tersebut dikotori grafiti, jumlah tersebut meroket menjadi 69%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam eksperimen lainnya, ia mendirikan pagar buatan -- yang sedikit terbuka -- di depan sebuah tempat parkir mobil. Ada dua tanda di pagar tersebut: yang pertama melarang sepeda untuk dikaitkan ke pagar, yang kedua melarang orang untuk menerobos masuk. Ketika ada 4 sepeda yang diparkir satu meter jauhnya dari pagar tersebut, 27% orang menerobos; namun ketika sepeda-sepeda tersebut dikunci ke pagar, 82% orang memaksa masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam eksperimen lainnya lagi, ia setengah memasukkan amplop transparan berisi uang 5 Euro ke dalam kotak pos di sebuah jalan, sehingga amplop dan uang tersebut terlihat oleh para pejalan kaki. Ketika kotak pos dan lantai sekitarnya bersih, 13% pejalan kaki mencuri amplop tersebut; namun ketika kotak pos tersebut dikotori grafiti, dan lantai sekitarnya bersampah, jumlah tersebut naik menjadi masing-masing 27% dan 25%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, sejumlah eksperimen terkontrol ini solid mendukung teori Broken Windows, dimana hal-hal yang sepintas trivial terbukti melahirkan tindak kriminal. Persisnya, dan ini yang penting digarisbawahi, studi Keizer ini menunjukkan bahwa pergeseran norma sosial yang satu ternyata merembet ke norma sosial yang lain. Pelanggaran terhadap norma kebersihan (membuang sampah sembarangan, misalnya), membuka jalan bagi individu untuk melanggar norma hak milik (mencuri uang), dan demikian seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEORI Broken Windows dapat dikontraskan dengan dua teori populer yang sering dirujuk untuk menjelaskan kriminalitas, yang keduanya bersifat individual: teori kepribadian dan teori neoklasik. Teori kepribadian melihat para kriminal sebagai individu-individu yang memiliki tendensi dan disposisi untuk berbuat buruk dan melanggar aturan; teori neoklasik mengatakan bahwa tindak kriminal adalah hasil kalkulasi rasional yang terjadi ketika biaya yang dikeluarkan relatif lebih kecil dibanding keuntungan yang diperoleh. Walaupun menawarkan arah penjelasan yang berbeda, kedua teori ini berfokus pada individu sebagai penyebab utama tindak kriminal, serta cenderung mengabaikan peran lingkungan sekitar dan norma sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan Keizer membantah teori kepribadian karena individu-individu dalam serangkaian eksperimen ini terlibat secara acak di tempat yang persis sama, sehingga memiliki profil demografis yang relatif homogen. Teori neoklasik -- walaupun sekilas bisa menjelaskan temuan Keizer dengan mengasumsikan kalkulasi rasional yang berbeda (misalnya karena ada grafiti atau sampah, maka individu mengasumsikan absennya polisi) -- juga dipertanyakan karena polisi kota Groningen pada umumnya cenderung toleran terhadap sampah dan grafiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini semua tidak berarti bahwa setiap tindak kriminal dapat dijelaskan oleh pendekatan Broken Windows. Kriminalitas, seperti masalah-masalah sosial lainnya, adalah topik yang sejatinya pelik. Namun studi Keizer, untuk pertama kalinya, membuktikan bahwa interaksi dinamis antara individu, lingkungan, dan norma sosial mampu melahirkan tindak kriminal, dan bahwa intervensi dini terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil akan mencegah terjadinya kriminalitas dalam skala lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-2254912874629632366?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/2254912874629632366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=2254912874629632366' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/2254912874629632366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/2254912874629632366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/01/broken-windows-ketika-interaksi.html' title='Broken Windows: Ketika Interaksi Melahirkan Kriminalitas'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-8962719361842302640</id><published>2009-01-11T09:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T19:31:56.911-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='insentif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tirta'/><title type='text'>Peliknya Insentif</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;oleh Tirta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;BAYANGKAN situasi berikut ini. Anda sedang menyetir, ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil yang mogok di pinggir jalan. Anda lalu berhenti untuk menolong. Pertanyaannya, mengapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bisa jadi Anda berhenti karena perasaan yang sangat tidak enak bila cuek meneruskan perjalanan. Atau bisa juga karena Anda termotivasi untuk menolong sesama karena Anda orang yang sangat peduli dengan kesejahteraan orang lain. Atau mungkin juga Anda percaya karma dan berpikir siapa tahu lain kali mobil Anda yang mogok. Apapun alasannya, Anda memiliki alasan tertentu untuk berhenti. Anda punya insentif, dalam bahasa ilmu ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sekarang bayangkan bila sesaat sebelum Anda hendak menolong, tiba-tiba pengemudi mobil mogok tersebut menawarkan sejumlah uang. Anda kaget, karena tawaran ini sama sekali tidak terduga, dan spontan menolak. Namun pengemudi tersebut terus memaksa. Apa yang kira-kira akan terjadi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Beberapa tahun lalu, psikolog James Heyman dan Dan Ariely melakukan serangkaian eksperimen laboratorium untuk mempelajari hakikat insentif. Partisipan diberi tugas memindahkan bola-bola di layar komputer ke tempat yang ditentukan menggunakan mouse, dan dibagi menjadi 5 kelompok acak. Kelompok pertama tidak diberi apa-apa (hanya ucapan terima kasih), kelompok kedua diberi imbalan uang 10 sen, kelompok ketiga uang 4 dolar, kelompok keempat 5 buah permen, dan kelompok terakhir 200 gram permen. Hasilnya menarik, performansi kerja kelima kelompok ternyata tidak berbeda, dengan pengecualian kelompok kedua, yang tercatat memindahkan bola paling sedikit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam eksperimen selanjutnya, yang kali ini memberi partisipan tugas-tugas aritmetika, Heyman dan Ariely memberi tahu harga jual permen kepada kelompok keempat dan kelima. Tambahan informasi ini ternyata membuat performansi kelompok keempat menjadi turun seperti kelompok kedua, lebih jelek dari ketiga kelompok lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ekonom Bruno Frey dan Felix Oberholzer-Gee juga pernah melakukan eksperimen serupa di Swiss, dalam skala lebih besar. Lebih dari satu dekade lalu, mereka melakukan survei tentang kemungkinan dibangunnya reaktor nuklir di dekat sebuah pemukiman, dan bertanya kepada penduduk setempat apakah mereka setuju dengan adanya reaktor nuklir yang tentu akan menghasilkan limbah tersebut. Survei membagi penduduk menjadi dua, separuh menolak karena merasa limbah tersebut berbahaya, sedangkan separuh lagi menerima karena merasa reaktor tersebut akan mendatangkan kebaikan untuk bersama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun ketika survei tersebut dibarengi dengan pertanyaan tentang imbalan uang yang cukup sebagai kompensasi limbah reaktor nuklir, jumlah yang setuju dengan pembangunan reaktor berkurang drastis dari separuh menjadi seperempat. Tiga-perempat penduduk kali ini tidak setuju dan menolak adanya reaktor nuklir di pemukiman mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di skala pribadi, laboratorium, maupun lapangan, informasi terkait imbalan uang ternyata sama-sama berlaku sebagai dis-insentif. Perilaku yang diharapkan malah berkurang -- atau malah tidak jadi dilakukan -- ketika uang dijadikan sebagai motivator tindakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;MENURUT ilmu ekonomi, individu bertindak merespon insentif. Karyawan akan bekerja lebih giat ketika gaji mereka dinaikkan; pembeli akan memborong belanjaan ketika harga barang dimurahkan. Sering lalu disimpulkan bahwa manipulasi insentif akan menyetir perilaku individu secara monotonik: Ketika insentif naik, maka tindakan akan naik. Ketika insentif turun, maka tindakan akan turun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kesimpulan akan relasi monotonik antara tindakan individu dan insentif ini tidak selalu tepat. Satu hal yang penting untuk dicermati adalah jenis insentif yang sedang bermain, dan distingsi antara cara kerja "pasar uang" dan cara kerja "pasar sosial".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di pasar uang, individu hampir selalu merespon insentif secara monotonik (ada kalanya tidak, ini topik menarik yang akan dibahas lain waktu). Contohnya banyak. Semakin tinggi gaji karyawan, semakin rajin mereka bekerja. Semakin turun harga barang, semakin pembeli berebutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berbeda dengan pasar sosial, dimana individu merespon insentif psikologis dengan tarif rata. Contoh pasar sosial tidak kalah banyak. Anda membantu mendorong mobil mogok sekuat tenaga, tanpa menghitung apakah tenaga yang dikeluarkan sebanding dengan ucapan terima kasih yang kiranya menanti. Sama halnya dengan jumlah permen tanda terima kasih yang ternyata tidak berpengaruh terhadap performansi kerja, dan para penduduk yang rela menerima reaktor nuklir tanpa imbalan apapun karena termotivasi untuk menjadi masyarakat yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Masalahnya, masih banyak yang cenderung menyamakan pendekatan insentif ilmu ekonomi dengan pendekatan model pasar uang, sehingga mudah tergiur untuk apriori menyandarkan berbagai intervensi kebijakan pada asumsi berlakunya pasar uang. Misalnya soal polusi udara, yang divonis langsung dengan solusi pajak karbon. Atau ide ekonom Roland Fryer di sekolah-sekolah kota New York, Chicago, dan Washington, yang memberi imbalan uang bagi anak-anak yang mendapatkan nilai tes yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tentu ada kemungkinan tesis pasar uang ini tepat sasaran, dan akan optimal menyelesaikan masalah seperti diharapkan. Tapi belum tentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Psikolog Robert Cialdini belum lama ini menemukan bahwa individu lebih rajin melakukan recycling ketika individu-individu lain disekitarnya melakukan hal yang sama. Mungkinkan solusi serupa diterapkan ke masalah emisi karbon? Sejumlah studi juga mendapati bahwa anak-anak yang tadinya rajin menggambar dan belajar ternyata menjadi malas dan berhenti ketika gambar mereka eksplisit diberi penghargaan, dibanding anak-anak lain yang tidak mendapat penghargaan. Mungkinkan ide Fryer malah akan mengkikis motivasi intrinsik dari belajar itu sendiri -- yang dalam jangka panjang bisa jadi jauh lebih penting dibanding hasil tes jangka pendek?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pendekatan insentif ilmu ekonomi adalah pendekatan yang sejatinya bernuansa. Setiap masalah memiliki insentifnya yang berbeda, dan seringkali ini masalah empiris yang masih terbuka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-8962719361842302640?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/8962719361842302640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=8962719361842302640' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/8962719361842302640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/8962719361842302640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/01/peliknya-insentif.html' title='Peliknya Insentif'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-7897643702413943795</id><published>2009-01-17T11:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T12:45:02.503-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jejaring sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Jejaring teman dan "teman"</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;oleh Roby&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pegiat dunia periklanan dan kampanye politik melihat peluang penggunaan situs jejaring sosial atau web sosial sebagai medium untuk untuk pemasaran atau kampanye. Idenya adalah menyebarkan informasi dari "mulut-ke-mulut" melalui jejaring pertemanan di Internet. Sepintas, situs-situs ini memberikan kesan bahwa jejaring sosial begitu rapat, dimana temannya teman adalah teman juga; sehingga - asal kita bisa masuk jejaring yang rapat ini - informasi yang kita sebarkan dapat menyebar dengan cepat.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi,  senarai (&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;list&lt;/span&gt;) teman yang banyak bukan berarti si pemilik senarai berinteraksi  dengan semua orang di senarai tersebut. Interaksi yang berarti dan bermakna hanya terjadi dengan sebagian kecil saja. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tim peneliti dari laboratorium Komputasi Sosial di Hewlett-Packard dan Universitas Cornell baru-baru ini meneliti pola interaksi di situs &lt;a href="http://twitter.com/"&gt;Twitter&lt;/a&gt;. Mereka menemukan bahwa meskipun orang dapat memiliki senarai teman yang banyak, orang tetap hanya berinteraksi dengan sebagian kecil dari senarai teman tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Orang cenderung berinteraksi dengan sebagian kecil orang lain yang berarti (seperti teman "nyata", rekan kantor, keluarga) dan dengan mereka yang secara rutin membalas &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;posting&lt;/span&gt;-annya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Temuan ini memperkuat dugaan yang sudah umum bahwa meskipun dua orang berada di senarai teman masing-masing, bukan berarti mereka berdua saling berinteraksi satu sama lain.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Artinya, di Internet ada dua macam jejaring: jejaring berdasar senarai teman dan jejaring teman sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Implikasi praktis bagi mereka yang ingin memanfaatkan situs-situs web sosial untuk kampanye adalah tidak cukup hanya nampang dengan membuat profil saja. Membuat profil tidak lebih seperti kampanye di media massa (lebih tepatnya media massa yang bukan massa karena hanya disekitar lingkaran sosial kita).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika memang mau menyebarkan ide dengan menggunakan jejaring pertemanan ini, maka yang perlu dilakukan adalah:(1) mendeteksi aliran informasi yang benar-benar terjadi di jejaring ini dan (2) mencoba mempengaruhi orang-orang yang tampaknya berperan besar dalam aliran ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Referensi: &lt;a href="http://www.hpl.hp.com/research/scl/papers/twitter/"&gt;Social networks that matter: Twitter under the microscope&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-7897643702413943795?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/7897643702413943795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=7897643702413943795' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/7897643702413943795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/7897643702413943795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2009/01/jejaring-teman-dan-teman.html' title='Jejaring teman dan &quot;teman&quot;'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-7930340714527962975</id><published>2008-12-15T15:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T07:52:06.193-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krismon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Krismon (1): Pengantar &amp; Greenspan conundrum dan ekonomi dunia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh Roby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Pengantar Seri Krismon&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengalami berada di pusat krisis ekonomi besar selama dua kali memberi pengaruh cukup dalam bagi saya. Pertama tahun 1997, kita di Indonesia merasakan sendiri bagaimana kita “dipaksa” menjadi miskin yang akhirnya membawa perubahan politik bersejarah dengan jatuhnya Suharto. Sekarang di New York, kembali saya menyaksikan pemaksaan untuk menjadi miskin akibat krisis ekonomi yang begitu dalam. Pada saat yang sama, kita juga menyaksikan bagaimana uang negara dipakai untuk menyelamatkan para pengusaha, di Indonesia melalui BLBI dan sekarang dengan skema &lt;i&gt;bailout&lt;/i&gt; di Amerika. Meskipun rasa marah, kesal, dan “takjub” tetap ada, saya pikir krisis ini juga menjadi kesempatan untuk belajar. Belajar agar kita sedikit melek dunia pasar modal dunia yang begitu rumit dan sudah terbukti berpengaruh besar pada hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disela-sela menulis disertasi, saya ingin berbagi proses belajar saya ini. Sengaja saya menulis dalam bahasa Indonesia dengan harapan agar lebih mudah diakses oleh orang Indonesia. Saya bergabung dengan kelompok studi yang mempelajari organisasi pasar modal di Amerika dan dunia di Universitas Columbia tempat saya sekarang berada. Tulisan-tulisan saya ini berasal dari bacaan di kelompok tersebut dan diskusi yang muncul didalamnya dan juga refleksi pribadi. Saya bukan ekonom jadi saya tidak menulis dari kacamata ahli; tetapi lebih sekedar pikiran dari seorang warga negara terpelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tulisan pertama, saya bahas anomali dalam pasar uang Amerika dan ekonomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Krismon (1): Greenspan &lt;i&gt;conundrum&lt;/i&gt; dan ekonomi dunia.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis keuangan yang sekarang melanda dunia termasuk krisis besar yang terjadi sekali dalam setiap abad. Salah satu pertanyaan wajar adalah apakah krisis yang begitu besar ini datang dengan tiba-tiba tanpa tanda-tanda? Sebetulnya tanda-tanda telah muncul jauh hari, tapi tentu pada saat itu sulit untuk mengerti arti tanda-tanda tersebut. Bagi kita sekarang mungkin tandanya tampak jelas tapi itu karena peristiwanya sudah terjadi; jauh lebih mudah memprediksi terjadinya sebuah peristiwa jika peristiwanya sudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tanda yang muncul adalah adanya anomali dalam perilaku suku bunga di Amerika atau yang biasa dikenal sebagai &lt;i&gt;fed rate&lt;/i&gt;. Pada tahun 2005 kepala bank sentral Amerika saat itu Alan Greenspan menyebutnya sebagai sebuah &lt;i&gt;conundrum&lt;/i&gt; (teka-teki rumit). Teka-tekinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku bunga jangka panjang cenderung menurun meskipun suku bunga jangka pendek sudah dinaikkan oleh bank sentral Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah, jika bank sentral Amerika menaikkan suku bunga jangka pendek, maka suku bunga jangka panjang ikut naik juga. Tapi pada saat itu hal ini tidak terjadi. Secara logika ini juga aneh karena artinya investor diberi penalti jika dia melakukan investasi jangka panjang; ingat suku bunga jangka panjang lebih rendah daripada jangka pendek maka semakin lama investor menginvestasikan uangnya, semakin kecil bunga yang diperoleh. Semakin panjang jangka waktu sebuah investasi, semakin besar risikonya sehingga investor yang mau berinvestasi jangka panjang seharusnya diberi &lt;i&gt;reward&lt;/i&gt; (dalam bentuk bunga lebih tinggi) bukan penalti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penjelasan diajukan untuk menjawab teka-teki ini, salah satunya berhubungan dengan adanya aliran modal yang aneh di pasar modal dunia. Cerita singkatnya begini. Ada negara-negara yang asalnya miskin menjadi kaya karena satu atau lain hal (misal Cina, India, Brasil, Singapura, atau Uni Emirat Arab). Negara kaya baru ini berlimpah uang, tapi karena mereka ini baru saja menjadi kaya maka mereka belum terbiasa atau tahu cara untuk membelanjakan atau menginvestasikan uang secara optimal bagi masing-masing negara. Pilihan paling aman dan mudah bagi mereka adalah menginvestasikan ke surat berharga pemerintah Amerika. Perlu dicatat bahwa surat berharga pemerintah Amerika bukanlah kendaraan investasi paling menguntungkan tapi memang relatif aman dan sangat likuid. Jadi motivasi investasi mereka ini bukan untuk mencari untung semata tapi lebih untuk memparkir uang di tempat yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengalir derasnya investor membeli obligasi pemerintah Amerika membuat harga obligasi tersebut menjadi naik. Kita tahu, jika harga sebuah obligasi naik maka yield obligasi tersebut turun; sederhananya &lt;i&gt;return&lt;/i&gt; berupa suku bunga yang diperoleh menjadi rendah*).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah disebutkan di atas, ada penjelasan lain untuk anomali dalam perilaku suku bunga Amerika ini. Tapi untuk kepentingan tulisan ini, hal yang penting dicatat adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi anomali dalam pasar suku bunga Amerika dimana suku bunga jangka panjang menurun meskipun suku bunga jangka pendek dinaikkan. Anomali suku bunga ini berhubungan dengan anomali dalam aliran arus modal di dunia: uang mengalir dari negara miskin ke negara kaya, padahal biasanya – dan menurut buku teks ekonomi – uang selalu mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Dengan kata lain, dalam ekonomi dunia sekarang, bukan si miskin meminjam uang dari si kaya, tetapi si kaya meminjam uang dari si miskin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun belum jelas hubungan antara anomali ini dengan krisis sekarang, tapi ini memberikan gambaran bagaimana ekonomi dunia di awal abad 21 ini mengalami transformasi fundamental. Sebagaimana biasanya perubahan besar sering diiringi oleh shock terhadap sistem. Untuk mengerti bahwa perubahan yang terjadi ini memang fundamental, maka kita perlu kenal keadaan sistem sebelumnya. Ini adalah topik selanjutnya dari seri Krismon dimana saya akan mengupas perjanjian Bretton Woods, emas, Dollar dan paradoks Triffin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) hubungan &lt;i&gt;yield&lt;/i&gt; dan harga obligasi ini dapat dipelajari di buku teks standar keuangan. Intinya, semakin mahal harga obligasi maka semakin rendah &lt;i&gt;yield&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;return&lt;/i&gt; dari investasi obligasi tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-7930340714527962975?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/7930340714527962975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=7930340714527962975' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/7930340714527962975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/7930340714527962975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2008/12/krismon-1-pengantar-greenspan-conundrum.html' title='Krismon (1): Pengantar &amp; Greenspan conundrum dan ekonomi dunia'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-6640156322497876807</id><published>2008-12-15T15:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T07:50:26.810-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krismon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Krismon (3): Dua kaki penopang ekonomi dunia awal abad 21</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh Roby&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama mengikuti kampanye pemilihan presiden Amerika yang akhirnya dimenangkan oleh Barack Obama, ada satu retorika yang diucapkan oleh hampir seluruh calon presiden. Retorika tersebut terkait dengan ekonomi Amerika dan kira-kira bunyinya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ekonomi kita sekarang berantakan, kita meminjam uang dari Cina untuk membayar minyak dari negara tak bersahabat seperti Arab Saudi atau Venezuela”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang hanya retorika kampanye yang dipakai untuk menyampaikan bahwa betapa pentingnya Amerika untuk swasembada energi; namum retorika ini tidak terlalu tepat. Pada kenyataannya minyak yang diperoleh Amerika kebanyakan di impor dari Canada; bukan dari negara-negara “tak bersahabat” seperti Arab Saudi atau Venezuela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, ini menjadi gambaran bagaimana ekonomi dunia pada awal abad 21 ini bekerja; yang oleh sebagian kalangan disebutkan sebagai sistem “Bretton Woods 2”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, ekonomi dunia selama ini ditopang oleh rakyat (baca konsumen) Amerika (lihat &lt;a href="http://individusosial.com/2008/12/krismon-2-dari-emas-ke-dollar-stabil.html"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Krismon(2)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;). Merekalah yang membeli barang-barang dari Cina dan India atau minyak yang diproduksi Arab Saudi atau Venezuela. Tetapi – disini triknya – uang yang dipakai rakyat Amerika membeli barang dari Cina atau minyak dari Arab itu berasal dari pinjaman bersubsidi yang diperoleh dari Cina dan negara pengekspor minyak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seperti yang diutarakan ekonom Brad Setser, sistem ekonomi ini berdiri di atas dua kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki pertama adalah pinjaman murah yang diberikan oleh Cina ke pemerintah Amerika melalui pembelian surat utang pemerintah Amerika. Uang yang masuk ke Amerika ini selanjutnya menjadi kaki kedua: institusi keuangan Amerika kembali meminjamkan uang ini ke konsumen Amerika yang selanjutnya dipakai untuk membeli rumah, mobil dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kaki ini muncul dengan risikonya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko pertama dipegang oleh rakyat Cina karena mereka meminjamkan uang kepada Amerika dengan bunga rendah meskipun mereka tahu Amerika mengalami defisit besar (akibat biaya perang dan berbagai kebijakan belanja Bush dkk). Bayangkan, apakah anda mau memberikan pinjaman ke seseorang yang anda tahu sangat boros dan punya utang banyak, dengan bunga rendah pula? Sepertinya tidak, tapi itulah yang terjadi antara Cina dan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko kedua dipegang oleh bank-bank dan insititusi keuangan lainnya di Amerika karena mereka meminjamkan uang ke rumah-tangga Amerika yang juga terbenam dalam hutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di Amerika memang dikelilingi hutang; dari mulai kartu kredit, kredit rumah, mobil, sekolah dll. Orang Amerika memang boros dan masyarakat konsumtif; lihat gambar dibawah dimana &lt;i&gt;saving rate&lt;/i&gt; orang Amerika mendekati 0%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.saschameinrath.com/files/United%20States%20Personal%20Savings%20Rates%201959-2007.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anda jangan cepat mencela kebiasaan konsumtif orang Amerika ini; karena bagi anda di Indonesia, semakin boros orang Amerika maka semakin bagus untuk Indonesia karena artinya semakin banyak mereka membeli barang-barang dari Indonesia. Juga ada manfaat tak langsung: semakin banyak orang Amerika berbelanja barang produksi, misalnya, Jepang, maka semakin besar penghasilan orang Jepang yang berarti semakin besar mereka berbelanja produk Indonesia atau semakin banyak turis Jepang ke Indonesia. Jadi jika Indonesia mau kaya, berharaplah orang Amerika (atau negara lain) boros senang berbelanja; atau jika tidak mau bergantung pada negara lain, ya kita sendiri harus menjadi masyarakat konsumtif *.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang mari kita kembali ke sistem ekonomi dunia yang, seperti telah disebutkan di atas, berdiri diatas dua kaki dengan dua risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonom Amerika, seperti Nouriel Roubini dan Brad DeLong, sudah mewanti-wanti bahwa suatu saat kaki-kaki penopang ekonomi Amerika (dunia) ini bisa runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mereka memprediksi bahwa yang akan runtuh terlebih dahulu adalah kaki pertama: negara-negara kaya uang tunai (seperti Cina dan pengekspor minyak) akhirnya berhenti memborong surat hutang Amerika. Akibatnya, agar surat utang Amerika tetap menarik bagi investor, suku bunga Amerika dinaikkan. Tetapi ini berimbas ke suku bunga konsumen sehingga akhirnya konsumen Amerika akan tercekik oleh bunga yang tinggi. Akibatnya mereka mengurangi belanja mereka dan mulai berhemat; yang berarti turunnya ekspor dari negara-negara dunia ke Amerika yang bisa mengakibatkan ribuan buruh di, misalnya, Cina, Meksiko, India dan juga tentunya Indonesia kehilangan pekerjaan. Sehingga terjadilah resesi global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sekarang kita juga sedang menuju ke resesi global, tapi penyebabnya tidak sama dengan yang diprediksi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem “Bretton Woods 2” ini ternyata runtuh akibat kegagalan kolosal dari lembaga keuangan Amerika untuk mengelola risiko. Yang terlebih dahulu jatuh ternyata kaki kedua: kredit dari institusi keuangan swasta ke konsumen Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kegagalan ini dimulai dari lembaga keuangan swasta yang merupakan jantung kapitalisme Amerika dan dunia, maka tidak heran banyak orang menganggap ini adalah kelemahan fundamental sistem kapitalisme. Aliran dana yang begitu deras (lihat &lt;a href="http://individusosial.com/2008/12/krismon-1-pengantar-greenspan-conundrum.html" target="_blank" title="http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=46123933134&amp;amp;id=120121&amp;amp;index=1"&gt;Krismon (1)&lt;/a&gt;) ternyata membuat alokasi modal yang salah di dalam negeri Amerika. Sebagian orang berpendapat bahwa ini merupakan indikasi bahwa pasar tidak selalu mampu mengalokasikan dana secara efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) argumen ini bukanlah suatu keniscayaan. Banyak asumsi didalamnya, misal produk Indonesia harus cukup kompetitif, nilai tukar uang yang stabil dll. Saya pakai untuk sekedar ilustrasi bahwa transaksi ekonomi membentuk rantai yang melibatkan banyak pihak dan membuat saling ketergantungan diantara mereka; kemampuan kita untuk menelusuri rantai ini terbatas sehingga kita sering salah mengerti akan implikasi dari sebuah perilaku atau peristiwa. Selain itu, ada yang menganggap teori bahwa ketidak seimbangan perdagangan karena negara-negara selain Amerika terlalu banyak menabung, bukan karena Amerika terlalu boros (teori "saving glut" yang dipopulerkan oleh Bernanke) lebih sebagai ideologi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-6640156322497876807?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/6640156322497876807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=6640156322497876807' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/6640156322497876807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/6640156322497876807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2008/12/krismon-3-dua-kaki-penopang-ekonomi.html' title='Krismon (3): Dua kaki penopang ekonomi dunia awal abad 21'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-8531425385685543310</id><published>2008-12-15T15:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T07:50:09.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krismon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Krismon (2): Dari emas ke Dollar: stabil yang tidak seimbang</title><content type='html'>Oleh Roby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meneruskan diskusi kita, saya ingin menjelaskan dahulu pendekatan yang saya pakai. Saya melihat ada dua topik besar: (1) sistem ekonomi dunia dan (2) sistem keuangan di Amerika. Di artikel sebelumnya, saya memulai seri Krismon ini dengan membahasnya dari perspektif perekenomian dunia. Saya merasa sebelum kita masuk ke detail bagaimana, misalnya, keserakahan di Wall Street, inovasi instrumen finansial, hipotek subprime membantu terjadinya krisis, kita perlu memiliki gambaran mengenai konteks dimana semua ini terjadi. Konteks ini adalah sistem ekonomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita telusuri bagaimana sistem ekonomi dunia ini terbentuk seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari perjanjian Bretton Woods setelah Perang Dunia 2 yang efeknya masih terasa hingga sekarang; salah satu hasil perjanjian tersebut adalah dibentuknya lembaga internasional untuk mengurusi ekonomi dunia: IMF dan Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diskusi kita sekarang, hasil yang menjadi fokus adalah tercapainya perjanjian untuk menggunakan emas sebagai standar global nilai mata uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu keadaan ekonomi negara-negara dunia – kecuali Amerika- hancur karena perang. Karenanya mereka bergantung pada pinjaman yang diberikan oleh Amerika. Pinjaman ini diberikan dalam bentuk Dollar Amerika. Sebagai jaminan, Amerika menerima emas yang dimiliki negara-negara ini. Akibatnya, Amerika praktis menguasai seluruh emas di dunia dan jadinya hanya Dollar Amerika yang nilainya disokong oleh emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti, secara praktis, Dollar telah menggantikan emas sebagai sumber likuiditas perekonomian dunia dan menjadi basis sistem keuangan dunia. Implikasinya, setiap negara membangun cadangan devisa dalam bentuk Dollar Amerika; cadangan Dollar diperlukan agar mata uang negara yang bersangkutan dapat ditukarkan dengan Dollar atau emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bergantung pada pinjaman Dollar Amerika, negara-negara dunia juga bergantung pada import dari Amerika. Karena hanya pabrik-pabrik di Amerika yang masih beroperasi secara penuh; pabrik di negara lain hancur karena perang. Sehingga, Dollar pinjaman itu dipakai untuk membeli barang dari Amerika, dan kembali masuk ke Amerika. Konsekuensinya, pada saat itu sulit untuk memperoleh Dollar dan emas di luar Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lain kata lain, ketika neraca perdagangan Amerika mengalami &lt;i&gt;surplus&lt;/i&gt; maka sulit mendapatkan Dollar di luar Amerika yang mengakibatkan negara lain sulit menjaga cadangan devisa Dollar sehingga nilai tukar mata uang tidak stabil yang akhirnya menghambat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, &lt;i&gt; jika neraca Amerika mengalami surplus, maka negara lain kesulitan mendapatkan Dollar yang akhirnya menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Sehingga, suksesnya sistem ekonomi internasional saat itu tergantung pada jumlah cadangan devisa dalam Dollar yang dimiliki negara-negara selain Amerika; keadaan ini hanya bisa dicapai jika Amerika mengalami neraca defisit&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluar perkiraan, keadaan neraca surplus di Amerika ternyata tidak bertahan selamanya. Amerika mulai mengalami defisit sehingga Dollar mulai mengalir keluar. Ekonomi dunia membaik, tapi muncul masalah baru: nilai Dollar yang berada di luar Amerika lebih besar daripada nilai cadangan emas Amerika (dihitung berdasar nilai yang ditetapkan di perjanjian Bretton Woods).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui lika-liku berbagai kebijakan ekonomi, akhirnya Amerika melakukan deregulasi dengan menghentikan penukaran Dollar ke emas dan membuat nilai tukar mata uang yang fleksibel(*).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, seperti dikatakan ekonom Jan Kregel, deregulasi dan nilai tukar yang fleksibel tidak menghilangkan masalah secara keseluruhan; karena solusi yang diambil tidak menyelesaikan masalah utama. Seperti telah disebutkan oleh ekonom Robert Triffin pada tahun 1960an, masalah utama ini adalah &lt;i&gt;dipakainya mata uang nasional sebuah negara sebagai alat pembayaran dan sumber likuiditas global. Sebagai mata uang global, ia harus mengikuti kebutuhan ekonomi dunia. Tetapi sebagai mata uang nasional, supply internasional mata uang tersebut ditentukan oleh kondisi domestik negara tersebut. Karena tidak mungkin untuk suatu negara membuat kebijakan ekonomi domestik yang ditentukan oleh kebutuhan internasional, maka mata uang tersebut menjadi tidak stabil&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, saya mengambil dua pelajaran. Pertama adalah adanya kecenderungan kebijakan ekonomi negara miskin “terpaksa” mengikuti kebijakan negara kaya. Untuk menjadi kaya, negara miskin perlu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi negara kaya; tetapi negara kaya cenderung lebih konservatif dan berhati-hati dalam hal pertumbuhan ekonomi karena bagi mereka lebih penting mempertahankan kekayaan, bukan menjadi lebih kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ketika ada krisis, IMF cenderung memberikan solusi dengan menekan pertumbuhan ekonomi negara miskin yang terkena krisis. Padahal masalah negara miskin tersebut bisa jadi disebabkan pertumbuhan ekonomi yang kurang akibat ekspor menurun (karena negara kaya mengencangkan ikat pinggang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, &lt;i&gt;stabilitas&lt;/i&gt; ekonomi dunia tergantung pada &lt;i&gt;ketidak seimbangan&lt;/i&gt; perdagangan dunia. Ekonomi dunia bergantung pada neraca negara kaya (Amerika); semakin banyak rakyat Amerika berbelanja, maka semakin baik untuk ekonomi dunia. Defisit Amerika adalah surplus negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajer investasi Mohammed El-Erian yang mengelola dana hampir $700 milliar membuat analogi bahwa jika ekonomi dunia diibaratkan sebagai pesawat terbang, maka selama ini pesawat terbang tersebut terbang dengan satu mesin yaitu rakyat (konsumen) Amerika. Sekarang, mulai ada mesin-mesin kecil lain (Cina, India, Brasil misalnya). Menurut El-Erian, ekonomi dunia sedang mengalami transisi dari biasa terbang dengan satu mesin ke terbang dengan mesin-mesin tambahan yang lebih kecil. Mudah-mudahan saja transisi ini berjalan mulus, tanpa harus ada pendaratan darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya akan membahas bagaimana sistem ekonomi abad 21 juga didasarkan pada ketidak seimbangan. Terutama antara mesin raksasa yang selama ini dominan, Amerika, dengan mesin yang dahulunya terlalu kecil untuk berpengaruh tapi sekarang menjadi harapan dunia, Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Selain deregulasi, menurut Kregel, ada dua alternatif yang tidak dipilih Amerika: membentuk mata uang global dengan bank sentral global (yang menurut beberapa ekonom hanya mungkin jika ada pemerintahan global), atau menarik Dollar masuk Amerika dan membiarkan dunia mengalamai resesi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-8531425385685543310?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/8531425385685543310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=8531425385685543310' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/8531425385685543310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/8531425385685543310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2008/12/krismon-2-dari-emas-ke-dollar-stabil.html' title='Krismon (2): Dari emas ke Dollar: stabil yang tidak seimbang'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5405968810327777989.post-7383049190218847535</id><published>2008-12-15T15:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T07:48:50.612-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krismon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='roby'/><title type='text'>Krismon (4): Bank sentral dan Greenspanisme</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh Roby&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem ekonomi pasar bebas, harga tidak ditentukan oleh sebuah lembaga tapi oleh mekanisme permintaan dan penawaran. Karena itu, misalnya, harga sepatu tidak ditentukan oleh Asosiasi Pengusaha Sepatu. Tapi ada satu harga yang ditentukan oleh sebuah lembaga – yang dikenal sebagai bank sentral – yaitu harga uang itu sendiri (harga likuiditas); bank Sentral mengatur seberapa banyak uang beredar melalui pengaturan suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin mahal harga yang harus dibayar untuk memperoleh uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan ini saya tidak bermaksud membahas sejarah dan evolusi bagaimana sebuah lembaga pengontrol harga berada ditengah-tengah sistem ekonomi pasar bebas. Melainkan, saya hanya akan menceritakan sedikit mengenai gaya kepemimpinan seorang pemimpin bank sentral Amerika yang juga dikenal sebagai sang maestro: Alan Greenspan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greenspan berpegang pada prinsip bahwa tugas utama bank sentral adalah menjaga inflasi dan tingkat pengangguran. Greenspan juga berpendapat bahwa bank sentral tidak perlu turut campur dalam upaya mencegah menggelembungnya harga suatu aset melebihi nilai fundamentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan “normal” (setidaknya “normal” menurut ekonom – ekonom memiliki kecenderungan untuk menganggap hal yang biasa terjadi sebagai “tidak normal” dan hal yang jarang terjadi sebagai “normal”), harga suatu aset (aset ini bisa berupa saham, rumah, surat hutang dll) kurang lebih sesuai dengan nilai ekonomi aset tersebut. Aset berkualitas yang dicari orang cenderung mahal, dan aset tidak berkualitas cenderung murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ada saatnya dimana harga aset menjadi sangat sangat mahal melebihi nilai ekonomi aset tersebut. Misalnya, ini terjadi saat akhir tahun 1990an dimana harga saham perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan Internet melonjak tajam meskipun perusahaan tersebut belum pernah untung. Orang membeli saham-saham perusahaan Internet bukan karena perusahaan tersebut produktif, efisien, dan menguntungkan; tetapi karena percaya bahwa akan ada orang lain yang akan membeli saham tersebut dengan harga lebih mahal lagi. Kepercayaan ini menular sehingga makin banyak orang ikut percaya dan membuat harga sahamnya tambah membumbung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus naiknya harga aset ini membuat orang percaya bahwa harga aset tersebut akan naik selamanya. Tetapi pada saat yang sama, orang mulai sadar bahwa harga aset sudah jauh melampui kewajaran. Akhirnya, harga aset turun drastis; harga turun secepat dia naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pendapat bahwa bank sentral sebetulnya mampu mencegah penggelembungan harga aset yang tidak wajar ini. Bank sentral dapat menaikkan suku bunga sehingga orang semakin enggan berspekulasi dengan harga aset (spekulasi besar biasanya memakai uang orang lain alias uang pinjaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greenspan berpendapat bahwa bank sentral tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi kapan harga suatu aset menggelembung melebihi harga wajar. Karena bisa saja harga tinggi karena memang mencerminkan situasi penawaran dan permintaan yang ada. Selain itu, menghentikan penggelembungan harga aset ini memang berisiko tinggi. Jika suku bunga dinaikkan, memang harga aset akan menurun karena uang beredar menjadi berkurang. Tetapi itu juga berarti ribuan perusahaan menjadi bangkrut dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang disebut oleh ekonom Brad DeLong sebagai Greenspanisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut doktrin Greenspanisme, bank sentral itu memiliki kekuatan untuk mengatasi krisis apapun &lt;b&gt;setelah&lt;/b&gt; krisis terjadi, bukan sebelum krisis. Lebih baik membiarkan gajah mengamuk dan membereskan puing-puing setelah amukan tersebut daripada menghentikan gajah yang sedang mengamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan Greenspanisme, Greenspan membiarkan gelembung Internet pada akhir 1990an terjadi dan memang dia berhasil mengatasi krisis akibat pecahnya gelembung tersebut dengan berbagai kebijakan bank sentral. Suku bunga dibiarkan rendah, sehingga meskipun gelembung yang pecah menimbulkan goncangan ekonomi tapi goncangan yang relatif singkat dan ringan. Suku bunga yang rendah membuat orang bergairah melakukan kegiatan ekonomi termasuk mengambil kredit rumah sehingga harga rumah naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greenspanisme inilah yang membiarkan harga rumah di Amerika menggelembung karena begitu mudahnya memperoleh kredit rumah. Seorang babysitter di New York bisa memiliki tiga buah &lt;i&gt;townhouse&lt;/i&gt; di &lt;i&gt;Queens&lt;/i&gt; yang masih bagian kota New York. Di beberapa tempat di Amerika, orang dapat membeli rumah tanpa membayar uang muka sepeser pun: 100% kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehancuran sistem keuangan Amerika dan terjadinya resesi global yang dimulai dari gelembung harga rumah di Amerika membuat orang mencari alternatif dari Greenspanisme ini. Krisis sekarang ini tampaknya akan membuat pusat kontrol harga likuiditas di tengah-tengah pasar bebas semakin membesar saja. Bahkan ada kecenderungan bahwa bank sentral Amerika akan tidak hanya mengkontrol harga likuiditas tapi juga akan mengontrol harga risiko di pasar keuangan. Karena, seperti dibahas di &lt;a href="http://individusosial.com/2008/12/krismon-3-dua-kaki-penopang-ekonomi.html" target="_blank" title="http://www.facebook.com/note.php?note_id=48317048134"&gt;Krismon(3)&lt;/a&gt;, krisis dimulai dari kegagalan lembaga-lembaga keuangan Amerika mengatur risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita dibawa ke pertanyaan yang memberi saya motivasi awal menulis seri krismon ini: mengapa para profesional yang menggunakan model manajemen risiko yang sudah divalidasi oleh “hadiah nobel” tetap gagal mengatur risiko?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5405968810327777989-7383049190218847535?l=individusosial.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://individusosial.com/feeds/7383049190218847535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=5405968810327777989&amp;postID=7383049190218847535' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/7383049190218847535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5405968810327777989/posts/default/7383049190218847535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://individusosial.com/2008/12/krismon-4-bank-sentral-dan.html' title='Krismon (4): Bank sentral dan Greenspanisme'/><author><name>Individu Sosial</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13079562258323072561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13152271890863003478'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>