24.3.09

Resiko, Keputusan, dan Perbedaan Individu

Oleh Tirta

ADA sebuah kasus artifisial klasik yang sering digunakan psikolog untuk memetakan bagaimana individu mengambil keputusan beresiko, yang biasa dipresentasikan dalam dua varian. Contoh varian pertama seperti ini:

Jika ada sebuah penyakit berbahaya yang datang ke Indonesia, dan 600 orang diprediksi akan meninggal, mana yang harus dipilih presiden dari solusi-solusi berikut ini:

Solusi A: 200 orang akan selamat.

Solusi B: ada 1/3 kemungkinan bahwa 600 orang akan selamat, dan 2/3 kemungkinan mereka tidak akan selamat.

Sedangkan varian kedua:

Jika ada sebuah penyakit berbahaya yang datang ke Indonesia, dan 600 orang diprediksi akan meninggal, mana yang harus dipilih presiden dari solusi-solusi berikut ini:

Solusi C: 400 orang akan meninggal.

Solusi D: ada 1/3 kemungkinan bahwa semua tidak akan meninggal, dan 2/3 kemungkinan 600 orang akan meninggal.

Kedua varian tersebut identik, hanya berbeda dalam konteks penyampaian. Varian pertama selalu menggunakan kata "selamat", varian kedua "meninggal"; solusi A dan C sifatnya sama-sama pasti, B dan D bersifat kemungkinan.

Puluhan studi selama beberapa dekade terakhir konsisten menemukan bahwa dalam varian pertama, mayoritas individu memilih solusi A, sedangkan dalam varian kedua, yang dipilih adalah solusi D. Apa yang terjadi?

Ketika penyampaian berkonteks positif (selamat), individu menghindari resiko. Namun ketika penyampaian berkonteks negatif (meninggal), individu mengambil resiko. Fenomena ini - yang dikenal dengan sebutan "framing effect", yaitu bagaimana konteks penyampaian ternyata mempengaruhi keputusan individu - pertama ditemukan oleh dua psikolog peraih nobel ekonomi Daniel Kahneman dan (almarhum) Amos Tversky.

Yang menarik, framing effect ini ternyata berinteraksi secara sistemik dengan emosi.

Dalam sebuah studi, psikolog Jennifer Lerner and Dacher Keltner memberi kedua varian kasus ini ke sejumlah mahasiswa, yang sebelumnya diminta mengisi tes kepribadian yang memetakan individu dalam dua dimensi emosi: marah dan takut. Dalam eksperimen lainnya, mereka mengkondisikan indivdu-individu secara acak sehingga beremosi marah atau takut, lalu memberi mereka kasus penyakit tersebut.

Ketika penyampaian kasus berkonteks positif, individu secara umum - terlepas dari emosi marah maupun takut - cenderung menghindari resiko. Namun individu-individu yang bertendensi marah ternyata lebih berani mengambil resiko, terlepas dari konteks penyampaian.

Dalam studi lain lagi, psikolog Daniel Fessler, Elizabeth Pillwsorth, dan Thomas Flamson memberi sejumlah partisipan masing-masing $15, lalu bertanya:

Taruhan berikut mana yang Anda pilih untuk menukarkan $15 Anda:
- 80% kemungkinan menang $18.75
- 40% kemungkinan menang $37.50
- 20% kemungkinan menang $75
- 5% kemungkinan menang $300
- Tidak mau menukar

Partisipan dibagi secara acak menjadi 3 kelompok, lalu dikondisikan agara beremosi berbeda. Kelompok pertama diminta menulis pengalaman mereka ketika marah, kelompok kedua ketika jijik, dan kelompok ketiga menulis tentang menonton televisi (tanpa emosi).

Hasil eksperimen lagi-lagi menunjukkan interaksi antara emosi, jenis kelamin, dan pengambilan keputusan: Dibanding tingkat resiko yang diambil kelompok ketiga (kelompok netral), pria ternyata lebih berani mengambil resiko ketika marah, sedangkan wanita cenderung menghindari resiko ketika jijik.

INTERPRETASI studi-studi di atas tentu harus dilakukan secara berhati-hati. Mengapa emosi marah, misalnya, menyebabkan individu berani lebih mengambil resiko, masih perlu diteliti lebih lanjut. Juga dengan interaksi jenis kelamin: mengapa emosi marah berefek pada pria, dan jijik pada wanita.

Namun yang jelas, data empiris menunjukkan bahwa framing effect ternyata merupakan fungsi dari faktor-faktor seperti emosi dan jenis kelamin.

Temuan ini merupakan amandemen terhadap teori pilihan rasional menurut ilmu ekonomi klasik, yang mendeskripsikan pengambilan keputusan individu sebagai steril dari pengaruh-pengaruh psikologis semacam ini. Individu ternyata merespon cara presentasi dan penyampaian masalah, serta bertindak sesuai konteks, emosi, dan menurut disposisi jenis kelamin secara sistematis.

0 Komentar: