Ketiga anak ini ingin sekali memiliki suling. Sebut saja nama mereka masing-masing sebagai Yanti, Anto, dan Sinta. Yang jadi masalah, suling itu cuma satu buah. Lagipula hanya satu orang anak dari mereka bertiga yang berhak atas suling tersebut.
Yanti merasa dialah yang paling berhak atas alat tiup ini. Pasalnya, di antara mereka dialah satu-satunya yang mampu dan pintar memainkan suling. Anto dan Sinta tak bisa meniup suling.
Anto, yang paling miskin di antara ketiga anak itu, merasa dirinyalah yang paling pantas mendapatkan suling tersebut. Berbeda dengan dua anak yang lain, Anto sama sekali tak punya mainan lain miliknya sendiri. Dengan memiliki suling tersebut, ia jadi punya sesuatu yang bisa ia pakai bermain.
Sinta sendiri merasa ialah orang yang paling patut memiliki suling itu. Sinta sudah bekerja keras berbulan-bulan membuat suling itu. Baik Yanti dan Anto menyaksikan usaha dan kerja Sinta tersebut. Setelah suling itu selesai ia kerjakan, “mereka datang, mencoba merampas suling ini dariku,” ujar Sinta.
Contoh ini saya ambil dari buku The Idea of Justice, karya terbaru Amartya Sen. Tahun 1998, ia memperoleh Hadiah Nobel untuk Ekonomi. Amartya Sen adalah ekonom yang lumayan populer di Indonesia. Pemikiran dia kerap pula dikutip. Sayang, menurut hemat saya, keseluruhan pemikiran Sen seringkali disalahtafsir oleh sejumlah ekonom di tanah air.
Kembali ke tiga anak di atas. Apabila mendengar penuturan mereka secara terpisah, kita mungkin bakal lebih mudah memutuskan. Sekarang, setelah mendengar cerita mereka secara bersamaan, menurut Anda kepada siapa suling itu sebaiknya diberikan?


0 Komentar:
Post a Comment