15.12.08

Krismon (4): Bank sentral dan Greenspanisme

Oleh Roby

Dalam sistem ekonomi pasar bebas, harga tidak ditentukan oleh sebuah lembaga tapi oleh mekanisme permintaan dan penawaran. Karena itu, misalnya, harga sepatu tidak ditentukan oleh Asosiasi Pengusaha Sepatu. Tapi ada satu harga yang ditentukan oleh sebuah lembaga – yang dikenal sebagai bank sentral – yaitu harga uang itu sendiri (harga likuiditas); bank Sentral mengatur seberapa banyak uang beredar melalui pengaturan suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin mahal harga yang harus dibayar untuk memperoleh uang.

Dalam catatan ini saya tidak bermaksud membahas sejarah dan evolusi bagaimana sebuah lembaga pengontrol harga berada ditengah-tengah sistem ekonomi pasar bebas. Melainkan, saya hanya akan menceritakan sedikit mengenai gaya kepemimpinan seorang pemimpin bank sentral Amerika yang juga dikenal sebagai sang maestro: Alan Greenspan.

Greenspan berpegang pada prinsip bahwa tugas utama bank sentral adalah menjaga inflasi dan tingkat pengangguran. Greenspan juga berpendapat bahwa bank sentral tidak perlu turut campur dalam upaya mencegah menggelembungnya harga suatu aset melebihi nilai fundamentalnya.

Dalam keadaan “normal” (setidaknya “normal” menurut ekonom – ekonom memiliki kecenderungan untuk menganggap hal yang biasa terjadi sebagai “tidak normal” dan hal yang jarang terjadi sebagai “normal”), harga suatu aset (aset ini bisa berupa saham, rumah, surat hutang dll) kurang lebih sesuai dengan nilai ekonomi aset tersebut. Aset berkualitas yang dicari orang cenderung mahal, dan aset tidak berkualitas cenderung murah.

Tetapi, ada saatnya dimana harga aset menjadi sangat sangat mahal melebihi nilai ekonomi aset tersebut. Misalnya, ini terjadi saat akhir tahun 1990an dimana harga saham perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan Internet melonjak tajam meskipun perusahaan tersebut belum pernah untung. Orang membeli saham-saham perusahaan Internet bukan karena perusahaan tersebut produktif, efisien, dan menguntungkan; tetapi karena percaya bahwa akan ada orang lain yang akan membeli saham tersebut dengan harga lebih mahal lagi. Kepercayaan ini menular sehingga makin banyak orang ikut percaya dan membuat harga sahamnya tambah membumbung tinggi.

Terus naiknya harga aset ini membuat orang percaya bahwa harga aset tersebut akan naik selamanya. Tetapi pada saat yang sama, orang mulai sadar bahwa harga aset sudah jauh melampui kewajaran. Akhirnya, harga aset turun drastis; harga turun secepat dia naik.

Ada pendapat bahwa bank sentral sebetulnya mampu mencegah penggelembungan harga aset yang tidak wajar ini. Bank sentral dapat menaikkan suku bunga sehingga orang semakin enggan berspekulasi dengan harga aset (spekulasi besar biasanya memakai uang orang lain alias uang pinjaman).

Greenspan berpendapat bahwa bank sentral tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi kapan harga suatu aset menggelembung melebihi harga wajar. Karena bisa saja harga tinggi karena memang mencerminkan situasi penawaran dan permintaan yang ada. Selain itu, menghentikan penggelembungan harga aset ini memang berisiko tinggi. Jika suku bunga dinaikkan, memang harga aset akan menurun karena uang beredar menjadi berkurang. Tetapi itu juga berarti ribuan perusahaan menjadi bangkrut dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Inilah yang disebut oleh ekonom Brad DeLong sebagai Greenspanisme.

Menurut doktrin Greenspanisme, bank sentral itu memiliki kekuatan untuk mengatasi krisis apapun setelah krisis terjadi, bukan sebelum krisis. Lebih baik membiarkan gajah mengamuk dan membereskan puing-puing setelah amukan tersebut daripada menghentikan gajah yang sedang mengamuk.

Sesuai dengan Greenspanisme, Greenspan membiarkan gelembung Internet pada akhir 1990an terjadi dan memang dia berhasil mengatasi krisis akibat pecahnya gelembung tersebut dengan berbagai kebijakan bank sentral. Suku bunga dibiarkan rendah, sehingga meskipun gelembung yang pecah menimbulkan goncangan ekonomi tapi goncangan yang relatif singkat dan ringan. Suku bunga yang rendah membuat orang bergairah melakukan kegiatan ekonomi termasuk mengambil kredit rumah sehingga harga rumah naik.

Greenspanisme inilah yang membiarkan harga rumah di Amerika menggelembung karena begitu mudahnya memperoleh kredit rumah. Seorang babysitter di New York bisa memiliki tiga buah townhouse di Queens yang masih bagian kota New York. Di beberapa tempat di Amerika, orang dapat membeli rumah tanpa membayar uang muka sepeser pun: 100% kredit.

Kehancuran sistem keuangan Amerika dan terjadinya resesi global yang dimulai dari gelembung harga rumah di Amerika membuat orang mencari alternatif dari Greenspanisme ini. Krisis sekarang ini tampaknya akan membuat pusat kontrol harga likuiditas di tengah-tengah pasar bebas semakin membesar saja. Bahkan ada kecenderungan bahwa bank sentral Amerika akan tidak hanya mengkontrol harga likuiditas tapi juga akan mengontrol harga risiko di pasar keuangan. Karena, seperti dibahas di Krismon(3), krisis dimulai dari kegagalan lembaga-lembaga keuangan Amerika mengatur risiko.

Dari sini kita dibawa ke pertanyaan yang memberi saya motivasi awal menulis seri krismon ini: mengapa para profesional yang menggunakan model manajemen risiko yang sudah divalidasi oleh “hadiah nobel” tetap gagal mengatur risiko?

0 Komentar: