15.12.08

Krismon (1): Pengantar & Greenspan conundrum dan ekonomi dunia

Oleh Roby

Pengantar Seri Krismon

Mengalami berada di pusat krisis ekonomi besar selama dua kali memberi pengaruh cukup dalam bagi saya. Pertama tahun 1997, kita di Indonesia merasakan sendiri bagaimana kita “dipaksa” menjadi miskin yang akhirnya membawa perubahan politik bersejarah dengan jatuhnya Suharto. Sekarang di New York, kembali saya menyaksikan pemaksaan untuk menjadi miskin akibat krisis ekonomi yang begitu dalam. Pada saat yang sama, kita juga menyaksikan bagaimana uang negara dipakai untuk menyelamatkan para pengusaha, di Indonesia melalui BLBI dan sekarang dengan skema bailout di Amerika. Meskipun rasa marah, kesal, dan “takjub” tetap ada, saya pikir krisis ini juga menjadi kesempatan untuk belajar. Belajar agar kita sedikit melek dunia pasar modal dunia yang begitu rumit dan sudah terbukti berpengaruh besar pada hidup kita.

Disela-sela menulis disertasi, saya ingin berbagi proses belajar saya ini. Sengaja saya menulis dalam bahasa Indonesia dengan harapan agar lebih mudah diakses oleh orang Indonesia. Saya bergabung dengan kelompok studi yang mempelajari organisasi pasar modal di Amerika dan dunia di Universitas Columbia tempat saya sekarang berada. Tulisan-tulisan saya ini berasal dari bacaan di kelompok tersebut dan diskusi yang muncul didalamnya dan juga refleksi pribadi. Saya bukan ekonom jadi saya tidak menulis dari kacamata ahli; tetapi lebih sekedar pikiran dari seorang warga negara terpelajar.

Sebagai tulisan pertama, saya bahas anomali dalam pasar uang Amerika dan ekonomi dunia.

Krismon (1): Greenspan conundrum dan ekonomi dunia.

Krisis keuangan yang sekarang melanda dunia termasuk krisis besar yang terjadi sekali dalam setiap abad. Salah satu pertanyaan wajar adalah apakah krisis yang begitu besar ini datang dengan tiba-tiba tanpa tanda-tanda? Sebetulnya tanda-tanda telah muncul jauh hari, tapi tentu pada saat itu sulit untuk mengerti arti tanda-tanda tersebut. Bagi kita sekarang mungkin tandanya tampak jelas tapi itu karena peristiwanya sudah terjadi; jauh lebih mudah memprediksi terjadinya sebuah peristiwa jika peristiwanya sudah terjadi.

Salah satu tanda yang muncul adalah adanya anomali dalam perilaku suku bunga di Amerika atau yang biasa dikenal sebagai fed rate. Pada tahun 2005 kepala bank sentral Amerika saat itu Alan Greenspan menyebutnya sebagai sebuah conundrum (teka-teki rumit). Teka-tekinya begini:

Suku bunga jangka panjang cenderung menurun meskipun suku bunga jangka pendek sudah dinaikkan oleh bank sentral Amerika.

Sepanjang sejarah, jika bank sentral Amerika menaikkan suku bunga jangka pendek, maka suku bunga jangka panjang ikut naik juga. Tapi pada saat itu hal ini tidak terjadi. Secara logika ini juga aneh karena artinya investor diberi penalti jika dia melakukan investasi jangka panjang; ingat suku bunga jangka panjang lebih rendah daripada jangka pendek maka semakin lama investor menginvestasikan uangnya, semakin kecil bunga yang diperoleh. Semakin panjang jangka waktu sebuah investasi, semakin besar risikonya sehingga investor yang mau berinvestasi jangka panjang seharusnya diberi reward (dalam bentuk bunga lebih tinggi) bukan penalti.

Banyak penjelasan diajukan untuk menjawab teka-teki ini, salah satunya berhubungan dengan adanya aliran modal yang aneh di pasar modal dunia. Cerita singkatnya begini. Ada negara-negara yang asalnya miskin menjadi kaya karena satu atau lain hal (misal Cina, India, Brasil, Singapura, atau Uni Emirat Arab). Negara kaya baru ini berlimpah uang, tapi karena mereka ini baru saja menjadi kaya maka mereka belum terbiasa atau tahu cara untuk membelanjakan atau menginvestasikan uang secara optimal bagi masing-masing negara. Pilihan paling aman dan mudah bagi mereka adalah menginvestasikan ke surat berharga pemerintah Amerika. Perlu dicatat bahwa surat berharga pemerintah Amerika bukanlah kendaraan investasi paling menguntungkan tapi memang relatif aman dan sangat likuid. Jadi motivasi investasi mereka ini bukan untuk mencari untung semata tapi lebih untuk memparkir uang di tempat yang aman.

Mengalir derasnya investor membeli obligasi pemerintah Amerika membuat harga obligasi tersebut menjadi naik. Kita tahu, jika harga sebuah obligasi naik maka yield obligasi tersebut turun; sederhananya return berupa suku bunga yang diperoleh menjadi rendah*).

Seperti sudah disebutkan di atas, ada penjelasan lain untuk anomali dalam perilaku suku bunga Amerika ini. Tapi untuk kepentingan tulisan ini, hal yang penting dicatat adalah sbb:

Terjadi anomali dalam pasar suku bunga Amerika dimana suku bunga jangka panjang menurun meskipun suku bunga jangka pendek dinaikkan. Anomali suku bunga ini berhubungan dengan anomali dalam aliran arus modal di dunia: uang mengalir dari negara miskin ke negara kaya, padahal biasanya – dan menurut buku teks ekonomi – uang selalu mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Dengan kata lain, dalam ekonomi dunia sekarang, bukan si miskin meminjam uang dari si kaya, tetapi si kaya meminjam uang dari si miskin!

Meskipun belum jelas hubungan antara anomali ini dengan krisis sekarang, tapi ini memberikan gambaran bagaimana ekonomi dunia di awal abad 21 ini mengalami transformasi fundamental. Sebagaimana biasanya perubahan besar sering diiringi oleh shock terhadap sistem. Untuk mengerti bahwa perubahan yang terjadi ini memang fundamental, maka kita perlu kenal keadaan sistem sebelumnya. Ini adalah topik selanjutnya dari seri Krismon dimana saya akan mengupas perjanjian Bretton Woods, emas, Dollar dan paradoks Triffin.


*) hubungan yield dan harga obligasi ini dapat dipelajari di buku teks standar keuangan. Intinya, semakin mahal harga obligasi maka semakin rendah yield atau return dari investasi obligasi tersebut.

0 Komentar: