16.10.09

Teori Individu Sosial (1): Pengantar & Mekanisme Sebagai Penjelasan

Oleh Roby

Pengantar

Blog bersama ini bernama Individu Sosial yang berarti bahwa blog ini adalah usaha untuk menelusuri dan menguak hubungan antar individu yang membentuk dunia sosial yang kita semua hidup di dalamnya. Dalam serangkaian artikel yang akan saya tulis, saya mencoba membuat paparan sistematis dan menunjukkan bahwa terdapat sebuah doktrin metodologi yang memperlakukan individu dan struktur sosial dengan serius dan secara bersamaan. Doktrin ini BUKAN merupakan doktrin politik seperti individualisme atau sosialisme, tapi berupa doktrin metodologi yang merupakan pisau analitik atau strategi untuk mengerti dunia sosial. Meskipun menarik untuk berspekulasi mengenai doktrin politik yang berhubungan dengan metodologi yang akan saya jelaskan, fokus tulisan-tulisan ini ada pada sisi metodologinya. Untuk itu, kita sebut saja doktrin ini sebagaimana ia sering disebut yaitu ilmu sosial analitik, atau singkatnya strategi analitik.

Tulisan ini tidak akan ada jika demokrasi tidak ada di Indonesia. Ini karena saya menulis terpicu oleh debat publik yang marak di Indonesia (terutama di Internet). Debat-debat ini banyaknya terjadi di tataran politik dan ideologi, tapi tidak jarang bersentuhan dengan epistemi pengetahuan yang menjadi dasar politik/ideologi yang diperdebatkan. Ini adalah usaha saya untuk berkontribusi dalam debat publik tersebut khususnya yang menyangkut landasan keilmuan untuk berbagai isu ekonomi, politik, dan sosial yang sedang hangat dibicarakan.


Mekanisme sebagai penjelasan

Mengerti atau menjelaskan fakta sosial (misalnya kemiskinan, konflik, trend, norma yang berlaku, selera budaya) adalah tujuan umum ilmu sosial. Strategi analitik memiliki keunikan yaitu sebagai strategi yang befokus pada mekanisme yang menghasilkan fakta sosial yang ingin dijelaskan, dan mekanisme ini selalu merujuk pada aksi individual dan relasi yang menghubungkan satu individu dengan individu yang lain. Hal pertama yang harus kita pikirkan adalah apa yang dimaksud dengan mekanisme, dan bagaimana mekanisme sosial bekerja dan dapat menjelaskan fakta sosial.

Ada beberapa cara untuk menjelaskan sebuah fakta sosial. Cara pertama yaitu cara yang dulu dianggap sebagai satu-satunya cara ilmiah yaitu dengan menujukkan bahwa sesuatu terjadi karena sesuatu tersebut memang diharapkan terjadi menurut sebuah hukum kausal yang universal, baik secara deterministik ataupun probabilistik. Penjelasan menurut hukum universal ini lahir dari fisika klasik (hukum Newton yang berlaku universal), dan tidak pernah mendapat tempat yang serius di ilmu sosial kecuali ilmu ekonomi. Tetapi cara pandang ini sudah ditinggalkan baik di ilmu fisika sendiri dan ilmu alam lain seperti biologi; juga ilmu ekonomi sudah mulai meninggalkan doktrin hukum universal ini. Ilmu sosial dan ekonomi sudah mulai beralih pada penjelasan yang berlandaskan pada mekanisme dan asosiasi statistik dengan metode eksperimen maupun non-eksperimen.

Cara kedua adalah menjelaskan fakta sosial dengan fakta sosial lain atau dengan sebuah abstraksi sosial. Contohnya, kita ingin menjelaskan sebuah fakta sosial yaitu konflik; lalu kita katakan bahwa konflik disebabkan kesenjangan sosial. Ini adalah contoh menjelaskan satu fakta dengan fakta lain yang menurut saya tidak memberikan penjelasan yang memuaskan. Tidak memuaskan bukan karena perlu ada penjelasan kenapa kesenjangan sosial terjadi sehingga memperpanjang rantai hubungan sebab-akibat; tetapi perlu ada penjelasan secara detail tentang runtutan proses yang membuat kesenjangan sosial di satu ujung menghasilkan konflik di ujung lain. Singkatnya, tidak cukup kita mengatakan A menyebabkan B, tapi kita juga perlu menemukan mekanisme yang membuat A menyebabkan B.

Cara ketiga yang umum dipakai ilmuwan sosial adalah menjelaskan fakta sosial dengan sebuah konsep abstrak. Misalnya adalah konsep habitus yang sering saya jumpai dipakai oleh para intelektual di media massa. Mari kita lihat definisi habitus ini menurut pencetusnya; habitus adalah

...systems of durable, transposable dispositions, structured structures predisposed to function as structuring structures, that is, as principles which generate and organize practices and reprensetations that can objectively adapted to their outcomes without presupposing a conscious aiming at ends or an express mastery of the oprerations necessary in order to attain them. Objectively ‘regulated’ and ‘regular’ without being in any way the product of obedience to rules, they can be collectively orchestrated without being the product of the organizing action of a conductor.
(Bourdie, The Logic of Practice, p53).

Tidak tahu dengan anda, tapi bagi saya jangankan menggunakan habitus untuk menjelaskan sesuatu, apa arti sebenarnya habitus saja saya sulit mengerti. Konsep yang terlalu abstrak sulit dipakai untuk membantu mengerti sebuah fenomena sosial, malah mungkin membuat fenomena yang ingin dijelaskan menjadi lebih misterius. Paling sedikit ada dua kebingungan yang dapat muncul dari sebuah konsep yang terlalu abstrak: (1) sulit memastikan arti pasti konsep tersebut, dan (2) sulit melihat bagaimana konsep tersebut bekerja sesuai dengan yang disebutkan.

Jika kita konstraskan penjelasan mekanisme pada cara penjelasan lain yang disebutkan di atas, maka penjelasan mekanisme bersandar pada dua pilar utama. Pertama, kita harus membuat pola keteraturan yang teramati menjadi dapat dimengerti (tidak terlalu bergantung pada konsep abstrak), dan kedua adalah menunjukkan secara detail proses terbentuknya keteraturan tersebut. Artinya, setiap penjelasan akan sebuah fakta sosial harus selalu mengacu pada hal yang kita percaya menghasilkan fakta sosial tersebut.

Implikasinya, jika kita percaya bahwa perubahan sosial terjadi akibat sifat dan tindakan individu beserta relasi antar individu, maka setiap penjelasan akan suatu fakta sosial harus selalu merujuk pada individu dan relasinya; bukan merujuk pada fakta sosial lain atau abstraksi sosial dan hubungannya satu sama lain.

Perlu dicatat bahwa penjelasan mekanisme ini tidak perlu dipertentangkan dengan pendekatan statistik atau eksperimen. Karena asosiasi statistik dan eksperimen dapat dipakai untuk memilah-milah mekanisme mana yang relevan, dan memutuskan mekanisme yang terjadi dari berbagai kandidat mekanisme. Perbedaannya adalah kita tidak berhenti pada hasil yang diperoleh dari analisis statistik, tetapi berusaha menjelaskan mekanisme yang menimbulkan hasil tersebut.

Selain itu, penjelasan berdasar mekanisme ini dapat dilihat berada di tengah-tengah antara penjelasan dengan menggunakan hukum universal di satu ekstrim, dan penjelasan lokal -- baik kuantitatif dengan asosiasi statistik atau atau kualitatif dengan studi lapangan bertahun-tahun untuk mencapai thick description -- di ekstrim lain. Singkatnya, penjelasan mekanisme memiliki tingkat spektisisme yang tinggi terhadap setiap klaim teori universal (misalnya teori kesetimbangan umum dalam ekonomi neo-klasik atau teori Marx soal konflik kelas), tetapi juga tidak menerima begitu saja asosiasi statistik yang belaku lokal sebagai penjelasan. Penjelasan mekanisme mengacu pada apa yang disebut oleh sosiolog Robert K. Merton (ayahnya pemenang nobel ekonomi Robert C. Merton) sebagai middle-range theory.

Setelah memberikan deskripsi mengenai mekanisme sebagai penjelasan, selanjutnya kita akan membahas beberapa contoh mekanisme sosial. (bersambung)

~~~~~

Bacaan lanjut mengenai mekanisme sosial:

Social Mechanisms: an analytical approach to social theory.
Buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisan mengenai penjelasan mekanisme ditinjau dari berbagai disiplin ilmu sosial termasuk ekonomi (termasuk tulisan ekonom Thomas Schelling dan Tyler Cowen).

Dissecting the social: On the Principles of Anaytical Sociology
Memberikan argumen untuk strategi analitik dan bagaimana menggunakannya dalam teori sosiologi.

1 Komentar:

Michael said...

Dunia Sosial “Seven Soulmates”

Selama ini pemilihan isi dari sebuah Novel-novel yang beredar di masyarakat Indonesia khususnya, banyak sekali mengandung unsur cinta, misteri atau pun cerita yang membuat nafsu kita memuncak, yang bisa menyebabkan rusaknya moral bangsa ini.

Dunia penulisan sudah mulai berkembang dengan membuat cerita tentang religius dan pendidikan, terbukti bahwa cerita tersebut dapat mengalahkan cerita tentang cinta maupun cerita hantu. Persaingan di dalam dunia tulis-menulis pun sangat ketat. Maka harus membuat perubahan/terobosan, terutama dalam tema dan isi cerita yang bisa membuat para pecinta novel mendapatkan manfaat yang positif setelah selesai membaca novel tersebut.

Dengan adanya cerita tentang religius dan pendidikan, membuat para novelis berlomba-lomba untuk membuat gebrakan baru, dengan tetap memasukan bumbu/unsur tentang cinta dalam karya mereka. Namun novel yang banyak menceritakan tentang sosial kurang diminati oleh para novelis, terbukti dengan tidak adanya novel yang bercerita tentang hal yang terpuji tersebut. Padahal novel yang menceritakan tentang kesosialan merupakan salah satu peluang, oleh karna belum ada pesaingnya, bila novel-novel itu kita kategorikan. Kalau cerita tentang pendidikan dan religius saja, dapat membuat para pencinta novel memburunya untuk mendapatkan manfaat bagi mereka, mengapa tidak mencoba membuat cerita tentang kesosialan. Kita takkan pernah tau manfaatnya bila takut untuk mencoba. Seringkali para-novelis menjadi ekor dengan mengikuti membuat cerita yang laku dipasaran, dan ragu untuk menjadi kepala, yakni yang mengandung cerita yang belum pernah masuk dalam market pasar.

Selama ini para penerbit ragu dan enggan untuk menerima karya tulis yang belum masuk pasar atau pun belum mempunyai nama. Padahal karya mereka bisa menjadi tambang emas, terbukti dengan adanya penerbit yang sama sekali tak punya nama, yang akhirnya bisa dikenal oleh para pencinta novel yang membaca karya yang diterima oleh penerbit tersebut. Dan Dasyatnya, dapat mengimbangi penerbit raksasa, hanya dengan beberapa karya yang diterimanya. Hal tersebut juga dipengaruhi factor promosi dan distribusi, serta cerita yang menarik tentunya. Dan juga factor keberuntungan mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk sukses tidaknya karya tersebut. Oleh karena itu saya ingin menawarkan sebuah karya yang bercerita tentang kesosialan kepada masyarakat.

Seven SoulmateS