1.2.09

Masalah Korupsi (Tambahan)

Oleh Tirta

Karena beberapa komentar yang masuk menunjukkan kegamangan pesan tulisan terdahulu tentang korupsi, terutama dalam kaitannya dengan analisa biaya-manfaat, maka dalam catatan singkat ini dua tesis pokok tulisan tersebut akan diangkat sekali lagi.

Tesis pertama, korupsi harus dilihat sebagai sebuah proses yang memiliki elemen multidimensional: psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Interaksi antara elemen-elemen inilah yang melahirkan tindak korupsi, yang agen pelakunya disebut koruptor. Jadi koruptor adalah bagian dari proses korupsi, bukan penyebab korupsi.

Tesis kedua, individu pelaku korupsi tidak hidup dalam vakum, dan selalu berinteraksi dengan sesama (termasuk kita) di dunia sosial. Inilah mengapa analisa korupsi sebagai tindakan murni individual keliru, karena korupsi sejatinya bersifat sosial. Lalu bagaimana dengan perspektif biaya-manfaat, bahwa koruptor bertindak berdasarkan 'hitungan' untung-rugi melakukan korupsi? Ada dua hal yang penting dibedakan dan dipahami disini.

Pertama, interaksi sosial tidak menafikan kalkulasi biaya-manfaat. Di level tertentu, koruptor memang 'menghitung' biaya sosial korupsi: semakin banyak orang yang korupsi, semakin kecil biaya ditanggung sendiri. Tapi keliru jika cerita berhenti disini, karena poin kedua dibawah.

Kedua, seperti ditunjukkan oleh eksperimen Asch, interaksi sosial berdampak langsung terhadap persepsi individual akan korupsi itu sendiri. Dengan kata lain, pengertian seseorang akan korupsi berubah tergantung interaksi sosial yang ada. Jadi pandangan koruptor akan korupsi itu sendiri berubah, terlepas dari kalkulasi biaya-manfaat yang kemudian dilakukan. Ini yang agaknya masih luput dari perhatian, bahwa persepsi internal akan korupsi -- bukan hanya hitung-hitungan untung-rugi melakukan korupsi -- merupakan fungsi dari interaksi sosial.

0 Komentar: