31.3.09

Mahasiswa UGM rasional?

Oleh Sonny

Sahabat dan kolega saya di Universitas Gajah Mada (UGM) pasti mengernyitkan dahi dengan judul terkesan provokatif di atas. (Dan saya beresiko kehilangan undangan mereka untuk makan gudeg, sambil lesehan di tepi jalan Malioboro, Yogyakarta, gara-gara memilih judul macam ini.) Seperti Anda, mereka pasti bertanya, apa yang tidak rasional dalam diri mahasiswa di kampus dengan program ilmu sosial terbaik di Indonesia itu?

Ceritanya terjadi di tahun 1994.

Saat itu, satu bungkus mie instan Indomie masih seharga 250 sampai 300 perak. Saat itu, satu dollar AS masih setara dengan sekitar dua ribu rupiah. Saat itu pula, andai seorang mahasiwa memegang uang 200 ribu Rupiah, rasanya seperti sama dengan mendapat tiga bulan gaji.

Pada masa seperti itu, seorang ekonom berkunjung ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM. Di sana ia mengajak mahasiswa FISIPOL UGM bermain. Lisa Ann Cameron nama ekonom itu. Dan ada sekitar 80 mahasiswa yang ikut bermain bersamanya.

Dalam permainan itu, Cameron memasang-masangkan setiap mahasiswa. Dua orang dalam satu pasang. Cameron memberi setiap pasang mahasiswa sejumlah uang. Jumlah yang relatif besar kala itu – 200 ribu Rupiah. Seperti disebut di atas, saat itu jumlah ini setara 3 bulan rata-rata gaji. Meskipun dipasangkan, sesama kedua mahasiswa itu tidak saling kenal – yang satu tidak tahu dengan siapa ia bermain.

Sepasang mahasiswa itu masing-masing lalu diberi peran. Mahasiswa yang satu, yang memegang uang 200 ribu Rupiah, mengajukan kepada pasangannya, sejumlah uang. Jumlah yang ia sodorkan terserah dirinya: antara 0,- Rupiah sampai 200.000,- Rupiah. Seturut dengan perannya, kita namai saja mahasiswa ini sebagai Penyodor (Proposer).

Mahasiswa yang lain, perannya lain lagi. Ia diminta menanggapi tawaran yang diajukan si Penyodor. Agar gampang, kita namakan saja mahasiswa ini sebagai Penanggap (Responder). Kepadanya disodorkan sejumlah uang (yakni, antara Rp 0,- sampai Rp 200.000,-) itu.

Yang menarik dari permainan ini adalah dua syarat berikut. Manakala si Penanggap setuju dengan jumlah yang ditawarkan si Penyodor, tiap-tiap mahasiswa ini memperoleh sejumlah uang seperti yang ditawarkan si Penyodor.

Sementara itu, andaikata si Penanggap menolak usulan jumlah uang yang ditawarkan si Penyodor, maka kedua mahasiswa ini, baik Penanggap maupun Penyodor, tak beroleh apa-apa alias mendapat 0,- Rupiah.

Permainan ini lazim dikenal dengan nama Ultimatum Game. Ditemukan ekonom Jerman, Werner Gueth, permainan ini telah diujicoba banyak kali di antero dunia, dengan beragam variasi permainan dan rupa-rupa karakter pemain.

Struktur sederhana yang dimiliki permainan ini membuka jalan untuk menguji asumsi “self-interested” jadi lebih mudah. Dan, dengan dibantu teori permainan (Game Theory), ilmu ekonomi standar bisa memprediksi apa yang akan hendak dilakukan kedua mahasiswa itu.

Apa yang bakal mereka lakukan? Seorang yang disebut “rasional” akan melakukan dua hal berikut ini.

Pertama, sebagai Penyodor yang rasional ia akan menyodorkan uang sekecil mungkin (tetapi masih positif) kepada si Penanggap. Pikirnya, sebagai sosok yang rasional toh si Penanggap akan menerima berapapun uang yang ia tawarkan.

Kedua, di sisi lain, si Penanggap, yang juga rasional, pasti akan menerima berapapun uang yang ditawarkan Penyodor. Bukankah mendapat uang – sekecil apapun itu – tetaplah lebih baik ketimbang tidak menerima uang apa-apa?

In adalah prediksi teoretis. Lantas, apa yang dilakukan para mahasiswa UGM dalam eksperimen tersebut?

Perilaku mahasiswa UGM rupanya berlawanan dengan prediksi teori. Jumlah rata-rata dari uang yang ditawarkan Penyodor adalah sekitar 40 persen (dengan standar deviasi sekitar 12 persen). Para penyodor memilih tidak menawarkan jumlah uang yang sangat kecil pada penanggap. Sementara itu, hampir 90 persen tawaran sebesar itu diterima Penanggap.

Statistik ini menegaskan kembali hasil dari begitu banyak ujicoba yang telah dilakukan dengan permainan ini. 50 persen adalah prosentase yang biasa ditawarkan Penyodor. Dan, apabila prosentase itu kurang dari 30 persen, lazimnya ditolak oleh Penanggap.

Sebagian kita mungkin sulit memahami tindakan mahasiswa UGM. Bukankah 200 ribu, pada tahun 1994 pula, adalah jumlah yang tak sedikit, apalagi hanya diperoleh dari kerja (bermain pula!) yang tak lebih dari dua jam lamanya itu? Mengapa memilih merugi dengan membagikan uang sekitar 100 ribu kepada Penanggap, mengapa tidak, misalnya, cukup dengan 5 ribu atau 10 ribu Rupiah saja?

Tindakan irasional, kata mereka yang terlatih dengan teori ekonomi standar. Adakah mahasiswa UGM tidak rasional?

Cristina Bicchieri, penulis The Grammar of Society (2006), pantas kita kutip untuk mencari jawab pertanyaan ini. Tulis filsuf itu, “andai rasionalitas adalah apa yang kita maksudkan sebagai orang yang memaksimalkan expected utility dan bahwa mereka hanya merujuk pada hasil moneter [yang mereka peroleh], maka kita harus menyimpulkan bahwa seorang yang menolak tawaran sejumlah positif [seperti sebagian mahasiswa UGM dalam permainan di atas] adalah berlaku irasional.”

Lanjut Bicchieri, “Tetapi, uang bukan pertimbangan tunggal, dan di luar itu terdapat pertimbangan atas keadilan (fairness), sampai-sampai terdapat orang yang siap untuk menghukum mereka yang berlaku tak adil, [bahkan] kalaupun ia harus membayar biaya atas hukuman itu.”

Para behavioral economists menyebut tindakan mahasiswa UGM itu sebagai negative reciprocity. Di mana orang membalas perilaku yang dianggap tak adil dengan cara yang merugikan pelaku ketidakadilan, meskipun ia harus menanggung biaya mahal atas tindakan balasan itu.

Pacar yang dibohongi membalas mantannya dengan biaya yang sangat mahal (termasuk menyebarkan informasi atau foto mereka berdua yang sangat intim). Seorang kakak bisa begitu tega dan tak sudi lagi meminjamkan uang atau mengulurkan bantuan pada adik atau saudaranya yang pernah ingkar janji, walaupun ia tahu hubungan keluarga mereka pasti meregang. Ini adalah beberapa keping contoh negative reciprocity yang acap kita jumpai sehari-hari.

Tampaknya tak ada yang keliru dengan perilaku mahasiswa UGM di atas. Apa yang keliru dong kalau begitu?

Barangkali cara kita memaknai rasionalitas itu yang perlu diperiksa kembali. Seperti kita perlu memeriksa kembali kurikulum dan pengajaran fondasi mikro keputusan manusia di banyak Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial kita di tanah air. ***


CATATAN PINGGIR

Saat menulis artikel ini, saya tergoda untuk bertanya, seperti apa hasil eksperimen apabila respondennya bukan mahasiswa FISIPOL UGM, melainkan, misalnya, mahasiswa FE UGM. Atau, seperti apa kira-kira hasilnya, apabila yang memainkan eksperimen adalah mahasiswa FE UGM dan mahasiswa FE UI, untuk menguji "hipotesis" M.C. Ricklefs, penulis A History of Modern Indonesia, bahwa UGM lebih “merakyat” dibanding UI?


Kepustakaan


Bicchieri, Cristina. 2006. The grammar of society - The nature and dynamics of social norms. New York: Cambridge University Press.

Camerer, Colin F. 2003. Behavioral game theory - Experiments in strategic interaction. New York dan New Jersey: Princeton University Press.

Cameron, Lisa A. 1999. Raising the stakes in the ultimatum game: Experimental evidence from Indonesia. Economic Inquiry 37(1), hal. 47-59.

Heinrich, Joseph; Robert Boyd, Samuel Bowles, Colin Camerer, Ernst Fehr dan Herbert Gintis (Editor). 2004. Foundations of human sociality - Economic experiments and ethnographic evidence from fifteen small-scale societies. Oxford dan New York: Oxford University Press.

24.3.09

Resiko, Keputusan, dan Perbedaan Individu

Oleh Tirta

ADA sebuah kasus artifisial klasik yang sering digunakan psikolog untuk memetakan bagaimana individu mengambil keputusan beresiko, yang biasa dipresentasikan dalam dua varian. Contoh varian pertama seperti ini:

Jika ada sebuah penyakit berbahaya yang datang ke Indonesia, dan 600 orang diprediksi akan meninggal, mana yang harus dipilih presiden dari solusi-solusi berikut ini:

Solusi A: 200 orang akan selamat.

Solusi B: ada 1/3 kemungkinan bahwa 600 orang akan selamat, dan 2/3 kemungkinan mereka tidak akan selamat.

Sedangkan varian kedua:

Jika ada sebuah penyakit berbahaya yang datang ke Indonesia, dan 600 orang diprediksi akan meninggal, mana yang harus dipilih presiden dari solusi-solusi berikut ini:

Solusi C: 400 orang akan meninggal.

Solusi D: ada 1/3 kemungkinan bahwa semua tidak akan meninggal, dan 2/3 kemungkinan 600 orang akan meninggal.

Kedua varian tersebut identik, hanya berbeda dalam konteks penyampaian. Varian pertama selalu menggunakan kata "selamat", varian kedua "meninggal"; solusi A dan C sifatnya sama-sama pasti, B dan D bersifat kemungkinan.

Puluhan studi selama beberapa dekade terakhir konsisten menemukan bahwa dalam varian pertama, mayoritas individu memilih solusi A, sedangkan dalam varian kedua, yang dipilih adalah solusi D. Apa yang terjadi?

Ketika penyampaian berkonteks positif (selamat), individu menghindari resiko. Namun ketika penyampaian berkonteks negatif (meninggal), individu mengambil resiko. Fenomena ini - yang dikenal dengan sebutan "framing effect", yaitu bagaimana konteks penyampaian ternyata mempengaruhi keputusan individu - pertama ditemukan oleh dua psikolog peraih nobel ekonomi Daniel Kahneman dan (almarhum) Amos Tversky.

Yang menarik, framing effect ini ternyata berinteraksi secara sistemik dengan emosi.

Dalam sebuah studi, psikolog Jennifer Lerner and Dacher Keltner memberi kedua varian kasus ini ke sejumlah mahasiswa, yang sebelumnya diminta mengisi tes kepribadian yang memetakan individu dalam dua dimensi emosi: marah dan takut. Dalam eksperimen lainnya, mereka mengkondisikan indivdu-individu secara acak sehingga beremosi marah atau takut, lalu memberi mereka kasus penyakit tersebut.

Ketika penyampaian kasus berkonteks positif, individu secara umum - terlepas dari emosi marah maupun takut - cenderung menghindari resiko. Namun individu-individu yang bertendensi marah ternyata lebih berani mengambil resiko, terlepas dari konteks penyampaian.

Dalam studi lain lagi, psikolog Daniel Fessler, Elizabeth Pillwsorth, dan Thomas Flamson memberi sejumlah partisipan masing-masing $15, lalu bertanya:

Taruhan berikut mana yang Anda pilih untuk menukarkan $15 Anda:
- 80% kemungkinan menang $18.75
- 40% kemungkinan menang $37.50
- 20% kemungkinan menang $75
- 5% kemungkinan menang $300
- Tidak mau menukar

Partisipan dibagi secara acak menjadi 3 kelompok, lalu dikondisikan agara beremosi berbeda. Kelompok pertama diminta menulis pengalaman mereka ketika marah, kelompok kedua ketika jijik, dan kelompok ketiga menulis tentang menonton televisi (tanpa emosi).

Hasil eksperimen lagi-lagi menunjukkan interaksi antara emosi, jenis kelamin, dan pengambilan keputusan: Dibanding tingkat resiko yang diambil kelompok ketiga (kelompok netral), pria ternyata lebih berani mengambil resiko ketika marah, sedangkan wanita cenderung menghindari resiko ketika jijik.

INTERPRETASI studi-studi di atas tentu harus dilakukan secara berhati-hati. Mengapa emosi marah, misalnya, menyebabkan individu berani lebih mengambil resiko, masih perlu diteliti lebih lanjut. Juga dengan interaksi jenis kelamin: mengapa emosi marah berefek pada pria, dan jijik pada wanita.

Namun yang jelas, data empiris menunjukkan bahwa framing effect ternyata merupakan fungsi dari faktor-faktor seperti emosi dan jenis kelamin.

Temuan ini merupakan amandemen terhadap teori pilihan rasional menurut ilmu ekonomi klasik, yang mendeskripsikan pengambilan keputusan individu sebagai steril dari pengaruh-pengaruh psikologis semacam ini. Individu ternyata merespon cara presentasi dan penyampaian masalah, serta bertindak sesuai konteks, emosi, dan menurut disposisi jenis kelamin secara sistematis.

17.3.09

Krismon (5): Sumber ketidakstabilan ekonomi dan Penutup

oleh Roby

Saya ingin sedikit bercerita mengenai sejarah asal-usul uang untuk menggambarkan landasan fundamental sistem ekonomi yang mana hidup kita sekarang bergantung.

Tentunya saya melakukan banyak penyederhanaan, tetapi saya berharap ide dasarnya tetap bisa dibaca.

Mari kita mulai dari sistem barter. Disini kita menukarkan barang yang kita miliki dengan barang yang dimiliki orang lain. Dari sini sudah terlihat potensi masalah: bagaimana jika saya memiliki ayam dan ingin jagung, tapi satu-satunya pemilik jagung tidak menginginkan ayam? Maka trasaksi tidak terjadi; secara pribadi saya kesal karena tidak bisa mendapatkan barang yang saya perlukan, dan secara umum kegiatan ekonomi sering terhambat yang akhirnya merugikan semua orang.

Lalu manusia menciptakan uang. Uang ini bentuknya bisa bermacam-macam, bisa jerami, emas atau perak. Yang penting disini adalah adanya standar untuk melakukan transaksi ekonomi. Salah satu uang yang menjadi populer adalah koin emas.

Lama kelamaan, sistem koin emas pun terasa tidak efisien. Seiring dengan tumbuhnya ekonomi dimana barang yang dijual belikan semakin bervariasi dengan volume yang besar, para pedagang merasa tidak aman dan efisien jika harus membawa koin-koin emas kemana-mana dalam jumlah besar. Juga ada masalah penyimpanan: emas yang bertumpuk di rumah-rumah pedagang sangat rentan terhadap pencurian.

Akhirnya ada yang mengambil inisiatif untuk membuat “rumah emas”. Pemilik rumah emas ini membangun sebuah tempat yang aman dimana para pedagang merasa aman untuk menitipkan emasnya di rumah emas tersebut. Maka orang berbondong-bondong menitipkan emasnya ke rumah emas. Selain itu, rumah emas ini mengeluarkan sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa pemegang sertifikat ini memiliki emas sesuai dengan jumlah emas yang di depositkan di rumah emas.

Sertifikat tersebut tidak menyebutkan nama pemilik deposit, melainkan hanya menyatakan bahwa siapapun yang memegang sertifikat ini berhak atas sejumlah emas yang telah ditentukan. Sehingga para pedagang tinggal saling menukar sertifikat deposit emas ini dalam bertransaksi. Tidak perlu lagi membawa-bawa koin emas dalam jumlah besar. Sertifikat deposit emas ini beredar di masyarakat dan praktis memainkan peran “uang” seperti yang kita kenal sekarang.

Si pemilik rumah emas ini mengamati bahwa kebanyakan emas diam tertimbun di gudang. Hanya sedikit emas yang masuk dan keluar setiap harinya. Si pemilik rumah emas mulai mencari cara agar emas yang menumpuk di gudang tersebut tidak menganggur atau bahkan bisa memberikan keuntungan baginya.

Maka lahirlah dua hal yang menjadi landasan ekonomi modern: fractional reserve banking (FRB) dan kredit.

Prinsip FRB adalah rumah emas (bank) tidak perlu menyimpan seluruh deposit emas (uang) di dalam bank. Yang perlu disimpan hanyalah sebagian kecil; asal cukup untuk kebutuhan transaksi sehari-hari. Sisanya dipinjamkan dalam bentuk kredit. Maka si pemilik rumah emas ini mulai membuat sertifikat deposit emas yang dapat di beli oleh non-depositor.

Disini mulai tampak sumber ketidakstabilan. Memang betul dalam keadaan normal, transaksi di rumah emas hanya mencakup sebagian kecil total jumlah deposit yang ada. Karena itu rumah emas meminjamkan sebagian besar deposit dalam bentuk kredit. Tetapi, jika karena sesuatu dan lain hal, seluruh depositor meminta seluruh emasnya kembali pada hari yang sama, maka rumah emas kesulitan memenuhi permintaan ini karena emas deposit telah dipinjamkan ke orang lain. Akhirnya rumah emas harus menyatakan bankrut. Jika ada beberapa rumah emas lain di kota tersebut, melihat satu rumah emas bangkrut, depositor juga akan berbondong-bondong menarik emas di rumah emas yang lain. Akhinrya seluruh rumah emas dinyatakan bangkrut dan ekonomi kampung itu runtuh. Inilah yang dinamakan bank run.

Disini kita lihat bahwa sumber ketidakstabilan ini adalah kredit itu sendiri. Saya tidak membahas instrumen finansial canggih, uang kertas, bunga, atau nilai intrinsik. Ketidakstabilan yang dapat meruntuhkan ekonomi melalui bank run ini muncul akibat kredit dan ketika asumsi independensi dalam perilaku manusia dilanggar(*).

Lalu, jika kredit demikan berbahaya kenapa orang melakukannya?

Karena ternyata kredit ini adalah mekanisme untuk membuat uang. Misal saya adalah pemerintah dan mencetak uang senilai 100 lalu saya berikan ke bank sentral. Dengan menggunakan prinsip FRB, bank sentral hanya menyimpan, misal, 10% dan meminjamkan sisanya. Jadi 10 tetap di bank sentral dan 90 dipinjamkan ke bank A. Selanjutnya bank A juga hanya simpan 10% dari 90 yaitu 9 dan meminjamkan 81 ke bank B.

Dari sini terlihat bahwa negara saya yang mencetak uang 100 menjadi mempunyai kekayaan di atas kertas senilai (100+90+81)=271. Ini dicapai hanya melalui kredit! Tanpa produksi barang apapun. Saya bisa klaim bahwa ekonomi negara saya telah tumbuh (dari 100 ke 270) hanya melalui sistem kredit tanpa menghasilkan barang apapun.

Sekali lagi, tentunya banyak yang terlewat dalam penjelasan sederhana ini. Tetapi justru hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa dua karakteristik penting dalam ekonomi modern (krisis ekonomi dan pertumbuhan ekonomi) dapat muncul hanya dari satu konsep: kredit (dan saudara kembarnya fractional reserve banking). Kredit adalah pisau bermata dua: dapat merusak melalui krisis ekonomi tapi juga berguna untuk “pertumbuhan ekonomi”. Selama sistem ekonomi berlandaskan kredit maka selama itu pula krisis selalu mengintai.

Bagi saya, masalah ini bukan hanya masalah sistem ekonomi saja, tetapi masalah moralitas dan nilai kepercayaan. Ada moralitas atau nilai/norma kepercayaan yang mendasari perilaku kita dalam menyimpan, meminjam, dan membelanjakan uang; misalnya, mengapa orang harus membayar hutang? jika kita anggap membayar hutang ini bagian dari suatu mekanisme sosial dan lalu pertanyaannya mekanismenya apa dan untuk apa? Singkatnya, bagaimana sistem ekonomi kredit ini muncul?(**)

(*) biasanya perilaku banyak manusia dapat dianggap independen, alias berbeda-beda. Dalam konteks ini, misalnya, ada yang menyimpan emas ke rumah emas dan ada yang menarik emas; atau ada yang menjual dan ada yang membeli. Kadang, akibat panik, gosip atau yang lainnya, perilaku menjadi seragam: semua menarik emas, atau semua menjual. Perubahan dari perilaku yang beragam menjadi perilaku yang sama lah yang berusaha ditangkap dengan istilah perubahan dari independen ke non-independen; atau tidak berkorelasi menjadi berkorelasi.

(**) teori ekonomi memiliki penjelasan standar yang dikenal sebagai teori ekspektasi rasional. Menurut teori ini, perilaku kita soal uang ini didasari perhitungan rasional untuk mengantisipasi masa depan. Misalnya, menabung dilihat sebagai pinjaman ke diri sendiri di masa depan (loan to future self).

Tulisan ini adalah hasil membaca 2 buku berikut:

1. The ascent of money, Nial Fergusson

2. The origin of financial crisis, George Cooper


Penutup: Ini adalah seri krismon terakhir. Terima kasih kepada pembaca sekalian. Sedikit refleksi pribadi mungkin pantas saya tulis disini.

Saya memulai seri ini karena dipicu keingintahuan mengenai krisis global yang sekarang melanda kita semua. Ternyata untuk mengetahui apa yang terjadi saja sudah sulit, apalagi mengerti bagaimana dan kenapa krisis terjadi jauh lebih sulit.

Awalnya fokus pencarian saya adalah ingin mengerti bagaimana model-model keuangan yang sudah mapan di disiplin ilmu ekonomi keuangan dan sebagian dibaptis oleh nobel ekonomi ternyata tidak jalan. Ditengah pencarian ini, saya berpikir bahwa ada hal yang lebih penting: bahwa sistem ekonomi kapitalisme secara umum membutuhkan pandangan moral tertentu. Seperti yang saya bahas seri krismon terakhir ini, sistem ekonomi yang berlandaskan kredit hanya bisa jalan di masyarakat yang memiliki nilai moral bahwa hutang harus dibayar, dan kontrak adalah segalanya (sanctity of contract). Misalnya, jika ada konsumen yang bangkrut akibat kredit yang tak terbayar maka secara moral yang disalahkan adalah konsumen, bukan pemberi kredit yang secara agresif dan kadang manipulatif menawarkan kredit.

Tentu ini bukan hal baru, ilmu ekonomi sendiri muncul dalam bentuk filosofi moral yang ditulis oleh Adam Smith. Jadi landasan moral/kepercayaan kapitalisme ini perlu dimengerti jika kita ingin mengerti bagaimana kapitalisme bekerja.

7.3.09

Preferensi Sosial

Oleh Sonny

PILIHAN manusia berbeda-beda. Untuk sebuah dunia kecil saja, macam dunia para penulis di Individu Sosial, terlihat betul perbedaan pilihan itu.

Sebut saja pilihan makanan mereka. Roby, misalnya, bakal menampik, tatkala disodorkan makanan yang bercampur kari atau pasta. Manakala tawaran itu adalah makanan Sunda atau makanan Jepang, pasti ceritanya beda. Lain Roby, lain pula Tirta. Ia gemar makanan Padang dan kuliner Italia, tapi ia tak berminat dengan makanan seperti “jeroan“. Saya sendiri tak bisa menikmati daging kambing senikmat saya melahap tinutuan, bubur Manado itu, atau Doener ayam dari Turki.

Ekonom menggunakan kata preferensi“ untuk menamai pilihan-pilihan itu. Sebuah penamaan yang terpaut dengan bagaimana pilihan yang satu ditimbang-timbang, kemudian diambil dari sekian pilihan tersedia.

Dua macam preferensi

PREFERENSI atas sekumpulan benda atau jasa apa saja itu terang saja bisa berbeda-beda. Persis seperti contoh makanan di awal tulisan ini. Walaupun berbeda-beda, di mata para ekonom (utamanya ekonom neoklasik) dasar keputusan manusia atas pilihan-pilihan yang berbeda itu, adalah sama.

Begini maksudnya. Saat harus bikin atau ambil keputusan, manusia - entah tua atau muda, entah lelaki atau perempuan, entah mukim di kota atau di desa, entah sekarang atau besok, pun entah penggemar makanan Sunda atau Italia - hanya mengacu pada dirinya sendiri. Pada kepentingan dirinya sendiri belaka.

Sang Aku atau Si Saya jadi rujukan utama di situ. Perilaku yang mendasari keputusan itu adalah self-regarding. Atau self-interested. Di sini, hasil dari tindakan kita terhadap orang lain tidaklah relevan.

Sudah barang tentu tak ada yang keliru dengan anggapan ini. Dalam kehidupan sehari-hari kita jumpai bertumpuk-tumpuk contoh yang akur dengan perilaku seperti itu. Dari contoh yang ekstrem, seperti tindakan pialang saham di lantai bursa dan laku lajak politikus di pasar Caleg, atau contoh sepele, macam kemenakan Anda yang mengambil porsi kue lebih besar dari yang Anda tawarkan. Lagi pula, memperoleh untung 2 juta lebih baik dibanding 1 juta, bukan?

Apa yang keliru, adalah anggapan, dasar keputusan itu merupakan satu-satunya rujukan keputusan dan perilaku manusia. Kapan saja, di mana saja. Di muka bumi, tak kurang banyak contoh dalam kehidupan kita hari lepas hari yang menggambarkan keragaman perilaku. Contoh-contoh di mana dasar tindakan manusia tidak tunggal. Tidak melulu self-regarding atau self-interested.

REINHARD Selten berpendapat, gambaran pengambilan keputusan yang melandasi teori ekonomi kontemporer berbeda jauh dengan perilaku manusia sesunguhnya yang teramati dalam kenyataan. Begitu catatan matematikawan-cum-ekonom itu atas keterbatasan asumsi self-interested. Selten, bersama John Nash dan John Harsanyi, memperoleh Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1993 atas sumbangsih mereka dalam mengembangkan Teori Permainan, Game Theory.

Jangan-jangan pendapat Selten hanya spekulasi belaka?

Guna menelisik keragaman preferensi, ekonom Urs Fischbacher, Simon Gaechter dan Ernst Fehr melancarkan serangkaian eksperimen. Uji coba mereka itu memanfaatkan apa yang lazim dinamakan sebagai permainan barang publik atau public goods game.

Maksud permainan ini sejatinya sangat lugas. Umpamakan saja Anda hendak membangun sebuah jembatan bersama warga masyarakat di sekitar tempat Anda bermukim. Lantaran pembangunan jembatan tersebut butuh biaya, setiap anggota warga – termasuk Anda – perlu menyumbang.

Rupanya, jumlah anggota warga yang banyak dalam komunitas itu, memungkinkan Anda untuk tidak menyumbang tapi tetap berkesempatan menikmati kegunaan jembatan, saat jembatan tuntas dibangun dan digunakan nanti. (Rasanya juga sulit sekali membatasi boleh-tidaknya orang melintasi jembatan hanya gara-gara tak turut menyumbang.)

Singkat cerita, Anda dapat “makan untung” atau menumpang gelap alias free riding.

Kemampuan prediksi yang akurat adalah keunggulan teori ekonomi standar. Apa prediksinya? Jembatan pasti tidak akan ada. Jembatan bakal tak kunjung terbangun.

Mengapa demikian? Alasannya selugas prediksinya. Sebagaimana disinggung sebelumnya, teori ekonomi standar menganggap setiap insan di kolong langit hanya memikirkan diri sendiri. Dan anggapan ini berlaku dalam situasi apapun. Berkenaan dengan pembangunan jembatan itu, tindakan paling rasional – menurut ilmu ekonomi neoklasik – adalah tidak menyumbang.

Tanpa menyumbang, Anda memetik keuntungan ganda secara serentak. Pertama, Anda tidak mengeluarkan uang (atau sumberdaya apapun), sebab kemungkinan menumpang gelap tersedia. Kedua, Anda tetap bisa menikmati keberadaan jembatan (atau barang publik) dari hasil upaya dan sumbangan orang lain (di luar diri Anda).

Apabila setiap warga masyarakat menumpang gelap, atau andaikata seluruh anggota masyarakat secara “rasional” memilih untuk tidak menyumbang, dapat dipastikan jembatan itu tak bakal berdiri.

Seperti Anda lihat, di sini rasionalitas individu sontak berubah menjadi i-rasionalitas kolektif.

Tetapi, prediksi teoretis yang akurat adalah satu hal. Sementara, apa yang terjadi dalam kenyataan, adalah urusan empiris. Kita tetap menyaksikan, sumbangan dan kerja bersama tetap terwujud dalam banyak pembangunan fasilitas yang punya karakter barang publik, seperti jembatan.

Penelitian Fischbacher, Gaechter dan Fehr tersebut memang bukan khusus soal jembatan. Eksperimen ekonomi mereka dirancang untuk secara langsung mencaritahu perilaku individu saat diminta menyediakan barang publik.

Uji coba itu melibatkan mahasiswa sebagai pengambil keputusan. Sejumlah uang diberikan pada para mahasiswa itu. Uang tersebut bakal digunakan (atau tidak, tergantung pilihan mahasiswa bersangkutan) untuk tersedianya barang publik.

Berdasar hasil eksperimen, sekitar 30 persen peserta menumpang gelap. Berkali-kali kelompok ini tak kunjung menyumbang apa-apa; mereka tidak bekerja sama demi tersedianya barang publik. Hasil ini sekaligus memberi penegasan, perilaku yang hanya memikirkan diri sendiri, ada dan nyata dalam “masyarakat” seperti kita temukan setiap hari dalam kehidupan. Angka 30 persen adalah prosentase yang tidak bisa diabaikan.

Perilaku apa dong yang dominan? Teramati selama eksperimen adalah apa yang dapat disebut sebagai “kerjasama bersyarat” atau conditional cooperation. Perilaku dari 50 persen peserta eksperimen dapat dijelaskan dalam kategori ini. Kerjasama bersyarat, maksudnya? Mereka rela menyumbang lebih bagi barang publik apabila peserta lain semakin banyak menyumbang. Perilaku macam ini tidak selaras dengan prediksi standar ilmu ekonomi.

Preferensi sosial

KERJASAMA bersyarat itu patut digolongkan sebagai preferensi sosial. Pokok yang disebut belakangan ini terkait dengan bagaimana orang menyusun urutan atau ranking untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain, saat berhadapan dengan urusan pembagian materi yang berbeda-beda. Dalam bahasa sehari-hari, ini soal bagi-membagi sesuatu untuk diri seseorang dan untuk orang lain.

Saat menyusun urutan dan membagi-bagi bagian itu, seperti ditunjukkan banyak hasil eksperimen ekonomi sejak tahun 1980-an, orang rela menaikan atau menurunkan bagian atau jatah (atau payoff) orang lain. Bahkan sekalipun tak tersedia keuntungan material baginya saat ini atau di waktu nanti dari berkurang atau bertambahnya payoff tersebut. Bukankah orang tega menghukum mantan kekasihnya yang dulu begitu dicintai?

Dus, ibarat sebuah keluarga yang punya anak banyak, perilaku self-interested hanya satu dari sekian anggota keluarga. Bukan satu-satunya. Dalam keluarga itu, tidak semua orang egois. Ada orang yang altruistik, yang membantu orang tanpa syarat, tak peduli apapun tindakan atau tanggapan orang lain itu atas bantuannya. Ada pula sosok yang resiprokal, yang bekerjasama saat orang lain bekerjasama, dan menghukum mereka yang tidak bekerjasama walaupun ia mesti merugi gara-gara ongkos hukumannya itu. Preferensi sosial, karena itu, pantas pula kita tambahkan sebagai anggota keluarga besar perilaku manusia.

Dalam tulisan sebelumnya, rekan saya Tirta telah mengupas peliknya ihwal insentif. (Di sana, Tirta mengutip contoh soal membantu orang menyeberang jalan. Orang itu tak kita kenal, baru sekali bersua dengan kita, dan barangkali tak bakal berjumpa lagi. Singkat cerita, tak ada future benefit apapun dari bantuan kita baginya. Toh tetap kita saksikan banyak orang memberi bantuan.) Meminjam penjelasan preferensi sosial, saya ingin kemukakan contoh satu berikut ini.

Bayangkan seorang ditabrak mobil persis di depan Anda saat ia hendak menyeberang jalan. Besar kemungkinan Anda akan menolongnya. Anda, misalnya, membopong tubuhnya ke pinggir jalan atau bergegas memanggilkan mobil ambulans.

Sekarang, mari konteks cerita tabrakan itu kita ubah sedikit. Bayangkan kembali, persis di depan Anda yang sedang menunggu lampu hijau, ia menyeberang jalan. Ia memaksa menerobos saat lampu merah, lantas dihajar mobil yang melaju.

Orang malang itu barangkali akan tetap Anda tolong. Tetapi, mungkin dengan tingkat kesediaan menolong berbeda ketimbang dalam cerita pertama kita. Boleh jadi Anda tetap mengulurkan pertolongan, tetapi sambil bersungut dalam hati.

Sompret. Sudah tahu merah, masih nerobos juga.”