Oleh Tirta
DALAM sorotannya terhadap fenomena obesitas di Amerika, buku The Fattening of America menggarisbawahi dua faktor penyebab. Pertama, begitu banyaknya makanan murah nan menggemukkan. Kedua, ragam teknologi baru yang memungkinkan individu bekerja produktif tanpa harus membakar banyak kalori.
Menurut penulis buku tersebut, ekonom Eric Finkelstein dan Laurie Zuckerman, obesitas adalah produk keberhasilan -- bukan kegagalan -- pasar bebas. Pasar bebas sukses memberi individu akses untuk membeli makanan murah dan teknologi inovatif yang sebelumnya tidak tersedia, walau akhirnya berdampak pada kenaikan berat badan.
Terlepas dari peliknya masalah obesitas itu sendiri (dari soal siapa yang harus menanggung 'biaya publik' jika sebagian besar masyarakat kelebihan berat badan, masalah asuransi kesehatan, hingga peran pemerintah dalam menanggulangi problem ini), buku ini bersandar pada paradigma pilihan rasional.
Menurut paradigma ini, obesitas merupakan dampak dari sejumlah pilihan rasional. Dengan kata lain, individu secara sadar memilih untuk makan lebih banyak dan menggunakan teknologi-teknologi yang membuat hidup mereka lebih nyaman, sehingga akhirnya membakar lebih sedikit kalori dan menambah berat badan.
Dan karena rasional, maka pilihan individu ini harus dihormati. Makan, menurut The Fattening of America, merupakan ekspresi kebebasan.
LAIN The Fattening of America, lain pula Mindless Eating. Dalam buku ini, psikolog Brian Wansink bercerita tentang sejumlah eksperimen makan yang menarik.
Di sebuah bioskop di Chicago, Wansink dan para mahasiswanya memberi pengunjung popcorn melempem secara gratis. Sebagian pengunjung diberi popcorn melempem banyak, dalam kotak besar, sedangkan lainnya sedikit, dalam kotak kecil. Setelah film selesai, jumlah konsumsi popcorn diukur.
Hasilnya sulit masuk akal. Pengunjung dengan kotak besar didapati memakan 53% lebih banyak popcorn dibanding pengunjung kotak kecil. Popcorn yang, walaupun gratis, melempem.
Dalam eksperimen-eksperimen sejenis lainnya, Wansink menemukan bahwa secara rata-rata seseorang akan makan 25% lebih banyak ketika menggunakan piring besar, dibanding piring sedang atau kecil. Lauk yang dibiarkan di meja akan menyebabkan konsumsi makanan 30% lebih banyak. Gelas besar-pendek menyebabkan konsumsi bir 30% lebih banyak dibanding gelas kurus-tinggi, walau keduanya berkapasitas sama.
Menariknya, seluruh peserta eksperimen diatas tidak percaya ketika diberi tahu bahwa mereka makan lebih banyak karena faktor-faktor seperti ukuran piring, besar kotak popcorn, letak piring lauk, dan bentuk gelas bir. Sebagian besar malahan menyangkal dan merasa hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Yang dilakukan Wansink adalah demonstrasi proses bawah-sadar di balik tindakan makan seorang individu. Mindless Eating, dengan kata lain, menunjukkan bahwa makan tidak selamanya rasional.
THE Fattening of America dan Mindless Eating berbicara tentang fenomena yang sama. The Fattening of America melihat secara makro apa yang terjadi di masyarakat ketika sebagian anggotanya kelebihan berat badan. Mindless Eating mempelajari apa yang terjadi di level individu ketika mereka memutuskan untuk makan.
Di tataran praktis, kedua buku bersifat melengkapi. Makan adalah fenomena publik sekaligus individu, sehingga tinjauan makro dan analisis individu mesti jalan beriringan ketika masyarakat menghadapi dan ingin memahami masalah seperti obesitas.
Namun keduanya berkonflik di tataran paradigma. Mindless Eating menunjukkan bahwa makan melibatkan proses-proses otak yang terjadi bawah-sadar; bahwa makan bukan merupakan proses yang sepenuhnya berada di dalam kontrol individu. Sedangkan menurut The Fattening of America, makan merupakan sebuah ekspresi kebebasan individu yang harus dihargai.
Konflik paradigma ini dapat diletakkan dalam konteks lebih luas mengenai paternalisme. Perlukah pihak publik (negara) maupun privat (perusahaan, organisasi) mengarahkan individu agar dapat mengambil keputusan dengan lebih baik?
Pendukung paternalisme mendasarkan argumen mereka pada temuan-temuan empiris sejenis Mindless Eating, yang menunjukkan bahwa individu adalah entitas yang seringkali bertindak di luar kesadarannya sendiri. Mereka yang anti-paternalisme melihat individu terutama sebagai entitas rasional, seperti digarisbawahi oleh The Fattening of America.
Perdebatan soal paternalisme ini jauh dari sederhana, dan tampaknya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Yang jelas, perbandingan antara kedua buku di atas mengangkat kembali sebuah pertanyaan empiris, teoritis, sekaligus filosofis yang sangat fundamental: Sebebas apakah individu dalam mengambil sebuah keputusan, dan bagaimana kebebasan ini harus dikonsepkan dan dihargai?
27.2.09
21.2.09
Situs jejaring sosial atau situs nongkrong?
oleh Roby
Jika anda tanyakan bagaimana menyelesaikan sebuah masalah sosial ke ekonom, maka kemungkinan besar dia akan menganjurkan mekanisme pasar: sebarkan informasi secara merata, biarkan setiap orang bertindak bebas dan lalu tonton bagaimana kompetisi bebas akan menghasilkan solusi yang optimal dan efisien.
Jika anda tanyakan bagaimana menyelesaikan sebuah masalah sosial ke ekonom, maka kemungkinan besar dia akan menganjurkan mekanisme pasar: sebarkan informasi secara merata, biarkan setiap orang bertindak bebas dan lalu tonton bagaimana kompetisi bebas akan menghasilkan solusi yang optimal dan efisien.
Untuk banyak hal, solusi dengan mekanisme pasar ini berjalan baik. Contohnya adalah internet. Internet memungkinkan pemerataan informasi sehingga memudahkan orang untuk menimbang untung rugi sebelum mengambil keputusan. Misalnya adalah situs pelelangan eBay yang bisa dijadikan contoh klasik dimana pembebasan informasi melalui internet bisa membuat transaksi ekonomi menjadi lebih efisien. Seseorang yang sudah bosan dengan jemuran handuknya, misalnya, tidak perlu membuangnya tapi bisa dijual ke orang lain yang menawarkan harga tertinggi melalui situs eBay. Solusi yang dicapai membuat kedua pihak senang: jemuran handuk berpindah tangan dari orang yang tidak menginginkannya ke orang yang menginginkannya dengan harga sesuai.
Disini, ide dasarnya adalah Internet membuka kesempatan untuk menemukan barang yang kita inginkan dengan harga yang disepakati kedua pihak.
Selanjutnya, ide ini dicoba diterapkan ke jejaring pertemanan (social network); sehingga menjamurlah situs-situs seperti facebook, myspace dsb.
Kita hidup di dunia yang sangat rumit sehingga wajar jika menghadapi masalah kita berpaling ke teman-teman, keluarga dan orang lain disekitar kita. Ketika akan membeli handphone, misalnya, kita meminta pendapat teman; atau bisa juga secara sembunyi-sembunyi memperhatikan handphone apa yang banyak dipakai teman sekitar. Pacar, istri, atau suami sering kita peroleh karena dikenalkan oleh teman. Ketika mencari pekerjaan atau pegawai, kita sering memanfaatkan teman, sanak-saudara, atau kenalan lain. Artinya, banyak masalah yang solusinya ditemukan setelah kita menemukan orang yang tepat di jejaring sosial kita.
Meskipun kita sadar jejaring sosial yang kita miliki penting, sulit bagi kita untuk mengetahui dengan pasti siapa-siapa saja yang ada di jejaring kita ini. Malah kenyataannya, sering kita tidak tahu secara komplit siapa saja teman kita, apalagi temannya teman, atau bahkan temannya temannya teman kita. Karena itu keberadaan situs social networking memberikan kita cara untuk memetakan jejaring sosial kita ini. Perkiraannya, situs social networking ini menjadi jembatan dimana anggotanya dapat melihat orang-orang dua langkah dari dirinya (temannya teman) dan meminta temannya untuk memperkenalkan ke orang yang dituju. Tentunya kita bisa saja minta kenalan secara langsung tanpa perantara, tapi justru kelebihan social networking adalah adanya perantara yang dapat memperlicin proses perkenalan.
Jadi situs social nerworking ini diharapkan berfungsi mirip eBay dimana tirai penghalang informasi diangkat sehingga kita bisa memilih perantara yang dapat menghubungkan kita dengan seseorang yang kita perlukan secara efisien.
Sayangnya kenyataannya tidak berjalan mulus. Seorang teman saya, seorang laki-laki, kaget bahwa perempuan idamannya ternyata teman dari seorang temannya; teman saya mengetahui hal ini dari sebuah situs social networking. Lalu teman saya ini meminta temannya untuk menjadi perantara dan mengenalkan ke perempuan pujaannya tersebut. Diluar dugaan teman saya, ternyata si perantara secara halus menolak memperkenalkannya. Tidak jelas alasannya apa.
Contoh kedua dialami saya sendiri. Saya menemukan presenter TV favorit saya di facebook lalu saya kirimkan permintaan untuk menjadi teman tetapi ditolak. Setelah itu saya lihat ternyata presenter ini temannya teman baik saya. Lalu saya minta ke teman saya tersebut untuk dikenalkan. Lagi-lagi, teman saya menolak permintaan saya ini. Dia bilang dia sendiri tidak terlalu dekat dengan si presenter tersebut dan dia merasa canggung untuk mengenalkan saya karena menurut dia "kegenitan" (presenternya memang perempuan). Saya protes dibilang genit dan jelaskan bahwa salah satu risiko menjadi tokoh publik - termasuk presenter TV - adalah memiliki penggemar; meskipun batas penggemar dan kegenitan kadang tipis, tetapi - paling tidak menurut saya- mengkespresikan diri sebagai penggemar adalah hal wajar.
Dari dua contoh diatas tampak bahwa jejaring pertemanan tidak berjalan seperti pasar biasa karena ongkos transaksi tidak hanya ditanggung oleh pembeli atau penjual, tapi juga oleh perantara. Sehingga situs social networking tidak sesukses eBay dalam arti mempertemukan dua orang yang saling memerlukan (dalam arti seluas-luasnya) karena adanya teman sebagai perantara yang tidak bisa dilewati begitu saja. Membayar teman untuk membujuk dia menjadi perantara malah dapat membuat dia tersinggung. Banyak alasan seseorang menolak menjadi perantara. Dalam contoh pertama, mungkin saja si perantara itu justru naksir sang perempuan, atau si perantara tahu bahwa temannya itu seorang "player" sehingga menolak mengenalkan teman perempuannya karena takut dipermainkan. Atau contoh lain, seseorang menolak merekomendasikan temannya menjadi pegawai karena dia tahu temannya itu pemalas.
Singkatnya, dalam jejaring pertemanan, kegunaan suatu ikatan pertemanan sangat bergantung dan sensitif terhadap konteks. Ongkos transaksi tidak hanya harus dibayar oleh pembeli dan penjual tapi juga oleh perantara. Keterlibatan perantara inilah yang membuat dinamika jejaring sosial menjadi rumit.
Jika situs jejaring sosial tidak bekerja sebagaimana social networking diharapkan memberikan manfaat dimana orang bisa menggunakan temannya sebagai perantara, maka apa artinya?
Sepertinya, situs social networking ini lebih mirip seperti nongkrong-nongkrong di mall atau tempat publik lainnya. Orang ingin melihat dan dilihat orang lain. Jadi situs social networking lebih cocok dikategorikan sebagai hiburan; belum memiliki utilitas yang berarti secara ekonomis bagi penggunanya. Mungkin karenanya model bisnis situs jejaring sosial ini masih mengandalkan pendapatan dari iklan; karena manfaatnya belum cukup besar sehingga orang mau bayar untuk menjadi anggota.
Karena itu belum ada model bisnis yang cocok untuk situs jejaring sosial. LinkedIn mungkin cukup berhasil membuat situsnya bermanfaat untuk penggunanay. facebook masih kelimpungan mencari model bisnis; sepertinya facebook kesulitan mengurusi masalah privasi.
Saya pikir, inovasi yang ditunggu-tunggu adalah bagaimana menyusun struktur insentif yang dapat menjalar di jejaring sosial. Sehingga orang dapat memberikan insentif yang tepat yang menyebabkan informasi dan sumber daya (resources) dapat mengalir lebih efisien di jejaring sosial. Jika ini ditemukan maka situs-situs seperti facebook berubah atau digantikan dari situs nongkrong ke situs jejaring sosial sejati dimana orang - dibantu teknologi - dapat membuat modal sosial bekerja sesuai yang diinginkannya. Usaha ke arah ini sudah dimulai, tapi masih berkutat di lingkungan akademis dan belum ditemukan cara implementasi praktis yang efektif dan efisien. Jika berhasil, mungkin saja kisah sukses Google terulang: dimana sains, teknologi, dan eksekusi lapangan bersinergi menghasilkan inovasi yang meningkatkan kualitas hidup banyak orang dan bisnis yang kuat.
Label:
facebook,
insentif,
internet,
jejaring sosial,
roby
13.2.09
Apa itu IQ?* (Bagian 2)
Oleh Tirta
DALAM bagian pertama tulisan ini dibahas tentang skor IQ. Namun apa itu sebenarnya IQ?
IQ adalah metrik kecerdasan, yang dihasilkan oleh alat ukur yang disebut tes IQ. Untuk memahami IQ, kita harus memahami hakikat tes IQ sebagai sebuah alat ukur psikologis.
Ada dua syarat yang mendasari alat ukur yang baik. Pertama, alat ukur yang digunakan harus relevan dengan hal yang ingin diukur. Kedua, alat ukur tersebut harus menghasilkan pengukuran yang konsisten.
Contohnya mengukur panjang. Untuk mengukur panjang, kita menggunakan penggaris, bukan termometer. Tidak relevan jika kita mengukur panjang dengan termometer, yang fungsinya mengukur temperatur. Penggaris yang digunakan juga harus baik kualitasnya, sehingga hari ini dan besok memberikan hasil ukur yang sama, tidak berubah-ubah.
Sama halnya dengan mengukur kecerdasan. Tes IQ yang baik harus relevan mengukur kecerdasan, dan konsisten menghasilkan skor IQ yang sama. Namun mengukur kecerdasan tidak sesederhana mengukur panjang atau temperatur. Semua orang sepakat tentang apa itu panjang dan apa itu temperatur. Namun apa itu kecerdasan?
Seorang anak Jakarta yang mampu mengerjakan soal-soal matematika dan bahasa seringkali dikatakan cerdas. Namun bagi seorang anak Dayak, matematika dan bahasa tersebut tidak relevan. Sebaliknya, kemampuan berburu yang tinggi bagi seorang anak Dayak adalah sebentuk kecerdasan, namun tidak demikian bagi anak Jakarta. Dengan kata lain, kecerdasan itu relatif, dan merupakan fungsi dari budaya dan lingkungan sekitar.
Karena mayoritas masyarakat dunia dewasa ini hidup dalam budaya yang berbasiskan matematika dan bahasa, maka kemampuan mengerjakan soal-soal matematika dan bahasa dianggap sebagai ukuran umum kecerdasan. Inilah alasan mengapa tes IQ modern biasanya berisi soal-soal matematika dan bahasa. Bukan karena matematika dan bahasa adalah elemen-elemen kecerdasan yang absolut, namun karena matematika dan bahasa merupakan komponen-komponen kecerdasan yang diterima oleh masyarakat umum pada saat ini.
Selain itu, tes IQ yang baik juga mampu memprediksi metrik-metrik lain yang umum disangkutpautkan dengan kecerdasan, seperti misalnya nilai di sekolah, gaji, dan kesehatan. Jika masyarakat menerima bahwa nilai di sekolah, gaji yang tinggi, dan kesehatan yang baik merupakan refleksi dari tingkat kecerdasan manusia modern, maka tes IQ yang baik harus menghasilkan skor yang memiliki korelasi dengan metrik-metrik tersebut.
Terakhir, tes IQ yang baik harus menghasilkan skor yang konsisten. Jika skor tes saya hari ini 115, maka minggu depan skor saya tidak boleh beranjak jauh dari 115. Jika skor saya minggu depan 90, maka tes IQ tersebut perlu diragukan kesahihannya.
Dalam cabang ilmu psikologi yang khusus mempelajari IQ (disebut psikometri), kesesuaian antara alat ukur dengan hal yang ingin diukur disebut validitas. Konsistensi hasil pengukuran disebut reliabilitas. Jadi tes IQ yang baik harus valid sekaligus reliabel. Artinya, tes tersebut harus mengukur hal-hal yang memang merupakan elemen-elemen kecerdasan, memilki korelasi dengan metrik-metrik kecerdasan lainnya, serta menghasilkan skor yang konsisten.
Hingga kini, persyaratan validitas dan reliabilitas ini hanya dipenuhi oleh sejumlah tes IQ yang tidak tersedia bebas. Tes-tes ini hanya dapat diberikan oleh psikolog-psikolog yang berlisensi, yang kompeten memberi informasi tentang skor IQ dan interpretasinya (lihat tulisan bagian 1). Tes-tes IQ yang merebak bebas di internet biasanya tidak memenuhi kriteria tadi, sehingga tidak dapat digunakan dengan serius sebagai sebuah metrik kecerdasan.
KONSEP dan tes IQ sering disebut sebagai pencapaian terbesar ilmu psikologi modern. Sebutan ini tentu dapat diperdebatkan. Yang jelas, IQ sebagai metrik kecerdasan memiliki sejarah ilmiah yang panjang**. IQ merupakan hasil aspirasi banyak ilmuwan, yang selama lebih dari satu abad berusaha untuk mengkuantifikasi kecerdasan manusia dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Proses satu abad inilah yang melahirkan tes-tes IQ modern yang valid dan reliabel.
---
*Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang tentang hal-hal yang kritis, rasional, dan faddish dengan ekonom sekaligus teman debat Arya Gaduh.
**Sejarah panjang IQ ini dapat dikontraskan dengan sejarah konsep-konsep sejenis IQ yang relatif baru, seperti EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient). Walau menjanjikan, EQ dan SQ belum memiliki validitas, reliabilitas, dan proses standarisasi yang sebanding dengan IQ, sehingga belum layak menyandang status sebagai metrik kecerdasan emosional dan spiritual.
DALAM bagian pertama tulisan ini dibahas tentang skor IQ. Namun apa itu sebenarnya IQ?
IQ adalah metrik kecerdasan, yang dihasilkan oleh alat ukur yang disebut tes IQ. Untuk memahami IQ, kita harus memahami hakikat tes IQ sebagai sebuah alat ukur psikologis.
Ada dua syarat yang mendasari alat ukur yang baik. Pertama, alat ukur yang digunakan harus relevan dengan hal yang ingin diukur. Kedua, alat ukur tersebut harus menghasilkan pengukuran yang konsisten.
Contohnya mengukur panjang. Untuk mengukur panjang, kita menggunakan penggaris, bukan termometer. Tidak relevan jika kita mengukur panjang dengan termometer, yang fungsinya mengukur temperatur. Penggaris yang digunakan juga harus baik kualitasnya, sehingga hari ini dan besok memberikan hasil ukur yang sama, tidak berubah-ubah.
Sama halnya dengan mengukur kecerdasan. Tes IQ yang baik harus relevan mengukur kecerdasan, dan konsisten menghasilkan skor IQ yang sama. Namun mengukur kecerdasan tidak sesederhana mengukur panjang atau temperatur. Semua orang sepakat tentang apa itu panjang dan apa itu temperatur. Namun apa itu kecerdasan?
Seorang anak Jakarta yang mampu mengerjakan soal-soal matematika dan bahasa seringkali dikatakan cerdas. Namun bagi seorang anak Dayak, matematika dan bahasa tersebut tidak relevan. Sebaliknya, kemampuan berburu yang tinggi bagi seorang anak Dayak adalah sebentuk kecerdasan, namun tidak demikian bagi anak Jakarta. Dengan kata lain, kecerdasan itu relatif, dan merupakan fungsi dari budaya dan lingkungan sekitar.
Karena mayoritas masyarakat dunia dewasa ini hidup dalam budaya yang berbasiskan matematika dan bahasa, maka kemampuan mengerjakan soal-soal matematika dan bahasa dianggap sebagai ukuran umum kecerdasan. Inilah alasan mengapa tes IQ modern biasanya berisi soal-soal matematika dan bahasa. Bukan karena matematika dan bahasa adalah elemen-elemen kecerdasan yang absolut, namun karena matematika dan bahasa merupakan komponen-komponen kecerdasan yang diterima oleh masyarakat umum pada saat ini.
Selain itu, tes IQ yang baik juga mampu memprediksi metrik-metrik lain yang umum disangkutpautkan dengan kecerdasan, seperti misalnya nilai di sekolah, gaji, dan kesehatan. Jika masyarakat menerima bahwa nilai di sekolah, gaji yang tinggi, dan kesehatan yang baik merupakan refleksi dari tingkat kecerdasan manusia modern, maka tes IQ yang baik harus menghasilkan skor yang memiliki korelasi dengan metrik-metrik tersebut.
Terakhir, tes IQ yang baik harus menghasilkan skor yang konsisten. Jika skor tes saya hari ini 115, maka minggu depan skor saya tidak boleh beranjak jauh dari 115. Jika skor saya minggu depan 90, maka tes IQ tersebut perlu diragukan kesahihannya.
Dalam cabang ilmu psikologi yang khusus mempelajari IQ (disebut psikometri), kesesuaian antara alat ukur dengan hal yang ingin diukur disebut validitas. Konsistensi hasil pengukuran disebut reliabilitas. Jadi tes IQ yang baik harus valid sekaligus reliabel. Artinya, tes tersebut harus mengukur hal-hal yang memang merupakan elemen-elemen kecerdasan, memilki korelasi dengan metrik-metrik kecerdasan lainnya, serta menghasilkan skor yang konsisten.
Hingga kini, persyaratan validitas dan reliabilitas ini hanya dipenuhi oleh sejumlah tes IQ yang tidak tersedia bebas. Tes-tes ini hanya dapat diberikan oleh psikolog-psikolog yang berlisensi, yang kompeten memberi informasi tentang skor IQ dan interpretasinya (lihat tulisan bagian 1). Tes-tes IQ yang merebak bebas di internet biasanya tidak memenuhi kriteria tadi, sehingga tidak dapat digunakan dengan serius sebagai sebuah metrik kecerdasan.
KONSEP dan tes IQ sering disebut sebagai pencapaian terbesar ilmu psikologi modern. Sebutan ini tentu dapat diperdebatkan. Yang jelas, IQ sebagai metrik kecerdasan memiliki sejarah ilmiah yang panjang**. IQ merupakan hasil aspirasi banyak ilmuwan, yang selama lebih dari satu abad berusaha untuk mengkuantifikasi kecerdasan manusia dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Proses satu abad inilah yang melahirkan tes-tes IQ modern yang valid dan reliabel.
---
*Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang tentang hal-hal yang kritis, rasional, dan faddish dengan ekonom sekaligus teman debat Arya Gaduh.
**Sejarah panjang IQ ini dapat dikontraskan dengan sejarah konsep-konsep sejenis IQ yang relatif baru, seperti EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient). Walau menjanjikan, EQ dan SQ belum memiliki validitas, reliabilitas, dan proses standarisasi yang sebanding dengan IQ, sehingga belum layak menyandang status sebagai metrik kecerdasan emosional dan spiritual.
Apa itu IQ?* (Bagian 1)
Oleh Tirta
SALAH satu konsep psikologi ilmiah yang paling populer adalah IQ (Intelligence Quotient). Kita semua pernah mendengar tentang IQ. Kita juga tahu bahwa IQ berhubungan dengan kecerdasan. Namun apa itu sebenarnya IQ? Apa-apa saja yang terkandung di dalam sebuah tes IQ? Bagaimana mengartikan sebuah skor IQ?
Tulisan singkat ini bertujuan untuk menjelaskan secara umum hakikat ilmiah di balik konsep IQ. Bagian pertama membahas tentang skor IQ. Bagian kedua mengurai soal peliknya mengukur kecerdasan.
KATAKANLAH skor total IQ saya 115. Cerdaskah saya?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab tanpa rujukan ke sebuah acuan. Acuan yang relevan adalah skor IQ sejumlah orang lain (biasanya ribuan) yang sebelumnya telah mengambil tes IQ yang sama. Proses yang menghasilkan skor acuan ini disebut standarisasi.
Dalam standarisasi tes IQ, skor ribuan orang tadi ‘dipaksa’ untuk menyebar sesuai pola statistika tertentu yang disebut distribusi normal, dengan skor rata-rata 100. Secara sederhana, distribusi normal adalah sebaran data dimana mayoritas skor berada di sekitar rata-rata. Distribusi ini begitu spesifik sehingga memungkinkan kita untuk mengestimasi jumlah orang yang memiliki skor tertentu.
Mengikuti kaidah-kaidah distribusi normal, kita dapat memperoleh estimasi akan jumlah orang yang memiliki skor 115, seperti saya. Dalam hal ini, distribusi normal mendikte bahwa 84% orang memiliki skor lebih rendah dari 115, dan 16% sisanya lebih tinggi**.
Inilah arti fundamental sebuah skor IQ. Misalkan tes IQ tertentu yang saya ambil memiliki acuan skor 5000 orang, dengan skor rata-rata 100, maka skor 115 saya lebih tinggi dari skor 4200 orang, dan lebih rendah dari 800 lainnya.
Jika skor saya yang 115 ini lalu diberi label 'cerdas', atau 'agak cerdas', hal ini tidak penting. Label atau kategori skor seringkali hanya didasarkan pada kenyamanan, dan tidak memiliki arti apapun selain posisi skor relatif terhadap standar seperti diuraikan di atas. Ada dua hal yang lebih penting untuk dipahami: (1) demografi ke-5000 orang tadi, dan (2) elemen-elemen yang membentuk skor total 115.
Siapa ke-5000 orang tadi? Jika ke-5000 orang tadi adalah para profesor dari seluruh dunia, maka mungkin saya boleh berbangga. Namun jika ke-5000 orang tadi adalah anak kelas 1 SD dari sekolah yang terbelakang, tentu lain cerita. Ilustrasi ekstrim ini menggarisbawahi pentingnya informasi akan demografi orang-orang yang terlibat dalam proses standarisasi. Tidak bisa tidak, skor IQ hanya bermakna jika dibandingkan dengan skor acuan yang berasal dari kelompok yang relevan, baik dari segi usia, pendidikan, maupun status sosial-ekonomi.
Kedua, dan yang paling informatif, sub-skor apa saja yang akhirnya menghasilkan skor total 115 tadi? Ambil contoh sederhana sebuah tes IQ yang 50% komponennya adalah matematika dan 50% lagi bahasa. Skor matematika saya 90, bahasa 140. Skor matematika teman saya 120, bahasa 110. Walaupun skor total kami sama, yaitu 115, namun informasi yang terkandung di dalam kedua sub-skor matematika dan bahasa tersebut jelas berbeda.
Sub-skor IQ merefleksikan kemampuan seseorang relatif terhadap dirinya sendiri, di domain-domain yang bervariasi. Saya mungkin lemah di matematika dan sangat kuat di bahasa, sedangkan teman saya mungkin relatif kuat di keduanya. Dari sini kita bisa mengidentifikasi bakat, dan melakukan intervensi spesifik pada domain-domain yang dirasa kurang namun penting. Inilah mengapa sub-skor jauh lebih substansial dibanding skor akhir IQ.
KEMBALI ke pertanyan di awal tadi. Skor total IQ saya 115. Cerdaskah saya?
Uraian di atas menunjukkan kelirunya pertanyaan tersebut. Cerdas atau tidak hanyalah sebuah label. Yang penting dari sebuah skor IQ adalah informasi demografi tentang kelompok yang dijadikan acuan, dan informasi tentang sub-skor. Kedua informasi ini vital sifatnya untuk mengartikan skor IQ manapun dengan sungguh-sungguh. Tes IQ yang tidak memiliki informasi lengkap akan proses standarisasi, demografi, dan sub-skor tidak dapat dianggap serius.
---
*Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang tentang hal-hal yang kritis, rasional, dan faddish dengan ekonom sekaligus teman debat Arya Gaduh.
**Distribusi normal bekerja berdasarkan rata-rata dan standar deviasi. Misalkan tes IQ yang saya ambil memiliki skor rata-rata 100 dengan standar deviasi 15. Distribusi ini mendikte bahwa presentase populasi yang memiliki skor di atas 55, 70, 85, 100, 115, 130, dan 145, secara berurutan, adalah kurang-lebih 99,9%, 97%, 84%, 50%, 16%, 3%, dan 0,1%.
SALAH satu konsep psikologi ilmiah yang paling populer adalah IQ (Intelligence Quotient). Kita semua pernah mendengar tentang IQ. Kita juga tahu bahwa IQ berhubungan dengan kecerdasan. Namun apa itu sebenarnya IQ? Apa-apa saja yang terkandung di dalam sebuah tes IQ? Bagaimana mengartikan sebuah skor IQ?
Tulisan singkat ini bertujuan untuk menjelaskan secara umum hakikat ilmiah di balik konsep IQ. Bagian pertama membahas tentang skor IQ. Bagian kedua mengurai soal peliknya mengukur kecerdasan.
KATAKANLAH skor total IQ saya 115. Cerdaskah saya?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab tanpa rujukan ke sebuah acuan. Acuan yang relevan adalah skor IQ sejumlah orang lain (biasanya ribuan) yang sebelumnya telah mengambil tes IQ yang sama. Proses yang menghasilkan skor acuan ini disebut standarisasi.
Dalam standarisasi tes IQ, skor ribuan orang tadi ‘dipaksa’ untuk menyebar sesuai pola statistika tertentu yang disebut distribusi normal, dengan skor rata-rata 100. Secara sederhana, distribusi normal adalah sebaran data dimana mayoritas skor berada di sekitar rata-rata. Distribusi ini begitu spesifik sehingga memungkinkan kita untuk mengestimasi jumlah orang yang memiliki skor tertentu.
Mengikuti kaidah-kaidah distribusi normal, kita dapat memperoleh estimasi akan jumlah orang yang memiliki skor 115, seperti saya. Dalam hal ini, distribusi normal mendikte bahwa 84% orang memiliki skor lebih rendah dari 115, dan 16% sisanya lebih tinggi**.
Inilah arti fundamental sebuah skor IQ. Misalkan tes IQ tertentu yang saya ambil memiliki acuan skor 5000 orang, dengan skor rata-rata 100, maka skor 115 saya lebih tinggi dari skor 4200 orang, dan lebih rendah dari 800 lainnya.
Jika skor saya yang 115 ini lalu diberi label 'cerdas', atau 'agak cerdas', hal ini tidak penting. Label atau kategori skor seringkali hanya didasarkan pada kenyamanan, dan tidak memiliki arti apapun selain posisi skor relatif terhadap standar seperti diuraikan di atas. Ada dua hal yang lebih penting untuk dipahami: (1) demografi ke-5000 orang tadi, dan (2) elemen-elemen yang membentuk skor total 115.
Siapa ke-5000 orang tadi? Jika ke-5000 orang tadi adalah para profesor dari seluruh dunia, maka mungkin saya boleh berbangga. Namun jika ke-5000 orang tadi adalah anak kelas 1 SD dari sekolah yang terbelakang, tentu lain cerita. Ilustrasi ekstrim ini menggarisbawahi pentingnya informasi akan demografi orang-orang yang terlibat dalam proses standarisasi. Tidak bisa tidak, skor IQ hanya bermakna jika dibandingkan dengan skor acuan yang berasal dari kelompok yang relevan, baik dari segi usia, pendidikan, maupun status sosial-ekonomi.
Kedua, dan yang paling informatif, sub-skor apa saja yang akhirnya menghasilkan skor total 115 tadi? Ambil contoh sederhana sebuah tes IQ yang 50% komponennya adalah matematika dan 50% lagi bahasa. Skor matematika saya 90, bahasa 140. Skor matematika teman saya 120, bahasa 110. Walaupun skor total kami sama, yaitu 115, namun informasi yang terkandung di dalam kedua sub-skor matematika dan bahasa tersebut jelas berbeda.
Sub-skor IQ merefleksikan kemampuan seseorang relatif terhadap dirinya sendiri, di domain-domain yang bervariasi. Saya mungkin lemah di matematika dan sangat kuat di bahasa, sedangkan teman saya mungkin relatif kuat di keduanya. Dari sini kita bisa mengidentifikasi bakat, dan melakukan intervensi spesifik pada domain-domain yang dirasa kurang namun penting. Inilah mengapa sub-skor jauh lebih substansial dibanding skor akhir IQ.
KEMBALI ke pertanyan di awal tadi. Skor total IQ saya 115. Cerdaskah saya?
Uraian di atas menunjukkan kelirunya pertanyaan tersebut. Cerdas atau tidak hanyalah sebuah label. Yang penting dari sebuah skor IQ adalah informasi demografi tentang kelompok yang dijadikan acuan, dan informasi tentang sub-skor. Kedua informasi ini vital sifatnya untuk mengartikan skor IQ manapun dengan sungguh-sungguh. Tes IQ yang tidak memiliki informasi lengkap akan proses standarisasi, demografi, dan sub-skor tidak dapat dianggap serius.
---
*Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang tentang hal-hal yang kritis, rasional, dan faddish dengan ekonom sekaligus teman debat Arya Gaduh.
**Distribusi normal bekerja berdasarkan rata-rata dan standar deviasi. Misalkan tes IQ yang saya ambil memiliki skor rata-rata 100 dengan standar deviasi 15. Distribusi ini mendikte bahwa presentase populasi yang memiliki skor di atas 55, 70, 85, 100, 115, 130, dan 145, secara berurutan, adalah kurang-lebih 99,9%, 97%, 84%, 50%, 16%, 3%, dan 0,1%.
8.2.09
Mungkinkah memprediksi lagu populer?
oleh Roby
Bagi mereka yang ingin menjadi musisi terkenal, berhati-hatilah jika ada orang yang menjanjikan mampu membuat lagu anda menjadi lagu hit nomor satu. Karena lagu mana yang akan menduduki puncak popularitas sangat sulit untuk diprediksi. Itulah hasil sebuah studi ilmiah tentang bagaimana lagu menjadi populer, yang dilakukan oleh para sosiolog di Universitas Columbia New York. Hasil penelitian ini telah diterbitkan di jurnal imiah terkemuka Science.
Para peneliti ini, sosiolog Matt Salganik, Peter Dodds dan Duncan Watts, termotivasi melakukan penelitian oleh sebuah paradoks yang umum diamati dalam produk budaya seperti musik atau buku. Paradoksnya adalah sebagai berikut: kita lihat sebuah produk budaya yang sukses menjadi sangat terkenal, misalnya buku Harry Potter. Buku ini menjadi buku yang paling laris kedua sepanjang sejarah setelah Kitab Injil dan telah diterjemahkan ke lebih 60 bahasa. Karena suksesnya yang luar biasa ini kita cenderung menganggap buku Harry Potter memiliki kualitas unik. Padahal pada mulanya penulis Harry Potter hampir dibuat frustrasi karena bukunya ditolak berkali-kali oleh penerbit. Ini aneh, jika memang Harry Potter memiliki kualitas unik yang sangat berbeda dibanding buku-buku anak lain, seharusnya para penerbit profesional mampu mendeteksi keunikan ini. Lagipula memang sudah menjadi pekerjaan penerbit profesional yang dibantu pengalaman bertahun-tahun untuk menemukan buku laris. Jadi paradoksnya adalah jika memang produk yang sukses sangat berbeda dibanding produk yang biasa-biasa saja, mengapa kita tetap kesulitan untuk memprediksi produk mana yang akan sukses? Bagaimana kesenjangan lebar sangat sulit diprediksi? Bukankah seharusnya lebih mudah bagi kita untuk mendeteksi sesuatu yang sangat berbeda dari rata-rata?
Kunci misteri ini, menurut Salganik dkk, adalah fakta bahwa orang terpengaruh teman atau orang lain dalam menentukan buku atau lagu mana yang dibeli. Untuk mengukur sampai sejauh mana pengaruh sosial dari orang lain ini mempengaruhi sukses tidaknya sebuah produk, mereka melakukan serangkaian eksperimen sosial dengan menggunakan Internet.
Eksperimen Sosial
Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 14.000 peserta eksperimen dan 48 lagu dari grup musik yang tidak dikenal sebelumnya di sebuah website. Para peserta eksperimen diminta untuk mendengarkan lagu yang tersedia sesuai dengan pilihan masing-maing. Selain itu, mereka diminta memberi nilai (skala 1-5) terhadap lagu yang di dengar. Jika mereka ingin, mereka diperbolehkan untuk mengunduh lagu tersebut.
Peserta eksperimen dipisahkan menjadi dua kelompok secara acak. Satu kelompok disebut kelompok “independen” dimana peserta dalam kelompok ini tidak mengetahui apa pendapat orang lain tentang lagu-lagu yang tersedia. Kelompok lainnya adalah kelompok “pengaruh sosial” dimana peserta bisa melihat sudah berapa kali sebuah lagu sudah diunduh. Selain itu, peserta dalam kelompok pengaruh sosial dibagi-bagi lagi secara acak ke dalam delapan buah “dunia paralel”; dimana, dunia paralel ini bisa berevolusi secara independen satu sama lain. Jadi lagu yang paling populer di satu dunia bisa berbeda dengan lagu populer di dunia lain, dan peserta di masing-masing dunia tidak mengetahui pilihan peserta di dunia lain.
Kualitas Tidak Menentukan Sukses
Para peneliti menemukan bahwa, ketika ada pengaruh sosial, kesuksesan sebuah lagu tidak ditentukan seluruhnya oleh kualitas. Disini kualitas lagu ditentukan oleh pangsa pasar (market share) dan ranking oleh peserta dalam kelompok independen (tidak ada pengaruh sosial). Bukan berarti kualitas tidak penting sama sekali, penyanyi dengan suara sumbang tak akan menempati posisi nomor satu. “Lagu paling bagus tidak pernah berada di papan bawah, dan lagu terjelek tidak pernah ada di puncak tangga” ujar Salganik, “tetapi diluar itu, semua kemungkinan bisa terjadi” tambahnya.
Sebagai contoh, sebuah lagu berjudul “Lockdown” oleh grup musik 52metro berada percis ditengah-tengah dalam hal kualitas. Ia berada di peringkat 26 dari 48 lagu di kelompok independen. Tetapi dalam kelompok pengaruh sosial, peringkatnya bisa jauh berbeda. Dalam satu kelompok lagu itu menjadi nomor satu, dan di kelompok lain ada di rangking 40.
Menurut Salganik, studi ini memiliki beberapa implikasi. Pertama, sukses bukan merupakan indikator kualitas yang bagus. Kedua, ketidak mampuan untuk prediksi adalah sifat mendasar dalam pasar budaya (misal untuk lagu dan buku). Dengan kata lain, meskipun kita mengetahui informasi lengkap tentang sebuah lagu dan selera pendengar, jika ada pengaruh sosial maka kita tetap tidak akan dapat memprediksi lagu mana yang akan sukses. Di akhir papernya, mereka menulis “para pakar gagal memprediksi sukses bukan karena pakar tersebut tidak kompeten atau tidak mampu mengetahui preferensi individu, tetapi karena, ketika keputusan individu terpengaruh efek sosial, pasar tidak merefleksikan preferensi individu yang sudah ada”. Sukses dalam pasar budaya tidak bisa diprediksi, tidak peduli seberapa banyak seseorang memiliki keahlian dan informasi.
Sebagai tambahan, hasil ini juga menyanggah ide akan adanya orang-orang spesial yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain sehingga membuat suatu produk menjadi sukses. Meskipun ide ini banyak dikemukakan oleh agen marketing dan penulis seperti Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point. Hasil eksperimen ilmiah justru menunjukkan sebaliknya, semakin banyak orang mendengar pendapat orang lain maka semakin sulit memprediksi popularitas.
Efek “yang kaya tambah kaya”
Hasil studi ini, dimana lagu populer menjadi semakin populer dan lagu tak populer semakin tak dikenal, menjadi verifikasi empiris untuk teori keuntungan akumulatif (cumulative advantage) atau yang juga dikenal sebagai proses “yang kaya tambah kaya” (rich-gets-richer). Di sosiologi, teori keuntungan akumulatif ini pertama kali dikemukan oleh sosiolog Robert Merton pada tahun 60an.
Merton memakai konsep “yang kaya tambah kaya” ini untuk menjelaskan proses karir ilmuwan. Sebelum Merton, bidang akademis dan sains dimana ilmuwan berkecimpung dianggap sebagai bidang obyektif dimana kesuksesan ditentukan oleh hasil kerja keras dan kreatifitas para ilmuwan itu sendiri. Tapi Merton memperlihatkan bahwa ilmuwan yang berhasil biasanya mendapat pekerjaan di universitas besar dengan dana riset besar dan dikelilingi mahasiswa pintar, sehingga mereka lebih mampu untuk membuat sukses lainnya. Singkatnya, sukses menghasilkan sukses atau popularitas menghasilkan lebih banyak popularitas.
Pemenang nobel ekonomi Herbert Simon dan professor ekonomi di Santa Fe Institut Brian Arthur, diantaranya, telah membuat model teoritis untuk ini. Model mereka mampu memperlihatkan bagaimana efek bola-salju membuat kesenjangan lebar dan sulit diprediksi. Tapi model mereka sulit untuk di tes, karena kita hanya melihat apa yang terjadi sehingga sangat sulit untuk menunjukkan bahwa kesuksesan sulit diprediksi. Misalnya, lukisan Mona Lisa adalah lukisan yang sangat terkenal. Maka menurut model keuntungan akumulatif ini, bisa saja Mona Lisa tidak terkenal di dunia paralel lain. Tentu kita tidak bisa yakin, karena kita hanya mengamati satu dunia kita sekarang ini. Melalui eksperimen ini, Salganik dkk dengan bantuan internet mampu membuat “dunia pararel” dan memperlihatkan bagaimana pengaruh sosial membuat sebuah lagu menjadi sukses di satu dunia tapi gagal di dunia lain. Semuanya hanya karena efek pengaruh sosial.
Tentu eksperimen ini tidak sama dengan dunia nyata dimana, misalnya, marketing, media massa, kritik pakar berpengaruh. Tapi ini semua hanya akan memperkuat sinyal pengaruh sosial. Eksperimen ini menunjukkan bahwa meskipun pengaruh sosial lemah (hanya berupa jumlah berapa kali sebuah lagu telah diunduh), efeknya tetap mampu membuat proses bola-salju yang menghasilkan kesenjangan lebar yang sulit diprediksi.
Hasil eksperimen ini juga bisa menjadi pembenaran sinisme dimana yang populer biasanya berkualitas buruk. Karena itulah muncul berbagai gerakan “underground” seperti musik, buku atau film indie. Meskipun popularitas tidak menjamin kualitas, “sesuatu yang populer paling sedikit berkualitas lumayan, karena dari eksperimen tidak pernah teramati lagu terburuk menjadi populer atau sebaliknya” ujar Salganik.
Lalu apa artinya bagi mereka yang ingin terkenal melalui musik atau buku? Menurut Salganik, “Ini menjadi berita bagus dan buruk sekaligus bagi mereka yang baru memulai karirnya”. “Jika sebuah band belum sukses itu bukan berarti musiknya jelek, tapi sebaliknya, meskipun musik mereka bagus, belum tentu mereka akan sukses” imbuhnya.
Bagi mereka yang ingin menjadi musisi terkenal, berhati-hatilah jika ada orang yang menjanjikan mampu membuat lagu anda menjadi lagu hit nomor satu. Karena lagu mana yang akan menduduki puncak popularitas sangat sulit untuk diprediksi. Itulah hasil sebuah studi ilmiah tentang bagaimana lagu menjadi populer, yang dilakukan oleh para sosiolog di Universitas Columbia New York. Hasil penelitian ini telah diterbitkan di jurnal imiah terkemuka Science.
Para peneliti ini, sosiolog Matt Salganik, Peter Dodds dan Duncan Watts, termotivasi melakukan penelitian oleh sebuah paradoks yang umum diamati dalam produk budaya seperti musik atau buku. Paradoksnya adalah sebagai berikut: kita lihat sebuah produk budaya yang sukses menjadi sangat terkenal, misalnya buku Harry Potter. Buku ini menjadi buku yang paling laris kedua sepanjang sejarah setelah Kitab Injil dan telah diterjemahkan ke lebih 60 bahasa. Karena suksesnya yang luar biasa ini kita cenderung menganggap buku Harry Potter memiliki kualitas unik. Padahal pada mulanya penulis Harry Potter hampir dibuat frustrasi karena bukunya ditolak berkali-kali oleh penerbit. Ini aneh, jika memang Harry Potter memiliki kualitas unik yang sangat berbeda dibanding buku-buku anak lain, seharusnya para penerbit profesional mampu mendeteksi keunikan ini. Lagipula memang sudah menjadi pekerjaan penerbit profesional yang dibantu pengalaman bertahun-tahun untuk menemukan buku laris. Jadi paradoksnya adalah jika memang produk yang sukses sangat berbeda dibanding produk yang biasa-biasa saja, mengapa kita tetap kesulitan untuk memprediksi produk mana yang akan sukses? Bagaimana kesenjangan lebar sangat sulit diprediksi? Bukankah seharusnya lebih mudah bagi kita untuk mendeteksi sesuatu yang sangat berbeda dari rata-rata?
Kunci misteri ini, menurut Salganik dkk, adalah fakta bahwa orang terpengaruh teman atau orang lain dalam menentukan buku atau lagu mana yang dibeli. Untuk mengukur sampai sejauh mana pengaruh sosial dari orang lain ini mempengaruhi sukses tidaknya sebuah produk, mereka melakukan serangkaian eksperimen sosial dengan menggunakan Internet.
Eksperimen Sosial
Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 14.000 peserta eksperimen dan 48 lagu dari grup musik yang tidak dikenal sebelumnya di sebuah website. Para peserta eksperimen diminta untuk mendengarkan lagu yang tersedia sesuai dengan pilihan masing-maing. Selain itu, mereka diminta memberi nilai (skala 1-5) terhadap lagu yang di dengar. Jika mereka ingin, mereka diperbolehkan untuk mengunduh lagu tersebut.
Peserta eksperimen dipisahkan menjadi dua kelompok secara acak. Satu kelompok disebut kelompok “independen” dimana peserta dalam kelompok ini tidak mengetahui apa pendapat orang lain tentang lagu-lagu yang tersedia. Kelompok lainnya adalah kelompok “pengaruh sosial” dimana peserta bisa melihat sudah berapa kali sebuah lagu sudah diunduh. Selain itu, peserta dalam kelompok pengaruh sosial dibagi-bagi lagi secara acak ke dalam delapan buah “dunia paralel”; dimana, dunia paralel ini bisa berevolusi secara independen satu sama lain. Jadi lagu yang paling populer di satu dunia bisa berbeda dengan lagu populer di dunia lain, dan peserta di masing-masing dunia tidak mengetahui pilihan peserta di dunia lain.
Kualitas Tidak Menentukan Sukses
Para peneliti menemukan bahwa, ketika ada pengaruh sosial, kesuksesan sebuah lagu tidak ditentukan seluruhnya oleh kualitas. Disini kualitas lagu ditentukan oleh pangsa pasar (market share) dan ranking oleh peserta dalam kelompok independen (tidak ada pengaruh sosial). Bukan berarti kualitas tidak penting sama sekali, penyanyi dengan suara sumbang tak akan menempati posisi nomor satu. “Lagu paling bagus tidak pernah berada di papan bawah, dan lagu terjelek tidak pernah ada di puncak tangga” ujar Salganik, “tetapi diluar itu, semua kemungkinan bisa terjadi” tambahnya.
Sebagai contoh, sebuah lagu berjudul “Lockdown” oleh grup musik 52metro berada percis ditengah-tengah dalam hal kualitas. Ia berada di peringkat 26 dari 48 lagu di kelompok independen. Tetapi dalam kelompok pengaruh sosial, peringkatnya bisa jauh berbeda. Dalam satu kelompok lagu itu menjadi nomor satu, dan di kelompok lain ada di rangking 40.
Menurut Salganik, studi ini memiliki beberapa implikasi. Pertama, sukses bukan merupakan indikator kualitas yang bagus. Kedua, ketidak mampuan untuk prediksi adalah sifat mendasar dalam pasar budaya (misal untuk lagu dan buku). Dengan kata lain, meskipun kita mengetahui informasi lengkap tentang sebuah lagu dan selera pendengar, jika ada pengaruh sosial maka kita tetap tidak akan dapat memprediksi lagu mana yang akan sukses. Di akhir papernya, mereka menulis “para pakar gagal memprediksi sukses bukan karena pakar tersebut tidak kompeten atau tidak mampu mengetahui preferensi individu, tetapi karena, ketika keputusan individu terpengaruh efek sosial, pasar tidak merefleksikan preferensi individu yang sudah ada”. Sukses dalam pasar budaya tidak bisa diprediksi, tidak peduli seberapa banyak seseorang memiliki keahlian dan informasi.
Sebagai tambahan, hasil ini juga menyanggah ide akan adanya orang-orang spesial yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain sehingga membuat suatu produk menjadi sukses. Meskipun ide ini banyak dikemukakan oleh agen marketing dan penulis seperti Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point. Hasil eksperimen ilmiah justru menunjukkan sebaliknya, semakin banyak orang mendengar pendapat orang lain maka semakin sulit memprediksi popularitas.
Efek “yang kaya tambah kaya”
Hasil studi ini, dimana lagu populer menjadi semakin populer dan lagu tak populer semakin tak dikenal, menjadi verifikasi empiris untuk teori keuntungan akumulatif (cumulative advantage) atau yang juga dikenal sebagai proses “yang kaya tambah kaya” (rich-gets-richer). Di sosiologi, teori keuntungan akumulatif ini pertama kali dikemukan oleh sosiolog Robert Merton pada tahun 60an.
Merton memakai konsep “yang kaya tambah kaya” ini untuk menjelaskan proses karir ilmuwan. Sebelum Merton, bidang akademis dan sains dimana ilmuwan berkecimpung dianggap sebagai bidang obyektif dimana kesuksesan ditentukan oleh hasil kerja keras dan kreatifitas para ilmuwan itu sendiri. Tapi Merton memperlihatkan bahwa ilmuwan yang berhasil biasanya mendapat pekerjaan di universitas besar dengan dana riset besar dan dikelilingi mahasiswa pintar, sehingga mereka lebih mampu untuk membuat sukses lainnya. Singkatnya, sukses menghasilkan sukses atau popularitas menghasilkan lebih banyak popularitas.
Pemenang nobel ekonomi Herbert Simon dan professor ekonomi di Santa Fe Institut Brian Arthur, diantaranya, telah membuat model teoritis untuk ini. Model mereka mampu memperlihatkan bagaimana efek bola-salju membuat kesenjangan lebar dan sulit diprediksi. Tapi model mereka sulit untuk di tes, karena kita hanya melihat apa yang terjadi sehingga sangat sulit untuk menunjukkan bahwa kesuksesan sulit diprediksi. Misalnya, lukisan Mona Lisa adalah lukisan yang sangat terkenal. Maka menurut model keuntungan akumulatif ini, bisa saja Mona Lisa tidak terkenal di dunia paralel lain. Tentu kita tidak bisa yakin, karena kita hanya mengamati satu dunia kita sekarang ini. Melalui eksperimen ini, Salganik dkk dengan bantuan internet mampu membuat “dunia pararel” dan memperlihatkan bagaimana pengaruh sosial membuat sebuah lagu menjadi sukses di satu dunia tapi gagal di dunia lain. Semuanya hanya karena efek pengaruh sosial.
Tentu eksperimen ini tidak sama dengan dunia nyata dimana, misalnya, marketing, media massa, kritik pakar berpengaruh. Tapi ini semua hanya akan memperkuat sinyal pengaruh sosial. Eksperimen ini menunjukkan bahwa meskipun pengaruh sosial lemah (hanya berupa jumlah berapa kali sebuah lagu telah diunduh), efeknya tetap mampu membuat proses bola-salju yang menghasilkan kesenjangan lebar yang sulit diprediksi.
Hasil eksperimen ini juga bisa menjadi pembenaran sinisme dimana yang populer biasanya berkualitas buruk. Karena itulah muncul berbagai gerakan “underground” seperti musik, buku atau film indie. Meskipun popularitas tidak menjamin kualitas, “sesuatu yang populer paling sedikit berkualitas lumayan, karena dari eksperimen tidak pernah teramati lagu terburuk menjadi populer atau sebaliknya” ujar Salganik.
Lalu apa artinya bagi mereka yang ingin terkenal melalui musik atau buku? Menurut Salganik, “Ini menjadi berita bagus dan buruk sekaligus bagi mereka yang baru memulai karirnya”. “Jika sebuah band belum sukses itu bukan berarti musiknya jelek, tapi sebaliknya, meskipun musik mereka bagus, belum tentu mereka akan sukses” imbuhnya.
Label:
internet,
musik,
pengaruh sosial,
roby
1.2.09
Masalah Korupsi (Tambahan)
Oleh Tirta
Karena beberapa komentar yang masuk menunjukkan kegamangan pesan tulisan terdahulu tentang korupsi, terutama dalam kaitannya dengan analisa biaya-manfaat, maka dalam catatan singkat ini dua tesis pokok tulisan tersebut akan diangkat sekali lagi.
Tesis pertama, korupsi harus dilihat sebagai sebuah proses yang memiliki elemen multidimensional: psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Interaksi antara elemen-elemen inilah yang melahirkan tindak korupsi, yang agen pelakunya disebut koruptor. Jadi koruptor adalah bagian dari proses korupsi, bukan penyebab korupsi.
Tesis kedua, individu pelaku korupsi tidak hidup dalam vakum, dan selalu berinteraksi dengan sesama (termasuk kita) di dunia sosial. Inilah mengapa analisa korupsi sebagai tindakan murni individual keliru, karena korupsi sejatinya bersifat sosial. Lalu bagaimana dengan perspektif biaya-manfaat, bahwa koruptor bertindak berdasarkan 'hitungan' untung-rugi melakukan korupsi? Ada dua hal yang penting dibedakan dan dipahami disini.
Pertama, interaksi sosial tidak menafikan kalkulasi biaya-manfaat. Di level tertentu, koruptor memang 'menghitung' biaya sosial korupsi: semakin banyak orang yang korupsi, semakin kecil biaya ditanggung sendiri. Tapi keliru jika cerita berhenti disini, karena poin kedua dibawah.
Kedua, seperti ditunjukkan oleh eksperimen Asch, interaksi sosial berdampak langsung terhadap persepsi individual akan korupsi itu sendiri. Dengan kata lain, pengertian seseorang akan korupsi berubah tergantung interaksi sosial yang ada. Jadi pandangan koruptor akan korupsi itu sendiri berubah, terlepas dari kalkulasi biaya-manfaat yang kemudian dilakukan. Ini yang agaknya masih luput dari perhatian, bahwa persepsi internal akan korupsi -- bukan hanya hitung-hitungan untung-rugi melakukan korupsi -- merupakan fungsi dari interaksi sosial.
Karena beberapa komentar yang masuk menunjukkan kegamangan pesan tulisan terdahulu tentang korupsi, terutama dalam kaitannya dengan analisa biaya-manfaat, maka dalam catatan singkat ini dua tesis pokok tulisan tersebut akan diangkat sekali lagi.
Tesis pertama, korupsi harus dilihat sebagai sebuah proses yang memiliki elemen multidimensional: psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Interaksi antara elemen-elemen inilah yang melahirkan tindak korupsi, yang agen pelakunya disebut koruptor. Jadi koruptor adalah bagian dari proses korupsi, bukan penyebab korupsi.
Tesis kedua, individu pelaku korupsi tidak hidup dalam vakum, dan selalu berinteraksi dengan sesama (termasuk kita) di dunia sosial. Inilah mengapa analisa korupsi sebagai tindakan murni individual keliru, karena korupsi sejatinya bersifat sosial. Lalu bagaimana dengan perspektif biaya-manfaat, bahwa koruptor bertindak berdasarkan 'hitungan' untung-rugi melakukan korupsi? Ada dua hal yang penting dibedakan dan dipahami disini.
Pertama, interaksi sosial tidak menafikan kalkulasi biaya-manfaat. Di level tertentu, koruptor memang 'menghitung' biaya sosial korupsi: semakin banyak orang yang korupsi, semakin kecil biaya ditanggung sendiri. Tapi keliru jika cerita berhenti disini, karena poin kedua dibawah.
Kedua, seperti ditunjukkan oleh eksperimen Asch, interaksi sosial berdampak langsung terhadap persepsi individual akan korupsi itu sendiri. Dengan kata lain, pengertian seseorang akan korupsi berubah tergantung interaksi sosial yang ada. Jadi pandangan koruptor akan korupsi itu sendiri berubah, terlepas dari kalkulasi biaya-manfaat yang kemudian dilakukan. Ini yang agaknya masih luput dari perhatian, bahwa persepsi internal akan korupsi -- bukan hanya hitung-hitungan untung-rugi melakukan korupsi -- merupakan fungsi dari interaksi sosial.
Masalah Korupsi
Oleh Tirta
ADA dua kekeliruan fundamental dalam pemahaman publik – dan juga sebagian pengamat – akan korupsi.
Pertama, korupsi dimengerti sebagai tindakan yang disebabkan oleh para koruptor, yaitu sejumlah individu dengan 'mental' atau 'karakter' korup: tidak bermoral, tidak berakal sehat, dan berperilaku seperti binatang.
Pemahaman ini keliru karena nihil, alias tidak menjelaskan apa-apa. Ambil analogi renang, yang pelakunya disebut perenang. Mengatakan bahwa korupsi disebabkan oleh koruptor sama halnya dengan mengatakan bahwa renang disebabkan oleh perenang. Ini salah kaprah. Pelaku renang adalah perenang, dan pelaku korupsi adalah koruptor, keduanya dengan 'mental' dan 'karakter' masing-masing. Tidak ada yang dijelaskan disini, yang ada hanya label karakteristik untuk pelaku kegiatan tertentu.
Yang perlu dilakukan untuk memahami renang adalah menjabarkan proses-proses fisika, anatomi, dan fisiologi yang menjelaskan bagaimana seorang individu bergerak dalam air. Demikian pula seharusnya dengan korupsi, yang mesti dijelaskan melalui uraian proses-proses psikologi, sosiologi, dan ekonomi yang berada dibalik sebuah tindakan korupsi. Dengan kata lain, memahami korupsi berarti mengerti mekanisme sosial dibalik terjadinya korupsi, bagaimana seseorang akhirnya melakukan korupsi, dan dengan demikian menjadi seorang koruptor.
Kekeliruan kedua adalah melihat korupsi sebagai sebuah keputusan individual yang diambil ketika 'manfaat' yang diperoleh lebih besar daripada 'biaya' yang dikeluarkan. Menurut pandangan ini, korupsi akan hilang ketika 'biaya' korupsi dibuat sangat besar, misalnya dengan kerja sosial, seragam khusus serta borgol, jenazah yang tidak disalatkan, atau hukuman mati. Asumsi yang dipakai disini adalah bahwa para koruptor melakukan kalkulasi mereka dalam sebuah ruang vakum, terisolasi dari dunia sosial sekitar.
Namun lebih dari setengah abad lalu, psikolog Solomon Asch menunjukkan kekeliruan asumsi tersebut dengan sebuah eksperimen sederhana. Peserta eksperimen diminta menjawab serangkaian pertanyaan tentang tiga garis lurus dengan panjang berbeda, seperti misalnya menunjuk garis terpanjang, atau membandingkan satu garis dengan lainnya. Tidak ada yang sulit dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan seperti diduga, hanya satu dari 32 peserta eskperimen melakukan kesalahan.
Yang menarik adalah ketika Asch memodifikasi eksperimen tersebut dengan menciptakan kondisi 'tekanan sosial'. Ia menyuruh beberapa peserta gadungan untuk dengan sengaja dan lantang memberi jawaban yang sebenarnya salah di depan peserta sebenarnya yang pada giliran berikutnya mendapat pertanyaan yang sama. Kali ini, peserta rata-rata memberi jawaban salah untuk 40% dari seluruh pertanyaan, dan 75% peserta memberi jawaban salah untuk paling sedikit satu pertanyaan. Sebuah keputusan sederhana dan obyektif yang jelas-jelas hitam putih – sekedar memutuskan garis mana yang terpanjang – pun ternyata tidak lepas dari pengaruh tekanan sosial.
Eksperimen ini mengangkat sebuah proses psikologi fundamental, bahwa manusia adalah mahluk sosial yang terpengaruh oleh persetujuan manusia lain disekitarnya. Tidak terkecuali para koruptor dan keputusan mereka untuk melakukan korupsi, yang terjadi sehari-hari di sekeliling kita semua.
Kedua kekeliruan tadi nyata terlihat dalam mayoritas wacana publik dan sebagian pengamat tentang korupsi, yang hampir setiap kali mengerucut pada masalah 'mental' atau 'karakter' koruptor, atau proposal 'biaya' korupsi yang maksimal. Ini sangat disayangkan, karena pemahaman yang keliru hanya akan menghambat laju eradikasi korupsi.
Realita korupsi yang masih marak hingga kini adalah cermin dua fakta: (1) bahwa kita belum mengerti betul proses-proses sosial dibalik tindakan korupsi, dan (2) bahwa tekanan sosial yang ada – terutama di institusi-institusi sarat korupsi – masih sangat minim. Korupsi dilakukan, bukan disebabkan, oleh para koruptor. Dan para koruptor ini bertindak dalam sebuah dunia sosial, di sekitar kita semua. Dari sini segala upaya membasmi korupsi harus berangkat.
ADA dua kekeliruan fundamental dalam pemahaman publik – dan juga sebagian pengamat – akan korupsi.
Pertama, korupsi dimengerti sebagai tindakan yang disebabkan oleh para koruptor, yaitu sejumlah individu dengan 'mental' atau 'karakter' korup: tidak bermoral, tidak berakal sehat, dan berperilaku seperti binatang.
Pemahaman ini keliru karena nihil, alias tidak menjelaskan apa-apa. Ambil analogi renang, yang pelakunya disebut perenang. Mengatakan bahwa korupsi disebabkan oleh koruptor sama halnya dengan mengatakan bahwa renang disebabkan oleh perenang. Ini salah kaprah. Pelaku renang adalah perenang, dan pelaku korupsi adalah koruptor, keduanya dengan 'mental' dan 'karakter' masing-masing. Tidak ada yang dijelaskan disini, yang ada hanya label karakteristik untuk pelaku kegiatan tertentu.
Yang perlu dilakukan untuk memahami renang adalah menjabarkan proses-proses fisika, anatomi, dan fisiologi yang menjelaskan bagaimana seorang individu bergerak dalam air. Demikian pula seharusnya dengan korupsi, yang mesti dijelaskan melalui uraian proses-proses psikologi, sosiologi, dan ekonomi yang berada dibalik sebuah tindakan korupsi. Dengan kata lain, memahami korupsi berarti mengerti mekanisme sosial dibalik terjadinya korupsi, bagaimana seseorang akhirnya melakukan korupsi, dan dengan demikian menjadi seorang koruptor.
Kekeliruan kedua adalah melihat korupsi sebagai sebuah keputusan individual yang diambil ketika 'manfaat' yang diperoleh lebih besar daripada 'biaya' yang dikeluarkan. Menurut pandangan ini, korupsi akan hilang ketika 'biaya' korupsi dibuat sangat besar, misalnya dengan kerja sosial, seragam khusus serta borgol, jenazah yang tidak disalatkan, atau hukuman mati. Asumsi yang dipakai disini adalah bahwa para koruptor melakukan kalkulasi mereka dalam sebuah ruang vakum, terisolasi dari dunia sosial sekitar.
Namun lebih dari setengah abad lalu, psikolog Solomon Asch menunjukkan kekeliruan asumsi tersebut dengan sebuah eksperimen sederhana. Peserta eksperimen diminta menjawab serangkaian pertanyaan tentang tiga garis lurus dengan panjang berbeda, seperti misalnya menunjuk garis terpanjang, atau membandingkan satu garis dengan lainnya. Tidak ada yang sulit dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan seperti diduga, hanya satu dari 32 peserta eskperimen melakukan kesalahan.
Yang menarik adalah ketika Asch memodifikasi eksperimen tersebut dengan menciptakan kondisi 'tekanan sosial'. Ia menyuruh beberapa peserta gadungan untuk dengan sengaja dan lantang memberi jawaban yang sebenarnya salah di depan peserta sebenarnya yang pada giliran berikutnya mendapat pertanyaan yang sama. Kali ini, peserta rata-rata memberi jawaban salah untuk 40% dari seluruh pertanyaan, dan 75% peserta memberi jawaban salah untuk paling sedikit satu pertanyaan. Sebuah keputusan sederhana dan obyektif yang jelas-jelas hitam putih – sekedar memutuskan garis mana yang terpanjang – pun ternyata tidak lepas dari pengaruh tekanan sosial.
Eksperimen ini mengangkat sebuah proses psikologi fundamental, bahwa manusia adalah mahluk sosial yang terpengaruh oleh persetujuan manusia lain disekitarnya. Tidak terkecuali para koruptor dan keputusan mereka untuk melakukan korupsi, yang terjadi sehari-hari di sekeliling kita semua.
Kedua kekeliruan tadi nyata terlihat dalam mayoritas wacana publik dan sebagian pengamat tentang korupsi, yang hampir setiap kali mengerucut pada masalah 'mental' atau 'karakter' koruptor, atau proposal 'biaya' korupsi yang maksimal. Ini sangat disayangkan, karena pemahaman yang keliru hanya akan menghambat laju eradikasi korupsi.
Realita korupsi yang masih marak hingga kini adalah cermin dua fakta: (1) bahwa kita belum mengerti betul proses-proses sosial dibalik tindakan korupsi, dan (2) bahwa tekanan sosial yang ada – terutama di institusi-institusi sarat korupsi – masih sangat minim. Korupsi dilakukan, bukan disebabkan, oleh para koruptor. Dan para koruptor ini bertindak dalam sebuah dunia sosial, di sekitar kita semua. Dari sini segala upaya membasmi korupsi harus berangkat.
Subscribe to:
Posts (Atom)

