13.2.09

Apa itu IQ?* (Bagian 1)

Oleh Tirta

SALAH satu konsep psikologi ilmiah yang paling populer adalah IQ (Intelligence Quotient). Kita semua pernah mendengar tentang IQ. Kita juga tahu bahwa IQ berhubungan dengan kecerdasan. Namun apa itu sebenarnya IQ? Apa-apa saja yang terkandung di dalam sebuah tes IQ? Bagaimana mengartikan sebuah skor IQ?

Tulisan singkat ini bertujuan untuk menjelaskan secara umum hakikat ilmiah di balik konsep IQ. Bagian pertama membahas tentang skor IQ. Bagian kedua mengurai soal peliknya mengukur kecerdasan.

KATAKANLAH skor total IQ saya 115. Cerdaskah saya?

Pertanyaan ini tidak dapat dijawab tanpa rujukan ke sebuah acuan. Acuan yang relevan adalah skor IQ sejumlah orang lain (biasanya ribuan) yang sebelumnya telah mengambil tes IQ yang sama. Proses yang menghasilkan skor acuan ini disebut standarisasi.

Dalam standarisasi tes IQ, skor ribuan orang tadi ‘dipaksa’ untuk menyebar sesuai pola statistika tertentu yang disebut distribusi normal, dengan skor rata-rata 100. Secara sederhana, distribusi normal adalah sebaran data dimana mayoritas skor berada di sekitar rata-rata. Distribusi ini begitu spesifik sehingga memungkinkan kita untuk mengestimasi jumlah orang yang memiliki skor tertentu.

Mengikuti kaidah-kaidah distribusi normal, kita dapat memperoleh estimasi akan jumlah orang yang memiliki skor 115, seperti saya. Dalam hal ini, distribusi normal mendikte bahwa 84% orang memiliki skor lebih rendah dari 115, dan 16% sisanya lebih tinggi**.

Inilah arti fundamental sebuah skor IQ. Misalkan tes IQ tertentu yang saya ambil memiliki acuan skor 5000 orang, dengan skor rata-rata 100, maka skor 115 saya lebih tinggi dari skor 4200 orang, dan lebih rendah dari 800 lainnya.

Jika skor saya yang 115 ini lalu diberi label 'cerdas', atau 'agak cerdas', hal ini tidak penting. Label atau kategori skor seringkali hanya didasarkan pada kenyamanan, dan tidak memiliki arti apapun selain posisi skor relatif terhadap standar seperti diuraikan di atas. Ada dua hal yang lebih penting untuk dipahami: (1) demografi ke-5000 orang tadi, dan (2) elemen-elemen yang membentuk skor total 115.

Siapa ke-5000 orang tadi? Jika ke-5000 orang tadi adalah para profesor dari seluruh dunia, maka mungkin saya boleh berbangga. Namun jika ke-5000 orang tadi adalah anak kelas 1 SD dari sekolah yang terbelakang, tentu lain cerita. Ilustrasi ekstrim ini menggarisbawahi pentingnya informasi akan demografi orang-orang yang terlibat dalam proses standarisasi. Tidak bisa tidak, skor IQ hanya bermakna jika dibandingkan dengan skor acuan yang berasal dari kelompok yang relevan, baik dari segi usia, pendidikan, maupun status sosial-ekonomi.

Kedua, dan yang paling informatif, sub-skor apa saja yang akhirnya menghasilkan skor total 115 tadi? Ambil contoh sederhana sebuah tes IQ yang 50% komponennya adalah matematika dan 50% lagi bahasa. Skor matematika saya 90, bahasa 140. Skor matematika teman saya 120, bahasa 110. Walaupun skor total kami sama, yaitu 115, namun informasi yang terkandung di dalam kedua sub-skor matematika dan bahasa tersebut jelas berbeda.

Sub-skor IQ merefleksikan kemampuan seseorang relatif terhadap dirinya sendiri, di domain-domain yang bervariasi. Saya mungkin lemah di matematika dan sangat kuat di bahasa, sedangkan teman saya mungkin relatif kuat di keduanya. Dari sini kita bisa mengidentifikasi bakat, dan melakukan intervensi spesifik pada domain-domain yang dirasa kurang namun penting. Inilah mengapa sub-skor jauh lebih substansial dibanding skor akhir IQ.

KEMBALI ke pertanyan di awal tadi. Skor total IQ saya 115. Cerdaskah saya?

Uraian di atas menunjukkan kelirunya pertanyaan tersebut. Cerdas atau tidak hanyalah sebuah label. Yang penting dari sebuah skor IQ adalah informasi demografi tentang kelompok yang dijadikan acuan, dan informasi tentang sub-skor. Kedua informasi ini vital sifatnya untuk mengartikan skor IQ manapun dengan sungguh-sungguh. Tes IQ yang tidak memiliki informasi lengkap akan proses standarisasi, demografi, dan sub-skor tidak dapat dianggap serius.

---

*Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang tentang hal-hal yang kritis, rasional, dan faddish dengan ekonom sekaligus teman debat Arya Gaduh.

**Distribusi normal bekerja berdasarkan rata-rata dan standar deviasi. Misalkan tes IQ yang saya ambil memiliki skor rata-rata 100 dengan standar deviasi 15. Distribusi ini mendikte bahwa presentase populasi yang memiliki skor di atas 55, 70, 85, 100, 115, 130, dan 145, secara berurutan, adalah kurang-lebih 99,9%, 97%, 84%, 50%, 16%, 3%, dan 0,1%.

0 Komentar: