15.12.08

Krismon (2): Dari emas ke Dollar: stabil yang tidak seimbang

Oleh Roby

Sebelum meneruskan diskusi kita, saya ingin menjelaskan dahulu pendekatan yang saya pakai. Saya melihat ada dua topik besar: (1) sistem ekonomi dunia dan (2) sistem keuangan di Amerika. Di artikel sebelumnya, saya memulai seri Krismon ini dengan membahasnya dari perspektif perekenomian dunia. Saya merasa sebelum kita masuk ke detail bagaimana, misalnya, keserakahan di Wall Street, inovasi instrumen finansial, hipotek subprime membantu terjadinya krisis, kita perlu memiliki gambaran mengenai konteks dimana semua ini terjadi. Konteks ini adalah sistem ekonomi dunia.

Sekarang mari kita telusuri bagaimana sistem ekonomi dunia ini terbentuk seperti sekarang ini.

Dimulai dari perjanjian Bretton Woods setelah Perang Dunia 2 yang efeknya masih terasa hingga sekarang; salah satu hasil perjanjian tersebut adalah dibentuknya lembaga internasional untuk mengurusi ekonomi dunia: IMF dan Bank Dunia.

Untuk diskusi kita sekarang, hasil yang menjadi fokus adalah tercapainya perjanjian untuk menggunakan emas sebagai standar global nilai mata uang.

Saat itu keadaan ekonomi negara-negara dunia – kecuali Amerika- hancur karena perang. Karenanya mereka bergantung pada pinjaman yang diberikan oleh Amerika. Pinjaman ini diberikan dalam bentuk Dollar Amerika. Sebagai jaminan, Amerika menerima emas yang dimiliki negara-negara ini. Akibatnya, Amerika praktis menguasai seluruh emas di dunia dan jadinya hanya Dollar Amerika yang nilainya disokong oleh emas.

Ini berarti, secara praktis, Dollar telah menggantikan emas sebagai sumber likuiditas perekonomian dunia dan menjadi basis sistem keuangan dunia. Implikasinya, setiap negara membangun cadangan devisa dalam bentuk Dollar Amerika; cadangan Dollar diperlukan agar mata uang negara yang bersangkutan dapat ditukarkan dengan Dollar atau emas.

Selain bergantung pada pinjaman Dollar Amerika, negara-negara dunia juga bergantung pada import dari Amerika. Karena hanya pabrik-pabrik di Amerika yang masih beroperasi secara penuh; pabrik di negara lain hancur karena perang. Sehingga, Dollar pinjaman itu dipakai untuk membeli barang dari Amerika, dan kembali masuk ke Amerika. Konsekuensinya, pada saat itu sulit untuk memperoleh Dollar dan emas di luar Amerika.

Dengan lain kata lain, ketika neraca perdagangan Amerika mengalami surplus maka sulit mendapatkan Dollar di luar Amerika yang mengakibatkan negara lain sulit menjaga cadangan devisa Dollar sehingga nilai tukar mata uang tidak stabil yang akhirnya menghambat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Singkatnya, jika neraca Amerika mengalami surplus, maka negara lain kesulitan mendapatkan Dollar yang akhirnya menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Sehingga, suksesnya sistem ekonomi internasional saat itu tergantung pada jumlah cadangan devisa dalam Dollar yang dimiliki negara-negara selain Amerika; keadaan ini hanya bisa dicapai jika Amerika mengalami neraca defisit.

Diluar perkiraan, keadaan neraca surplus di Amerika ternyata tidak bertahan selamanya. Amerika mulai mengalami defisit sehingga Dollar mulai mengalir keluar. Ekonomi dunia membaik, tapi muncul masalah baru: nilai Dollar yang berada di luar Amerika lebih besar daripada nilai cadangan emas Amerika (dihitung berdasar nilai yang ditetapkan di perjanjian Bretton Woods).

Setelah melalui lika-liku berbagai kebijakan ekonomi, akhirnya Amerika melakukan deregulasi dengan menghentikan penukaran Dollar ke emas dan membuat nilai tukar mata uang yang fleksibel(*).

Tetapi, seperti dikatakan ekonom Jan Kregel, deregulasi dan nilai tukar yang fleksibel tidak menghilangkan masalah secara keseluruhan; karena solusi yang diambil tidak menyelesaikan masalah utama. Seperti telah disebutkan oleh ekonom Robert Triffin pada tahun 1960an, masalah utama ini adalah dipakainya mata uang nasional sebuah negara sebagai alat pembayaran dan sumber likuiditas global. Sebagai mata uang global, ia harus mengikuti kebutuhan ekonomi dunia. Tetapi sebagai mata uang nasional, supply internasional mata uang tersebut ditentukan oleh kondisi domestik negara tersebut. Karena tidak mungkin untuk suatu negara membuat kebijakan ekonomi domestik yang ditentukan oleh kebutuhan internasional, maka mata uang tersebut menjadi tidak stabil.

Dari uraian di atas, saya mengambil dua pelajaran. Pertama adalah adanya kecenderungan kebijakan ekonomi negara miskin “terpaksa” mengikuti kebijakan negara kaya. Untuk menjadi kaya, negara miskin perlu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi negara kaya; tetapi negara kaya cenderung lebih konservatif dan berhati-hati dalam hal pertumbuhan ekonomi karena bagi mereka lebih penting mempertahankan kekayaan, bukan menjadi lebih kaya.

Misalnya, ketika ada krisis, IMF cenderung memberikan solusi dengan menekan pertumbuhan ekonomi negara miskin yang terkena krisis. Padahal masalah negara miskin tersebut bisa jadi disebabkan pertumbuhan ekonomi yang kurang akibat ekspor menurun (karena negara kaya mengencangkan ikat pinggang).

Kedua, stabilitas ekonomi dunia tergantung pada ketidak seimbangan perdagangan dunia. Ekonomi dunia bergantung pada neraca negara kaya (Amerika); semakin banyak rakyat Amerika berbelanja, maka semakin baik untuk ekonomi dunia. Defisit Amerika adalah surplus negara lain.

Manajer investasi Mohammed El-Erian yang mengelola dana hampir $700 milliar membuat analogi bahwa jika ekonomi dunia diibaratkan sebagai pesawat terbang, maka selama ini pesawat terbang tersebut terbang dengan satu mesin yaitu rakyat (konsumen) Amerika. Sekarang, mulai ada mesin-mesin kecil lain (Cina, India, Brasil misalnya). Menurut El-Erian, ekonomi dunia sedang mengalami transisi dari biasa terbang dengan satu mesin ke terbang dengan mesin-mesin tambahan yang lebih kecil. Mudah-mudahan saja transisi ini berjalan mulus, tanpa harus ada pendaratan darurat.

Selanjutnya saya akan membahas bagaimana sistem ekonomi abad 21 juga didasarkan pada ketidak seimbangan. Terutama antara mesin raksasa yang selama ini dominan, Amerika, dengan mesin yang dahulunya terlalu kecil untuk berpengaruh tapi sekarang menjadi harapan dunia, Cina.

(*) Selain deregulasi, menurut Kregel, ada dua alternatif yang tidak dipilih Amerika: membentuk mata uang global dengan bank sentral global (yang menurut beberapa ekonom hanya mungkin jika ada pemerintahan global), atau menarik Dollar masuk Amerika dan membiarkan dunia mengalamai resesi.

0 Komentar: