28.9.09

Keadilan dalam sebuah suling

Oleh Sonny

Ketiga anak ini ingin sekali memiliki suling. Sebut saja nama mereka masing-masing sebagai Yanti, Anto, dan Sinta. Yang jadi masalah, suling itu cuma satu buah. Lagipula hanya satu orang anak dari mereka bertiga yang berhak atas suling tersebut.

Yanti merasa dialah yang paling berhak atas alat tiup ini. Pasalnya, di antara mereka dialah satu-satunya yang mampu dan pintar memainkan suling. Anto dan Sinta tak bisa meniup suling.

Anto, yang paling miskin di antara ketiga anak itu, merasa dirinyalah yang paling pantas mendapatkan suling tersebut. Berbeda dengan dua anak yang lain, Anto sama sekali tak punya mainan lain miliknya sendiri. Dengan memiliki suling tersebut, ia jadi punya sesuatu yang bisa ia pakai bermain.

Sinta sendiri merasa ialah orang yang paling patut memiliki suling itu. Sinta sudah bekerja keras berbulan-bulan membuat suling itu. Baik Yanti dan Anto menyaksikan usaha dan kerja Sinta tersebut. Setelah suling itu selesai ia kerjakan, “mereka datang, mencoba merampas suling ini dariku,” ujar Sinta.

Contoh ini saya ambil dari buku The Idea of Justice, karya terbaru Amartya Sen. Tahun 1998, ia memperoleh Hadiah Nobel untuk Ekonomi. Amartya Sen adalah ekonom yang lumayan populer di Indonesia. Pemikiran dia kerap pula dikutip. Sayang, menurut hemat saya, keseluruhan pemikiran Sen seringkali disalahtafsir oleh sejumlah ekonom di tanah air.

Kembali ke tiga anak di atas. Apabila mendengar penuturan mereka secara terpisah, kita mungkin bakal lebih mudah memutuskan. Sekarang, setelah mendengar cerita mereka secara bersamaan, menurut Anda kepada siapa suling itu sebaiknya diberikan?

2.9.09

Tren sosial bukan seperti virus, tapi seperti kebakaran hutan

Oleh Roby

Mereka yang ingin merubah dunia biasanya memulai dengan menciptakan trend sosial; misalnya, pedagang menggunakan viral marketing, politikus dengan kampanye politik, atau intelektual dengan propaganda ideologi. Ide dasarnya adalah memberikan suatu informasi ke sebanyak mungkin orang. Dalam membicarakan trend sosial ini, kita sering mendengar orang yang menganalogikan trend sosial dengan penyebaran virus penyakit. Tetapi, ini analogi yang salah. Trend sosial lebih mirip kebakaran hutan dibanding penyebaran penyakit.

Tidak seperti penyakit dimana kita butuh sekali saja terinfeksi virus untuk sakit, “infeksi sosial” bergantung pada relasi sosial dan frekuensi infeksinya. Ketika kita mendengar sebuah informasi baru atau gosip, biasanya kita tidak langsung mempercayainya, apalagi jika sumber informasi tersebut bukan orang dekat yang kita percayai. Selain itu, kemungkinan kita mempercayai sebuah gossip akan semakin tinggi jika kita mendengarnya berulang-ulang dan berasal dari orang yang berbeda-beda. Jadi kita tak akan pernah bisa menciptakan “virus sosial” yang selalu ampuh dimana saja kapan saja; keampuhan sebuah informasi untuk mempengaruhi kita tergantung konteks dan relasi sosial yang ada.

Seperti tren sosial, kebakaran hutan sering terjadi tapi hanya sedikit yang menjadi sangat besar. Penyebab kebakaran selalu sama: sebuah percikan api yang bisa timbul secara acak (misal dari puntung rokok atau gesekan ranting dan daun). Kebakaran hutan menjadi besar atau tidak ditentukan oleh berbagai macam faktor cuaca seperti apakah saat itu musim hujan atau kemarau, kelembapan, besar dan arah angin dan faktor lingkungan lainnya. Mungkin saja setelah sebuah kebakaran besar kita dapat telusuri asal usul percikan api. Tapi percikan api itu tidak spesial, tidak ada bedanya dengan percikan api lain yang menyebabkan kebakaran lebih kecil. Karena kondisi cuaca saat itu maka percikan api itu menimbulkan kebakaran yang lebih besar dari biasanya.

Begitu juga dengan tren sosial. Tren sosial bisa dimulai oleh siapa saja. Tetapi apakah lalu tren itu menjadi besar atau tidak tergantung pada situasi sosial saat itu. Jika situasi sosialnya sudah pas, maka tren dapat menjadi besar terlepas siapa yang memulainya (ketika musim kering, api kecil pun bisa membuat kebakaran besar). Jika situasi sosialnya belum pas, maka tidak ada yang bisa membuat tren tersebut menjadi besar (ketika musim hujan, percikan api bisa cepat mati karena hujan).

Karena itu pula usaha menemukan influencers dalam viral marketing akan sia-sia. Ini bukan berarti tidak ada orang yang berpengaruh, tentu pengaruh orang berbeda-beda. Tetapi masalahnya, sejauh mana sebuah tren menyebar luas tidak tergantung pada individu yang memulai (early adopters) tren tersebut. Tetapi tergantung pada interaksi sosial yang terjadi ketika tren itu sedang menyebar (apakah ada hujan besar setelah api menyebar atau tidak). Interaksi antar individu ini sangat rumit sehingga secara praktis menjadi acak dan sulit untuk diprediksi (lihat tulisan tentang memprediksi lagu populer).

Kesimpulannya tren sosial besar tidak bisa dimulai hanya dengan "menginfeksi" segelintir orang saja, meskipun mereka adalah orang elit yang berpengaruh besar.

Catatan: perdebatan mana yang lebih penting dalam kebakaran hutan, percikan api di awal atau cuaca ini adalah perdebatan antara Malcolm Gladwell dengan Duncan Watts yang bisa dibaca disini: Is The Tipping Point Toast?