Oleh Sonny
PILIHAN manusia berbeda-beda. Untuk sebuah dunia kecil saja, macam dunia para penulis di Individu Sosial, terlihat betul perbedaan pilihan itu.
Sebut saja pilihan makanan mereka. Roby, misalnya, bakal menampik, tatkala disodorkan makanan yang bercampur kari atau pasta. Manakala tawaran itu adalah makanan Sunda atau makanan Jepang, pasti ceritanya beda. Lain Roby, lain pula Tirta. Ia gemar makanan Padang dan kuliner Italia, tapi ia tak berminat dengan makanan seperti “jeroan“. Saya sendiri tak bisa menikmati daging kambing senikmat saya melahap tinutuan, bubur Manado itu, atau Doener ayam dari Turki.
Ekonom menggunakan kata “preferensi“ untuk menamai pilihan-pilihan itu. Sebuah penamaan yang terpaut dengan bagaimana pilihan yang satu ditimbang-timbang, kemudian diambil dari sekian pilihan tersedia.
Dua macam preferensi
PREFERENSI atas sekumpulan benda atau jasa apa saja itu terang saja bisa berbeda-beda. Persis seperti contoh makanan di awal tulisan ini. Walaupun berbeda-beda, di mata para ekonom (utamanya ekonom neoklasik) dasar keputusan manusia atas pilihan-pilihan yang berbeda itu, adalah sama.
Begini maksudnya. Saat harus bikin atau ambil keputusan, manusia - entah tua atau muda, entah lelaki atau perempuan, entah mukim di kota atau di desa, entah sekarang atau besok, pun entah penggemar makanan Sunda atau Italia - hanya mengacu pada dirinya sendiri. Pada kepentingan dirinya sendiri belaka.
Sang Aku atau Si Saya jadi rujukan utama di situ. Perilaku yang mendasari keputusan itu adalah self-regarding. Atau self-interested. Di sini, hasil dari tindakan kita terhadap orang lain tidaklah relevan.
Sudah barang tentu tak ada yang keliru dengan anggapan ini. Dalam kehidupan sehari-hari kita jumpai bertumpuk-tumpuk contoh yang akur dengan perilaku seperti itu. Dari contoh yang ekstrem, seperti tindakan pialang saham di lantai bursa dan laku lajak politikus di pasar Caleg, atau contoh sepele, macam kemenakan Anda yang mengambil porsi kue lebih besar dari yang Anda tawarkan. Lagi pula, memperoleh untung 2 juta lebih baik dibanding 1 juta, bukan?
Apa yang keliru, adalah anggapan, dasar keputusan itu merupakan satu-satunya rujukan keputusan dan perilaku manusia. Kapan saja, di mana saja. Di muka bumi, tak kurang banyak contoh dalam kehidupan kita hari lepas hari yang menggambarkan keragaman perilaku. Contoh-contoh di mana dasar tindakan manusia tidak tunggal. Tidak melulu self-regarding atau self-interested.
REINHARD Selten berpendapat, gambaran pengambilan keputusan yang melandasi teori ekonomi kontemporer berbeda jauh dengan perilaku manusia sesunguhnya yang teramati dalam kenyataan. Begitu catatan matematikawan-cum-ekonom itu atas keterbatasan asumsi self-interested. Selten, bersama John Nash dan John Harsanyi, memperoleh Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1993 atas sumbangsih mereka dalam mengembangkan Teori Permainan, Game Theory.
Jangan-jangan pendapat Selten hanya spekulasi belaka?
Guna menelisik keragaman preferensi, ekonom Urs Fischbacher, Simon Gaechter dan Ernst Fehr melancarkan serangkaian eksperimen. Uji coba mereka itu memanfaatkan apa yang lazim dinamakan sebagai permainan barang publik atau public goods game.
Maksud permainan ini sejatinya sangat lugas. Umpamakan saja Anda hendak membangun sebuah jembatan bersama warga masyarakat di sekitar tempat Anda bermukim. Lantaran pembangunan jembatan tersebut butuh biaya, setiap anggota warga – termasuk Anda – perlu menyumbang.
Rupanya, jumlah anggota warga yang banyak dalam komunitas itu, memungkinkan Anda untuk tidak menyumbang tapi tetap berkesempatan menikmati kegunaan jembatan, saat jembatan tuntas dibangun dan digunakan nanti. (Rasanya juga sulit sekali membatasi boleh-tidaknya orang melintasi jembatan hanya gara-gara tak turut menyumbang.)
Singkat cerita, Anda dapat “makan untung” atau menumpang gelap alias free riding.
Kemampuan prediksi yang akurat adalah keunggulan teori ekonomi standar. Apa prediksinya? Jembatan pasti tidak akan ada. Jembatan bakal tak kunjung terbangun.
Mengapa demikian? Alasannya selugas prediksinya. Sebagaimana disinggung sebelumnya, teori ekonomi standar menganggap setiap insan di kolong langit hanya memikirkan diri sendiri. Dan anggapan ini berlaku dalam situasi apapun. Berkenaan dengan pembangunan jembatan itu, tindakan paling rasional – menurut ilmu ekonomi neoklasik – adalah tidak menyumbang.
Tanpa menyumbang, Anda memetik keuntungan ganda secara serentak. Pertama, Anda tidak mengeluarkan uang (atau sumberdaya apapun), sebab kemungkinan menumpang gelap tersedia. Kedua, Anda tetap bisa menikmati keberadaan jembatan (atau barang publik) dari hasil upaya dan sumbangan orang lain (di luar diri Anda).
Apabila setiap warga masyarakat menumpang gelap, atau andaikata seluruh anggota masyarakat secara “rasional” memilih untuk tidak menyumbang, dapat dipastikan jembatan itu tak bakal berdiri.
Seperti Anda lihat, di sini rasionalitas individu sontak berubah menjadi i-rasionalitas kolektif.
Tetapi, prediksi teoretis yang akurat adalah satu hal. Sementara, apa yang terjadi dalam kenyataan, adalah urusan empiris. Kita tetap menyaksikan, sumbangan dan kerja bersama tetap terwujud dalam banyak pembangunan fasilitas yang punya karakter barang publik, seperti jembatan.
Penelitian Fischbacher, Gaechter dan Fehr tersebut memang bukan khusus soal jembatan. Eksperimen ekonomi mereka dirancang untuk secara langsung mencaritahu perilaku individu saat diminta menyediakan barang publik.
Uji coba itu melibatkan mahasiswa sebagai pengambil keputusan. Sejumlah uang diberikan pada para mahasiswa itu. Uang tersebut bakal digunakan (atau tidak, tergantung pilihan mahasiswa bersangkutan) untuk tersedianya barang publik.
Berdasar hasil eksperimen, sekitar 30 persen peserta menumpang gelap. Berkali-kali kelompok ini tak kunjung menyumbang apa-apa; mereka tidak bekerja sama demi tersedianya barang publik. Hasil ini sekaligus memberi penegasan, perilaku yang hanya memikirkan diri sendiri, ada dan nyata dalam “masyarakat” seperti kita temukan setiap hari dalam kehidupan. Angka 30 persen adalah prosentase yang tidak bisa diabaikan.
Perilaku apa dong yang dominan? Teramati selama eksperimen adalah apa yang dapat disebut sebagai “kerjasama bersyarat” atau conditional cooperation. Perilaku dari 50 persen peserta eksperimen dapat dijelaskan dalam kategori ini. Kerjasama bersyarat, maksudnya? Mereka rela menyumbang lebih bagi barang publik apabila peserta lain semakin banyak menyumbang. Perilaku macam ini tidak selaras dengan prediksi standar ilmu ekonomi.
Preferensi sosial
KERJASAMA bersyarat itu patut digolongkan sebagai preferensi sosial. Pokok yang disebut belakangan ini terkait dengan bagaimana orang menyusun urutan atau ranking untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain, saat berhadapan dengan urusan pembagian materi yang berbeda-beda. Dalam bahasa sehari-hari, ini soal bagi-membagi sesuatu untuk diri seseorang dan untuk orang lain.
Saat menyusun urutan dan membagi-bagi bagian itu, seperti ditunjukkan banyak hasil eksperimen ekonomi sejak tahun 1980-an, orang rela menaikan atau menurunkan bagian atau jatah (atau payoff) orang lain. Bahkan sekalipun tak tersedia keuntungan material baginya saat ini atau di waktu nanti dari berkurang atau bertambahnya payoff tersebut. Bukankah orang tega menghukum mantan kekasihnya yang dulu begitu dicintai?
Dus, ibarat sebuah keluarga yang punya anak banyak, perilaku self-interested hanya satu dari sekian anggota keluarga. Bukan satu-satunya. Dalam keluarga itu, tidak semua orang egois. Ada orang yang altruistik, yang membantu orang tanpa syarat, tak peduli apapun tindakan atau tanggapan orang lain itu atas bantuannya. Ada pula sosok yang resiprokal, yang bekerjasama saat orang lain bekerjasama, dan menghukum mereka yang tidak bekerjasama walaupun ia mesti merugi gara-gara ongkos hukumannya itu. Preferensi sosial, karena itu, pantas pula kita tambahkan sebagai anggota keluarga besar perilaku manusia.
Dalam tulisan sebelumnya, rekan saya Tirta telah mengupas peliknya ihwal insentif. (Di sana, Tirta mengutip contoh soal membantu orang menyeberang jalan. Orang itu tak kita kenal, baru sekali bersua dengan kita, dan barangkali tak bakal berjumpa lagi. Singkat cerita, tak ada future benefit apapun dari bantuan kita baginya. Toh tetap kita saksikan banyak orang memberi bantuan.) Meminjam penjelasan preferensi sosial, saya ingin kemukakan contoh satu berikut ini.
Bayangkan seorang ditabrak mobil persis di depan Anda saat ia hendak menyeberang jalan. Besar kemungkinan Anda akan menolongnya. Anda, misalnya, membopong tubuhnya ke pinggir jalan atau bergegas memanggilkan mobil ambulans.
Sekarang, mari konteks cerita tabrakan itu kita ubah sedikit. Bayangkan kembali, persis di depan Anda yang sedang menunggu lampu hijau, ia menyeberang jalan. Ia memaksa menerobos saat lampu merah, lantas dihajar mobil yang melaju.
Orang malang itu barangkali akan tetap Anda tolong. Tetapi, mungkin dengan tingkat kesediaan menolong berbeda ketimbang dalam cerita pertama kita. Boleh jadi Anda tetap mengulurkan pertolongan, tetapi sambil bersungut dalam hati.
“Sompret. Sudah tahu merah, masih nerobos juga.”


0 Komentar:
Post a Comment