27.1.09

Informasi sosial: dari facebook hingga Wall Street

oleh Roby

Baru-baru ini, seorang teman yang memilih untuk menyembunyikan hari ulang tahunnya di facebook menemukan bahwa teman-temannya di facebook tetap dapat mengetahui bahwa dia sedang berulang tahun.

Sepertinya ini dimulai dengan kerabat dekat teman tersebut yang memang ingat hari ulang tahunnya menuliskan ucapan selamat di wall teman saya itu. Selanjutnya ucapan selamat ini terpublikasikan melalui news feed sehingga akhirnya semua yang ada di senarai temannya dapat mengetahui bahwa dia berulang tahun.

Sepintas ini terlihat sepele, tetapi sebenarnya memberikan ilustrasi bagaimana interaksi sosial terkadang dapat memberikan solusi dari suatu masalah rumit. Dalam hal ini, interaksi sosial dapat mengorek informasi pribadi (private information). Informasi pribadi seperti hari ulang tahun mungkin tidak terlalu penting, tapi ada juga informasi pribadi yang luar biasa penting sehingga banyak orang beragantung padanya. Seperti cerita saat kejadian serangan teroris 9/11 di kota New York.

Pada saat serangan 9/11 terjadi saya sudah berada di New York, tepatnya sedang bersekolah di Columbia University. Kebetulan, ada kenalan saya yang merupakan bagian dari sebuah grup riset yang sedang meneliti perusahaaan-perusahaan keuangan di Wall Street yang sebagian berkantor di gedung WTC. Setelah terjadi serangan yang meruntuhkan gedung kembar WTC, peneliti Columbia ini tetap mendapat akses ke perusahaan-perusahaan tersebut sehingga mereka dapat mengikuti proses pemulihan.

Ada kisah menarik dan mencengangkan dari sebuah perusahaan keuangan yang setengah pekerjanya turut tewas akibat runtuhnya WTC. Kantor pusat mereka hancur lebur. Tetapi mereka tetap memiliki data komputer cadangan yang terletak di kota lain. Mereka bersiteguh untuk kembali secepatnya beroperasi karena selain transaksi keuangan dunia tidak pernah berhenti, juga karena ingin menujukkan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan semangat mereka.

Akhirnya para pekerja yang selamat berkumpul hanya beberapa hari kemudian untuk kembali memulai operasi bisnis mereka. Tapi mereka menemukan satu masalah besar: seluruh pekerja yang memiliki akses password ke sistem komputer mereka termasuk korban tewas. Jadi meskipun mereka memiliki data cadangan, tapi data tersebut tidak dapat diakses.

Untuk menyelesaikan masalah ini, mereka memakai cara inovatif. Seluruh orang yang kenal dengan para pemegang password yang sudah meninggal tersebut dikumpulkan di sebuah ruangan. Lalu setiap orang mengulang apa-apa saja yang mereka pernah kerjakan atau obrolkan dengan rekan-rekannya yang tewas tersebut. Obrolannya mencakup masalah pekerjaan sampai kehidupan pribadi; tidak ada yang luput dari pembicaraan. Sampai akhirnya mereka bisa menebak password sistem komputer tersebut, hanya dari membicarakan kehidupan dan perilaku orang yang tahu passwordnya.

Ini semua mengilustrasikan bagaimana solusi sosial dapat dipakai untuk untuk menyelesaikan masalah organisasi rumit hingga masalah teknis seperti password yang hilang. Ini juga mengingatkan bahwa hal penting dalam sebuah organisasi bukan hanya masalah teknis pekerjaan atau hubungan formal. Percakapan santai di ruang makan, obrolan singkat di lift, hingga gosip adalah bagian dari informasi yang merupakan aset organisasi. Teknologi – seperti news feed di facebook atau sebuah struktur/insentif organisasi yang tepat – dapat menjadi alat untuk menguak informasi yang terpendam di jejaring sosial kita.

0 Komentar: