oleh Roby
Saya ingin sedikit bercerita mengenai sejarah asal-usul uang untuk menggambarkan landasan fundamental sistem ekonomi yang mana hidup kita sekarang bergantung.
Tentunya saya melakukan banyak penyederhanaan, tetapi saya berharap ide dasarnya tetap bisa dibaca.
Mari kita mulai dari sistem barter. Disini kita menukarkan barang yang kita miliki dengan barang yang dimiliki orang lain. Dari sini sudah terlihat potensi masalah: bagaimana jika saya memiliki ayam dan ingin jagung, tapi satu-satunya pemilik jagung tidak menginginkan ayam? Maka trasaksi tidak terjadi; secara pribadi saya kesal karena tidak bisa mendapatkan barang yang saya perlukan, dan secara umum kegiatan ekonomi sering terhambat yang akhirnya merugikan semua orang.
Lalu manusia menciptakan uang. Uang ini bentuknya bisa bermacam-macam, bisa jerami, emas atau perak. Yang penting disini adalah adanya standar untuk melakukan transaksi ekonomi. Salah satu uang yang menjadi populer adalah koin emas.
Lama kelamaan, sistem koin emas pun terasa tidak efisien. Seiring dengan tumbuhnya ekonomi dimana barang yang dijual belikan semakin bervariasi dengan volume yang besar, para pedagang merasa tidak aman dan efisien jika harus membawa koin-koin emas kemana-mana dalam jumlah besar. Juga ada masalah penyimpanan: emas yang bertumpuk di rumah-rumah pedagang sangat rentan terhadap pencurian.
Akhirnya ada yang mengambil inisiatif untuk membuat “rumah emas”. Pemilik rumah emas ini membangun sebuah tempat yang aman dimana para pedagang merasa aman untuk menitipkan emasnya di rumah emas tersebut. Maka orang berbondong-bondong menitipkan emasnya ke rumah emas. Selain itu, rumah emas ini mengeluarkan sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa pemegang sertifikat ini memiliki emas sesuai dengan jumlah emas yang di depositkan di rumah emas.
Sertifikat tersebut tidak menyebutkan nama pemilik deposit, melainkan hanya menyatakan bahwa siapapun yang memegang sertifikat ini berhak atas sejumlah emas yang telah ditentukan. Sehingga para pedagang tinggal saling menukar sertifikat deposit emas ini dalam bertransaksi. Tidak perlu lagi membawa-bawa koin emas dalam jumlah besar. Sertifikat deposit emas ini beredar di masyarakat dan praktis memainkan peran “uang” seperti yang kita kenal sekarang.
Si pemilik rumah emas ini mengamati bahwa kebanyakan emas diam tertimbun di gudang. Hanya sedikit emas yang masuk dan keluar setiap harinya. Si pemilik rumah emas mulai mencari cara agar emas yang menumpuk di gudang tersebut tidak menganggur atau bahkan bisa memberikan keuntungan baginya.
Maka lahirlah dua hal yang menjadi landasan ekonomi modern: fractional reserve banking (FRB) dan kredit.
Prinsip FRB adalah rumah emas (bank) tidak perlu menyimpan seluruh deposit emas (uang) di dalam bank. Yang perlu disimpan hanyalah sebagian kecil; asal cukup untuk kebutuhan transaksi sehari-hari. Sisanya dipinjamkan dalam bentuk kredit. Maka si pemilik rumah emas ini mulai membuat sertifikat deposit emas yang dapat di beli oleh non-depositor.
Disini mulai tampak sumber ketidakstabilan. Memang betul dalam keadaan normal, transaksi di rumah emas hanya mencakup sebagian kecil total jumlah deposit yang ada. Karena itu rumah emas meminjamkan sebagian besar deposit dalam bentuk kredit. Tetapi, jika karena sesuatu dan lain hal, seluruh depositor meminta seluruh emasnya kembali pada hari yang sama, maka rumah emas kesulitan memenuhi permintaan ini karena emas deposit telah dipinjamkan ke orang lain. Akhirnya rumah emas harus menyatakan bankrut. Jika ada beberapa rumah emas lain di kota tersebut, melihat satu rumah emas bangkrut, depositor juga akan berbondong-bondong menarik emas di rumah emas yang lain. Akhinrya seluruh rumah emas dinyatakan bangkrut dan ekonomi kampung itu runtuh. Inilah yang dinamakan bank run.
Disini kita lihat bahwa sumber ketidakstabilan ini adalah kredit itu sendiri. Saya tidak membahas instrumen finansial canggih, uang kertas, bunga, atau nilai intrinsik. Ketidakstabilan yang dapat meruntuhkan ekonomi melalui bank run ini muncul akibat kredit dan ketika asumsi independensi dalam perilaku manusia dilanggar(*).
Lalu, jika kredit demikan berbahaya kenapa orang melakukannya?
Karena ternyata kredit ini adalah mekanisme untuk membuat uang. Misal saya adalah pemerintah dan mencetak uang senilai 100 lalu saya berikan ke bank sentral. Dengan menggunakan prinsip FRB, bank sentral hanya menyimpan, misal, 10% dan meminjamkan sisanya. Jadi 10 tetap di bank sentral dan 90 dipinjamkan ke bank A. Selanjutnya bank A juga hanya simpan 10% dari 90 yaitu 9 dan meminjamkan 81 ke bank B.
Dari sini terlihat bahwa negara saya yang mencetak uang 100 menjadi mempunyai kekayaan di atas kertas senilai (100+90+81)=271. Ini dicapai hanya melalui kredit! Tanpa produksi barang apapun. Saya bisa klaim bahwa ekonomi negara saya telah tumbuh (dari 100 ke 270) hanya melalui sistem kredit tanpa menghasilkan barang apapun.
Sekali lagi, tentunya banyak yang terlewat dalam penjelasan sederhana ini. Tetapi justru hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa dua karakteristik penting dalam ekonomi modern (krisis ekonomi dan pertumbuhan ekonomi) dapat muncul hanya dari satu konsep: kredit (dan saudara kembarnya fractional reserve banking). Kredit adalah pisau bermata dua: dapat merusak melalui krisis ekonomi tapi juga berguna untuk “pertumbuhan ekonomi”. Selama sistem ekonomi berlandaskan kredit maka selama itu pula krisis selalu mengintai.
Bagi saya, masalah ini bukan hanya masalah sistem ekonomi saja, tetapi masalah moralitas dan nilai kepercayaan. Ada moralitas atau nilai/norma kepercayaan yang mendasari perilaku kita dalam menyimpan, meminjam, dan membelanjakan uang; misalnya, mengapa orang harus membayar hutang? jika kita anggap membayar hutang ini bagian dari suatu mekanisme sosial dan lalu pertanyaannya mekanismenya apa dan untuk apa? Singkatnya, bagaimana sistem ekonomi kredit ini muncul?(**)
(*) biasanya perilaku banyak manusia dapat dianggap independen, alias berbeda-beda. Dalam konteks ini, misalnya, ada yang menyimpan emas ke rumah emas dan ada yang menarik emas; atau ada yang menjual dan ada yang membeli. Kadang, akibat panik, gosip atau yang lainnya, perilaku menjadi seragam: semua menarik emas, atau semua menjual. Perubahan dari perilaku yang beragam menjadi perilaku yang sama lah yang berusaha ditangkap dengan istilah perubahan dari independen ke non-independen; atau tidak berkorelasi menjadi berkorelasi.
(**) teori ekonomi memiliki penjelasan standar yang dikenal sebagai teori ekspektasi rasional. Menurut teori ini, perilaku kita soal uang ini didasari perhitungan rasional untuk mengantisipasi masa depan. Misalnya, menabung dilihat sebagai pinjaman ke diri sendiri di masa depan (loan to future self).
Tulisan ini adalah hasil membaca 2 buku berikut:
1. The ascent of money, Nial Fergusson
2. The origin of financial crisis, George Cooper
Saya memulai seri ini karena dipicu keingintahuan mengenai krisis global yang sekarang melanda kita semua. Ternyata untuk mengetahui apa yang terjadi saja sudah sulit, apalagi mengerti bagaimana dan kenapa krisis terjadi jauh lebih sulit.
Awalnya fokus pencarian saya adalah ingin mengerti bagaimana model-model keuangan yang sudah mapan di disiplin ilmu ekonomi keuangan dan sebagian dibaptis oleh nobel ekonomi ternyata tidak jalan. Ditengah pencarian ini, saya berpikir bahwa ada hal yang lebih penting: bahwa sistem ekonomi kapitalisme secara umum membutuhkan pandangan moral tertentu. Seperti yang saya bahas seri krismon terakhir ini, sistem ekonomi yang berlandaskan kredit hanya bisa jalan di masyarakat yang memiliki nilai moral bahwa hutang harus dibayar, dan kontrak adalah segalanya (sanctity of contract). Misalnya, jika ada konsumen yang bangkrut akibat kredit yang tak terbayar maka secara moral yang disalahkan adalah konsumen, bukan pemberi kredit yang secara agresif dan kadang manipulatif menawarkan kredit.
Tentu ini bukan hal baru, ilmu ekonomi sendiri muncul dalam bentuk filosofi moral yang ditulis oleh Adam Smith. Jadi landasan moral/kepercayaan kapitalisme ini perlu dimengerti jika kita ingin mengerti bagaimana kapitalisme bekerja.


0 Komentar:
Post a Comment