Oleh Tirta
Nama Broken Windows dipinjam dari satu contoh kasus yang diajukan Kerling and Wilson, tentang bagaimana kaca gedung yang pecah dapat membuahkan tindak kriminal. Sebuah gedung dengan beberapa kaca yang pecah akan mengundang orang untuk memecahkan lebih banyak kaca lagi, lalu merusak pintu, dan akhirnya memaksa masuk ke dalam gedung tersebut. Contoh lain misalnya jalanan dengan sejumlah sampah dan grafiti, yang akan memancing lebih banyak sampah dan grafiti baru, dan seterusnya.
Kriminalitas, menurut teori Broken Windows, berasal dari hal-hal kecil yang sekilas tampak remeh, namun berpotensi besar untuk memutar roda interaksi antara individu dan lingkungan yang akhirnya menghasilkan perbuatan-perbuatan buruk. Roda interaksi ini diminyaki dengan pergeseran norma sosial setempat: Jalanan bersampah, misalnya, mengindikasikan norma lokal yang berbeda dengan jalanan yang bersih. Yang pertama seakan 'mengijinkan' pejalan kaki untuk membuang lebih banyak sampah, sedangkan yang kedua 'melarang'.
Beberapa tahun kemudian, di tahun 1990-an, pejabat publik kota New York melakukan intervensi ala Broken Windows. Mereka memperbaiki gedung-gedung dengan kaca yang pecah, menghapus grafiti-grafiti di terminal subway, dan membersihkan gang-gang jalan yang bersampah. Hasilnya ternyata positif, tingkat kriminalitas didapati menurun drastis. Kebijakan ini lalu diadopsi di banyak kota lainnya, dengan mayoritas hasil yang kurang lebih serupa.
Walaupun demikian, banyak kalangan bersikap skeptis. Satu alasan utama adalah sifat observasi yang selama ini korelasional. Tidak ada data yang menunjukkan tingkat kriminalitas kota New York, maupun kota-kota lainnya, seandainya intervensi tidak dilakukan, sehingga sulit untuk mengisolasi dan memastikan apakah penyebab kriminalitas setempat adalah faktor Broken Windows.
SETELAH dua dekade, akhirnya data yang dinanti tiba. Akhir tahun lalu, psikolog Kess Keizer untuk pertama kalinya menguji teori Broken Windows dengan serangkaian eksperimen terkontrol di kota Groningen.
Dalam salah satu eksperimennya, ia mengamati perilaku para pemarkir sepeda di sebuah gang yang di dindingnya ada tanda larangan grafiti, dengan menempatkan flyer-flyer fiktif pada gagang sepeda-sepeda tersebut. Ketika dinding gang tersebut bersih, hanya 33% dari para pemarkir membuang flyer tersebut secara sembarangan; namun ketika dinding tersebut dikotori grafiti, jumlah tersebut meroket menjadi 69%.
Dalam eksperimen lainnya, ia mendirikan pagar buatan -- yang sedikit terbuka -- di depan sebuah tempat parkir mobil. Ada dua tanda di pagar tersebut: yang pertama melarang sepeda untuk dikaitkan ke pagar, yang kedua melarang orang untuk menerobos masuk. Ketika ada 4 sepeda yang diparkir satu meter jauhnya dari pagar tersebut, 27% orang menerobos; namun ketika sepeda-sepeda tersebut dikunci ke pagar, 82% orang memaksa masuk.
Dalam eksperimen lainnya lagi, ia setengah memasukkan amplop transparan berisi uang 5 Euro ke dalam kotak pos di sebuah jalan, sehingga amplop dan uang tersebut terlihat oleh para pejalan kaki. Ketika kotak pos dan lantai sekitarnya bersih, 13% pejalan kaki mencuri amplop tersebut; namun ketika kotak pos tersebut dikotori grafiti, dan lantai sekitarnya bersampah, jumlah tersebut naik menjadi masing-masing 27% dan 25%.
Secara keseluruhan, sejumlah eksperimen terkontrol ini solid mendukung teori Broken Windows, dimana hal-hal yang sepintas trivial terbukti melahirkan tindak kriminal. Persisnya, dan ini yang penting digarisbawahi, studi Keizer ini menunjukkan bahwa pergeseran norma sosial yang satu ternyata merembet ke norma sosial yang lain. Pelanggaran terhadap norma kebersihan (membuang sampah sembarangan, misalnya), membuka jalan bagi individu untuk melanggar norma hak milik (mencuri uang), dan demikian seterusnya.
TEORI Broken Windows dapat dikontraskan dengan dua teori populer yang sering dirujuk untuk menjelaskan kriminalitas, yang keduanya bersifat individual: teori kepribadian dan teori neoklasik. Teori kepribadian melihat para kriminal sebagai individu-individu yang memiliki tendensi dan disposisi untuk berbuat buruk dan melanggar aturan; teori neoklasik mengatakan bahwa tindak kriminal adalah hasil kalkulasi rasional yang terjadi ketika biaya yang dikeluarkan relatif lebih kecil dibanding keuntungan yang diperoleh. Walaupun menawarkan arah penjelasan yang berbeda, kedua teori ini berfokus pada individu sebagai penyebab utama tindak kriminal, serta cenderung mengabaikan peran lingkungan sekitar dan norma sosial.
Temuan Keizer membantah teori kepribadian karena individu-individu dalam serangkaian eksperimen ini terlibat secara acak di tempat yang persis sama, sehingga memiliki profil demografis yang relatif homogen. Teori neoklasik -- walaupun sekilas bisa menjelaskan temuan Keizer dengan mengasumsikan kalkulasi rasional yang berbeda (misalnya karena ada grafiti atau sampah, maka individu mengasumsikan absennya polisi) -- juga dipertanyakan karena polisi kota Groningen pada umumnya cenderung toleran terhadap sampah dan grafiti.
Tentu ini semua tidak berarti bahwa setiap tindak kriminal dapat dijelaskan oleh pendekatan Broken Windows. Kriminalitas, seperti masalah-masalah sosial lainnya, adalah topik yang sejatinya pelik. Namun studi Keizer, untuk pertama kalinya, membuktikan bahwa interaksi dinamis antara individu, lingkungan, dan norma sosial mampu melahirkan tindak kriminal, dan bahwa intervensi dini terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil akan mencegah terjadinya kriminalitas dalam skala lebih besar.


0 Komentar:
Post a Comment