17.1.09

Jejaring teman dan "teman"

oleh Roby

Pegiat dunia periklanan dan kampanye politik melihat peluang penggunaan situs jejaring sosial atau web sosial sebagai medium untuk untuk pemasaran atau kampanye. Idenya adalah menyebarkan informasi dari "mulut-ke-mulut" melalui jejaring pertemanan di Internet. Sepintas, situs-situs ini memberikan kesan bahwa jejaring sosial begitu rapat, dimana temannya teman adalah teman juga; sehingga - asal kita bisa masuk jejaring yang rapat ini - informasi yang kita sebarkan dapat menyebar dengan cepat.

Tetapi,  senarai (list) teman yang banyak bukan berarti si pemilik senarai berinteraksi  dengan semua orang di senarai tersebut. Interaksi yang berarti dan bermakna hanya terjadi dengan sebagian kecil saja. 

Tim peneliti dari laboratorium Komputasi Sosial di Hewlett-Packard dan Universitas Cornell baru-baru ini meneliti pola interaksi di situs Twitter. Mereka menemukan bahwa meskipun orang dapat memiliki senarai teman yang banyak, orang tetap hanya berinteraksi dengan sebagian kecil dari senarai teman tersebut.

Orang cenderung berinteraksi dengan sebagian kecil orang lain yang berarti (seperti teman "nyata", rekan kantor, keluarga) dan dengan mereka yang secara rutin membalas posting-annya.

Temuan ini memperkuat dugaan yang sudah umum bahwa meskipun dua orang berada di senarai teman masing-masing, bukan berarti mereka berdua saling berinteraksi satu sama lain.

Artinya, di Internet ada dua macam jejaring: jejaring berdasar senarai teman dan jejaring teman sebenarnya.

Implikasi praktis bagi mereka yang ingin memanfaatkan situs-situs web sosial untuk kampanye adalah tidak cukup hanya nampang dengan membuat profil saja. Membuat profil tidak lebih seperti kampanye di media massa (lebih tepatnya media massa yang bukan massa karena hanya disekitar lingkaran sosial kita).

Jika memang mau menyebarkan ide dengan menggunakan jejaring pertemanan ini, maka yang perlu dilakukan adalah:(1) mendeteksi aliran informasi yang benar-benar terjadi di jejaring ini dan (2) mencoba mempengaruhi orang-orang yang tampaknya berperan besar dalam aliran ini.


1 Komentar:

Irfan said...

Bung Robby, jangankan di jejaring sosial. Bukankah dalam pertemanan fisik (artinya bertemu muka), kita akan bersikap dan berbicara formal pada saat pertama berkenalan... Keakraban akan dimulai dari saling menjajagi... mulai dari siapa kenal dengan siapa... di lingkungan saudara, rumah, pekerjaan, sekolah atau minat tertentu seperti bisnis, olah raga atau pengetahuan. Setelah ada beberapa common factor di antara dua pihak yang berkenalan dan bertemu pertama kali maka sikap dan cara berbicara menjadi informal... Kalau di kalangan orang Sunda mulai dari menggunakan kata "abdi" dan "anjeun" saat pertama berkenalan dan bertemu dengan teman baru... terus berubah menjadi "aing" dan "maneh."

Jadi memang dibutuhkan common factor yang membuat seseorang akan berhubungan lebih erat di antara teman-temannya berjejaring sosial di internet.

Nah bagaimana itu bisa dilakukan dengan hanya memajang tampang profil di iklan FB atau iklan bentuk lain???