27.2.09

Soal Makan, dan Kebebasan

Oleh Tirta

DALAM sorotannya terhadap fenomena obesitas di Amerika, buku The Fattening of America menggarisbawahi dua faktor penyebab. Pertama, begitu banyaknya makanan murah nan menggemukkan. Kedua, ragam teknologi baru yang memungkinkan individu bekerja produktif tanpa harus membakar banyak kalori.

Menurut penulis buku tersebut, ekonom Eric Finkelstein dan Laurie Zuckerman, obesitas adalah produk keberhasilan -- bukan kegagalan -- pasar bebas. Pasar bebas sukses memberi individu akses untuk membeli makanan murah dan teknologi inovatif yang sebelumnya tidak tersedia, walau akhirnya berdampak pada kenaikan berat badan.

Terlepas dari peliknya masalah obesitas itu sendiri (dari soal siapa yang harus menanggung 'biaya publik' jika sebagian besar masyarakat kelebihan berat badan, masalah asuransi kesehatan, hingga peran pemerintah dalam menanggulangi problem ini), buku ini bersandar pada paradigma pilihan rasional.

Menurut paradigma ini, obesitas merupakan dampak dari sejumlah pilihan rasional. Dengan kata lain, individu secara sadar memilih untuk makan lebih banyak dan menggunakan teknologi-teknologi yang membuat hidup mereka lebih nyaman, sehingga akhirnya membakar lebih sedikit kalori dan menambah berat badan.

Dan karena rasional, maka pilihan individu ini harus dihormati. Makan, menurut The Fattening of America, merupakan ekspresi kebebasan.

LAIN The Fattening of America, lain pula Mindless Eating. Dalam buku ini, psikolog Brian Wansink bercerita tentang sejumlah eksperimen makan yang menarik.

Di sebuah bioskop di Chicago, Wansink dan para mahasiswanya memberi pengunjung popcorn melempem secara gratis. Sebagian pengunjung diberi popcorn melempem banyak, dalam kotak besar, sedangkan lainnya sedikit, dalam kotak kecil. Setelah film selesai, jumlah konsumsi popcorn diukur.

Hasilnya sulit masuk akal. Pengunjung dengan kotak besar didapati memakan 53% lebih banyak popcorn dibanding pengunjung kotak kecil. Popcorn yang, walaupun gratis, melempem.

Dalam eksperimen-eksperimen sejenis lainnya, Wansink menemukan bahwa secara rata-rata seseorang akan makan 25% lebih banyak ketika menggunakan piring besar, dibanding piring sedang atau kecil. Lauk yang dibiarkan di meja akan menyebabkan konsumsi makanan 30% lebih banyak. Gelas besar-pendek menyebabkan konsumsi bir 30% lebih banyak dibanding gelas kurus-tinggi, walau keduanya berkapasitas sama.

Menariknya, seluruh peserta eksperimen diatas tidak percaya ketika diberi tahu bahwa mereka makan lebih banyak karena faktor-faktor seperti ukuran piring, besar kotak popcorn, letak piring lauk, dan bentuk gelas bir. Sebagian besar malahan menyangkal dan merasa hal tersebut tidak mungkin terjadi.

Yang dilakukan Wansink adalah demonstrasi proses bawah-sadar di balik tindakan makan seorang individu. Mindless Eating, dengan kata lain, menunjukkan bahwa makan tidak selamanya rasional.

THE Fattening of America dan Mindless Eating berbicara tentang fenomena yang sama. The Fattening of America melihat secara makro apa yang terjadi di masyarakat ketika sebagian anggotanya kelebihan berat badan. Mindless Eating mempelajari apa yang terjadi di level individu ketika mereka memutuskan untuk makan.

Di tataran praktis, kedua buku bersifat melengkapi. Makan adalah fenomena publik sekaligus individu, sehingga tinjauan makro dan analisis individu mesti jalan beriringan ketika masyarakat menghadapi dan ingin memahami masalah seperti obesitas.

Namun keduanya berkonflik di tataran paradigma. Mindless Eating menunjukkan bahwa makan melibatkan proses-proses otak yang terjadi bawah-sadar; bahwa makan bukan merupakan proses yang sepenuhnya berada di dalam kontrol individu. Sedangkan menurut The Fattening of America, makan merupakan sebuah ekspresi kebebasan individu yang harus dihargai.

Konflik paradigma ini dapat diletakkan dalam konteks lebih luas mengenai paternalisme. Perlukah pihak publik (negara) maupun privat (perusahaan, organisasi) mengarahkan individu agar dapat mengambil keputusan dengan lebih baik?

Pendukung paternalisme mendasarkan argumen mereka pada temuan-temuan empiris sejenis Mindless Eating, yang menunjukkan bahwa individu adalah entitas yang seringkali bertindak di luar kesadarannya sendiri. Mereka yang anti-paternalisme melihat individu terutama sebagai entitas rasional, seperti digarisbawahi oleh The Fattening of America.

Perdebatan soal paternalisme ini jauh dari sederhana, dan tampaknya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Yang jelas, perbandingan antara kedua buku di atas mengangkat kembali sebuah pertanyaan empiris, teoritis, sekaligus filosofis yang sangat fundamental: Sebebas apakah individu dalam mengambil sebuah keputusan, dan bagaimana kebebasan ini harus dikonsepkan dan dihargai?

0 Komentar: