Oleh Roby
Dalam sistem ekonomi pasar bebas, harga tidak ditentukan oleh sebuah lembaga tapi oleh mekanisme permintaan dan penawaran. Karena itu, misalnya, harga sepatu tidak ditentukan oleh Asosiasi Pengusaha Sepatu. Tapi ada satu harga yang ditentukan oleh sebuah lembaga – yang dikenal sebagai bank sentral – yaitu harga uang itu sendiri (harga likuiditas); bank Sentral mengatur seberapa banyak uang beredar melalui pengaturan suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin mahal harga yang harus dibayar untuk memperoleh uang.
Dalam catatan ini saya tidak bermaksud membahas sejarah dan evolusi bagaimana sebuah lembaga pengontrol harga berada ditengah-tengah sistem ekonomi pasar bebas. Melainkan, saya hanya akan menceritakan sedikit mengenai gaya kepemimpinan seorang pemimpin bank sentral Amerika yang juga dikenal sebagai sang maestro: Alan Greenspan.
Greenspan berpegang pada prinsip bahwa tugas utama bank sentral adalah menjaga inflasi dan tingkat pengangguran. Greenspan juga berpendapat bahwa bank sentral tidak perlu turut campur dalam upaya mencegah menggelembungnya harga suatu aset melebihi nilai fundamentalnya.
Dalam keadaan “normal” (setidaknya “normal” menurut ekonom – ekonom memiliki kecenderungan untuk menganggap hal yang biasa terjadi sebagai “tidak normal” dan hal yang jarang terjadi sebagai “normal”), harga suatu aset (aset ini bisa berupa saham, rumah, surat hutang dll) kurang lebih sesuai dengan nilai ekonomi aset tersebut. Aset berkualitas yang dicari orang cenderung mahal, dan aset tidak berkualitas cenderung murah.
Tetapi, ada saatnya dimana harga aset menjadi sangat sangat mahal melebihi nilai ekonomi aset tersebut. Misalnya, ini terjadi saat akhir tahun 1990an dimana harga saham perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan Internet melonjak tajam meskipun perusahaan tersebut belum pernah untung. Orang membeli saham-saham perusahaan Internet bukan karena perusahaan tersebut produktif, efisien, dan menguntungkan; tetapi karena percaya bahwa akan ada orang lain yang akan membeli saham tersebut dengan harga lebih mahal lagi. Kepercayaan ini menular sehingga makin banyak orang ikut percaya dan membuat harga sahamnya tambah membumbung tinggi.
Terus naiknya harga aset ini membuat orang percaya bahwa harga aset tersebut akan naik selamanya. Tetapi pada saat yang sama, orang mulai sadar bahwa harga aset sudah jauh melampui kewajaran. Akhirnya, harga aset turun drastis; harga turun secepat dia naik.
Ada pendapat bahwa bank sentral sebetulnya mampu mencegah penggelembungan harga aset yang tidak wajar ini. Bank sentral dapat menaikkan suku bunga sehingga orang semakin enggan berspekulasi dengan harga aset (spekulasi besar biasanya memakai uang orang lain alias uang pinjaman).
Greenspan berpendapat bahwa bank sentral tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi kapan harga suatu aset menggelembung melebihi harga wajar. Karena bisa saja harga tinggi karena memang mencerminkan situasi penawaran dan permintaan yang ada. Selain itu, menghentikan penggelembungan harga aset ini memang berisiko tinggi. Jika suku bunga dinaikkan, memang harga aset akan menurun karena uang beredar menjadi berkurang. Tetapi itu juga berarti ribuan perusahaan menjadi bangkrut dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.
Inilah yang disebut oleh ekonom Brad DeLong sebagai Greenspanisme.
Menurut doktrin Greenspanisme, bank sentral itu memiliki kekuatan untuk mengatasi krisis apapun setelah krisis terjadi, bukan sebelum krisis. Lebih baik membiarkan gajah mengamuk dan membereskan puing-puing setelah amukan tersebut daripada menghentikan gajah yang sedang mengamuk.
Sesuai dengan Greenspanisme, Greenspan membiarkan gelembung Internet pada akhir 1990an terjadi dan memang dia berhasil mengatasi krisis akibat pecahnya gelembung tersebut dengan berbagai kebijakan bank sentral. Suku bunga dibiarkan rendah, sehingga meskipun gelembung yang pecah menimbulkan goncangan ekonomi tapi goncangan yang relatif singkat dan ringan. Suku bunga yang rendah membuat orang bergairah melakukan kegiatan ekonomi termasuk mengambil kredit rumah sehingga harga rumah naik.
Greenspanisme inilah yang membiarkan harga rumah di Amerika menggelembung karena begitu mudahnya memperoleh kredit rumah. Seorang babysitter di New York bisa memiliki tiga buah townhouse di Queens yang masih bagian kota New York. Di beberapa tempat di Amerika, orang dapat membeli rumah tanpa membayar uang muka sepeser pun: 100% kredit.
Kehancuran sistem keuangan Amerika dan terjadinya resesi global yang dimulai dari gelembung harga rumah di Amerika membuat orang mencari alternatif dari Greenspanisme ini. Krisis sekarang ini tampaknya akan membuat pusat kontrol harga likuiditas di tengah-tengah pasar bebas semakin membesar saja. Bahkan ada kecenderungan bahwa bank sentral Amerika akan tidak hanya mengkontrol harga likuiditas tapi juga akan mengontrol harga risiko di pasar keuangan. Karena, seperti dibahas di Krismon(3), krisis dimulai dari kegagalan lembaga-lembaga keuangan Amerika mengatur risiko.
Dari sini kita dibawa ke pertanyaan yang memberi saya motivasi awal menulis seri krismon ini: mengapa para profesional yang menggunakan model manajemen risiko yang sudah divalidasi oleh “hadiah nobel” tetap gagal mengatur risiko?
15.12.08
Krismon (3): Dua kaki penopang ekonomi dunia awal abad 21
Oleh Roby
Selama mengikuti kampanye pemilihan presiden Amerika yang akhirnya dimenangkan oleh Barack Obama, ada satu retorika yang diucapkan oleh hampir seluruh calon presiden. Retorika tersebut terkait dengan ekonomi Amerika dan kira-kira bunyinya seperti ini:
“Ekonomi kita sekarang berantakan, kita meminjam uang dari Cina untuk membayar minyak dari negara tak bersahabat seperti Arab Saudi atau Venezuela”.
Ini memang hanya retorika kampanye yang dipakai untuk menyampaikan bahwa betapa pentingnya Amerika untuk swasembada energi; namum retorika ini tidak terlalu tepat. Pada kenyataannya minyak yang diperoleh Amerika kebanyakan di impor dari Canada; bukan dari negara-negara “tak bersahabat” seperti Arab Saudi atau Venezuela.
Meskipun demikian, ini menjadi gambaran bagaimana ekonomi dunia pada awal abad 21 ini bekerja; yang oleh sebagian kalangan disebutkan sebagai sistem “Bretton Woods 2”
Pada dasarnya, ekonomi dunia selama ini ditopang oleh rakyat (baca konsumen) Amerika (lihat Krismon(2)). Merekalah yang membeli barang-barang dari Cina dan India atau minyak yang diproduksi Arab Saudi atau Venezuela. Tetapi – disini triknya – uang yang dipakai rakyat Amerika membeli barang dari Cina atau minyak dari Arab itu berasal dari pinjaman bersubsidi yang diperoleh dari Cina dan negara pengekspor minyak!
Jadi, seperti yang diutarakan ekonom Brad Setser, sistem ekonomi ini berdiri di atas dua kaki.
Kaki pertama adalah pinjaman murah yang diberikan oleh Cina ke pemerintah Amerika melalui pembelian surat utang pemerintah Amerika. Uang yang masuk ke Amerika ini selanjutnya menjadi kaki kedua: institusi keuangan Amerika kembali meminjamkan uang ini ke konsumen Amerika yang selanjutnya dipakai untuk membeli rumah, mobil dll.
Dua kaki ini muncul dengan risikonya masing-masing.
Risiko pertama dipegang oleh rakyat Cina karena mereka meminjamkan uang kepada Amerika dengan bunga rendah meskipun mereka tahu Amerika mengalami defisit besar (akibat biaya perang dan berbagai kebijakan belanja Bush dkk). Bayangkan, apakah anda mau memberikan pinjaman ke seseorang yang anda tahu sangat boros dan punya utang banyak, dengan bunga rendah pula? Sepertinya tidak, tapi itulah yang terjadi antara Cina dan Amerika.
Risiko kedua dipegang oleh bank-bank dan insititusi keuangan lainnya di Amerika karena mereka meminjamkan uang ke rumah-tangga Amerika yang juga terbenam dalam hutang.
Hidup di Amerika memang dikelilingi hutang; dari mulai kartu kredit, kredit rumah, mobil, sekolah dll. Orang Amerika memang boros dan masyarakat konsumtif; lihat gambar dibawah dimana saving rate orang Amerika mendekati 0%.

Tapi anda jangan cepat mencela kebiasaan konsumtif orang Amerika ini; karena bagi anda di Indonesia, semakin boros orang Amerika maka semakin bagus untuk Indonesia karena artinya semakin banyak mereka membeli barang-barang dari Indonesia. Juga ada manfaat tak langsung: semakin banyak orang Amerika berbelanja barang produksi, misalnya, Jepang, maka semakin besar penghasilan orang Jepang yang berarti semakin besar mereka berbelanja produk Indonesia atau semakin banyak turis Jepang ke Indonesia. Jadi jika Indonesia mau kaya, berharaplah orang Amerika (atau negara lain) boros senang berbelanja; atau jika tidak mau bergantung pada negara lain, ya kita sendiri harus menjadi masyarakat konsumtif *.
Tapi sekarang mari kita kembali ke sistem ekonomi dunia yang, seperti telah disebutkan di atas, berdiri diatas dua kaki dengan dua risiko.
Ekonom Amerika, seperti Nouriel Roubini dan Brad DeLong, sudah mewanti-wanti bahwa suatu saat kaki-kaki penopang ekonomi Amerika (dunia) ini bisa runtuh.
Tapi mereka memprediksi bahwa yang akan runtuh terlebih dahulu adalah kaki pertama: negara-negara kaya uang tunai (seperti Cina dan pengekspor minyak) akhirnya berhenti memborong surat hutang Amerika. Akibatnya, agar surat utang Amerika tetap menarik bagi investor, suku bunga Amerika dinaikkan. Tetapi ini berimbas ke suku bunga konsumen sehingga akhirnya konsumen Amerika akan tercekik oleh bunga yang tinggi. Akibatnya mereka mengurangi belanja mereka dan mulai berhemat; yang berarti turunnya ekspor dari negara-negara dunia ke Amerika yang bisa mengakibatkan ribuan buruh di, misalnya, Cina, Meksiko, India dan juga tentunya Indonesia kehilangan pekerjaan. Sehingga terjadilah resesi global.
Meskipun sekarang kita juga sedang menuju ke resesi global, tapi penyebabnya tidak sama dengan yang diprediksi sebelumnya.
Sistem “Bretton Woods 2” ini ternyata runtuh akibat kegagalan kolosal dari lembaga keuangan Amerika untuk mengelola risiko. Yang terlebih dahulu jatuh ternyata kaki kedua: kredit dari institusi keuangan swasta ke konsumen Amerika.
Karena kegagalan ini dimulai dari lembaga keuangan swasta yang merupakan jantung kapitalisme Amerika dan dunia, maka tidak heran banyak orang menganggap ini adalah kelemahan fundamental sistem kapitalisme. Aliran dana yang begitu deras (lihat Krismon (1)) ternyata membuat alokasi modal yang salah di dalam negeri Amerika. Sebagian orang berpendapat bahwa ini merupakan indikasi bahwa pasar tidak selalu mampu mengalokasikan dana secara efisien.
(*) argumen ini bukanlah suatu keniscayaan. Banyak asumsi didalamnya, misal produk Indonesia harus cukup kompetitif, nilai tukar uang yang stabil dll. Saya pakai untuk sekedar ilustrasi bahwa transaksi ekonomi membentuk rantai yang melibatkan banyak pihak dan membuat saling ketergantungan diantara mereka; kemampuan kita untuk menelusuri rantai ini terbatas sehingga kita sering salah mengerti akan implikasi dari sebuah perilaku atau peristiwa. Selain itu, ada yang menganggap teori bahwa ketidak seimbangan perdagangan karena negara-negara selain Amerika terlalu banyak menabung, bukan karena Amerika terlalu boros (teori "saving glut" yang dipopulerkan oleh Bernanke) lebih sebagai ideologi.
Selama mengikuti kampanye pemilihan presiden Amerika yang akhirnya dimenangkan oleh Barack Obama, ada satu retorika yang diucapkan oleh hampir seluruh calon presiden. Retorika tersebut terkait dengan ekonomi Amerika dan kira-kira bunyinya seperti ini:
“Ekonomi kita sekarang berantakan, kita meminjam uang dari Cina untuk membayar minyak dari negara tak bersahabat seperti Arab Saudi atau Venezuela”.
Ini memang hanya retorika kampanye yang dipakai untuk menyampaikan bahwa betapa pentingnya Amerika untuk swasembada energi; namum retorika ini tidak terlalu tepat. Pada kenyataannya minyak yang diperoleh Amerika kebanyakan di impor dari Canada; bukan dari negara-negara “tak bersahabat” seperti Arab Saudi atau Venezuela.
Meskipun demikian, ini menjadi gambaran bagaimana ekonomi dunia pada awal abad 21 ini bekerja; yang oleh sebagian kalangan disebutkan sebagai sistem “Bretton Woods 2”
Pada dasarnya, ekonomi dunia selama ini ditopang oleh rakyat (baca konsumen) Amerika (lihat Krismon(2)). Merekalah yang membeli barang-barang dari Cina dan India atau minyak yang diproduksi Arab Saudi atau Venezuela. Tetapi – disini triknya – uang yang dipakai rakyat Amerika membeli barang dari Cina atau minyak dari Arab itu berasal dari pinjaman bersubsidi yang diperoleh dari Cina dan negara pengekspor minyak!
Jadi, seperti yang diutarakan ekonom Brad Setser, sistem ekonomi ini berdiri di atas dua kaki.
Kaki pertama adalah pinjaman murah yang diberikan oleh Cina ke pemerintah Amerika melalui pembelian surat utang pemerintah Amerika. Uang yang masuk ke Amerika ini selanjutnya menjadi kaki kedua: institusi keuangan Amerika kembali meminjamkan uang ini ke konsumen Amerika yang selanjutnya dipakai untuk membeli rumah, mobil dll.
Dua kaki ini muncul dengan risikonya masing-masing.
Risiko pertama dipegang oleh rakyat Cina karena mereka meminjamkan uang kepada Amerika dengan bunga rendah meskipun mereka tahu Amerika mengalami defisit besar (akibat biaya perang dan berbagai kebijakan belanja Bush dkk). Bayangkan, apakah anda mau memberikan pinjaman ke seseorang yang anda tahu sangat boros dan punya utang banyak, dengan bunga rendah pula? Sepertinya tidak, tapi itulah yang terjadi antara Cina dan Amerika.
Risiko kedua dipegang oleh bank-bank dan insititusi keuangan lainnya di Amerika karena mereka meminjamkan uang ke rumah-tangga Amerika yang juga terbenam dalam hutang.
Hidup di Amerika memang dikelilingi hutang; dari mulai kartu kredit, kredit rumah, mobil, sekolah dll. Orang Amerika memang boros dan masyarakat konsumtif; lihat gambar dibawah dimana saving rate orang Amerika mendekati 0%.

Tapi anda jangan cepat mencela kebiasaan konsumtif orang Amerika ini; karena bagi anda di Indonesia, semakin boros orang Amerika maka semakin bagus untuk Indonesia karena artinya semakin banyak mereka membeli barang-barang dari Indonesia. Juga ada manfaat tak langsung: semakin banyak orang Amerika berbelanja barang produksi, misalnya, Jepang, maka semakin besar penghasilan orang Jepang yang berarti semakin besar mereka berbelanja produk Indonesia atau semakin banyak turis Jepang ke Indonesia. Jadi jika Indonesia mau kaya, berharaplah orang Amerika (atau negara lain) boros senang berbelanja; atau jika tidak mau bergantung pada negara lain, ya kita sendiri harus menjadi masyarakat konsumtif *.
Tapi sekarang mari kita kembali ke sistem ekonomi dunia yang, seperti telah disebutkan di atas, berdiri diatas dua kaki dengan dua risiko.
Ekonom Amerika, seperti Nouriel Roubini dan Brad DeLong, sudah mewanti-wanti bahwa suatu saat kaki-kaki penopang ekonomi Amerika (dunia) ini bisa runtuh.
Tapi mereka memprediksi bahwa yang akan runtuh terlebih dahulu adalah kaki pertama: negara-negara kaya uang tunai (seperti Cina dan pengekspor minyak) akhirnya berhenti memborong surat hutang Amerika. Akibatnya, agar surat utang Amerika tetap menarik bagi investor, suku bunga Amerika dinaikkan. Tetapi ini berimbas ke suku bunga konsumen sehingga akhirnya konsumen Amerika akan tercekik oleh bunga yang tinggi. Akibatnya mereka mengurangi belanja mereka dan mulai berhemat; yang berarti turunnya ekspor dari negara-negara dunia ke Amerika yang bisa mengakibatkan ribuan buruh di, misalnya, Cina, Meksiko, India dan juga tentunya Indonesia kehilangan pekerjaan. Sehingga terjadilah resesi global.
Meskipun sekarang kita juga sedang menuju ke resesi global, tapi penyebabnya tidak sama dengan yang diprediksi sebelumnya.
Sistem “Bretton Woods 2” ini ternyata runtuh akibat kegagalan kolosal dari lembaga keuangan Amerika untuk mengelola risiko. Yang terlebih dahulu jatuh ternyata kaki kedua: kredit dari institusi keuangan swasta ke konsumen Amerika.
Karena kegagalan ini dimulai dari lembaga keuangan swasta yang merupakan jantung kapitalisme Amerika dan dunia, maka tidak heran banyak orang menganggap ini adalah kelemahan fundamental sistem kapitalisme. Aliran dana yang begitu deras (lihat Krismon (1)) ternyata membuat alokasi modal yang salah di dalam negeri Amerika. Sebagian orang berpendapat bahwa ini merupakan indikasi bahwa pasar tidak selalu mampu mengalokasikan dana secara efisien.
(*) argumen ini bukanlah suatu keniscayaan. Banyak asumsi didalamnya, misal produk Indonesia harus cukup kompetitif, nilai tukar uang yang stabil dll. Saya pakai untuk sekedar ilustrasi bahwa transaksi ekonomi membentuk rantai yang melibatkan banyak pihak dan membuat saling ketergantungan diantara mereka; kemampuan kita untuk menelusuri rantai ini terbatas sehingga kita sering salah mengerti akan implikasi dari sebuah perilaku atau peristiwa. Selain itu, ada yang menganggap teori bahwa ketidak seimbangan perdagangan karena negara-negara selain Amerika terlalu banyak menabung, bukan karena Amerika terlalu boros (teori "saving glut" yang dipopulerkan oleh Bernanke) lebih sebagai ideologi.
Krismon (2): Dari emas ke Dollar: stabil yang tidak seimbang
Oleh Roby
Sebelum meneruskan diskusi kita, saya ingin menjelaskan dahulu pendekatan yang saya pakai. Saya melihat ada dua topik besar: (1) sistem ekonomi dunia dan (2) sistem keuangan di Amerika. Di artikel sebelumnya, saya memulai seri Krismon ini dengan membahasnya dari perspektif perekenomian dunia. Saya merasa sebelum kita masuk ke detail bagaimana, misalnya, keserakahan di Wall Street, inovasi instrumen finansial, hipotek subprime membantu terjadinya krisis, kita perlu memiliki gambaran mengenai konteks dimana semua ini terjadi. Konteks ini adalah sistem ekonomi dunia.
Sekarang mari kita telusuri bagaimana sistem ekonomi dunia ini terbentuk seperti sekarang ini.
Dimulai dari perjanjian Bretton Woods setelah Perang Dunia 2 yang efeknya masih terasa hingga sekarang; salah satu hasil perjanjian tersebut adalah dibentuknya lembaga internasional untuk mengurusi ekonomi dunia: IMF dan Bank Dunia.
Untuk diskusi kita sekarang, hasil yang menjadi fokus adalah tercapainya perjanjian untuk menggunakan emas sebagai standar global nilai mata uang.
Saat itu keadaan ekonomi negara-negara dunia – kecuali Amerika- hancur karena perang. Karenanya mereka bergantung pada pinjaman yang diberikan oleh Amerika. Pinjaman ini diberikan dalam bentuk Dollar Amerika. Sebagai jaminan, Amerika menerima emas yang dimiliki negara-negara ini. Akibatnya, Amerika praktis menguasai seluruh emas di dunia dan jadinya hanya Dollar Amerika yang nilainya disokong oleh emas.
Ini berarti, secara praktis, Dollar telah menggantikan emas sebagai sumber likuiditas perekonomian dunia dan menjadi basis sistem keuangan dunia. Implikasinya, setiap negara membangun cadangan devisa dalam bentuk Dollar Amerika; cadangan Dollar diperlukan agar mata uang negara yang bersangkutan dapat ditukarkan dengan Dollar atau emas.
Selain bergantung pada pinjaman Dollar Amerika, negara-negara dunia juga bergantung pada import dari Amerika. Karena hanya pabrik-pabrik di Amerika yang masih beroperasi secara penuh; pabrik di negara lain hancur karena perang. Sehingga, Dollar pinjaman itu dipakai untuk membeli barang dari Amerika, dan kembali masuk ke Amerika. Konsekuensinya, pada saat itu sulit untuk memperoleh Dollar dan emas di luar Amerika.
Dengan lain kata lain, ketika neraca perdagangan Amerika mengalami surplus maka sulit mendapatkan Dollar di luar Amerika yang mengakibatkan negara lain sulit menjaga cadangan devisa Dollar sehingga nilai tukar mata uang tidak stabil yang akhirnya menghambat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Singkatnya, jika neraca Amerika mengalami surplus, maka negara lain kesulitan mendapatkan Dollar yang akhirnya menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Sehingga, suksesnya sistem ekonomi internasional saat itu tergantung pada jumlah cadangan devisa dalam Dollar yang dimiliki negara-negara selain Amerika; keadaan ini hanya bisa dicapai jika Amerika mengalami neraca defisit.
Diluar perkiraan, keadaan neraca surplus di Amerika ternyata tidak bertahan selamanya. Amerika mulai mengalami defisit sehingga Dollar mulai mengalir keluar. Ekonomi dunia membaik, tapi muncul masalah baru: nilai Dollar yang berada di luar Amerika lebih besar daripada nilai cadangan emas Amerika (dihitung berdasar nilai yang ditetapkan di perjanjian Bretton Woods).
Setelah melalui lika-liku berbagai kebijakan ekonomi, akhirnya Amerika melakukan deregulasi dengan menghentikan penukaran Dollar ke emas dan membuat nilai tukar mata uang yang fleksibel(*).
Tetapi, seperti dikatakan ekonom Jan Kregel, deregulasi dan nilai tukar yang fleksibel tidak menghilangkan masalah secara keseluruhan; karena solusi yang diambil tidak menyelesaikan masalah utama. Seperti telah disebutkan oleh ekonom Robert Triffin pada tahun 1960an, masalah utama ini adalah dipakainya mata uang nasional sebuah negara sebagai alat pembayaran dan sumber likuiditas global. Sebagai mata uang global, ia harus mengikuti kebutuhan ekonomi dunia. Tetapi sebagai mata uang nasional, supply internasional mata uang tersebut ditentukan oleh kondisi domestik negara tersebut. Karena tidak mungkin untuk suatu negara membuat kebijakan ekonomi domestik yang ditentukan oleh kebutuhan internasional, maka mata uang tersebut menjadi tidak stabil.
Dari uraian di atas, saya mengambil dua pelajaran. Pertama adalah adanya kecenderungan kebijakan ekonomi negara miskin “terpaksa” mengikuti kebijakan negara kaya. Untuk menjadi kaya, negara miskin perlu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi negara kaya; tetapi negara kaya cenderung lebih konservatif dan berhati-hati dalam hal pertumbuhan ekonomi karena bagi mereka lebih penting mempertahankan kekayaan, bukan menjadi lebih kaya.
Misalnya, ketika ada krisis, IMF cenderung memberikan solusi dengan menekan pertumbuhan ekonomi negara miskin yang terkena krisis. Padahal masalah negara miskin tersebut bisa jadi disebabkan pertumbuhan ekonomi yang kurang akibat ekspor menurun (karena negara kaya mengencangkan ikat pinggang).
Kedua, stabilitas ekonomi dunia tergantung pada ketidak seimbangan perdagangan dunia. Ekonomi dunia bergantung pada neraca negara kaya (Amerika); semakin banyak rakyat Amerika berbelanja, maka semakin baik untuk ekonomi dunia. Defisit Amerika adalah surplus negara lain.
Manajer investasi Mohammed El-Erian yang mengelola dana hampir $700 milliar membuat analogi bahwa jika ekonomi dunia diibaratkan sebagai pesawat terbang, maka selama ini pesawat terbang tersebut terbang dengan satu mesin yaitu rakyat (konsumen) Amerika. Sekarang, mulai ada mesin-mesin kecil lain (Cina, India, Brasil misalnya). Menurut El-Erian, ekonomi dunia sedang mengalami transisi dari biasa terbang dengan satu mesin ke terbang dengan mesin-mesin tambahan yang lebih kecil. Mudah-mudahan saja transisi ini berjalan mulus, tanpa harus ada pendaratan darurat.
Selanjutnya saya akan membahas bagaimana sistem ekonomi abad 21 juga didasarkan pada ketidak seimbangan. Terutama antara mesin raksasa yang selama ini dominan, Amerika, dengan mesin yang dahulunya terlalu kecil untuk berpengaruh tapi sekarang menjadi harapan dunia, Cina.
(*) Selain deregulasi, menurut Kregel, ada dua alternatif yang tidak dipilih Amerika: membentuk mata uang global dengan bank sentral global (yang menurut beberapa ekonom hanya mungkin jika ada pemerintahan global), atau menarik Dollar masuk Amerika dan membiarkan dunia mengalamai resesi.
Sebelum meneruskan diskusi kita, saya ingin menjelaskan dahulu pendekatan yang saya pakai. Saya melihat ada dua topik besar: (1) sistem ekonomi dunia dan (2) sistem keuangan di Amerika. Di artikel sebelumnya, saya memulai seri Krismon ini dengan membahasnya dari perspektif perekenomian dunia. Saya merasa sebelum kita masuk ke detail bagaimana, misalnya, keserakahan di Wall Street, inovasi instrumen finansial, hipotek subprime membantu terjadinya krisis, kita perlu memiliki gambaran mengenai konteks dimana semua ini terjadi. Konteks ini adalah sistem ekonomi dunia.
Sekarang mari kita telusuri bagaimana sistem ekonomi dunia ini terbentuk seperti sekarang ini.
Dimulai dari perjanjian Bretton Woods setelah Perang Dunia 2 yang efeknya masih terasa hingga sekarang; salah satu hasil perjanjian tersebut adalah dibentuknya lembaga internasional untuk mengurusi ekonomi dunia: IMF dan Bank Dunia.
Untuk diskusi kita sekarang, hasil yang menjadi fokus adalah tercapainya perjanjian untuk menggunakan emas sebagai standar global nilai mata uang.
Saat itu keadaan ekonomi negara-negara dunia – kecuali Amerika- hancur karena perang. Karenanya mereka bergantung pada pinjaman yang diberikan oleh Amerika. Pinjaman ini diberikan dalam bentuk Dollar Amerika. Sebagai jaminan, Amerika menerima emas yang dimiliki negara-negara ini. Akibatnya, Amerika praktis menguasai seluruh emas di dunia dan jadinya hanya Dollar Amerika yang nilainya disokong oleh emas.
Ini berarti, secara praktis, Dollar telah menggantikan emas sebagai sumber likuiditas perekonomian dunia dan menjadi basis sistem keuangan dunia. Implikasinya, setiap negara membangun cadangan devisa dalam bentuk Dollar Amerika; cadangan Dollar diperlukan agar mata uang negara yang bersangkutan dapat ditukarkan dengan Dollar atau emas.
Selain bergantung pada pinjaman Dollar Amerika, negara-negara dunia juga bergantung pada import dari Amerika. Karena hanya pabrik-pabrik di Amerika yang masih beroperasi secara penuh; pabrik di negara lain hancur karena perang. Sehingga, Dollar pinjaman itu dipakai untuk membeli barang dari Amerika, dan kembali masuk ke Amerika. Konsekuensinya, pada saat itu sulit untuk memperoleh Dollar dan emas di luar Amerika.
Dengan lain kata lain, ketika neraca perdagangan Amerika mengalami surplus maka sulit mendapatkan Dollar di luar Amerika yang mengakibatkan negara lain sulit menjaga cadangan devisa Dollar sehingga nilai tukar mata uang tidak stabil yang akhirnya menghambat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Singkatnya, jika neraca Amerika mengalami surplus, maka negara lain kesulitan mendapatkan Dollar yang akhirnya menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Sehingga, suksesnya sistem ekonomi internasional saat itu tergantung pada jumlah cadangan devisa dalam Dollar yang dimiliki negara-negara selain Amerika; keadaan ini hanya bisa dicapai jika Amerika mengalami neraca defisit.
Diluar perkiraan, keadaan neraca surplus di Amerika ternyata tidak bertahan selamanya. Amerika mulai mengalami defisit sehingga Dollar mulai mengalir keluar. Ekonomi dunia membaik, tapi muncul masalah baru: nilai Dollar yang berada di luar Amerika lebih besar daripada nilai cadangan emas Amerika (dihitung berdasar nilai yang ditetapkan di perjanjian Bretton Woods).
Setelah melalui lika-liku berbagai kebijakan ekonomi, akhirnya Amerika melakukan deregulasi dengan menghentikan penukaran Dollar ke emas dan membuat nilai tukar mata uang yang fleksibel(*).
Tetapi, seperti dikatakan ekonom Jan Kregel, deregulasi dan nilai tukar yang fleksibel tidak menghilangkan masalah secara keseluruhan; karena solusi yang diambil tidak menyelesaikan masalah utama. Seperti telah disebutkan oleh ekonom Robert Triffin pada tahun 1960an, masalah utama ini adalah dipakainya mata uang nasional sebuah negara sebagai alat pembayaran dan sumber likuiditas global. Sebagai mata uang global, ia harus mengikuti kebutuhan ekonomi dunia. Tetapi sebagai mata uang nasional, supply internasional mata uang tersebut ditentukan oleh kondisi domestik negara tersebut. Karena tidak mungkin untuk suatu negara membuat kebijakan ekonomi domestik yang ditentukan oleh kebutuhan internasional, maka mata uang tersebut menjadi tidak stabil.
Dari uraian di atas, saya mengambil dua pelajaran. Pertama adalah adanya kecenderungan kebijakan ekonomi negara miskin “terpaksa” mengikuti kebijakan negara kaya. Untuk menjadi kaya, negara miskin perlu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi negara kaya; tetapi negara kaya cenderung lebih konservatif dan berhati-hati dalam hal pertumbuhan ekonomi karena bagi mereka lebih penting mempertahankan kekayaan, bukan menjadi lebih kaya.
Misalnya, ketika ada krisis, IMF cenderung memberikan solusi dengan menekan pertumbuhan ekonomi negara miskin yang terkena krisis. Padahal masalah negara miskin tersebut bisa jadi disebabkan pertumbuhan ekonomi yang kurang akibat ekspor menurun (karena negara kaya mengencangkan ikat pinggang).
Kedua, stabilitas ekonomi dunia tergantung pada ketidak seimbangan perdagangan dunia. Ekonomi dunia bergantung pada neraca negara kaya (Amerika); semakin banyak rakyat Amerika berbelanja, maka semakin baik untuk ekonomi dunia. Defisit Amerika adalah surplus negara lain.
Manajer investasi Mohammed El-Erian yang mengelola dana hampir $700 milliar membuat analogi bahwa jika ekonomi dunia diibaratkan sebagai pesawat terbang, maka selama ini pesawat terbang tersebut terbang dengan satu mesin yaitu rakyat (konsumen) Amerika. Sekarang, mulai ada mesin-mesin kecil lain (Cina, India, Brasil misalnya). Menurut El-Erian, ekonomi dunia sedang mengalami transisi dari biasa terbang dengan satu mesin ke terbang dengan mesin-mesin tambahan yang lebih kecil. Mudah-mudahan saja transisi ini berjalan mulus, tanpa harus ada pendaratan darurat.
Selanjutnya saya akan membahas bagaimana sistem ekonomi abad 21 juga didasarkan pada ketidak seimbangan. Terutama antara mesin raksasa yang selama ini dominan, Amerika, dengan mesin yang dahulunya terlalu kecil untuk berpengaruh tapi sekarang menjadi harapan dunia, Cina.
(*) Selain deregulasi, menurut Kregel, ada dua alternatif yang tidak dipilih Amerika: membentuk mata uang global dengan bank sentral global (yang menurut beberapa ekonom hanya mungkin jika ada pemerintahan global), atau menarik Dollar masuk Amerika dan membiarkan dunia mengalamai resesi.
Krismon (1): Pengantar & Greenspan conundrum dan ekonomi dunia
Oleh Roby
Pengantar Seri Krismon
Mengalami berada di pusat krisis ekonomi besar selama dua kali memberi pengaruh cukup dalam bagi saya. Pertama tahun 1997, kita di Indonesia merasakan sendiri bagaimana kita “dipaksa” menjadi miskin yang akhirnya membawa perubahan politik bersejarah dengan jatuhnya Suharto. Sekarang di New York, kembali saya menyaksikan pemaksaan untuk menjadi miskin akibat krisis ekonomi yang begitu dalam. Pada saat yang sama, kita juga menyaksikan bagaimana uang negara dipakai untuk menyelamatkan para pengusaha, di Indonesia melalui BLBI dan sekarang dengan skema bailout di Amerika. Meskipun rasa marah, kesal, dan “takjub” tetap ada, saya pikir krisis ini juga menjadi kesempatan untuk belajar. Belajar agar kita sedikit melek dunia pasar modal dunia yang begitu rumit dan sudah terbukti berpengaruh besar pada hidup kita.
Disela-sela menulis disertasi, saya ingin berbagi proses belajar saya ini. Sengaja saya menulis dalam bahasa Indonesia dengan harapan agar lebih mudah diakses oleh orang Indonesia. Saya bergabung dengan kelompok studi yang mempelajari organisasi pasar modal di Amerika dan dunia di Universitas Columbia tempat saya sekarang berada. Tulisan-tulisan saya ini berasal dari bacaan di kelompok tersebut dan diskusi yang muncul didalamnya dan juga refleksi pribadi. Saya bukan ekonom jadi saya tidak menulis dari kacamata ahli; tetapi lebih sekedar pikiran dari seorang warga negara terpelajar.
Sebagai tulisan pertama, saya bahas anomali dalam pasar uang Amerika dan ekonomi dunia.
Krismon (1): Greenspan conundrum dan ekonomi dunia.
Krisis keuangan yang sekarang melanda dunia termasuk krisis besar yang terjadi sekali dalam setiap abad. Salah satu pertanyaan wajar adalah apakah krisis yang begitu besar ini datang dengan tiba-tiba tanpa tanda-tanda? Sebetulnya tanda-tanda telah muncul jauh hari, tapi tentu pada saat itu sulit untuk mengerti arti tanda-tanda tersebut. Bagi kita sekarang mungkin tandanya tampak jelas tapi itu karena peristiwanya sudah terjadi; jauh lebih mudah memprediksi terjadinya sebuah peristiwa jika peristiwanya sudah terjadi.
Salah satu tanda yang muncul adalah adanya anomali dalam perilaku suku bunga di Amerika atau yang biasa dikenal sebagai fed rate. Pada tahun 2005 kepala bank sentral Amerika saat itu Alan Greenspan menyebutnya sebagai sebuah conundrum (teka-teki rumit). Teka-tekinya begini:
Suku bunga jangka panjang cenderung menurun meskipun suku bunga jangka pendek sudah dinaikkan oleh bank sentral Amerika.
Sepanjang sejarah, jika bank sentral Amerika menaikkan suku bunga jangka pendek, maka suku bunga jangka panjang ikut naik juga. Tapi pada saat itu hal ini tidak terjadi. Secara logika ini juga aneh karena artinya investor diberi penalti jika dia melakukan investasi jangka panjang; ingat suku bunga jangka panjang lebih rendah daripada jangka pendek maka semakin lama investor menginvestasikan uangnya, semakin kecil bunga yang diperoleh. Semakin panjang jangka waktu sebuah investasi, semakin besar risikonya sehingga investor yang mau berinvestasi jangka panjang seharusnya diberi reward (dalam bentuk bunga lebih tinggi) bukan penalti.
Banyak penjelasan diajukan untuk menjawab teka-teki ini, salah satunya berhubungan dengan adanya aliran modal yang aneh di pasar modal dunia. Cerita singkatnya begini. Ada negara-negara yang asalnya miskin menjadi kaya karena satu atau lain hal (misal Cina, India, Brasil, Singapura, atau Uni Emirat Arab). Negara kaya baru ini berlimpah uang, tapi karena mereka ini baru saja menjadi kaya maka mereka belum terbiasa atau tahu cara untuk membelanjakan atau menginvestasikan uang secara optimal bagi masing-masing negara. Pilihan paling aman dan mudah bagi mereka adalah menginvestasikan ke surat berharga pemerintah Amerika. Perlu dicatat bahwa surat berharga pemerintah Amerika bukanlah kendaraan investasi paling menguntungkan tapi memang relatif aman dan sangat likuid. Jadi motivasi investasi mereka ini bukan untuk mencari untung semata tapi lebih untuk memparkir uang di tempat yang aman.
Mengalir derasnya investor membeli obligasi pemerintah Amerika membuat harga obligasi tersebut menjadi naik. Kita tahu, jika harga sebuah obligasi naik maka yield obligasi tersebut turun; sederhananya return berupa suku bunga yang diperoleh menjadi rendah*).
Seperti sudah disebutkan di atas, ada penjelasan lain untuk anomali dalam perilaku suku bunga Amerika ini. Tapi untuk kepentingan tulisan ini, hal yang penting dicatat adalah sbb:
Terjadi anomali dalam pasar suku bunga Amerika dimana suku bunga jangka panjang menurun meskipun suku bunga jangka pendek dinaikkan. Anomali suku bunga ini berhubungan dengan anomali dalam aliran arus modal di dunia: uang mengalir dari negara miskin ke negara kaya, padahal biasanya – dan menurut buku teks ekonomi – uang selalu mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Dengan kata lain, dalam ekonomi dunia sekarang, bukan si miskin meminjam uang dari si kaya, tetapi si kaya meminjam uang dari si miskin!
Meskipun belum jelas hubungan antara anomali ini dengan krisis sekarang, tapi ini memberikan gambaran bagaimana ekonomi dunia di awal abad 21 ini mengalami transformasi fundamental. Sebagaimana biasanya perubahan besar sering diiringi oleh shock terhadap sistem. Untuk mengerti bahwa perubahan yang terjadi ini memang fundamental, maka kita perlu kenal keadaan sistem sebelumnya. Ini adalah topik selanjutnya dari seri Krismon dimana saya akan mengupas perjanjian Bretton Woods, emas, Dollar dan paradoks Triffin.
*) hubungan yield dan harga obligasi ini dapat dipelajari di buku teks standar keuangan. Intinya, semakin mahal harga obligasi maka semakin rendah yield atau return dari investasi obligasi tersebut.
Pengantar Seri Krismon
Mengalami berada di pusat krisis ekonomi besar selama dua kali memberi pengaruh cukup dalam bagi saya. Pertama tahun 1997, kita di Indonesia merasakan sendiri bagaimana kita “dipaksa” menjadi miskin yang akhirnya membawa perubahan politik bersejarah dengan jatuhnya Suharto. Sekarang di New York, kembali saya menyaksikan pemaksaan untuk menjadi miskin akibat krisis ekonomi yang begitu dalam. Pada saat yang sama, kita juga menyaksikan bagaimana uang negara dipakai untuk menyelamatkan para pengusaha, di Indonesia melalui BLBI dan sekarang dengan skema bailout di Amerika. Meskipun rasa marah, kesal, dan “takjub” tetap ada, saya pikir krisis ini juga menjadi kesempatan untuk belajar. Belajar agar kita sedikit melek dunia pasar modal dunia yang begitu rumit dan sudah terbukti berpengaruh besar pada hidup kita.
Disela-sela menulis disertasi, saya ingin berbagi proses belajar saya ini. Sengaja saya menulis dalam bahasa Indonesia dengan harapan agar lebih mudah diakses oleh orang Indonesia. Saya bergabung dengan kelompok studi yang mempelajari organisasi pasar modal di Amerika dan dunia di Universitas Columbia tempat saya sekarang berada. Tulisan-tulisan saya ini berasal dari bacaan di kelompok tersebut dan diskusi yang muncul didalamnya dan juga refleksi pribadi. Saya bukan ekonom jadi saya tidak menulis dari kacamata ahli; tetapi lebih sekedar pikiran dari seorang warga negara terpelajar.
Sebagai tulisan pertama, saya bahas anomali dalam pasar uang Amerika dan ekonomi dunia.
Krismon (1): Greenspan conundrum dan ekonomi dunia.
Krisis keuangan yang sekarang melanda dunia termasuk krisis besar yang terjadi sekali dalam setiap abad. Salah satu pertanyaan wajar adalah apakah krisis yang begitu besar ini datang dengan tiba-tiba tanpa tanda-tanda? Sebetulnya tanda-tanda telah muncul jauh hari, tapi tentu pada saat itu sulit untuk mengerti arti tanda-tanda tersebut. Bagi kita sekarang mungkin tandanya tampak jelas tapi itu karena peristiwanya sudah terjadi; jauh lebih mudah memprediksi terjadinya sebuah peristiwa jika peristiwanya sudah terjadi.
Salah satu tanda yang muncul adalah adanya anomali dalam perilaku suku bunga di Amerika atau yang biasa dikenal sebagai fed rate. Pada tahun 2005 kepala bank sentral Amerika saat itu Alan Greenspan menyebutnya sebagai sebuah conundrum (teka-teki rumit). Teka-tekinya begini:
Suku bunga jangka panjang cenderung menurun meskipun suku bunga jangka pendek sudah dinaikkan oleh bank sentral Amerika.
Sepanjang sejarah, jika bank sentral Amerika menaikkan suku bunga jangka pendek, maka suku bunga jangka panjang ikut naik juga. Tapi pada saat itu hal ini tidak terjadi. Secara logika ini juga aneh karena artinya investor diberi penalti jika dia melakukan investasi jangka panjang; ingat suku bunga jangka panjang lebih rendah daripada jangka pendek maka semakin lama investor menginvestasikan uangnya, semakin kecil bunga yang diperoleh. Semakin panjang jangka waktu sebuah investasi, semakin besar risikonya sehingga investor yang mau berinvestasi jangka panjang seharusnya diberi reward (dalam bentuk bunga lebih tinggi) bukan penalti.
Banyak penjelasan diajukan untuk menjawab teka-teki ini, salah satunya berhubungan dengan adanya aliran modal yang aneh di pasar modal dunia. Cerita singkatnya begini. Ada negara-negara yang asalnya miskin menjadi kaya karena satu atau lain hal (misal Cina, India, Brasil, Singapura, atau Uni Emirat Arab). Negara kaya baru ini berlimpah uang, tapi karena mereka ini baru saja menjadi kaya maka mereka belum terbiasa atau tahu cara untuk membelanjakan atau menginvestasikan uang secara optimal bagi masing-masing negara. Pilihan paling aman dan mudah bagi mereka adalah menginvestasikan ke surat berharga pemerintah Amerika. Perlu dicatat bahwa surat berharga pemerintah Amerika bukanlah kendaraan investasi paling menguntungkan tapi memang relatif aman dan sangat likuid. Jadi motivasi investasi mereka ini bukan untuk mencari untung semata tapi lebih untuk memparkir uang di tempat yang aman.
Mengalir derasnya investor membeli obligasi pemerintah Amerika membuat harga obligasi tersebut menjadi naik. Kita tahu, jika harga sebuah obligasi naik maka yield obligasi tersebut turun; sederhananya return berupa suku bunga yang diperoleh menjadi rendah*).
Seperti sudah disebutkan di atas, ada penjelasan lain untuk anomali dalam perilaku suku bunga Amerika ini. Tapi untuk kepentingan tulisan ini, hal yang penting dicatat adalah sbb:
Terjadi anomali dalam pasar suku bunga Amerika dimana suku bunga jangka panjang menurun meskipun suku bunga jangka pendek dinaikkan. Anomali suku bunga ini berhubungan dengan anomali dalam aliran arus modal di dunia: uang mengalir dari negara miskin ke negara kaya, padahal biasanya – dan menurut buku teks ekonomi – uang selalu mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Dengan kata lain, dalam ekonomi dunia sekarang, bukan si miskin meminjam uang dari si kaya, tetapi si kaya meminjam uang dari si miskin!
Meskipun belum jelas hubungan antara anomali ini dengan krisis sekarang, tapi ini memberikan gambaran bagaimana ekonomi dunia di awal abad 21 ini mengalami transformasi fundamental. Sebagaimana biasanya perubahan besar sering diiringi oleh shock terhadap sistem. Untuk mengerti bahwa perubahan yang terjadi ini memang fundamental, maka kita perlu kenal keadaan sistem sebelumnya. Ini adalah topik selanjutnya dari seri Krismon dimana saya akan mengupas perjanjian Bretton Woods, emas, Dollar dan paradoks Triffin.
*) hubungan yield dan harga obligasi ini dapat dipelajari di buku teks standar keuangan. Intinya, semakin mahal harga obligasi maka semakin rendah yield atau return dari investasi obligasi tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)

