Oleh Sonny
Sahabat dan kolega saya di Universitas Gajah Mada (UGM) pasti mengernyitkan dahi dengan judul terkesan provokatif di atas. (Dan saya beresiko kehilangan undangan mereka untuk makan gudeg, sambil lesehan di tepi jalan Malioboro, Yogyakarta, gara-gara memilih judul macam ini.) Seperti Anda, mereka pasti bertanya, apa yang tidak rasional dalam diri mahasiswa di kampus dengan program ilmu sosial terbaik di Indonesia itu?
Ceritanya terjadi di tahun 1994.
Saat itu, satu bungkus mie instan Indomie masih seharga 250 sampai 300 perak. Saat itu, satu dollar AS masih setara dengan sekitar dua ribu rupiah. Saat itu pula, andai seorang mahasiwa memegang uang 200 ribu Rupiah, rasanya seperti sama dengan mendapat tiga bulan gaji.
Pada masa seperti itu, seorang ekonom berkunjung ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM. Di sana ia mengajak mahasiswa FISIPOL UGM bermain. Lisa Ann Cameron nama ekonom itu. Dan ada sekitar 80 mahasiswa yang ikut bermain bersamanya.
Dalam permainan itu, Cameron memasang-masangkan setiap mahasiswa. Dua orang dalam satu pasang. Cameron memberi setiap pasang mahasiswa sejumlah uang. Jumlah yang relatif besar kala itu – 200 ribu Rupiah. Seperti disebut di atas, saat itu jumlah ini setara 3 bulan rata-rata gaji. Meskipun dipasangkan, sesama kedua mahasiswa itu tidak saling kenal – yang satu tidak tahu dengan siapa ia bermain.
Sepasang mahasiswa itu masing-masing lalu diberi peran. Mahasiswa yang satu, yang memegang uang 200 ribu Rupiah, mengajukan kepada pasangannya, sejumlah uang. Jumlah yang ia sodorkan terserah dirinya: antara 0,- Rupiah sampai 200.000,- Rupiah. Seturut dengan perannya, kita namai saja mahasiswa ini sebagai Penyodor (Proposer).
Mahasiswa yang lain, perannya lain lagi. Ia diminta menanggapi tawaran yang diajukan si Penyodor. Agar gampang, kita namakan saja mahasiswa ini sebagai Penanggap (Responder). Kepadanya disodorkan sejumlah uang (yakni, antara Rp 0,- sampai Rp 200.000,-) itu.
Yang menarik dari permainan ini adalah dua syarat berikut. Manakala si Penanggap setuju dengan jumlah yang ditawarkan si Penyodor, tiap-tiap mahasiswa ini memperoleh sejumlah uang seperti yang ditawarkan si Penyodor.
Sementara itu, andaikata si Penanggap menolak usulan jumlah uang yang ditawarkan si Penyodor, maka kedua mahasiswa ini, baik Penanggap maupun Penyodor, tak beroleh apa-apa alias mendapat 0,- Rupiah.
Permainan ini lazim dikenal dengan nama Ultimatum Game. Ditemukan ekonom Jerman, Werner Gueth, permainan ini telah diujicoba banyak kali di antero dunia, dengan beragam variasi permainan dan rupa-rupa karakter pemain.
Struktur sederhana yang dimiliki permainan ini membuka jalan untuk menguji asumsi “self-interested” jadi lebih mudah. Dan, dengan dibantu teori permainan (Game Theory), ilmu ekonomi standar bisa memprediksi apa yang akan hendak dilakukan kedua mahasiswa itu.
Apa yang bakal mereka lakukan? Seorang yang disebut “rasional” akan melakukan dua hal berikut ini.
Pertama, sebagai Penyodor yang rasional ia akan menyodorkan uang sekecil mungkin (tetapi masih positif) kepada si Penanggap. Pikirnya, sebagai sosok yang rasional toh si Penanggap akan menerima berapapun uang yang ia tawarkan.
Kedua, di sisi lain, si Penanggap, yang juga rasional, pasti akan menerima berapapun uang yang ditawarkan Penyodor. Bukankah mendapat uang – sekecil apapun itu – tetaplah lebih baik ketimbang tidak menerima uang apa-apa?
In adalah prediksi teoretis. Lantas, apa yang dilakukan para mahasiswa UGM dalam eksperimen tersebut?
Perilaku mahasiswa UGM rupanya berlawanan dengan prediksi teori. Jumlah rata-rata dari uang yang ditawarkan Penyodor adalah sekitar 40 persen (dengan standar deviasi sekitar 12 persen). Para penyodor memilih tidak menawarkan jumlah uang yang sangat kecil pada penanggap. Sementara itu, hampir 90 persen tawaran sebesar itu diterima Penanggap.
Statistik ini menegaskan kembali hasil dari begitu banyak ujicoba yang telah dilakukan dengan permainan ini. 50 persen adalah prosentase yang biasa ditawarkan Penyodor. Dan, apabila prosentase itu kurang dari 30 persen, lazimnya ditolak oleh Penanggap.
Sebagian kita mungkin sulit memahami tindakan mahasiswa UGM. Bukankah 200 ribu, pada tahun 1994 pula, adalah jumlah yang tak sedikit, apalagi hanya diperoleh dari kerja (bermain pula!) yang tak lebih dari dua jam lamanya itu? Mengapa memilih merugi dengan membagikan uang sekitar 100 ribu kepada Penanggap, mengapa tidak, misalnya, cukup dengan 5 ribu atau 10 ribu Rupiah saja?
Tindakan irasional, kata mereka yang terlatih dengan teori ekonomi standar. Adakah mahasiswa UGM tidak rasional?
Cristina Bicchieri, penulis The Grammar of Society (2006), pantas kita kutip untuk mencari jawab pertanyaan ini. Tulis filsuf itu, “andai rasionalitas adalah apa yang kita maksudkan sebagai orang yang memaksimalkan expected utility dan bahwa mereka hanya merujuk pada hasil moneter [yang mereka peroleh], maka kita harus menyimpulkan bahwa seorang yang menolak tawaran sejumlah positif [seperti sebagian mahasiswa UGM dalam permainan di atas] adalah berlaku irasional.”
Lanjut Bicchieri, “Tetapi, uang bukan pertimbangan tunggal, dan di luar itu terdapat pertimbangan atas keadilan (fairness), sampai-sampai terdapat orang yang siap untuk menghukum mereka yang berlaku tak adil, [bahkan] kalaupun ia harus membayar biaya atas hukuman itu.”
Para behavioral economists menyebut tindakan mahasiswa UGM itu sebagai negative reciprocity. Di mana orang membalas perilaku yang dianggap tak adil dengan cara yang merugikan pelaku ketidakadilan, meskipun ia harus menanggung biaya mahal atas tindakan balasan itu.
Pacar yang dibohongi membalas mantannya dengan biaya yang sangat mahal (termasuk menyebarkan informasi atau foto mereka berdua yang sangat intim). Seorang kakak bisa begitu tega dan tak sudi lagi meminjamkan uang atau mengulurkan bantuan pada adik atau saudaranya yang pernah ingkar janji, walaupun ia tahu hubungan keluarga mereka pasti meregang. Ini adalah beberapa keping contoh negative reciprocity yang acap kita jumpai sehari-hari.
Tampaknya tak ada yang keliru dengan perilaku mahasiswa UGM di atas. Apa yang keliru dong kalau begitu?
Barangkali cara kita memaknai rasionalitas itu yang perlu diperiksa kembali. Seperti kita perlu memeriksa kembali kurikulum dan pengajaran fondasi mikro keputusan manusia di banyak Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial kita di tanah air. ***
CATATAN PINGGIR
Saat menulis artikel ini, saya tergoda untuk bertanya, seperti apa hasil eksperimen apabila respondennya bukan mahasiswa FISIPOL UGM, melainkan, misalnya, mahasiswa FE UGM. Atau, seperti apa kira-kira hasilnya, apabila yang memainkan eksperimen adalah mahasiswa FE UGM dan mahasiswa FE UI, untuk menguji "hipotesis" M.C. Ricklefs, penulis A History of Modern Indonesia, bahwa UGM lebih “merakyat” dibanding UI?
Kepustakaan
Bicchieri, Cristina. 2006. The grammar of society - The nature and dynamics of social norms. New York: Cambridge University Press.
Camerer, Colin F. 2003. Behavioral game theory - Experiments in strategic interaction. New York dan New Jersey: Princeton University Press.
Cameron, Lisa A. 1999. Raising the stakes in the ultimatum game: Experimental evidence from Indonesia. Economic Inquiry 37(1), hal. 47-59.
Heinrich, Joseph; Robert Boyd, Samuel Bowles, Colin Camerer, Ernst Fehr dan Herbert Gintis (Editor). 2004. Foundations of human sociality - Economic experiments and ethnographic evidence from fifteen small-scale societies. Oxford dan New York: Oxford University Press.
31.3.09
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


2 Komentar:
wow...nice post!! bagus banget
Bisa pula peserta game itu berpikir "lbh baik sama sama jadi abu drpada hanya satu yg jd arang".
Post a Comment