15.12.08

Krismon (3): Dua kaki penopang ekonomi dunia awal abad 21

Oleh Roby

Selama mengikuti kampanye pemilihan presiden Amerika yang akhirnya dimenangkan oleh Barack Obama, ada satu retorika yang diucapkan oleh hampir seluruh calon presiden. Retorika tersebut terkait dengan ekonomi Amerika dan kira-kira bunyinya seperti ini:

“Ekonomi kita sekarang berantakan, kita meminjam uang dari Cina untuk membayar minyak dari negara tak bersahabat seperti Arab Saudi atau Venezuela”.

Ini memang hanya retorika kampanye yang dipakai untuk menyampaikan bahwa betapa pentingnya Amerika untuk swasembada energi; namum retorika ini tidak terlalu tepat. Pada kenyataannya minyak yang diperoleh Amerika kebanyakan di impor dari Canada; bukan dari negara-negara “tak bersahabat” seperti Arab Saudi atau Venezuela.

Meskipun demikian, ini menjadi gambaran bagaimana ekonomi dunia pada awal abad 21 ini bekerja; yang oleh sebagian kalangan disebutkan sebagai sistem “Bretton Woods 2”

Pada dasarnya, ekonomi dunia selama ini ditopang oleh rakyat (baca konsumen) Amerika (lihat Krismon(2)). Merekalah yang membeli barang-barang dari Cina dan India atau minyak yang diproduksi Arab Saudi atau Venezuela. Tetapi – disini triknya – uang yang dipakai rakyat Amerika membeli barang dari Cina atau minyak dari Arab itu berasal dari pinjaman bersubsidi yang diperoleh dari Cina dan negara pengekspor minyak!

Jadi, seperti yang diutarakan ekonom Brad Setser, sistem ekonomi ini berdiri di atas dua kaki.

Kaki pertama adalah pinjaman murah yang diberikan oleh Cina ke pemerintah Amerika melalui pembelian surat utang pemerintah Amerika. Uang yang masuk ke Amerika ini selanjutnya menjadi kaki kedua: institusi keuangan Amerika kembali meminjamkan uang ini ke konsumen Amerika yang selanjutnya dipakai untuk membeli rumah, mobil dll.

Dua kaki ini muncul dengan risikonya masing-masing.

Risiko pertama dipegang oleh rakyat Cina karena mereka meminjamkan uang kepada Amerika dengan bunga rendah meskipun mereka tahu Amerika mengalami defisit besar (akibat biaya perang dan berbagai kebijakan belanja Bush dkk). Bayangkan, apakah anda mau memberikan pinjaman ke seseorang yang anda tahu sangat boros dan punya utang banyak, dengan bunga rendah pula? Sepertinya tidak, tapi itulah yang terjadi antara Cina dan Amerika.

Risiko kedua dipegang oleh bank-bank dan insititusi keuangan lainnya di Amerika karena mereka meminjamkan uang ke rumah-tangga Amerika yang juga terbenam dalam hutang.

Hidup di Amerika memang dikelilingi hutang; dari mulai kartu kredit, kredit rumah, mobil, sekolah dll. Orang Amerika memang boros dan masyarakat konsumtif; lihat gambar dibawah dimana saving rate orang Amerika mendekati 0%.




Tapi anda jangan cepat mencela kebiasaan konsumtif orang Amerika ini; karena bagi anda di Indonesia, semakin boros orang Amerika maka semakin bagus untuk Indonesia karena artinya semakin banyak mereka membeli barang-barang dari Indonesia. Juga ada manfaat tak langsung: semakin banyak orang Amerika berbelanja barang produksi, misalnya, Jepang, maka semakin besar penghasilan orang Jepang yang berarti semakin besar mereka berbelanja produk Indonesia atau semakin banyak turis Jepang ke Indonesia. Jadi jika Indonesia mau kaya, berharaplah orang Amerika (atau negara lain) boros senang berbelanja; atau jika tidak mau bergantung pada negara lain, ya kita sendiri harus menjadi masyarakat konsumtif *.

Tapi sekarang mari kita kembali ke sistem ekonomi dunia yang, seperti telah disebutkan di atas, berdiri diatas dua kaki dengan dua risiko.

Ekonom Amerika, seperti Nouriel Roubini dan Brad DeLong, sudah mewanti-wanti bahwa suatu saat kaki-kaki penopang ekonomi Amerika (dunia) ini bisa runtuh.

Tapi mereka memprediksi bahwa yang akan runtuh terlebih dahulu adalah kaki pertama: negara-negara kaya uang tunai (seperti Cina dan pengekspor minyak) akhirnya berhenti memborong surat hutang Amerika. Akibatnya, agar surat utang Amerika tetap menarik bagi investor, suku bunga Amerika dinaikkan. Tetapi ini berimbas ke suku bunga konsumen sehingga akhirnya konsumen Amerika akan tercekik oleh bunga yang tinggi. Akibatnya mereka mengurangi belanja mereka dan mulai berhemat; yang berarti turunnya ekspor dari negara-negara dunia ke Amerika yang bisa mengakibatkan ribuan buruh di, misalnya, Cina, Meksiko, India dan juga tentunya Indonesia kehilangan pekerjaan. Sehingga terjadilah resesi global.

Meskipun sekarang kita juga sedang menuju ke resesi global, tapi penyebabnya tidak sama dengan yang diprediksi sebelumnya.

Sistem “Bretton Woods 2” ini ternyata runtuh akibat kegagalan kolosal dari lembaga keuangan Amerika untuk mengelola risiko. Yang terlebih dahulu jatuh ternyata kaki kedua: kredit dari institusi keuangan swasta ke konsumen Amerika.

Karena kegagalan ini dimulai dari lembaga keuangan swasta yang merupakan jantung kapitalisme Amerika dan dunia, maka tidak heran banyak orang menganggap ini adalah kelemahan fundamental sistem kapitalisme. Aliran dana yang begitu deras (lihat Krismon (1)) ternyata membuat alokasi modal yang salah di dalam negeri Amerika. Sebagian orang berpendapat bahwa ini merupakan indikasi bahwa pasar tidak selalu mampu mengalokasikan dana secara efisien.

(*) argumen ini bukanlah suatu keniscayaan. Banyak asumsi didalamnya, misal produk Indonesia harus cukup kompetitif, nilai tukar uang yang stabil dll. Saya pakai untuk sekedar ilustrasi bahwa transaksi ekonomi membentuk rantai yang melibatkan banyak pihak dan membuat saling ketergantungan diantara mereka; kemampuan kita untuk menelusuri rantai ini terbatas sehingga kita sering salah mengerti akan implikasi dari sebuah perilaku atau peristiwa. Selain itu, ada yang menganggap teori bahwa ketidak seimbangan perdagangan karena negara-negara selain Amerika terlalu banyak menabung, bukan karena Amerika terlalu boros (teori "saving glut" yang dipopulerkan oleh Bernanke) lebih sebagai ideologi.

0 Komentar: