oleh Roby
Baru-baru ini, seorang teman yang memilih untuk menyembunyikan hari ulang tahunnya di facebook menemukan bahwa teman-temannya di facebook tetap dapat mengetahui bahwa dia sedang berulang tahun.
Sepertinya ini dimulai dengan kerabat dekat teman tersebut yang memang ingat hari ulang tahunnya menuliskan ucapan selamat di wall teman saya itu. Selanjutnya ucapan selamat ini terpublikasikan melalui news feed sehingga akhirnya semua yang ada di senarai temannya dapat mengetahui bahwa dia berulang tahun.
Sepintas ini terlihat sepele, tetapi sebenarnya memberikan ilustrasi bagaimana interaksi sosial terkadang dapat memberikan solusi dari suatu masalah rumit. Dalam hal ini, interaksi sosial dapat mengorek informasi pribadi (private information). Informasi pribadi seperti hari ulang tahun mungkin tidak terlalu penting, tapi ada juga informasi pribadi yang luar biasa penting sehingga banyak orang beragantung padanya. Seperti cerita saat kejadian serangan teroris 9/11 di kota New York.
Pada saat serangan 9/11 terjadi saya sudah berada di New York, tepatnya sedang bersekolah di Columbia University. Kebetulan, ada kenalan saya yang merupakan bagian dari sebuah grup riset yang sedang meneliti perusahaaan-perusahaan keuangan di Wall Street yang sebagian berkantor di gedung WTC. Setelah terjadi serangan yang meruntuhkan gedung kembar WTC, peneliti Columbia ini tetap mendapat akses ke perusahaan-perusahaan tersebut sehingga mereka dapat mengikuti proses pemulihan.
Ada kisah menarik dan mencengangkan dari sebuah perusahaan keuangan yang setengah pekerjanya turut tewas akibat runtuhnya WTC. Kantor pusat mereka hancur lebur. Tetapi mereka tetap memiliki data komputer cadangan yang terletak di kota lain. Mereka bersiteguh untuk kembali secepatnya beroperasi karena selain transaksi keuangan dunia tidak pernah berhenti, juga karena ingin menujukkan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan semangat mereka.
Akhirnya para pekerja yang selamat berkumpul hanya beberapa hari kemudian untuk kembali memulai operasi bisnis mereka. Tapi mereka menemukan satu masalah besar: seluruh pekerja yang memiliki akses password ke sistem komputer mereka termasuk korban tewas. Jadi meskipun mereka memiliki data cadangan, tapi data tersebut tidak dapat diakses.
Untuk menyelesaikan masalah ini, mereka memakai cara inovatif. Seluruh orang yang kenal dengan para pemegang password yang sudah meninggal tersebut dikumpulkan di sebuah ruangan. Lalu setiap orang mengulang apa-apa saja yang mereka pernah kerjakan atau obrolkan dengan rekan-rekannya yang tewas tersebut. Obrolannya mencakup masalah pekerjaan sampai kehidupan pribadi; tidak ada yang luput dari pembicaraan. Sampai akhirnya mereka bisa menebak password sistem komputer tersebut, hanya dari membicarakan kehidupan dan perilaku orang yang tahu passwordnya.
Ini semua mengilustrasikan bagaimana solusi sosial dapat dipakai untuk untuk menyelesaikan masalah organisasi rumit hingga masalah teknis seperti password yang hilang. Ini juga mengingatkan bahwa hal penting dalam sebuah organisasi bukan hanya masalah teknis pekerjaan atau hubungan formal. Percakapan santai di ruang makan, obrolan singkat di lift, hingga gosip adalah bagian dari informasi yang merupakan aset organisasi. Teknologi – seperti news feed di facebook atau sebuah struktur/insentif organisasi yang tepat – dapat menjadi alat untuk menguak informasi yang terpendam di jejaring sosial kita.
27.1.09
23.1.09
Broken Windows: Ketika Interaksi Melahirkan Kriminalitas
Oleh Tirta
Nama Broken Windows dipinjam dari satu contoh kasus yang diajukan Kerling and Wilson, tentang bagaimana kaca gedung yang pecah dapat membuahkan tindak kriminal. Sebuah gedung dengan beberapa kaca yang pecah akan mengundang orang untuk memecahkan lebih banyak kaca lagi, lalu merusak pintu, dan akhirnya memaksa masuk ke dalam gedung tersebut. Contoh lain misalnya jalanan dengan sejumlah sampah dan grafiti, yang akan memancing lebih banyak sampah dan grafiti baru, dan seterusnya.
Kriminalitas, menurut teori Broken Windows, berasal dari hal-hal kecil yang sekilas tampak remeh, namun berpotensi besar untuk memutar roda interaksi antara individu dan lingkungan yang akhirnya menghasilkan perbuatan-perbuatan buruk. Roda interaksi ini diminyaki dengan pergeseran norma sosial setempat: Jalanan bersampah, misalnya, mengindikasikan norma lokal yang berbeda dengan jalanan yang bersih. Yang pertama seakan 'mengijinkan' pejalan kaki untuk membuang lebih banyak sampah, sedangkan yang kedua 'melarang'.
Beberapa tahun kemudian, di tahun 1990-an, pejabat publik kota New York melakukan intervensi ala Broken Windows. Mereka memperbaiki gedung-gedung dengan kaca yang pecah, menghapus grafiti-grafiti di terminal subway, dan membersihkan gang-gang jalan yang bersampah. Hasilnya ternyata positif, tingkat kriminalitas didapati menurun drastis. Kebijakan ini lalu diadopsi di banyak kota lainnya, dengan mayoritas hasil yang kurang lebih serupa.
Walaupun demikian, banyak kalangan bersikap skeptis. Satu alasan utama adalah sifat observasi yang selama ini korelasional. Tidak ada data yang menunjukkan tingkat kriminalitas kota New York, maupun kota-kota lainnya, seandainya intervensi tidak dilakukan, sehingga sulit untuk mengisolasi dan memastikan apakah penyebab kriminalitas setempat adalah faktor Broken Windows.
SETELAH dua dekade, akhirnya data yang dinanti tiba. Akhir tahun lalu, psikolog Kess Keizer untuk pertama kalinya menguji teori Broken Windows dengan serangkaian eksperimen terkontrol di kota Groningen.
Dalam salah satu eksperimennya, ia mengamati perilaku para pemarkir sepeda di sebuah gang yang di dindingnya ada tanda larangan grafiti, dengan menempatkan flyer-flyer fiktif pada gagang sepeda-sepeda tersebut. Ketika dinding gang tersebut bersih, hanya 33% dari para pemarkir membuang flyer tersebut secara sembarangan; namun ketika dinding tersebut dikotori grafiti, jumlah tersebut meroket menjadi 69%.
Dalam eksperimen lainnya, ia mendirikan pagar buatan -- yang sedikit terbuka -- di depan sebuah tempat parkir mobil. Ada dua tanda di pagar tersebut: yang pertama melarang sepeda untuk dikaitkan ke pagar, yang kedua melarang orang untuk menerobos masuk. Ketika ada 4 sepeda yang diparkir satu meter jauhnya dari pagar tersebut, 27% orang menerobos; namun ketika sepeda-sepeda tersebut dikunci ke pagar, 82% orang memaksa masuk.
Dalam eksperimen lainnya lagi, ia setengah memasukkan amplop transparan berisi uang 5 Euro ke dalam kotak pos di sebuah jalan, sehingga amplop dan uang tersebut terlihat oleh para pejalan kaki. Ketika kotak pos dan lantai sekitarnya bersih, 13% pejalan kaki mencuri amplop tersebut; namun ketika kotak pos tersebut dikotori grafiti, dan lantai sekitarnya bersampah, jumlah tersebut naik menjadi masing-masing 27% dan 25%.
Secara keseluruhan, sejumlah eksperimen terkontrol ini solid mendukung teori Broken Windows, dimana hal-hal yang sepintas trivial terbukti melahirkan tindak kriminal. Persisnya, dan ini yang penting digarisbawahi, studi Keizer ini menunjukkan bahwa pergeseran norma sosial yang satu ternyata merembet ke norma sosial yang lain. Pelanggaran terhadap norma kebersihan (membuang sampah sembarangan, misalnya), membuka jalan bagi individu untuk melanggar norma hak milik (mencuri uang), dan demikian seterusnya.
TEORI Broken Windows dapat dikontraskan dengan dua teori populer yang sering dirujuk untuk menjelaskan kriminalitas, yang keduanya bersifat individual: teori kepribadian dan teori neoklasik. Teori kepribadian melihat para kriminal sebagai individu-individu yang memiliki tendensi dan disposisi untuk berbuat buruk dan melanggar aturan; teori neoklasik mengatakan bahwa tindak kriminal adalah hasil kalkulasi rasional yang terjadi ketika biaya yang dikeluarkan relatif lebih kecil dibanding keuntungan yang diperoleh. Walaupun menawarkan arah penjelasan yang berbeda, kedua teori ini berfokus pada individu sebagai penyebab utama tindak kriminal, serta cenderung mengabaikan peran lingkungan sekitar dan norma sosial.
Temuan Keizer membantah teori kepribadian karena individu-individu dalam serangkaian eksperimen ini terlibat secara acak di tempat yang persis sama, sehingga memiliki profil demografis yang relatif homogen. Teori neoklasik -- walaupun sekilas bisa menjelaskan temuan Keizer dengan mengasumsikan kalkulasi rasional yang berbeda (misalnya karena ada grafiti atau sampah, maka individu mengasumsikan absennya polisi) -- juga dipertanyakan karena polisi kota Groningen pada umumnya cenderung toleran terhadap sampah dan grafiti.
Tentu ini semua tidak berarti bahwa setiap tindak kriminal dapat dijelaskan oleh pendekatan Broken Windows. Kriminalitas, seperti masalah-masalah sosial lainnya, adalah topik yang sejatinya pelik. Namun studi Keizer, untuk pertama kalinya, membuktikan bahwa interaksi dinamis antara individu, lingkungan, dan norma sosial mampu melahirkan tindak kriminal, dan bahwa intervensi dini terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil akan mencegah terjadinya kriminalitas dalam skala lebih besar.
17.1.09
Jejaring teman dan "teman"
oleh Roby
Tetapi, senarai (list) teman yang banyak bukan berarti si pemilik senarai berinteraksi dengan semua orang di senarai tersebut. Interaksi yang berarti dan bermakna hanya terjadi dengan sebagian kecil saja.
Tim peneliti dari laboratorium Komputasi Sosial di Hewlett-Packard dan Universitas Cornell baru-baru ini meneliti pola interaksi di situs Twitter. Mereka menemukan bahwa meskipun orang dapat memiliki senarai teman yang banyak, orang tetap hanya berinteraksi dengan sebagian kecil dari senarai teman tersebut.
Orang cenderung berinteraksi dengan sebagian kecil orang lain yang berarti (seperti teman "nyata", rekan kantor, keluarga) dan dengan mereka yang secara rutin membalas posting-annya.
Temuan ini memperkuat dugaan yang sudah umum bahwa meskipun dua orang berada di senarai teman masing-masing, bukan berarti mereka berdua saling berinteraksi satu sama lain.
Artinya, di Internet ada dua macam jejaring: jejaring berdasar senarai teman dan jejaring teman sebenarnya.
Implikasi praktis bagi mereka yang ingin memanfaatkan situs-situs web sosial untuk kampanye adalah tidak cukup hanya nampang dengan membuat profil saja. Membuat profil tidak lebih seperti kampanye di media massa (lebih tepatnya media massa yang bukan massa karena hanya disekitar lingkaran sosial kita).
Jika memang mau menyebarkan ide dengan menggunakan jejaring pertemanan ini, maka yang perlu dilakukan adalah:(1) mendeteksi aliran informasi yang benar-benar terjadi di jejaring ini dan (2) mencoba mempengaruhi orang-orang yang tampaknya berperan besar dalam aliran ini.
Label:
internet,
jejaring sosial,
roby
11.1.09
Peliknya Insentif
oleh Tirta
BAYANGKAN situasi berikut ini. Anda sedang menyetir, ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil yang mogok di pinggir jalan. Anda lalu berhenti untuk menolong. Pertanyaannya, mengapa?
Bisa jadi Anda berhenti karena perasaan yang sangat tidak enak bila cuek meneruskan perjalanan. Atau bisa juga karena Anda termotivasi untuk menolong sesama karena Anda orang yang sangat peduli dengan kesejahteraan orang lain. Atau mungkin juga Anda percaya karma dan berpikir siapa tahu lain kali mobil Anda yang mogok. Apapun alasannya, Anda memiliki alasan tertentu untuk berhenti. Anda punya insentif, dalam bahasa ilmu ekonomi.
Sekarang bayangkan bila sesaat sebelum Anda hendak menolong, tiba-tiba pengemudi mobil mogok tersebut menawarkan sejumlah uang. Anda kaget, karena tawaran ini sama sekali tidak terduga, dan spontan menolak. Namun pengemudi tersebut terus memaksa. Apa yang kira-kira akan terjadi?
Beberapa tahun lalu, psikolog James Heyman dan Dan Ariely melakukan serangkaian eksperimen laboratorium untuk mempelajari hakikat insentif. Partisipan diberi tugas memindahkan bola-bola di layar komputer ke tempat yang ditentukan menggunakan mouse, dan dibagi menjadi 5 kelompok acak. Kelompok pertama tidak diberi apa-apa (hanya ucapan terima kasih), kelompok kedua diberi imbalan uang 10 sen, kelompok ketiga uang 4 dolar, kelompok keempat 5 buah permen, dan kelompok terakhir 200 gram permen. Hasilnya menarik, performansi kerja kelima kelompok ternyata tidak berbeda, dengan pengecualian kelompok kedua, yang tercatat memindahkan bola paling sedikit.
Dalam eksperimen selanjutnya, yang kali ini memberi partisipan tugas-tugas aritmetika, Heyman dan Ariely memberi tahu harga jual permen kepada kelompok keempat dan kelima. Tambahan informasi ini ternyata membuat performansi kelompok keempat menjadi turun seperti kelompok kedua, lebih jelek dari ketiga kelompok lainnya.
Ekonom Bruno Frey dan Felix Oberholzer-Gee juga pernah melakukan eksperimen serupa di Swiss, dalam skala lebih besar. Lebih dari satu dekade lalu, mereka melakukan survei tentang kemungkinan dibangunnya reaktor nuklir di dekat sebuah pemukiman, dan bertanya kepada penduduk setempat apakah mereka setuju dengan adanya reaktor nuklir yang tentu akan menghasilkan limbah tersebut. Survei membagi penduduk menjadi dua, separuh menolak karena merasa limbah tersebut berbahaya, sedangkan separuh lagi menerima karena merasa reaktor tersebut akan mendatangkan kebaikan untuk bersama.
Namun ketika survei tersebut dibarengi dengan pertanyaan tentang imbalan uang yang cukup sebagai kompensasi limbah reaktor nuklir, jumlah yang setuju dengan pembangunan reaktor berkurang drastis dari separuh menjadi seperempat. Tiga-perempat penduduk kali ini tidak setuju dan menolak adanya reaktor nuklir di pemukiman mereka.
Di skala pribadi, laboratorium, maupun lapangan, informasi terkait imbalan uang ternyata sama-sama berlaku sebagai dis-insentif. Perilaku yang diharapkan malah berkurang -- atau malah tidak jadi dilakukan -- ketika uang dijadikan sebagai motivator tindakan.
MENURUT ilmu ekonomi, individu bertindak merespon insentif. Karyawan akan bekerja lebih giat ketika gaji mereka dinaikkan; pembeli akan memborong belanjaan ketika harga barang dimurahkan. Sering lalu disimpulkan bahwa manipulasi insentif akan menyetir perilaku individu secara monotonik: Ketika insentif naik, maka tindakan akan naik. Ketika insentif turun, maka tindakan akan turun.
Kesimpulan akan relasi monotonik antara tindakan individu dan insentif ini tidak selalu tepat. Satu hal yang penting untuk dicermati adalah jenis insentif yang sedang bermain, dan distingsi antara cara kerja "pasar uang" dan cara kerja "pasar sosial".
Di pasar uang, individu hampir selalu merespon insentif secara monotonik (ada kalanya tidak, ini topik menarik yang akan dibahas lain waktu). Contohnya banyak. Semakin tinggi gaji karyawan, semakin rajin mereka bekerja. Semakin turun harga barang, semakin pembeli berebutan.
Berbeda dengan pasar sosial, dimana individu merespon insentif psikologis dengan tarif rata. Contoh pasar sosial tidak kalah banyak. Anda membantu mendorong mobil mogok sekuat tenaga, tanpa menghitung apakah tenaga yang dikeluarkan sebanding dengan ucapan terima kasih yang kiranya menanti. Sama halnya dengan jumlah permen tanda terima kasih yang ternyata tidak berpengaruh terhadap performansi kerja, dan para penduduk yang rela menerima reaktor nuklir tanpa imbalan apapun karena termotivasi untuk menjadi masyarakat yang baik.
Masalahnya, masih banyak yang cenderung menyamakan pendekatan insentif ilmu ekonomi dengan pendekatan model pasar uang, sehingga mudah tergiur untuk apriori menyandarkan berbagai intervensi kebijakan pada asumsi berlakunya pasar uang. Misalnya soal polusi udara, yang divonis langsung dengan solusi pajak karbon. Atau ide ekonom Roland Fryer di sekolah-sekolah kota New York, Chicago, dan Washington, yang memberi imbalan uang bagi anak-anak yang mendapatkan nilai tes yang baik.
Tentu ada kemungkinan tesis pasar uang ini tepat sasaran, dan akan optimal menyelesaikan masalah seperti diharapkan. Tapi belum tentu.
Psikolog Robert Cialdini belum lama ini menemukan bahwa individu lebih rajin melakukan recycling ketika individu-individu lain disekitarnya melakukan hal yang sama. Mungkinkan solusi serupa diterapkan ke masalah emisi karbon? Sejumlah studi juga mendapati bahwa anak-anak yang tadinya rajin menggambar dan belajar ternyata menjadi malas dan berhenti ketika gambar mereka eksplisit diberi penghargaan, dibanding anak-anak lain yang tidak mendapat penghargaan. Mungkinkan ide Fryer malah akan mengkikis motivasi intrinsik dari belajar itu sendiri -- yang dalam jangka panjang bisa jadi jauh lebih penting dibanding hasil tes jangka pendek?
Pendekatan insentif ilmu ekonomi adalah pendekatan yang sejatinya bernuansa. Setiap masalah memiliki insentifnya yang berbeda, dan seringkali ini masalah empiris yang masih terbuka.
BAYANGKAN situasi berikut ini. Anda sedang menyetir, ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil yang mogok di pinggir jalan. Anda lalu berhenti untuk menolong. Pertanyaannya, mengapa?
Bisa jadi Anda berhenti karena perasaan yang sangat tidak enak bila cuek meneruskan perjalanan. Atau bisa juga karena Anda termotivasi untuk menolong sesama karena Anda orang yang sangat peduli dengan kesejahteraan orang lain. Atau mungkin juga Anda percaya karma dan berpikir siapa tahu lain kali mobil Anda yang mogok. Apapun alasannya, Anda memiliki alasan tertentu untuk berhenti. Anda punya insentif, dalam bahasa ilmu ekonomi.
Sekarang bayangkan bila sesaat sebelum Anda hendak menolong, tiba-tiba pengemudi mobil mogok tersebut menawarkan sejumlah uang. Anda kaget, karena tawaran ini sama sekali tidak terduga, dan spontan menolak. Namun pengemudi tersebut terus memaksa. Apa yang kira-kira akan terjadi?
Beberapa tahun lalu, psikolog James Heyman dan Dan Ariely melakukan serangkaian eksperimen laboratorium untuk mempelajari hakikat insentif. Partisipan diberi tugas memindahkan bola-bola di layar komputer ke tempat yang ditentukan menggunakan mouse, dan dibagi menjadi 5 kelompok acak. Kelompok pertama tidak diberi apa-apa (hanya ucapan terima kasih), kelompok kedua diberi imbalan uang 10 sen, kelompok ketiga uang 4 dolar, kelompok keempat 5 buah permen, dan kelompok terakhir 200 gram permen. Hasilnya menarik, performansi kerja kelima kelompok ternyata tidak berbeda, dengan pengecualian kelompok kedua, yang tercatat memindahkan bola paling sedikit.
Dalam eksperimen selanjutnya, yang kali ini memberi partisipan tugas-tugas aritmetika, Heyman dan Ariely memberi tahu harga jual permen kepada kelompok keempat dan kelima. Tambahan informasi ini ternyata membuat performansi kelompok keempat menjadi turun seperti kelompok kedua, lebih jelek dari ketiga kelompok lainnya.
Ekonom Bruno Frey dan Felix Oberholzer-Gee juga pernah melakukan eksperimen serupa di Swiss, dalam skala lebih besar. Lebih dari satu dekade lalu, mereka melakukan survei tentang kemungkinan dibangunnya reaktor nuklir di dekat sebuah pemukiman, dan bertanya kepada penduduk setempat apakah mereka setuju dengan adanya reaktor nuklir yang tentu akan menghasilkan limbah tersebut. Survei membagi penduduk menjadi dua, separuh menolak karena merasa limbah tersebut berbahaya, sedangkan separuh lagi menerima karena merasa reaktor tersebut akan mendatangkan kebaikan untuk bersama.
Namun ketika survei tersebut dibarengi dengan pertanyaan tentang imbalan uang yang cukup sebagai kompensasi limbah reaktor nuklir, jumlah yang setuju dengan pembangunan reaktor berkurang drastis dari separuh menjadi seperempat. Tiga-perempat penduduk kali ini tidak setuju dan menolak adanya reaktor nuklir di pemukiman mereka.
Di skala pribadi, laboratorium, maupun lapangan, informasi terkait imbalan uang ternyata sama-sama berlaku sebagai dis-insentif. Perilaku yang diharapkan malah berkurang -- atau malah tidak jadi dilakukan -- ketika uang dijadikan sebagai motivator tindakan.
MENURUT ilmu ekonomi, individu bertindak merespon insentif. Karyawan akan bekerja lebih giat ketika gaji mereka dinaikkan; pembeli akan memborong belanjaan ketika harga barang dimurahkan. Sering lalu disimpulkan bahwa manipulasi insentif akan menyetir perilaku individu secara monotonik: Ketika insentif naik, maka tindakan akan naik. Ketika insentif turun, maka tindakan akan turun.
Kesimpulan akan relasi monotonik antara tindakan individu dan insentif ini tidak selalu tepat. Satu hal yang penting untuk dicermati adalah jenis insentif yang sedang bermain, dan distingsi antara cara kerja "pasar uang" dan cara kerja "pasar sosial".
Di pasar uang, individu hampir selalu merespon insentif secara monotonik (ada kalanya tidak, ini topik menarik yang akan dibahas lain waktu). Contohnya banyak. Semakin tinggi gaji karyawan, semakin rajin mereka bekerja. Semakin turun harga barang, semakin pembeli berebutan.
Berbeda dengan pasar sosial, dimana individu merespon insentif psikologis dengan tarif rata. Contoh pasar sosial tidak kalah banyak. Anda membantu mendorong mobil mogok sekuat tenaga, tanpa menghitung apakah tenaga yang dikeluarkan sebanding dengan ucapan terima kasih yang kiranya menanti. Sama halnya dengan jumlah permen tanda terima kasih yang ternyata tidak berpengaruh terhadap performansi kerja, dan para penduduk yang rela menerima reaktor nuklir tanpa imbalan apapun karena termotivasi untuk menjadi masyarakat yang baik.
Masalahnya, masih banyak yang cenderung menyamakan pendekatan insentif ilmu ekonomi dengan pendekatan model pasar uang, sehingga mudah tergiur untuk apriori menyandarkan berbagai intervensi kebijakan pada asumsi berlakunya pasar uang. Misalnya soal polusi udara, yang divonis langsung dengan solusi pajak karbon. Atau ide ekonom Roland Fryer di sekolah-sekolah kota New York, Chicago, dan Washington, yang memberi imbalan uang bagi anak-anak yang mendapatkan nilai tes yang baik.
Tentu ada kemungkinan tesis pasar uang ini tepat sasaran, dan akan optimal menyelesaikan masalah seperti diharapkan. Tapi belum tentu.
Psikolog Robert Cialdini belum lama ini menemukan bahwa individu lebih rajin melakukan recycling ketika individu-individu lain disekitarnya melakukan hal yang sama. Mungkinkan solusi serupa diterapkan ke masalah emisi karbon? Sejumlah studi juga mendapati bahwa anak-anak yang tadinya rajin menggambar dan belajar ternyata menjadi malas dan berhenti ketika gambar mereka eksplisit diberi penghargaan, dibanding anak-anak lain yang tidak mendapat penghargaan. Mungkinkan ide Fryer malah akan mengkikis motivasi intrinsik dari belajar itu sendiri -- yang dalam jangka panjang bisa jadi jauh lebih penting dibanding hasil tes jangka pendek?
Pendekatan insentif ilmu ekonomi adalah pendekatan yang sejatinya bernuansa. Setiap masalah memiliki insentifnya yang berbeda, dan seringkali ini masalah empiris yang masih terbuka.
Subscribe to:
Posts (Atom)

