oleh Tirta
BAYANGKAN situasi berikut ini. Anda sedang menyetir, ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil yang mogok di pinggir jalan. Anda lalu berhenti untuk menolong. Pertanyaannya, mengapa?
Bisa jadi Anda berhenti karena perasaan yang sangat tidak enak bila cuek meneruskan perjalanan. Atau bisa juga karena Anda termotivasi untuk menolong sesama karena Anda orang yang sangat peduli dengan kesejahteraan orang lain. Atau mungkin juga Anda percaya karma dan berpikir siapa tahu lain kali mobil Anda yang mogok. Apapun alasannya, Anda memiliki alasan tertentu untuk berhenti. Anda punya insentif, dalam bahasa ilmu ekonomi.
Sekarang bayangkan bila sesaat sebelum Anda hendak menolong, tiba-tiba pengemudi mobil mogok tersebut menawarkan sejumlah uang. Anda kaget, karena tawaran ini sama sekali tidak terduga, dan spontan menolak. Namun pengemudi tersebut terus memaksa. Apa yang kira-kira akan terjadi?
Beberapa tahun lalu, psikolog James Heyman dan Dan Ariely melakukan serangkaian eksperimen laboratorium untuk mempelajari hakikat insentif. Partisipan diberi tugas memindahkan bola-bola di layar komputer ke tempat yang ditentukan menggunakan mouse, dan dibagi menjadi 5 kelompok acak. Kelompok pertama tidak diberi apa-apa (hanya ucapan terima kasih), kelompok kedua diberi imbalan uang 10 sen, kelompok ketiga uang 4 dolar, kelompok keempat 5 buah permen, dan kelompok terakhir 200 gram permen. Hasilnya menarik, performansi kerja kelima kelompok ternyata tidak berbeda, dengan pengecualian kelompok kedua, yang tercatat memindahkan bola paling sedikit.
Dalam eksperimen selanjutnya, yang kali ini memberi partisipan tugas-tugas aritmetika, Heyman dan Ariely memberi tahu harga jual permen kepada kelompok keempat dan kelima. Tambahan informasi ini ternyata membuat performansi kelompok keempat menjadi turun seperti kelompok kedua, lebih jelek dari ketiga kelompok lainnya.
Ekonom Bruno Frey dan Felix Oberholzer-Gee juga pernah melakukan eksperimen serupa di Swiss, dalam skala lebih besar. Lebih dari satu dekade lalu, mereka melakukan survei tentang kemungkinan dibangunnya reaktor nuklir di dekat sebuah pemukiman, dan bertanya kepada penduduk setempat apakah mereka setuju dengan adanya reaktor nuklir yang tentu akan menghasilkan limbah tersebut. Survei membagi penduduk menjadi dua, separuh menolak karena merasa limbah tersebut berbahaya, sedangkan separuh lagi menerima karena merasa reaktor tersebut akan mendatangkan kebaikan untuk bersama.
Namun ketika survei tersebut dibarengi dengan pertanyaan tentang imbalan uang yang cukup sebagai kompensasi limbah reaktor nuklir, jumlah yang setuju dengan pembangunan reaktor berkurang drastis dari separuh menjadi seperempat. Tiga-perempat penduduk kali ini tidak setuju dan menolak adanya reaktor nuklir di pemukiman mereka.
Di skala pribadi, laboratorium, maupun lapangan, informasi terkait imbalan uang ternyata sama-sama berlaku sebagai dis-insentif. Perilaku yang diharapkan malah berkurang -- atau malah tidak jadi dilakukan -- ketika uang dijadikan sebagai motivator tindakan.
MENURUT ilmu ekonomi, individu bertindak merespon insentif. Karyawan akan bekerja lebih giat ketika gaji mereka dinaikkan; pembeli akan memborong belanjaan ketika harga barang dimurahkan. Sering lalu disimpulkan bahwa manipulasi insentif akan menyetir perilaku individu secara monotonik: Ketika insentif naik, maka tindakan akan naik. Ketika insentif turun, maka tindakan akan turun.
Kesimpulan akan relasi monotonik antara tindakan individu dan insentif ini tidak selalu tepat. Satu hal yang penting untuk dicermati adalah jenis insentif yang sedang bermain, dan distingsi antara cara kerja "pasar uang" dan cara kerja "pasar sosial".
Di pasar uang, individu hampir selalu merespon insentif secara monotonik (ada kalanya tidak, ini topik menarik yang akan dibahas lain waktu). Contohnya banyak. Semakin tinggi gaji karyawan, semakin rajin mereka bekerja. Semakin turun harga barang, semakin pembeli berebutan.
Berbeda dengan pasar sosial, dimana individu merespon insentif psikologis dengan tarif rata. Contoh pasar sosial tidak kalah banyak. Anda membantu mendorong mobil mogok sekuat tenaga, tanpa menghitung apakah tenaga yang dikeluarkan sebanding dengan ucapan terima kasih yang kiranya menanti. Sama halnya dengan jumlah permen tanda terima kasih yang ternyata tidak berpengaruh terhadap performansi kerja, dan para penduduk yang rela menerima reaktor nuklir tanpa imbalan apapun karena termotivasi untuk menjadi masyarakat yang baik.
Masalahnya, masih banyak yang cenderung menyamakan pendekatan insentif ilmu ekonomi dengan pendekatan model pasar uang, sehingga mudah tergiur untuk apriori menyandarkan berbagai intervensi kebijakan pada asumsi berlakunya pasar uang. Misalnya soal polusi udara, yang divonis langsung dengan solusi pajak karbon. Atau ide ekonom Roland Fryer di sekolah-sekolah kota New York, Chicago, dan Washington, yang memberi imbalan uang bagi anak-anak yang mendapatkan nilai tes yang baik.
Tentu ada kemungkinan tesis pasar uang ini tepat sasaran, dan akan optimal menyelesaikan masalah seperti diharapkan. Tapi belum tentu.
Psikolog Robert Cialdini belum lama ini menemukan bahwa individu lebih rajin melakukan recycling ketika individu-individu lain disekitarnya melakukan hal yang sama. Mungkinkan solusi serupa diterapkan ke masalah emisi karbon? Sejumlah studi juga mendapati bahwa anak-anak yang tadinya rajin menggambar dan belajar ternyata menjadi malas dan berhenti ketika gambar mereka eksplisit diberi penghargaan, dibanding anak-anak lain yang tidak mendapat penghargaan. Mungkinkan ide Fryer malah akan mengkikis motivasi intrinsik dari belajar itu sendiri -- yang dalam jangka panjang bisa jadi jauh lebih penting dibanding hasil tes jangka pendek?
Pendekatan insentif ilmu ekonomi adalah pendekatan yang sejatinya bernuansa. Setiap masalah memiliki insentifnya yang berbeda, dan seringkali ini masalah empiris yang masih terbuka.
11.1.09
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 Komentar:
Post a Comment